
Dengan menguatkan hati dan menebalkan telinga, Faya memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Seperti biasa, Prima tidak memberinya waktu untuk membukakan pintu. Beberapa karyawan yang ada di loby nampak terkejut dengan kedatanganya mereka. Lebih tepatnya, dengan kedatangan Faya. Namun, mereka berusaha bersikap seolah tidak peduli. Hal ini membuat Faya merasa aneh.
Inilah yang di perintahkan oleh Prima kepada Surya sejak beberapa hari yang lalu. Kalau setiap karyawan tidak di perbolehkan membahas masalah pribadi tentang siapapun. Entah itu tentang atasan, tentang sesama karyawan, atau bahkan membahas pribadi orang di luar kantor sekalipun. Dan jika mereka menyebabkan keadaan kantor menjadi tidak kondusif, maka akan di kenakan sanksi. Pengumuman itu sudah terpampang di papan pengumuman sejak dua hari yang lalu.
Dan karna hal itu di tanda tangani oleh Ariga selaku kepala sekretaris, tidak ada seorangpun yang berani berkutik. Walaupun jelas mereka berfikir kalau ini merupakan upaya untuk melindungi seseorang. Siapa lagi kalau bukan Faya.
Walaupun dalam hati mereka dongkol bukan main, tapi mereka bisa apa? saat peraturan itu sudah terbit dan mereka mutlak harus mematuhinya.
Faya berusaha berjalan dengan ekspresi biasa saja. Mengikuti langkah Prima di belakang pria itu. walaupun jantungnya berdebar luar biasa, namun ia mencoba untuk menahannya. Satu dua orang nampak tetap mengarahkan pandangan tidak suka padanya.
Faya dan Prima sudah berada di dalam lift khusus. Tidak ada orang lain selain mereka di sana. Hal itu membuat
Faya sedikit bisa bernafas lega. Ia sontak menoleh ke arah tangan kanannya saat Prima tiba-tiba menggenggamnya diam-diam. Kemudian ia melihat Prima yang nampak santai menatap ke depan. Seoalh tidak terjadi apa-apa.
“Kan aku udah bilang, gak bakalan ada apa-apa di kantor. Mereka gak akan berani ngomongin kamu lagi. Jadi, santai aja. Kayak dulu.” Ujar Prima yang kini malah melemparkan senyuman manisnya kepada Faya.
“Makasih...” lirih Faya tulus.
Saat pintu lift terbuka, Faya segera menarik tangannya dari genggaman Prima. Sungguh ia tidak ingin kelakuan mereka itu di lihat orang lain. Ia belum siap di timpa masalah lagi.
Seolah dalam satu bulan ini masalah bertubi-tubi menghampirinya. Dan hatinya yang patah belum tersambung dengan sempurna. Ia merasa tidak sanggup jika harus menerima cibiran kembali. Sungguh, ia tidak akan sanggup.
Menahan diri dari tatapan menghakimi saja sudah sangat menyakitkan seperti ini. Padahal itu sudah di bantu oleh Prima, tapi ia masih bisa merasakannya. Dari tatapan mereka, ia bisa merasakan kalau ‘hal buruk’ itu masih melekat di dirinya. Tatapan menghakimi itu masih ada walaupun mulut mereka sudah di bungkam sekalipun. Dan itu masih menimbulkan rasa sakit yang sama.
Faya terus mengikuti Prima sampai ke ruangannya. Ia tertegun saat melihat sebuah buket bunga terletak di meja kerjanya. Buket yang indah, bahkan saat ia melihatnya dari kejauhan. Ia menoleh kepada Prima yang sedang melemparkan senyuman padanya.
“Selamat datang kembali.” Ujar Prima. Faya hanya bisa balas tersenyum. Hatinya menghangat. Ya walaupun hanya Prima seorang yang menyambutnya, tapi itu sudah cukup.
“Terimakasih, Pak.”
“Sama-sama.” Setelah mengatakan itu Prima langsung masuk ke dalam ruangannya. Membiarkan Faya sibuk dengan rasa sukacitanya.
Faya mengelus meja kerjanya. Ia merindukan benda itu setelah beberapa lama tidak menyentuhnya. Ia meraih kartu ucapan yang terselip di buket bunga itu.
__ADS_1
‘selamat bekerja kembali.
Boss’
Faya melemparkan matanya ke arah ruangan Prima. Dan ternyata pria itu juga sedang menatapnya dengan tersenyum.
“Terimakasih.” Ujar Faya tanpa suara. Namun Prima mengerti. Iapun mengangguk.
Perlahan, Faya duduk di kursinya. Mengambil buket bunga itu dan mencium harumnya bunga yang ada di dalamnya. Harumnya membuatnya rilex dan merasa tenang. Juga bahagia.
Faya mulai menyalakan komputer. Belum lima menit ia menyalakannya, telfon di mejanya sudah berbunyi. Ia segera mengangkatnya.
“Ya, dengan kantor Pak Prima disini.” Sapanya.
“Selamat datang kembali, Fay. Kamu tau kan aku lega sekali akhirnya kamu balik lagi kesini. Jangan resign lagi ya. Maaf saya cuma bisa ngucapin lewat telfon. Soalnya saya lagi nemenin Pak Ren ke luar kota.” Faya tau itu adalah suara Ariga. Tidak menyangka jika Ariga juga ternyata menyambutnya seperti itu.
“Terimakasih, Pak. Maaf sudah merepotkan.”
Setelah Ariga menutup telfon, hati Faya kembali merekah. Dua orang saja sudah cukup membuatnya merasa di terima kembali.
Lima menit sebelum rapat, Faya mengetuk pintu ruangan Prima. “Pak, udah waktunya untuk rapat.” Beritahunya.
“Oke.”
Prima menghentikan kegiatannya dengan dokumen dan komputer. Kemudian ia bangun. Faya membantu Prima mengenakan jasnya kembali. Setelah itu mereka keluar dari sana bersama-sama menuju ke ruangan rapat.
Rapat itu merupakan rapat dengan pemerintah daerah. Dimana FD Corp ikut berinvestasi dalam pembangunan jalur kereta bawah tanah yang sedang di garap oleh pemerintah. Dan rapat ini sedang menentukan kesepakatan kerjasama itu. yang memang di tangani oleh Prima.
Sepanjang rapat, Faya tidak lupa mencatat hal-hal penting apa saja yang di sampaikan. Sampai penandatangan kesepakatan investasi itu di lakukan.
“Terimakasih banyak Pak Prima.”
“Sama-sama, Pak. Semoga lancar kedepannya, Pak.” Jawab Prima sambil menyambut menjabat tangan.
__ADS_1
Pukul setengah sebelas, rapat telah selesai. Para pejabat itu telah pergi meninggalkan ruang rapat terlebih dahulu. Hanya menyisakan Prima dan Faya yang sedang membereskan berkas-berkas di depan Prima.
“Makan yuk. Aku laper.”
“Bapak mau makan apa?”
“Kamu mau makan apa?”
Faya mengernyit. Menaikkan sebelah alisnya heran.
“Gak ada orang ini.” Prima mengerti apa yang sedang di fikirkan oleh Faya. Jadi ia segera menyanggahnya.
“Soto?”
“Soto Bu Narsih?”
Faya mengangguk.
“Udah jam segini, emang masih ada? Biasanya kan cepet ludesnya.” Ujar Prima.
“Kita lihat dulu. Kalau udah abis ya cari makanan lain.”
“Oke. Ayo.”
Faya mengembangkan senyuman ketika mengekori Prima di belakangnya. Keadaan mereka ini lucu sekali. Hubungan antara pekerjaan dan romansa ternyata sangat sulit untuk di pisahkan. Terlebih mereka berada di tempat yang selalu mengharuskan untuk bersama.
Prima kesulitan untuk profesional ketika dikantor. Mungkin baru hari pertama, jadi mereka masih merasa aneh. Belum bisa memperjelas batasan antara pekerjaan dan pacaran. Solanya mereka selalu bersama.
“Aku yang nyetir ya.” Pinta Prima ketika sudah sampai basement.
“Jangan, Pak. Biar saya aja.” tegas Faya sambil melemparkan senyum ketika melihat bibir Prima manyun kesal. Namun lagi, mereka sedang ada di lingkungan kantor. Prima mengerti akan kekhawatiran Faya. Jadi ia mengalah saja. Duduk manis di kursi belakang.
Di pertengahan perjalanan, Prima merasa tidak betah duduk sendirian di belakang. Dengan gerakan kilat ia pindah duduk di samping Faya. Bahkan sampai membuat gadis itu terkejut karna Prima pindah tanpa aba-aba terlebih dahulu. Namun setelah itu dia hanya membiarkannya saja.
__ADS_1