
Hari ini, Prima dan Faya pulang ke Jakarta. Pesawat baru saja mendarat di bandara Soekarno-Hatta. Segera setelah keluar dari bandara, mereka pergi ke tempat parkir dimana mobil mereka terparkir selama seminggu terakhir. Setelah menyelesaikan biaya parkirnya, Prima langsung mengemudikan mobil menuju ke apartemen.
“Mas abis ini mau kemana?” tanya Faya ketika mereka berada di dalam lift.
“Mau ke rumah sebentar.”
“Ada acara?”
“Enggak. Cuma mau lapoan sama Papa. Mau ikut?” tawar Prima.
Faya menggeleng, “Enggak lah. Mau tiduran aja di rumah. Capek soalnya. Lagian aku harus nyiapain keperluan kamu kerja besok. Jadwalmu berantakan jadi kan harus di atur ulang.”
Prima tersenyum. Membelai kepala kekasihnya itu dengan lembut ketika mereka sudah sampai di depan pintu apartemen masing-masing.
“Ya udah. Jangan terlalu di forsir kerjanya. Nanti malah kamu sakit.”
“Iya. Ya udah. Aku masuk dulu,” pamit Faya kemudian masuk ke dalam rumahnya. Dan Prima juga masuk ke dalam rumahnya.
Faya melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Memejamkan mata sebentar untuk menghalau rasa lelahnya. Teringat perjalanan mereka ke Tanah Lot kemarin. Kencan yang menyenangkan.
Kenangan indah kemarin membuat Faya tersenyum-senyum sendiri. Masih terasa kehangatan yang di suguhkan oleh Prima ketika mereka mengobrol berdua. Membicarakan tentang rencana masa depan yang di utarakan dengan begitu antusias oleh Prima.
“Lima dong. Hahahahha.” Begitu kata Prima ketika pembahasan sampai di masalah anak.
“Banyak banget?”
“Kan banyak anak banyak rezeki.”
“Kan rezekimu udah banyak, Mas.”
“Heheheheh. Seru aja gitu kalau punya anak banyak. Pasti rame.”
“Sedikasihnya aja lah.”
“Gak mau. Harus di rencanain dari sekarang pokoknya. Biar semangat buatnya.”
Sontak kalimat Prima itu mendapat balasan pukulan di lengannya.
“Nikah aja belum, udah mikir kejauhan.”
“Yaa, namanya juga rencana, Fay. Nanti kalau kita nikah, kita bikin rumah sendiri aja ya. Gak udah tinggal di apartemen.”
“Kenapa?” tanya Faya.
“Ya biar lebih enak aja. jadi mulai sekarang, kamu udah bisa fikirin tuh, kamu pengen punya rumah yang kayak gimana, biar nanti langsung aku realisasikan.”
Prima benar-benar antusias sekali membahas masa depan mereka. Teringat saja membuat Faya terus tersenyum senang bukan main. Ternyata Prima sepengertian itu sampai detail jauh ke depan juga sudah ia fikirkan.
Lamunan Faya terhenti ketika ponselnya berdering. Ia bisa melihat nama Harvey yang muncul di layar ponselnya. Benar juga, kalau di ingat-ingat, sudah lama juga ia dan Harvey tidak saling berhubungan.
__ADS_1
“Halo, Harv?” sapanya.
‘Hai. Apa kabar?’
“Baik. Kamu?”
‘Baik juga. Lagi dimana, Fay?’
“Lagi di rumah. Kenapa?’ selidik Faya.
‘Sama Prima?’
“Enggak, sendirian.”
‘Ooh.’
“Kamu kenapa, Harv?” Faya merasa curiga karna suara Prima
terdengar pias.
‘Ehm, aku di rumah sakit sekarang.’
“Hah? Kok bisa?!!” tanpa sadar Faya memekikkan suaranya
karna terkejut.
‘Hehehe. Gak apa-apa kok. Cuma operasi usus buntu aja.’
Harvey menyebutkan nama rumah sakit tempatnya di rawat.
“Ya udah. Aku kesana sekarang.”
Faya langsung mematikan ponselnya. Ia kembali menyambar tasnya kemudian berjalan cepat ke luar dari rumah.
Dalam perjalaan menuju ke rumah sakit, Faya sempat menelfon Prima untuk memberitahu. Untungnya Prima tidak keberatan dan memberinya ijin untuk menjenguk Harvey. Prima bilang ia juga akan menyusul nanti setelah urusannya selesai.
Satu hal berharga yang Faya pahami sekarang. Kalau semua hal harus di komunikasikan dengan jelas antara dia dan Prima. Karna komunikasi yang tidak jelas akan menyebabkan kesalah fahaman di antara mereka. Faya tidak ingin masalah yang lalu terulang kembali. Ia dan Prima, sudah berkomitmen untuk saling percaya satu sama lain. Dan mereka juga sudah sepakat untuk saling membicarakan tentang apapun itu yang bisa menyebabkan kesalah fahaman di kemudian hari.
Faya sudah sampai di rumah sakit. Ia segera menuju ke kamar yang sudah di beritahu oleh Harvey sebelumnya.
“Harv?” panggilnya begitu ia membuka pintu kamar. Nampak Harvey sedang bermain ponsel sambil duduk di brankar.
“Oh, udah nyampe? Cepet banget?”
“Kamu gak apa-apa?” Faya nampak mengkhawatirkan kondisi temannya itu.
“Gak apa-apa.”
“Kok bisa kena usus buntu sih?” Faya mendudukkan diri di kursi di samping Harvey.
__ADS_1
“Gak tau juga.”
“Kapan operasinya?”
“Nanti malam.”
“Ya ampun. Aku buru-buru kesini sampai lupa gak bawa apa-apa buat kamu.”
“Santai aja. lagian aku lagi puasa.”
“Kamu sendirian? Kak Jef mana?”
“Lagi keluar beli makan katanya. Prima mana? Gak ikut?”
“Dia masih ada urusan. Nanti nyusul katanya. Kenapa nanyain dia?”
“Gak apa. kan biasanya kalian selalu bareng kemanapun.”
“Hehehehhe.” Faya tidak bisa mengelak. Memang begitulah selama ini. Dimana ada Prima, di situ ada Faya. Efek pekerjaan.
“Kamu gak keberatan kan kalau aku repotin begini?” tanya Harvey pelan.
“Ya enggak lah. Justru kalau kamu begini aku malah seneng. Itu tandanya kamu masih anggap aku temen kamu.”
Harvey hanya tersenyum canggung menanggapi. Jelas terlihat, kalau sisa rasa itu masih ada di sana. Harvey tak pandai menutupinya. Kilatan di matanya jelas menunjukkan sebuah kerinduan di sana. Kerinduan yang kini terobati dengan hadirnya sosok yang ia rindukan itu di depan matanya. Sungguh, sulit untuk menyingkirkan perasaan yang sudah terlalu dalam tertancap di hatinya.
“Kenapa ngelihatinnya begitu?” tanya Faya yang merasa canggung ketika Harvey tak mau melepaskan tatapan matanya.
“Kangen sama kamu.” Jujur Harvey.
“Hei!”
“Kenapa? Gak boleh?”
“Em. Gak boleh. Jangan sakitin hati kamu terus menerus, Harv. Aku udah susah payah nyingkirin rasa bersalahku ke kamu. Tolong jangan buat aku ngerasa bersalah lagi sama kamu.”
Suasana mendadak berubah canggung. Harvey tetap tidak mau mengalihkan pandangannya dari wajah Faya. ia benar-benar sangat merindukan gadis itu.
“Maaf, Fay. Aku juga udah berusaha buat lupain kamu. Tapi ternyata itu gak gampang. Satu menit aja. Aku mau lihatin wajah kamu sampai puas.”
“Gak boleh. Wajahnya itu punyaku!” terdengar suara hardikan dari pintu kamar. Yang membuat Faya dan Harvey langsung menoleh secara bersamaan.
Prima berjalan dengan langkah lebar mendekati Faya. menatap tajam kepada Harvey.
“Mas udah sampai?”
“Kalau kamu mau, nih, lihatin mukaku aja. Jangan muka Faya.” Prima menyodorkan wajahnya mendekat kepada Harvey.
“Mukamu itu bosenin. Gak enak di lihat.” Balas Harvey yang membuat Prima langsung mencibir.
__ADS_1
“Ch. Pokoknya aku tegasin. Selesaiin cinta sepihakmu itu sekarang. Sebelum aku yang bertindak.” Prima jelas mengancam. Walaupun raut wajahnya terlihat datar dan biasa saja, namun itu justru membuat suasana menjadi lebih canggung
“Ya elah. Susahnya becanda sama orang yang udah punya pacar. Apalagi pacarnya cemburu. gak seru, lo.” Cibir Harvey. Kemudian ia tergelak tertawa. “Makanya buruan di halalin. Biar aku gak bisa lagi berharap.” Imbuh Harvey masuh dengan gelak tawa yang terdengar aneh.