One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 48. Mencoba Bertanya Dengan Hati-Hati.


__ADS_3

Pandangan Faya fokus menyetir. Tapi fikirannya terbagi dua. Ingin rasanya dia menanyakan kejelasannya kepada Prima. tapi tidak berani.


Sementara di belakang, Prima sedang asyik mengunyah permen karet. Benar-benar bersikap biasa seperti tak terjadi sesuatu. Jadi, Faya harus takut atau marah? Atau kesal? Atu... ah, entahlah. Tiba-tiba Prima menjelma menjadi sosok menyebalkan bagi Faya. Masak iya, dia tidak ingat secuilpun tentang kejadian semalam?


“Ehm, Pak? Boleh saya tanya sesuatu?” faya mulai bertanya. Ia memilih kalimatnya dengan hati-hati. Jangan sampai nanti malah mempermalukan dirinya sendiri. soalnya yang dia ajak bicara itu seorang Prima.


“Apa?”


“Bapak kok suka nyimpen teh botol yang udah kadaluarsa sih, Pak? Bahaya lho.” Faya mulai memancing.


“Kenapa memangnya?”


“Ya semalam saya gak sengaja jadi keminum sama saya, Pak. Abis itu kepala saya jadi pusing.”


Prima mengernyit untuk mengingat. Dia tidak merasa pernah membeli apalagi sampai menyimpan teh botol dalam kulkasnya. Kecuali, sisa wishki yang tempo hari pecah botolnya hingga ia terpaksa harus menaruhnya dalam botol.


Jadi yang di minum Faya semalam itu......


“Eeehhh!!! Fay!! Awas!” pekik Prima tiba-tiba. Membuat Faya terkejut dan langsung menginjak pedal rem tanpa sisa. Untung saja di belakang mobil mereka tidak ada mobil lain. Jadi mereka terhindar dari kecelakaan.


Faya sedang mengatur nafasnya yang sempat berhenti beberapa detik. Tangannya lurus dan menegang memegangi kemudi. Tubuhnya kaku mepet di jok mobil. Ia tidak menyadari kalau akibat ia mengerem mendadak, Prima sudah menempel sempurna di belakang kursinya. Dengan memegangi rambut Faya dengan erat sementara wajahnya meleyot terhimpit sandaran kursi Faya.


Setelah beberapa saat, Faya menyadari ada yang tidak beres dengan rambutnya. Sakit akibat di tarik oleh Prima.


“Bapak ngapain pakai teriak begitu? Kalau kita nabrak, gimana?” dengus Faya kesal. Karna, tidak ada apapun yang ada di depan mereka.


“Hehehehe. Makanya jangan nyerocos gak jelas. Fokus sama jalan.” Santai Prima. perlahan ia melepaskan tangannya dari rambut Faya.


Sumpah, ingin rasanya Faya melempar bosnya itu keluar jendela. Sudah bikin kesal tentang semalam, sekarang malah mengerjai Faya saat menyetir.


“Mikirin apa sih, Fay? Yang konsen kalau nyetir tuh.”


Faya hanya diam. Malas mendebat bos gilanya itu.


Setelah berhasil menguasai diri, Faya kembali melajukan mobilnya menuju ke sebuah klinik.


“Mobilku kapan jadi, Fay?” tanya Prima memecah keheningan.

__ADS_1


“Pihak bengkel belum telfon, Pak. Nanti coba saya cek.” Jawab Faya. Kekesalannya mengendur perlahan.


Ya, sudah hampir sebulan mobil Prima ada di bengkel. Sebulan lalu, mobil Prima di pinjam temannya dan mengalami kecelakaan tunggal di jalan tol. Sehingga menyebabkan mobil mewah itu ringsek di bagian depan. Tapi untungnya, teman Prima hanya mengalami luka ringan saja. Memang, ada harga, ada kualitas.


Karna itu, selama sebulan ini Prima menggunakan mobil sedannya yang tidak ia sukai itu untuk mobilisasi.


“Jual aja, Fay. Aku mau beli yang baru.” Ujar Prima santai.


Faya hanya mengangguk saja. Padahal, biaya untuk perbaikan sudah sangat banyak sekali. Kenapa tidak dari kemarin saja bilang beli baru. Sudah di perbaiki, baru bilang. Bagi Faya itu buang-buang uang.


Faya menghentikan mobil di tempat parkir sebuah klinik psikilogi ternama tempat Prima mengadakan konseling untuk traumanya. Seperti biasa, mereka segera di sambut oleh seorang perawat yang memang sudah mengenal mereka.


“Sudah di tunggu di dalam sama Bu Meli, Pak.” Ujar perawat itu yang cengengesan tidak jelas kepada Prima. Faya hanya memperhatikan saja di belakang bosnya itu. Perawat itu sedang cari perhatian kepada Prima. tapi


sayangnya, Prima terlalu angkuh untuk menyadari perasaan gadis itu.


Prima berjalan lebih dulu sambil berkantung tangan. Menuju ke sebuah ruangan yang sudah ia hafal karna sudah beberapa kali ke sini. Dan perawat itu, lebih sering menoleh kepada Prima daripada melihat jalan.


“Selamat datang, Prima.” sapa seorang wanita paruh baya berhijab yang mengenakan snelly. Wanita itu berdiri dari duduknya dan menyambut kedatangan Prima. mereka saling bersalaman dengan ramah.


Sebelum memulai terapi, Prima dan Dokter Meli mengobrol santai dulu. Dokter Meli menanyakan perihal perkembangan dari terapi sebelumnya yang ternyata belum ada kemajuan berarti.


“Apa itu lebih baik, Dok?”


“Saya gak bisa pastikan sebelum melihat perkembangannya dulu.”


Prima nampak terdiam sebentar. Ia menoleh kepada Faya yang duduk di sampingnya seolah meminta pendapat dari gadis itu.


“Baiklah, Dok. Saya mau coba.” Prima membulatkan keputusannya.


“Semoga kali ini ada perkembangan yang berarti ya, Prim.” Sebut Dokter Meli tulus.


Setelah minum teh yang baru saja di sajikan oleh perawat, Prima di persilahkan untuk duduk di sebuah kursi khusus yang ada di dekat jendela. Dokter Meli meminta Prima untuk merilekskan fikirannya sebelum ia memulai sesi terapi.


Beberapa menit berlalu. Faya memperhatikan dengan seksama apa yang sedang di lakukan oleh Dokter Meli tanpa bersuara sedikitpun.


Di kursi, Prima nampak sudah rileks dan terlelap. Dan Dokter Meli segera malakukan tugasnya.

__ADS_1


“Ah, saya gak bisa konsentrasi, Dok.” Pekik Prima tiba-tiba mengejutkan Dokter Meli dan juga Faya. Pria itu duduk tegap dan mengernyitkan keningnya. Padahal semua orang berfikir kalau Prima telah masuk ke alam bawah sadarnya. Ternyata gagal.


Dokter Meli bahkan sampai bingung. Karna baru kali ini pasien menolak untuk hipnotis yang ia lakukan dan itu berujung gagal.


“Rilekskan fikiranmu, Prim.”


“Udah saya coba, Dok. Tapi susah.” Keluh Prima merengut.


“Fikirkan apa yang bisa membuat kamu rileks.” Ujar Dokter Meli kembali.


Prima meluruskan pandangannya kepada Faya yang duduk di sofa. Tatapannya dalam dan penuh arti. Tapi Faya, hanya bisa melongo tak mengerti arti dari tatapan Prima. tapi entah kenapa, ia bisa merasakan hentakan jantungnya yang tiba-tiba meningkat.


Setelah beberapa saat melihati Faya, Prima menarik nafas dalam kemudian membenahi posisi duduknya agar nyaman.


“Oke, Dok. Silahkan lanjutkan.” Pinta Prima yang kemudian memejamkan matanya sambil bersandar dan setenagh berbaring di kursi.


“Tarik nafas dulu pelan-pelan.” Perintah Dokter Meli.


Dan kali ini, Prima nampak benar-benar sudah masuk dalam dunia bawah sadarnya. Ia nampak terpejam pulas.


Lain halnya dengan Faya. Netranya memang menatap lurus kepada Prima. namun jantungnya, tak mau berhenti berdesir.


Perasaan ini, ia pernah merasakannya saat dulu Fajri menyatakan perasaannya. Mengingat itu, Faya langsung menggelengkan kepala demi mengusir bayangan masalalu yang sangat ingin ia lupakan itu.


Fikiran Faya kembali fokus kepada desiran yang perlahan mulai menghilang. Apa ini? Apa desiran itu untuk Prima? kenapa? Apa karna yang terjadi semalam? Atau apa? Faya terus bermonolog pada dirinya sendiri.


Sampai lamunannya buyar saat mendengar erangan panik dari Prima.


“Fay!” pekik Prima yang masih memejamkan matanya dengan erat.


“Iya, Pak. Saya disini.” Melihat Prima panik, Faya jadi ikut panik. Ia bangun dari duduk dan langsung menghampiri Prima. dia lupa kalau bosnya itu tengah menjalani sesi terapi.


Saat sadar, Faya sudah berdiri di samping Prima dan pria itu sedang memegangi tangannya dengan sangat kuat.


Faya melihat kepada Dokter Meli yang hanya bisa diam saja. Nampak raut kekesalan yang mungkin berusaha dokter itu sembunyikan karna Faya mengganggunya.


Namun di luar dugaan, perlahan, Prima mulai tenang dan kembali diam terlelap. Dokter Meli menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum. Menatap bergantian kepada Prima dan Faya.

__ADS_1


Faya perlahan melepaskan tangannya namun Dokter Meli berkata tidak apa-apa.


“Gak apa-apa. Gitu aja.” Ujar Dokter Meli dan Faya menuruti. Kemudian, ia segera melanjutkan pengobatannya kepada Prima.


__ADS_2