One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 106. Ingin Menemukan Kepercayaan Yang Sama.


__ADS_3

“Tunggu aja. bulan depan kami kasih undangannya.” Balas Prima kemudian.


“Udah ah. Kalian ini bahasin apa sih? Gak jelas banget.” Gerutu Faya pada akhirnya.


Prima dan Harvey masih saling melempar tatapan aneh. Harvey sedang berusaha keras agar apa yang telah di ucapakannya terdengar seperti lelucon. Ia tidak ingin Prima menganggap seirus ucapannya itu. Padahal, ia serus tentang perasaannya kepada Faya. Sepertinya harus ada sesuatu yang bisa membuat Harvey menyerah.


Mungkin Harvey akan benar-bear bisa melupakan Faya ketika Faya dan Prima sudah menikah nanti. Jujur, sekarang, Harvey merasa masih memiliki peluang. Itulah yang membuat hatinya terus menolak untuk berhenti mengharapkan Faya.


“Udah mau malam ini. Kita pulang yuk, mas,” ajak Faya. Ia tidak tahan dengan suasana aneh yang sedang ada di sekitarnya. Aneh sekali.


Faya dan Prima pamit pulang. Setelah kembali dari menjenguk Harvey, mereka memutuskan untuk makan malam bersama.


“Mau makan apa?” tawar Prima ketika mereka sedang di perjalanan.


“Seafood tumpah.” Jawab Faya cepat.


“Kamu ini. Kok gak kayak cewek-cewek lain, sih? Biasanya kan kalau cewek itu di tanya mau makan apa, harus mikir dulu. Atau paling gak jawab ‘terserah’, gitu. Ini kamu langsung jawab aja.”


“Hehehhe. Aku bukan spesies mereka, Mas. Pokoknya urusan perut gak mau di ganggu gugat. Kalau aku pengen makan ini ya bilang. Kalau gak mau juga, ya bilang. Jangan dibikin ribet lah.”


“Hehehehe. Kamu memang lain, Fay. Gak bikin pusing aku.”


Prima menghentikan mobil di sebuah warung seafood pinggir jalan. Warung yang memang sudah terkenal dengan olahan seafoodnya yang enak. Letaknya tidak terlalu jauh dari apartemen. Jadi, sekalian jalan pulang saja.


“Mas duduk aja dulu. Biar aku yang pesen.”


“Oke.” Prima berjalan untuk duduk lebih dulu.


“Mas, seafod tumpah yang paket buat dua orang ya. Nasinya dua, minumnya es jeruk, dua.”


“Oke, Mbak. di tunggu ya.”


Setelah memesan, Faya kemudian duduk di depan Prima. menunggu makanan mereka.


Sambil menunggu, keduanya mengobrol ringan tentang masalah pribadi. Apalagi kalau bukan tentang hubungan mereka.


“Jadi kapan Mas Iwan pulang? Tadi Mama nanyain.”


“Oh iya. Sebentar ya. Aku tanya Mas Iwan dulu.” Faya kemudian mengeluarkan posnelnya dan mengirim pesan singkat kepada kakaknya. Tidak lama balasan dari Iwan muncul dan Faya segera membacanya.

__ADS_1


“Lusa katanya.”


“Oke, biar aku atur waktu ketemu sama keluargaku.”


Faya hanya mengangguk setuju.


“Fay, kayaknya Harvey masih ada rasa sama kamu.” Faya mengalihkan fokusnya dari ponsel kepada Prima.


“Aku juga tau itu, Mas. Kamu cemburu ya?”


“Ya cemburu dong. Ada orang lain yang suka sama calon istri aku. Gimana aku gak cemburu?”


“Aku egois gak kalau aku minta kamu buat ngertiin Harvey?”


“Egois. Aku kan pacar kamu. Masak kamu nyuruh aku ngertiin Harvey?”


“Aku juga gak nyaman, Mas. Cuman aku bisa apa? aku banyak hutang budi sama dia. Tapi aku percaya sama Harvey. Kalau dia, lama-lama bisa ngelupain aku.”


“Yakin?”


“Em. Aku tau banget sifat Harvey itu kayak gimana, Mas. Dia juga masti ngerasa gak enak. Yang penting aku udah kasih dia pengertian. Aku udah kasih dia batasan jelas kalau aku pacar kamu. Jadi, dia pasti ngerti.”


“Ya udah lah. Ngapain juga di bahas. Nanti dia juga bosan sendiri.” akhirnya Prima menyerah dengan fikiran buruknya.


Pesanan mereka sudah terhidang di atas meja. Meja yang di lapisi plastik dan daun pisang, kemudian olahan dari campuran berbagai seafood langsung di tumpahkan ke atas meja begitu saja. Ada kerang-kerangan, udang, kepiting, dan cumi-cumi.


Warna saus yang merah menggoda di tambah dengan asap yang mengeluarkan aroma gurih lagsung menggugah selera. Mereka makan dengan lahapnya.


Sesekali Prima akan mengupaskan udang atau kepiting untuk kekasihnya. Dia juga sering menyupai gadis itu. tidak ada kata canggung sekalipun mereka menjadi bahan tontonan dari beberapa pengunjung lain yang


menatap iri kepada kemesraan mereka.


“Besok, apa Mbak Sora udah ngantor ya?” gumam Faya. fikiran tentang masalahnya dengan Soraya benar-benar tidak bisa hilang dari kepalanya. Dia benar-benar ingin segera menyelesaikan masalah yang paling membuatnya lelah itu.


“Apa kamu mau nemuin dia besok?”


Faya mengangguk. “Aku pengen cepet-cepet selesaiin masalahku sama dia. Biar kesalah fahaman di kantor hilang. Hatiku ngilu Mas, kalau denger mereka bicarain aku di belakang. Apalagi pas ke toilet. Ada aja yang ngebahas aku. Ngeselin.”


“Sabar. Nanti mereka juga tau sendiri.”

__ADS_1


“Makanya aku harus buruan kasih tau sama mereka. Biar mereka diem.” Faya menyeruput es jeruknya untuk mendinginkan kepalanya.


“Iya. Biar kita bisa langsung nikah kalau masalah ini kelar.”


“Kok nyambungnya kesana sih, Mas?”


“Hehehe. Tau gak, tadi di rumah aku di sidang lagi Sama mama sama Nenek. Mereka terus-terusan nanya kapan kita nikah? Padahal aku udah bilang buat kasih kita waktu. Tapi tetep aja, bahasannya gak jauh-jauh dari itu.”


“Ya, namanya juga orang tua, Mas. Aku jadi ngerasa bersalah karna terus nunda-nunda kayak gini.”


“Gak usah di fikirin. Fokus aja nyelesaiin masalah kamu sama Soraya.”


Faya hanya mengangguk sambil mengembangkan senyuman manisnya. Mencuci tangan hingga bersih kemudian menengguk es jeruknya hingga tandas tak bersisa.


“Kita mau langsung pulang apa mau kemana lagi?”


“Langsung pulang aja. kerjaanku banyak. Tadi belum sempet nyusun jadwal kamu.”


Setelah membayar, keduanya lantas kembali masuk ke dalam mobil dan pulang.


“Nanti kalau kita udah nikah, aku mau cari sekretaris cowok aja.” ujar Prima tiba-tiba ketika mereka baru turun dari mobil. Mereka sudah sampai di basement gedung apartemen.


“Kenapa gitu?”


“Kalau kita udah nikah, aku gak mau kamu jadi sekretarisku lagi. Kamu di rumah aja. Gak usah kerja. Biar aku cari gantinya.”


“Kenapa aku gak boleh kerja?”


“Emangnya gak lucu kalau aku kerja di sekretarisin sama sendiri?”


Faya terdiam sebentar kemudian tergelak lucu. Membayangkan ucapan Prima. benar juga. Akan aneh kalau ia tetap jadi sekretaris dari suaminya sendiri.


“Jadi aku ngapain di rumah seharian? Gak ada kerjaan, pasti bosen banget.”


“Ya ngurusin anak-anak kita lah. Ngapa lagi.”


“Lah. Kesitu lagi pembahasannya.”


“Hehehehe. Abis gimana dong? Di otakku itu terus yang kefikiran.”

__ADS_1


“Dasar cowok.” Dengus Faya pura-pura. Ia mempercepat langkahnya hendak meninggalkan Prima kemudian masuk ke dalam lift. Tapi ternyata Prima berlari hingga menyusulnya. Di dalam lift, ia mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi Faya hingga membuat pipi gadis itu bersemu merah. Merona malu.


__ADS_2