One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 24. Diam Bukan Berarti Tidak Berani Melawan.


__ADS_3

Saking asyiknya melihati Prima. ia sampai tidak sadar kalau seseorang tengah berdiri di tempat yang tidak jauh darinya. Di jarak sekitar 3 meter di kanan Faya.


“Hebat, ya. Di telfon gak mau angkat. Di WA malah di blok.”


Suara penuh tekanan itu membuat Faya langsung menoleh ke arah kanan. Dadanya berdegup kencang melihat Kirani, kakak iparnya telah berdiri di sana. Menatapnya dengan tatapan sangat menusuk.


Ah, kesialan apa lagi yang menghampirinya malam ini? Kenapa juga ia harus bertemu dengan Kirani disini?


“Kak Kiran?” desis Faya.


Melihat Kirani mendekatinya penuh emosi, membuat Faya mencengkeram ujung bajunya.


“Kamu beneran minggat? Dasar gak tau diri. Anak gak tau di untung. Udah yatim piatu di urusin malah ngelunjak. Main kabur seenaknya aja.” Hardik Kirani dengan ketusnya.


“Kamu mau buat Mas Iwan marah sama aku? Iya? Biar Mas mu itu fikir aku gak jagain kamu? Kamu mau buat aku jelek di mata Masmu itu? Gitu? Kamu mau kami ribut terus pisah, gitu?!”


“Gak gitu, Mbak. aku Cuma muak tinggal sama Mbak Kiran. Aku capek jadi babunya Mbak Kiran setiap hari. Belum lagi aku harus cari nafkah buat Mbak Kiran juga. Padahal nyukupin kebutuhanku sendiri aja belum cukup.” Lawan Faya. Ia sudah terlanjur sakit hati kepada Kirani.


Kirani membelalakkan matanya melihat perlawanan Faya. Hal yang selama ini tidak pernah dilakukan oleh adik iparnya itu.


“Kenapa, Mbak? kaget lihat aku begini? Selama ini aku diem aja karna aku masih menghormati Mbak Kiran sebagai istrinya Mas Iwan. Tapi sekarang gak lagi. Udah terserah kalau Mbak Kiran mau marah atau ngadu sama Mas Iwan. Aku udah gak peduli.” Dengus Faya.


“Kurang ajar ya kamu Fay!” pekik Kirani. “Ternyata selama ini begini sifatmu? Gak tau diri. Gak tau berterimakasih udah dikasih tempat tinggal yang nyaman.”


“Ya! Memang aku gak tau berterimakasih sama Mbak! makasih banyak udah nampung gadis yatim piatu ini! Makasih!” ternyata Faya sudah kehabisan kesabaran. Ia sudah tidak tahan mendengar umpatan dari Kirani.

__ADS_1


“Berani kamu teriak-teriak begitu ya Fay! Dasar yatim piatu! Gak tau diri” Kirani juga bertambah emosinya. Sudahlah dia kesal karna Faya minggat, di tambah nomornya malah di blokir oleh gadis itu. Dan sekarang, Faya malah mencak-mencak tidak karuan.


“Mending aku yatim piatu, Mbak. lebih gak tau diri mana aku sama Mbak Kiran?! Seenggaknya aku cari nafkah buat diriku sendiri. daripada Mbak Kiran, belum cukup di kasih nafkah sama Mas Iwan malah dompleng sama aku. Mbak Kiran itu yang gak tau diri!”


“Faya!” Kirani sudah di ambang batas sabar. Ia yang merasa kesal karna dilawan langsung mengangkat tangannya dan melayangkan tamparan di pipi Faya dengan sangat kuatnya.


“Apa-apaan anda ini?!” pekik Prima yang ternyata sudah dari tadi memperhatikan pertengkaran itu. Ia langsung merangsek maju dan mencengkeram lengan Kirani yang hendak menampar Faya untuk kedua kalinya.


Prima menghentakkan tangan Kirani dengan kasarnya bahkan sampai tubuh wanita itu ikut terhuyung ke depan.


Kirani yang terkejut karna ada orang asing yang ikut campur dan menghentikannya, hanya bisa melotot saja ke arah Prima.


“Anda mau saya laporkan ke polisi? Ini termasuk dalam penganiayaan.” Ancam Prima kembali.


“Siapa kamu?! Gak usah ikut campur urusan orang!” hardik Kirani tidak mau kalah. Pun dia sudah kalah malu karna kini ia baru sadar kalau kini mereka menjadi bahan tontonan banyak orang.


Sementara Faya menjadi terdiam karna pembelaan Prima.


Ucapan Prima itu berhasil membuat Kirani terdiam. Melihat ke sekeliling dengan tatapan tidak enak.  Merasa mendapat celah, Prima langsung menarik tangan Faya masuk ke dalam mobil. Menaruh kotak berisi roti ke pangkuan Faya kemudian menutup pintu mobil. Setelah itu ia memutar dan masuk serta duduk di balik kemudi. Dengan segera ia memacu mobilnya meninggalkan lokasi.


Faya diam sepanjang perjalanan. Memeluk kotak roti di pangkuannya. Aroma khas roti itu sudah menyeruak melalui hidungnya.


Yang sebenarnya Faya rasakan adalah, ia malu kepada Prima. sungguh ia merasa sangat malu sekali. Entah kenapa harus saat ia sedang bersama dengan bosnya itu ia bertemu dengan Kirani. Bertengkar pula. Ia merasa harga dirinya sedang terjun bebas ke dasar kekcewaan. Dan ia malu karna Prima menyaksikan sisi terpuruknya seperti itu.


Untungnya, Prima juga tidak mengusik Faya. Ia tau kalau ia seharusnya diam untuk memberikan sekretarisnya itu waktu untuk menumpahkan kesedihannya. Ia tau, sejak tadi, airmata Faya sudah menetes di plastik pembungkus kotak roti. Karna itu ia tidak membuka suara sedikitpun.

__ADS_1


Bahkan sesampainya di basement apartemen, Prima hanya langsung keluar. Ia berdiri di sisi mobil sambil menunggu Faya tenang dan keluar mobil dengan sendirinya.


Lima menit menunggu, akhirnya, Faya keluar dari mobil. Dengan kotak roti dalam dekapannya. Berjalan keluar sambil menundukkan kepalanya. Matanya sembab berair. Walaupun ia sudah menghapusnya, jejak airmata itu tetap tersisa di sana.


Melihat Faya sudah keluar dari mobilnya, Prima langsung melangkah menuju lift. Di dalam lift, ia juga menunggu Faya masuk baru kemudian memencet tombol di pintu.


Dan bahkan sampai di tempat, Prima masih tidak mengajak Faya berbicara. Pria itu terus diam dan langsung masuk ke dalam apartemennya.


Namun setelah beberapa langkah, ia mendengar bel berbunyi. Ia berbalik dan kemudian membuka pintu. Ia melihat Faya yang masih berdiri di depan pintunya.


Faya, menyodorkan bungkusan kotak roti ke arah Prima.


“Roti Bapak.” Ujarnya serak.


“Buat kamu aja.” Jawab Prima yang kemudian menutup pintu kembali.


Hati Faya masih pias. Dia tidak lagi protes dan kemudian membawa roti itu masuk ke dalam rumahnya.


Faya mendudukkan diri di sofa. Meletakkan roti ke atas meja. Menyandarkan tasnya di sampingnya, kemudian duduk di lantai, si atas karpet. Dengan sesenggukan ia membuka kotak dan langsung melahap roti yang lezat itu.


Sepertinya Prima tahu betul, kalau Faya akan merasa lapar saat sakit hati.


Begitulah Faya. Saat hatinya terluka, ia akan terus makan. Seolah perutnya memberitahu untuk jangan berkompromi dengan rasa sakit. Bahwa ia harus tetap melanjutkan hidup walau hatinya sehancur apa.


Dan tanpa terasa, ia sudah menghabiskan roti itu dalam waktu 10 menit saja. Bersama dengan lelehan airmata yang terus mengalir di pipi mulusnya.

__ADS_1


Entahlah, sehabis ini bagaimana hubungannya dengan Kirani. Jadi dirinya, Faya merasa serba salah. Pun ia bingung bagaimana nanti jika masnya tau tentang hubungannya dengan Kirani yang semakin memburuk.


__ADS_2