
“Hei!!”
Sebuah pukulan di pundak mengejutkan Faya. Soraya muncul dengan senyum merekah seperti biasa.
“Mbak Sora. Ngagetin.”
“Tumben, ngopi.” Seloroh Soraya.
“Hehe. Iya nih, Mbak. lagi butuh kafein. Biar melek dan fokus.” Jawab Faya. Ia membawa gelas kopinya dan duduk di kursi yang di sediakan di sana.
“Gak biasanya. Iya deh, aku faham. Pasti semalam gak bisa tidur karna kemarin habis seneng-seneng sama Harvey, kan?”
“Hehehe.” Faya hanya terkekeh kecil. Tidak mungkin ia menceritakan yang sebenarnya kepada Soraya. Bahwa semalam ia mungkins udah melanggar sebuah larangan besar bersama dengan Prima.
Apa dia ceritakan saja? Setidaknya agar ia sedikit tenang.
Tidak, tidak. itu sangat beresiko.
Argghh. Faya pusing sendiri.
“Jadi gimana kencannya? Lancar kan?” Soraya masih ingin menggoda Faya.
Mereka tidak menyadari kalau ada Prima yang sedang berdiri di belakang mereka dan mendengarkan ocehan mereka. Wajah pria itu terlihat dingin dan ketus. Jelas dia kesal mendengar perihal Harvey.
jadi, kemarin dia habis kencan sama Harvey? Kata hati Prima menyimpulkan. Dan itu membuatnya semakin panas saja.
Prima sedang asyik dengan fikirannya sendiri. sampai tanpa sengaja Soraya menoleh karna merasa ada yang memperhatikan mereka. Dan ternyata benar.
“Pak Prima?” Soraya menyapa dengan senyum sumringah khasnya. Soraya bangun dari duduknya dan menghampiri Prima. “Bapak perlu sesuatu?” tanyanya menatap Prima dengan mata yang berbinar.
“Gak!” acuh Prima. dia melirik kepada Faya yang bahkan tak mau melihat kepadanya.
Padahal Faya sedang malu setengah mati jika mengingat kejadian semalam yang sangat mengguncang kejiwaanmya.
Tapi di sisi lain Faya juga kesal kepada Prima yang seperti tak terjadi sesuatu saja. Sikap normal itu membuat
Faya jengah setengah mati. Sementara dirinya di rundung ketakutan dan kekhawatiran. Dan tak tau harus bercerita pada siapa untuk mengurangi beban yang sedang ia rasakan itu.
Soraya kembali duduk di tempatnya setelah mengantarkan Prima dengan tatapannya sampai pria itu menghilang dari pandangannya.
“Pak Prima jutek banget sih. Biasanya gak begitu.” Desis Sora. Nampak kecewa dengan sikap Prima yang tak biasa.
“Kamu lagi. Kenapa sih, Fay? Dari tadi ngelamun terus. Ada masalah? Soal Harvey?” Soraya benar-benar sudah salah faham tentang hubungan Faya dan Harvey. Ia benar-benar mengira kalau mereka berdua sudah pacaran atau sejenisnya.
Lagi-lagi, Faya hanya bisa tersenyum sebagai jawabannya. Ingin rasanya ia mengadu kepada Soraya.
Satu-satunya teman yang bisa ia ajak bicara. Tapi, harga dirinya masih belum membiarkan itu terjadi.
__ADS_1
“Mbak, lain kali aja ku ceritain ya. Aku mau balik ke ruangan dulu.” Pamit Faya tiba-tiba. Ia bahkan tidak menghabiskan kopinya dan langsung pergi begitu saja.
Faya berjalan cepat. Ia sedang bertekad untuk menanyakannya saja kepada Prima langsung. Apa memang mereka melakukan sesuatu semalam, apa bagaimana?
Ah, kenapa jantungnya jadi berdegup tak karuan saat mengingatnya? Sial sekali.
Faya berhenti di depan pintu ruangan Prima. tak jadi mengetuk pintu besar itu walaupun tangannya sudah terangkat. Tiba-tiba hatinya di serang rasa ragu yang membumbung tinggi.
Bagaimana kalau memang semalam tak terjadi apa-apa antara mereka? Bagaimana kalau hanya dia yang terlalu berfikir berlebihan? Apa tidak malu bertanya kepada Prima kalau ternyata tidak terjadi apa-apa?
Argh!
Tapi bayangan bibir padat Prima terus bergelayut di ingatannya.
Astaga. Bisa mati berdiri keder sendiri kalau begini lama-lama.
Faya memijit pelipisnya saat kepalanya tiba-tiba pusing. Bertepatan dengan Prima yang membuka pintu hendak keluar.
“Aaaagggh!!!” pekik Faya terkejut luar biasa. Ia sampai memundurkan langkahnya dan memegangi dadanya yang serasa sudah melorot ke inti bumi.
Tidak hanya Faya yang terkejut. Prima lebih terkejut saat mendapati ada seseorang di hadapannya setelah ia membuka pintu. Di tambah dengan teriakan melengking dari Faya yang merusak gendang telinganya.
“Apa-apaan sih, Fay?!” dengus Prima juga mengelus dadanya. Menatap Faya dengan kedua alis yang terangkat tinggi.
“Bapak kenapa muncul tiba-tiba?!” Faya malah menyalahkan Prima. tanpa sadar berbicara dengan nada tinggi.
Prima sudah sampai di depan ruangan ayahnya. Ia mengetuknya dua kali kemudian langsung membuka pintu dan masuk. Ternyata, disana sudah ada ibunya, Zinnia yang sedang menatapnya tajam setajam silet.
“Mama kok udah ada disini?” tanya Prima yang sedang berjalan mendekati sofa.
“Duduk. Mamamu mau bicara.” Prima duduk di samping ibunya.
“Kok Mama sih, Pa?” protes Zinnia menatap tajam kepada suaminya.
Lho?
Prima mengernyit. Melihat ayah dan ibunya bergantian.
“Pada kenapa, sih?” tanya Prima yang tak tahan karna penasaran.
“Prim.” Panggil Zinnia setelah beberapa kali menghela nafas. Prima menoleh. Menatap serius kepada sang ibu. Menunggu tentang apa yang akan di bicaraka ibunya. Jangan-jangan tentang kencan buta lagi. Tapi, wajah ibunya lebih serius daripada tadi pagi saat mereka membahas kencan buta
“Kenapa, Ma?”
“Kamu, sama Faya itu, ada hubungan apa?”
Prima mengernyit. “Hubungan apa? Bukannya udah jelas, ya?”
__ADS_1
“Bukan, maksud Mamamu itu, apa kalian pacaran?” Ren meneruskan kalimat istrinya.
“Hah?” Prima melongo.
Kenapa juga ayah dan ibunya berfikir ia dan Faya berpacaran.
“Ya enggak lah, Ma. Mama ini ada-ada aja.”
Plak!
Prima kembali terkejut saat Zinnia tiba-tiba memukul punggungnya keras sekali. Pria itu bahkan sampai nyengir menahan perih.
“Apa sih, Ma?”
“Beneran kalian gak pacaran?” desak Zinnia kembali.
“Enggak, ma. Kenapa sih? Faya itu udah ada pacarnya.”
PLAK!!!!
Kali ini, Zinnia kembali memukul punggng putranya itu lebih keras.
“Mama!” protes Prima. mengusapi punggungnya walaupun tidak sampai. Rasanya sungguh sangat perih sekali. Ia mengalihkan tatapannya kepada sang ayah yang sepertinya mendukung sikap istrinya itu.
“kalian ini kenapa, sih?” dengus Prima tak mengerti.
“Masih tanya kenapa? Jadi kamu nidurin pacar orang? Ya ampun, Nak. Mama sama Papa gak pernah lho ngajarin kamu kurang ajar begini.” Dengus Zinnia.
“Maksud Mama apa, sih? Siapa yang nidurin siapa?” Prima masih berusaha menggapai punggungnya yang terasa perih namun tetap tidak sampai.
“Jangan ngeles kamu. Semalam kamu abis ngapain sama Faya? Hah?” totok Zinnia dengan mata tajamnya.
“Gak abis ngapa-ngapain, ma. Mama ini ngomong apa sih?”
“Masih berani bohong ya kamu sama Mama? Tadi Mama nemuin b h di kamar kamu. Bukannya itu punyanya Faya? Tadi pagi Mama lihat Faya keluar dari apartemenmu Cuma pakai tanktop aja. Abis ngapain kalian? Hah? Ngaku, gak?” desak Zinnia terus.
Dan, Prima tak bisa menjawab lagi. Ia tak bisa lagi menemukan kalimat yang tepat untuk menyangkal.
Astaga, kenapa benda itu tertinggal segala di kamar Prima? kan dia jadi tak bisa mengelak lagi sekarang. Padahal sejak pagi ia sudah berusaha bersikap senormal mungkin.
Melihat Prima yang malah menggaruk-garuk kepala sambil setengah nyengir tidak jelas, sontak emosi Zinnia semakin menjadi-jadi.
*-*
**
jejeknya jangan lupa ya warga. yuk, follow akun otor biar rame.
__ADS_1