
Faya terkejut saat ia baru saja membuka pintu rumah di pagi hari, ada Prima yang tengah bersaku tangan di dekat pintu. Punggungnya bersandar di dinding dan menatap lurus kepada Faya.
“Ya ampun, Pak Prima. kaget saya.” Gerutu Faya yang memang benar-benar terkejut dengan keberadaan Prima.
Selanjutnya, Faya jadi gelagapan saat Prima melemparkan kunci mobil padanya. Kebiasaan. Dengus Faya dalam hati.
“Mulai hari ini, kamu yang nyetir.” Ujar Prima tanpa beban.
“Tapi saya belum punya SIM, Pak.”
“Gampang. Nanti biar ku suruh Paman Ariga menguruskan SIM buatmu.”
“Gak perlu, Pak. Ya kali SIM Saya di uruskan sama Pak Ariga. Gak enak saya, Pak. Biar saya aja sendiri yang ngurus, Pak.”
“Terserah kamu aja.”
Sebenarnya dalam hati Prima ingin menanyakan keadaan Faya. Tapi ia terlalu gengsi. Jadilah pertanyaan itu hanya di pendam saja dalam hati.
Pagi ini Faya nampak kesulitan membuka kelopak matanya dengan normal. Seperti ada yang bergelayut di matanya. Namun ia harus tetap profesional dalam bekerja.
Sesampainya di kantor, Faya membuatkan kopi dan membawakan camilan untuk Prima. hari ini pria itu lebih banyak seriusnya di depan komputer. Tidak punya banyak waktu untuk bermain game. Karna pekerjaan awal minggu yang selalu menumpuk dan menyita waktunya.
“Pak, Pak Ren manggil Bapak di suruh ke ruangannya.” Faya memberitahu saat sudah berada di depan pria itu. Karna saking fokusnya, Prima sampai tidak menyadari kedatangan Faya.
“Pak?” Faya memanggil lagi. Merasa Prima tidak mendengarnya.
“Iya, aku dengar.” Ujar Prima. kemudian menghentikan pekerjaannya sementara dan bangun kemudian pergi ke ruangan ayahnya.
Disana, nampak Ren sudah duduk menunggunya. dan yang membuat Prima terkejut adalah kedatangan Subandi, ayah Aliva. Suasana membuatnya tidak nyaman.
“Om. Apa kabar?” tanya Prima berbasa-basi.
“Baik-baik.” Jawab Subandi.
Prima mengambil duduk di seberang Subandi, di samping ayahnya.
“Penasaran, ya? Kenapa Om Subandi datang kemari?” ledek Ren.
Prima hanya meng-kode ayahnya dengan tatapan saja.
“Tenang aja, ini bukan masalah Aliva. Tapi masalah pekerjaan.” Subandi buru-buru menjelaskan takut Prima salah tanggap dengan kedatangannya.
“Oh. Kenapa, om?”
__ADS_1
Prima sedikit lega mendengarnya. Karna ia mulai tidak nyaman saat membicarakan kekasih yang sudah tega menyelingkuhinya dengan temannya sendiri itu. Apalagi dengan orang tua Aliva. Tapi untungnya bukan itu.
Prima mendengarkan dengan seksama Rencana kerjasama yang di utarakan oleh Subandi. Dan ia menyetujui Rencana itu. Dengan syarat, mereka tidak akan melibatkan urusan pribadi. Dalam hal ini khususnya tentang Aliva.
“Tentu saja. Om masih bisa bedakan yang mana pekerjaan. Yang mana urusan percintaan kawula muda. Om gak pernah mengekang ataupun memberati kamu tentang hubunganmu dengan Aliva. Karna kalian udah bisa mengurus masalah kalian sendiri.” tegas Subandi. Membuat Prima sedikit lega dan sedikit tak enak hati juga.
Selanjutnya mereka mengobrol ringan perihal kelanjutan pekerjaan.
Sementara itu di mejanya, Faya kedatangan Soraya. Manajer HRD itu datang dengan cup kopi instan dan sebungkus camilan.
“Kayaknya kerjaan kamu lancar jaya aja, Fay?” ujar Soraya.
“Syukurlah, Mbak. kayaknya Pak Prima udah males ngerjain aku.”
“Gak nyangka Pak Prima bakalan nyerah semudah ini. Bukti kalau tekad kamu lebih kuat dari niat isengnya. Hahahahhaa. Selamat ya, Fay.” Soraya memeluk Faya dengan hangat.
Keramahan Soraya itulah yang membuat Faya betah berlama-lama mengobrol dengan wanita itu. Mereka selalu nyambung saat mengobrolkan apapun. Apalagi saat menggosipkan Prima. klop sekali.
“Pengen deh sekali-kali aku main ke apartemenmu. Deketan sama Pak Prima, kan?”
“Iya, Mbak. depan unit apartemennya. Kalau Mbak Sora mau, nanti bisa mampir ke rumah sepulang kerja.” Tawar Faya dengan senang hati.
“Serius? Emang boleh?”
“Ya udah. Nanti pulang kerja aku mampir kesana.”
“Oke.” Tentu saja Faya girang bukan main. Dia ingin menawari untuk pulang bersama dengan Soraya. Namun ia teringat kalau dia sudah mulai menjadi supirnya Prima. jadi mana bisa. Bisa-bisa Prima memarahinya.
Dan benar saja, sepulang kerja, Soraya pergi ke apartemen tempat tinggal Faya. Faya yang memang sudah janjian dengan Soraya, menunggu kedatangan wanita itu di basement apartemen.
“Ngapain kamu di situ?” tanya Prima yang melihat Faya tak kunjung bergerak mengikutinya.
“Bapak duluan aja. Saya nunggu Mbak Sora dulu. Katanya mau mampir.”
Berhubung jam kerja sudah berakhir, jadi Prima membiarkannya saja. Pun Prima merasa pastilah Faya membutuhkan teman setelah kejadian tampar-menampar semalam.
Dalam hati Prima berfikir, padahal Faya suka membanting orang. Tapi saat di tampar semalam, gadis itu bahkan tidak berkutik dan terkesan pasrah saja. Karna itulah ia maju untuk menghentikan aksi penamparan itu kembali.
Tak berapa lama setelah Prima naik, mobil Soraya datang. Faya segera menyambutnya dengan gembira.
“Ayo, Mbak.” ajak Faya senang. Keduanya lantas naik.
“ini, Mbak.” Faya menunjuk rumah ‘dinas’nya. Ia melihat Soraya yang justru melirik ke arah pintu Prima.
__ADS_1
“Silahkan masuk, Mbak.”
“Oh, iya. Jadi itu rumahnya Pak Prima?” tanya Soraya sambil berlalu masuk ke dalam rumah Faya. Ia kemudian duduk di sofa dengan anggunnya.
“Mbak Sora mau minum apa?” tawar Faya.
“Gak usah, Fay. Aku udah kebanyakan minum hari ini. Perutku udah begah.” Tolak Soraya halus.
“Oo. Gitu.”
“Luas juga rumahmu, ya.”
“Mbak Sora belum pernah kesini sebelumnya?”
“Belum. Karna aku gak deket sama sekretaris Pak Prima sebelumnya. Baru sama kamu aku bisa di bilang deket.”
Faya merasa bangga mendengarnya. Entah kenapa ia senang dianggap dekat dengan Soraya. Wanita itu telah banyak membantunya.
“Kamu udah pernah masuk ke rumahnya Pak Prima?” selidik Soraya.
“Belum, Mbak. pelum pernah di ajak.”
“Udah sebulan kerja tapi belum pernah di ajak mampir juga?”
Faya mengangguk. Mungkin Pak Prima belum sepenuhnya percaya sama aku, Mbak. karna denger-denger, Pak Prima itu paling anti kalau apartemennya di masukin sama orang lain tanpa seijinnya.”
“Emangnya dia nyimpen apa sih di rumahnya sampai segitunya?”
“Entahlah, Mbak. aku juga gak tau. Apa jangan-jangan dia psikopat yang diem-diem nyimpen mayat di kulkasnya, Mbak?” membayangkan film yang pernah ia tonton membuat Faya merinding.
“Hush. Fikiranmu itu. Hahahahahahahahha.”
“Ya siapa yang tau, Mbak.”
“Emangnya Pak Prima itu punya tampang psikopat apa?”
Dan Faya langsung mengangguk. Mengingat betapa kerasnya Prima mengerjainya dulu, pria itu pasti punya sisi psikopat di dalam dirinya yang tidak di ketahui oleh orang lain.
“Ya ampun, Fay, Fay. Ada-ada aja kamu itu mikirnya. Mana ada wajah ganteng kayak Pak Prima itu psikopat?”
“Di film-film itu begitu, Mbak. orang yang biasa kalem aja, ternyata dia pembunuh. Diem-diem.”
“Udah, ah. Kok jadi ngebahas psikopat sih.”
__ADS_1
“Hahahahahahahaha.” Lantas keduanya tertawa terbahak-bahak.