One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 86. Disesaki Oleh Rasa Bersalah.


__ADS_3

Suasana cafe memang sedang senggang. Karna ini bukan jam istirahat. Jadi membuat keadaan sekitar mereka sepi. Sepertinya hanya ada mereka berdua pelanggan yang ada di cafe itu.


Faya menatap lurus kepada Harvey. Sungguh, ia jadi tidak tega untuk memberitahu Harvey. Mengingat kebaikan-kebaikan pria itu padanya, rasanya Faya menjadi orang jahat kalau melukai perasaan Harvey.


“Fay?” Harvey memanggil. Ia melihat Faya yang malah melamun saja.


“Ehm, Harv, aku mau minta maaf sama kamu.” Akhirnya kalimat itu lolos juga.


“Minta maaf? Soal?”


“Soal liburannya. Aku gak jadi ngabisin liburan itu dan malah balik sekarang.”


“Yaelah, santai aja kali, Fay. Kirain apa.” seloroh Harvey. Padahal dia tau, bukan itu inti pembicaraaan yang ingin di sampaikan oleh Faya.


“Dan, maaf juga kalau aku harus nyakitin hati kamu, Harv. Soal perasaan kamu ke aku. Maaf, aku gak bisa nerima kamu.”


Deg.


Walaupun Harvey sudah menduganya, tapi kenapa rasanya masih sesakit ini?


“Aku tau kok, Fay. Karna hati kamu udah penuh sama Prima. jadi mana mungkin ada ruang buat aku. Iya, kan?”


Fata termangu. Dadanya di sesaki oleh rasa bersalah kepada temannya itu.


“Kok kamu bisa tau?”


“Cuman feeling aja kok. Ternyata bener. Jadi, kalian udah baikan?”


Faya menganggukkan kepala pelan.


“Baguslah. Sekarang kamu gak perlu sedih lagi, kan?”


“Aku bener-bener minta maaf ya, Harv. Aku tau ini nyakitin buat kamu. Tapi, ijinin aku membela hatiku sendiri ya, Harv. Walaupun terkesan gak tau malu, tapi aku memang suka sama Pak Prima.” ujar Faya kemudian.


Dia memang sedang menuntut Harvey untuk memaklumi hatinya. Memang itu terdengar kasar dan tidak tahu diri. Lagipula, dia juga sedang melakukan pembelaan atas perasaannya. Dia hanya tidak ingin menyisakan sedikit saja harapan untuk Harvey. Karna kalau dia tidak menuntaskannya sekarang, itu hanya akan menyakiti Harvey lebih banyak lagi.


Wajah Harvey nampak mendung. Walaupun pria itu sudah mati-matian menyembunyikannya. Kali ini berbeda dengan ketika dia berakting. Kalau menyangkut perasaan yang nyata, Harvey benar-benar tidak bisa mengendalikan hatinya yang terluka. Dia belum seprofesional itu.

__ADS_1


“Sakit sih, Fay. Tapi ya mau gimana lagi.” Harvey memilih untuk pasrah. Padahal dari awal aku udah ngerasa kalau aku bakalan gagal. Tapi seenggaknya, aku pengen coba dulu. Kan kalau gak di coba, aku gak bakalan tau hasilnya, iya kan?”


“Kamu pasti kecewa sama aku ya, Harv?”


Tanpa di duga, Harvey mengangguk. Namun, ada sesungging senyuman di bibirnya.


“Aku memang kecewa. Tapi itu bukan berarti aku bisa maksa hati kamu kan, Fay? Aku cukup tau diri kok, Fay.”


“Sumpah, aku jadi gak enak banget sama kamu, Harv. Ini jadi kayak, ada beban tersendiri gitu di hatiku.”


“Jangan gitu. Fikir baiknya aja. Ya mungkin kamu sama aku memang jodohnya jadi temen baik aja. gak perlu beban juga. Nanti aku juga bakalan ketemu sama jodohku. Yakin aku. Hehehehhe.”


“Chhh. Kamu ini. Udah kayak gini aja masih bisa cengengesan.”


“Nangisnya nanti, kalau udah di rumah, Fay. Malu kalau nangis di sini. Kan masih ada kamu.” Seloroh Harvey kemudian. Dan berujung gelak tawa dari keduanya.


Suasana kini menjadi kembali normal. Rasa canggung yang tadinya membumbung tinggi kini sudah mencair. Kedua sahabat itu mulai menikmati waktu kebersamaan mereka itu.


“Jadi, kamu mau balik kerja di FD Corp?”


Faya mengangguk. Ia meneguk es moccacinonya.


Harvey juga manggut-manggut mengerti. “Kalau itu baik menurut kamu, aku cuma bisa dukung kamu dari belakang, Fay.”


“Makasih, Harv.”


Mereka melanjutkan obrolan ringan untuk beberapa saat kemudian. Harvey bilang, jadwalnya kosong setelah ini. Jadi dia bebas bersantai sesuka hati.


Keduanya tidak tau, kalau ada satu pria yang nampak tidak bisa fokus dalam rapat. Fikirannya terus tertuju kepada sang kekasih dengan beribu pertanyaan yang muncul di kepalanya.


Apa yang sedang Faya dan Harvey lakukan sekarang?


Mereka mengobrolkan apa?


Sudah selesai belum?


Mengobrol berdua saja, atau?

__ADS_1


Pertanyaan terkahir itu benar-benar membuat Prima blingsatan sendiri. Ia tidak ingin mencurigai kekasihnya. Tapi, rasa curiga itu terus bermunculan tanpa bisa ia kendalikan.


“Bisa fokus gak?” ujar Favita kepada Prima tanpa suara. Menatap adiknya itu dengan tatapan membunuh. Bisa-bisanya adiknya itu melamun saat rapat penting itu berlangsung. Padahal disana juga ada Ren dan beberapa jajaran direksi penting lainnya.


Prima hanya mencibir saja kearah kakaknya itu. Namun kemudian ia berusaha untuk fokus kembali ke rapat. Walaupun beberapa kecurigaan itu masih bercokol di hatinya.


Sebenarnya bukan hanya Favita yang memperhatikan Prima. Namun Ren juga memperhatikan kelakuan putranya itu. Karna biasanya dia yang paling kritis pendapat ketika rapat. Kini justru hanya diam. Mungkin mendengarkannya saja tidak.


Rapat itu berlangsung selama dua jam berikutnya. Setelah selesai, Prima langusng mengeluarkan ponsel dan menghubungi Faya.


‘Ya, Mas?’ Faya mengangkat telfonnya.


“Dimana?”


‘Masih di studio. Kenapa?’


“Udah jam segini kok masih di sana? Ngobrolin apa sih sampe berjam-jam?” dengus Prima tanpa sadar kalau masih ada Ren, Favita dan beberapa orang lain. Mereka semua kompak melihat kepada Prima dengan tatapan aneh.


‘Ya ngobrolin banyak lah. Kenapa?’


“Aku jemput ya?”


‘Gak usah. Aku bisa pulang sendiri. katanya Mas banyak kerjaan?’


“Gak mau. Pokoknya aku jemput. Jangan kemana-mana sampe aku datang.” Paksa Prima yang langsung memutuskan sambungan telfon begitu saja tanpa persetujuan Faya.


“Bucin, sih bucin. Profesional dong. Lagi kerja juga.” Sindir Favita sambil melenggangkan kakinya lewat di depan adiknya itu.


Bukan Prima namanya kalau dia tersinggung dengan ucapan Favita itu. Yang ada dia justru mencibiri kakaknya yang telah menghilang keluar dari ruangan.


Prima bergegas kembali ke ruangannya untuk mengambil kunci mobilnya. Setelah itu, kembali pergi untuk menjemput Faya. Sepanjang perjalanan, hatinya gusar bukan main. Ia tidak suka kekasihnya itu berlama-lama dengan pria lain. Yang ia tau, pria itu juga punya perasaan yang sama untuk Faya. Biar saja dia di anggap bucin, lah. Over protektif lah, atau apapun itu. yang jelas hatinya tidak terima. Harga dirinya terluka.


Berlebihan memang, tapi itulah yang di rasakan oleh Prima. Sudah cukup dia merasakan sakit karna di tinggalkan. Dia tidak mau lagi kehilangan Faya. Jadi, dia tidak akan lagi memberikan kesempatan pada pria manapun untuk mendekati kekasihnya itu yang berpotensi untuk menjadi lawannya. Dia ingin menjalani hubungan ini adem ayem tentrem tanpa ada yang mengganggu.


Hatinya benar-benar sudah dibuat penuh oleh seorang Fayandayu. Dan memang baru kali ini ia merasa aneh dengan diri sendiri. Kenapa bisa ia punya perasaan yang membuncah seperti ini kepada Faya. Perasaan yang sangat berbeda dengan cinta pertamanya dulu. Kali ini, ia ingin melindungi Faya dengan segenap hatinya. Ia ingin membuat Faya menjadi miliknya seutuhnya. Terkesan obsesi, tapi itulah bentuk kesungguhan Prima akan hubungan mereka.


__ADS_1



udah mulai bucin ini si pak boss crazy.


__ADS_2