One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 42. Berfikir Jauh Untuk Masa Depan.


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Faya bukan langsung masuk ke dalam rumahnya melainkan memencet bel apartemen Prima dulu. Tidak ada jawaban.


apa dia sudah pergi?


Tadi Faya masuk lewat loby jadi tidak melihat mobil Prima masih ada di garasi atau tidak.


Setelah beberapa kali menekan bel namun tetap tak mendapat jawaban, akhirnya Faya memberanikan diri untuk masuk saja. Toh sudah biasa juga dia kelaur masuk dari apartemennya Prima.


“Pak?!” panggil Faya.


Sepi. Di ruang tamu tak ada siapapun. Hanya terlihat selimut yang teronggok di sofa tanpa di lipat. Selimut bekas Prima tadi.


Faya mengetuk pintu kamar, namun juga tak mendapat sahutan. Sepertinya bosnya itu sudah pergi entah kemana. Ia kembali ke ruang tamu dan melipat selimut kemudian pergi dari rumah itu dan pulang ke rumahnya.


Sudah setengah 6 sore. Hari sudah beranjak malam. Mataharipun sudah lelah dan bersiap kembali ke peraduannya.


Faya segera membersihkan diri. Setelah itu memasak makan malam untuk dirinya sendiri. tidak mewah, hanya menggoreng telur dan menumis sayur bayam. Nasinya sudah ia masak sejak tadi pagi dan masih cukup untuk makan malam.


Walaupun uangnya bisa di bilang banyak di rekening, namun Faya tidak mau befoya-foya mentang-mentang ia sudah punya gaji banyak. Rencana masa depannya sangat panjang dan ia harus berfikir jauh kesana.


Ia harus bersiap. Ya walaupun tidak berharap untuk keluar dari perusahaan apalagi sampai di pecat. Namun, Faya tetap harus mengumpulkan uang itu jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu yang tidak ia harapkan. Karna bagaimanapun, tidak mungkin selamanya ia akan menjadi sekretaris Prima. mungkin saja sih, kalau dia beruntung.


Tapi kan, beberapa tahun ini keberuntungan seolah enggan hinggap pada kehidupannya. Jadi, ia harus bersiap untuk kemungkinan terburuk sekalipun.


Nasi dan lauk sudah siap di atas meja makan mungil. Lidahnya sudah terbiasa makan makanan sederhana jadi ia tidak merasa keberatan sekalipun. Ia yakin, di luar sana masih banyak orang yang masih kurang beruntung dari dirinya. Jadi apapun yang bisa dia makan, dia akan menikmatinya dengan penuh rasa syukur.


Faya sudah selesai makan dan mencuci piring. Masih pukul 8 malam dan ia belum merasa mengantuk. Faya berjalan ke meja dan lesehan di karpet. Punggungnya besandar pada sofa.


Ia mulai membuka laptop untuk mulai memeriksa jadwalpekerjaan Prima besok. Karna jadwal pekerjaan di Jogja yang banyak di batalkan, akhirnya Faya memajukan semua jadwal itu. Ia menghubungi beberapa kolega Prima untuk menentukan jadwal rapat yang sudah di ubah waktunya.


Ia terlalu fokus dengan pekerjaannya hingga tidak sadar sudah pukul setengah sebelas malam.


Faya meregangkan tubuhnya. Mengangkat kedua tangannya ke atas. Punggungnya terasa lumayan pegal juga.

__ADS_1


Ia segera mematikan laptop kemudian bersiap untuk tidur. Namun langkahnya terhenti saat ia mendangar passcode rumah Prima berbunyi. Segera saja ia berlari dan menemui bosnya itu.


Faya kelaur dengan wajah sumringah dan senyuman lebar. Namun senyumanya itu seketika menghilang saat melihat bosnya itu terhuyung tak karuan.


“Bapak mabuk?” tanya Faya seketika. Ia menangkap tubuh Prima yang terhuyung hampir terjatuh.


“Oh, Faya. Faya. Faya.” Racau Prima. mulutnya mengeluarkan aroma tidak sedap yang menyengat. Ini adalah kali pertama Faya melihat Prima mabuk.


Faya menekan passcode dan membawa Prima masuk ke dalam. Ia membaringkan tubuh kekar bosnya itu dengan susah payah ke atas ranjang. Membuka sepatunya dan menyelimuti tubuh Prima sampai sebatas dada.


Sungguh Faya tidak tau kalau ternyata bosnya itu doyan minum juga. Wajahnya tak terlihat seperti orang yang suka minum.


Faya pergi ke dapur dan mengambilkan air putih hangat untuk Prima. Setelahnya ia kembali dan membantu Prima meminumnya.


“Minum dulu, Pak.”


Prima menurut saja saat Faya menaikkan kepalanya dan meminumkan air padanya.


Faya meletakan gelas itu ke atas nakas kemudian kembali menyelimuti tubuh Prima.


Faya berbalik. Melihat kepada Prima yang ternyata sudah membuka matanya walaupun sayu.


“Temani aku, Fay.” Gumam Prima dengan jelas.


Kemudian, Prima kembali memejamkan matanya dan pegangan pria itu terlepas hingga tangannya terjatuh lemah di sisi ranjang.


Entah kenapa, melihat itu Faya merasa iba dan tidak tega. Ia mengambil tangan Prima dan menelusupkannya ke dalam selimut. Sekilas, ia bisa melihat butiran keringat yang mulai muncul di kening bosnya itu. Ia menarik tisu dari nakas kemudian mengelapnya dengan perlahan.


Panas.


Awalnya Faya tidak yakin. Ia menempelkan tangannya perlahan ke kening Prima. memang tindakannya ini termasuk kurang ajar. Tapi ia penasaran.


Dahi Prima terasa panas. Tidak terlalu, tapi Faya bisa merasakan kalau suhu tubuh Prima di atas normal.

__ADS_1


“Pak? Bapak sakit?” tanya Faya. “pak?”


“Hemh.” Dengung Prima singkat. Ia mengalihkan wajahnya ke samping.


Faya kembali memeriksa kening Prima. tak menunggu waktu, ia pergi ke dapur dan mengambil kompresan kemudian mengompres kening bosnya itu.


Entahlah, kenapa Faya merasa panik melihat Prima demam seperti itu. Ia terus merawat bosnya itu sepanjang malam dengan perasaan yang, entah. Walaupun mengantuk tapi ia ingin menemani Prima.


Pukul tiga dini hari, Faya memutuskan keluar dari kamar Prima setelah pria itu nampak terlelap dan demamnya mulai turun. Ia berbaring di sofa ruang tamu. Tidak pulang. Karna ingin berjaga-jaga kalau sesuatu kembali terjadi dengan Prima. Atau kalau pria itu tiba-tiba membutuhkan sesuatu.


Faya menarik selimut kecil untuk menghalau udara dingin. Meletakkan bantal sofa di ujung dan ia mulai berbaring. Tidak butuh waktu lama untuknya terpejam dan terlelap.


Saat pagi, Prima mengernyit mendapati sesuatu menempel di keningnya. Ia mengambilnya dan meletakkannya di atas nakas begitu saja. Ia ingat, walaupun samar, semalam ada Faya disini. Ia juga ingat kalau semalam ia merasa tubuhnya kurang baik. Pasti Faya yang mengompresnya.


Setelah mencuci wajah, Prima keluar. Ia kembali mengernyit saat tatapannya terpaku pada sosok sekretarisnya yang masih terlelap di atas sofa.


Tanpa di komando, kaki Prima otomatis berjalan ke arah gadis itu. Berjongkok di dekat Faya dan terus memperhatikan lekat wajah manis yang beberapa waktu belakangan ini selalu mengusik tidurnya.


Perlahan, ia membenahi geraian rambut Faya yang menutupi wajah gadis itu. Sesungging senyuman nampak terlintas di bibirnya. Kemudian ia membenahi selimut gadis itu dan berjalan ke dapur untuk membuat sarapan.


Faya terkejut saat mendengar suara-suara di dapur. Seketika ia terbangun dan menghampiri Prima.


“Bapak udah sembuh?” tanya Faya.


Prima hanya menoleh sebentar kemudian sibuk dengan gelas kopinya.


“Hem.” Jawab Prima singkat.


Lega sekali hati Faya melihat kalau bosnya itu sudah sembuh. Lantas ia pamit undur diri untuk bersiap pergi ke kantor.



__ADS_1


mau bosen ngingetin, tapi gimana. heheheheh. jejaknya jangan lupa ya warga...tengkyu buat yang rajin sedekahin jempolnya sama cerita ini. semoga lebaran nanti dapet THR 2x lipat.


__ADS_2