
Di tengah keseriusan itu, ada Faya yang hanya diam saja tanpa mengomentari apapun. Ia ikut senang jika akhirnya Harvey sudah menemukan tambatan hati. Padahal ia sempat khawatir jika temannya itu akan menutup hati kepada perempuan lain.
“Hhkkkkk.” Tiba-tiba Faya merasakan sebuah desakan dari dalam perutnya. Perutnya mual luar biasa dan rasanya ia ingin mengeluarkan semua. Seketika Faya menutup mulutnya kuat-kuat. Ia segera berlari ke luar ruangan tanpa bermisi lagi.
Prima Yang terkejut melihat keadaan Faya langsung mengikuti istrinya itu keluar. Ia bahkan sampai menyusul ke kamar mandi. Untung tidak ada pengunjung lain di dalamnya. Kalau tidak, bisa habis Prima di hajar karna dikira orang me sum.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Prima yang langusng mengusap-usap punggung istrinya.
“Perutku sakit, Mas. Mual.”
“Kamu ada salah makan?” tanyanya kemudian.
Faya menggeleng setelah mengingat-ingat.
“Faya kenapa, Prim?” suara Zinnia yang ternyata mengikuti mereka.
“Muntah-muntah, Ma. Katanya perutnya sakit.”
“Hamil, mungkin. Bawa ke rumah sakit aja.” ucapan Zinnia itu membuat Faya dan Prima langsung menatapnya. Namun itu tidka berlangsung lama karna perut Faya kembali merasa mual dan dia kembali masuk ke dalam bilik dengan di ikuti oleh Prima juga.
Makan malam itu berakhir dengan persetujuan keluarga atas lamaran Harvey kepada Favita. Dan Prima yang segera membawa istrinya ke rumah sakit.
Dan disinilah mereka.
Prima dan Faya sedang berada di ruang tunggu sebuah klinik milik kenalan keluarga. Tidak lupa, Zinnia juga ikut dengan mereka.
Setengah jam menunggu, dan tibalah giliran Faya untuk di periksa. Prima dan Zinnia juga ikut masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Prima bahkan tidak mengalihkan pandangan dari istrinya barang sedetikpun. Apalagi saat dokter mulai melakukan USG dan memberitahu kalau Faya tengah mengandung dengan usia kehamilan yang sedang berjalan 4 minggu.
Ternyata benar dugaan Zinnia. Kalau menantunya itu sedang hamil. Karna beberapa hari belakangan ini ia memperhatikan Faya yang sudah muncul tanda-tanda kehamilan. Seperti dirinya dulu.
Hampir saja Prima tidak bisa menahan airmata harunya. Sambil menatapi layar monitor, tangannya tak mau lepas dari menggenggam tangan Faya. kabar ini adalah kabar yang sangat membahagiakan untuknya.
Memikirkan akan segera menjadi ayah, membuat Prima sangat antusias. Matanya berkaca-kaca namun ia masih bisa menahannya.
__ADS_1
Sama halnya dengan Faya. Tapi airmata wanita itu sudah lolos di pipinya sejak tadi. Ia menangis bahagia. Merasakan kalau di dalam perutnya, tengah tumbuh sebuah janin, buah cintanya dengan Prima.
“Selamat ya, sayang.” Zinnia juga ikut merasakan kebahagiaan anak dan menantunya. Ia menjadi tidak sabar untuk menyambut kehadiran cucu pertamanya.
“Makasih, Ma.”
“Malam ini, gak usah pulang ke apartemen. Nginap di rumah Mama aja. keluarga harus tau kabar bahagia ini.” Ujar Zinnia antusias ketika mereka sudah keluar dari klinik.
“Iya, Ma.” Jawab Faya.
Di sepanjang jalan, Faya terus mengusap pelan perutnya yang masih rata itu.
“Di jaga baik-baik istrimu, Prim. Jangan dibuat capek.” Pesan Zinnia bahkan ketika mereka masih ada di dalam mobil.
“Iya, Ma. Prima ngerti.”
Kabar kehamilan Faya di sambut antusias oleh seluruh keluarga Prima. bahkan Esta sampai meneteskan airmatanya. Bening itu mengaliri wajah keriputnya. Dan ia juga memeluk Faya dengan hangat.
“Tuh, kan. Apa ku bilang. Gak lama lagi aku bakalan punya ponakan. Iih. Jadi gak sabar.” Favita juga tak akalah antusiasnya
“Prim, bawa istrimu istirahat. Udah malem. Faya pasti capek.” Perintah Zinnia ketika semua orang sedang sibuk dengan kabar bahagia itu.
Prima mengangguk patuh. “Yuk, sayang.” Ajaknya.
Prima dan Faya kemudian masuk ke dalam kamar. Prima segera mengunci pintu, sementara Faya terus berjalan menuju ke ranjang. Namun langkahnya terhenti saat tiba-tiba Prima memeluknya dari belakang. Erat sekali. Pria itu juga menciumi tengkuknya lama sekali.
Setelah puas memeluk istrinya, Prima memutar tubuh Faya untuk menghadapnya. Menangkup wajah wanitanya itu dengan kedua tangannya. Lalu melu mat bibir istrinya dengan lembut dan dalam.
“Makasih sayang. Aku gak tau gimana lagi cara ungkapin rasa terimakasihku buat kamu. Makasih udah ngelengkapi hidupku. Dan sekarang, kamu hadirkan buah hati kita. Buah cinta kita ada disini.” Prima mengelus perut Faya lembut. “Selamanya, aku bakalan jaga kamu dan anak-anak kita.”
“Anak-anak?” konsentrasi Faya terpecah ketika mendengar kata ‘anak-anak’. “satu aja belum launching, Mas.” Selorohnya.
“Hehehehe. Ya kan bakalan terus launching setelah ini. Masih inget kan, kalau aku pengen punya anak banyak?”
__ADS_1
Dan mereka berhayal tentang hal yang sama. Tentang kebahagiaan yang sepertinya sudah siap menyambut rumah tangga kecil mereka.
“Mas Iwan udah di kasih tau?” Prima mengingatkan. Ia merangkul istrinya dan menuntunnya menuju ranjang. Mendudukkannya dan membantu menyelimutinya.
“Belum. Besok aja. udah malam juga. Mungkin dia udah tidur, kalau gak ya lagi kerja. Kasihan kalau di ganggu.”
Prima mendudukkan dirinya di sebelah istrinya. Sementara Faya merebahkan kepalanya di dada suaminya dengan tangan yang melingkar di pinggangnya. Kepalanya sedang di elus lembut oleh pria itu.
“Aku bahagia banget, Mas.” Lirih Faya.
“Aku juga.”
“Tolong jangan pernah berpaling dari aku ya, Mas? Dari kami?”
“Gak akan, Sayang. Sejak awal aku udah komitmen. Hanya akan ada kamu di hatiku. Mataku udah gak bisa ngelihat kecantikan cewek lain. Di mataku, cuma kamu wanita yang paling cantik di dunia. Mama aja kalah sekarang.”
Faya memukul dada Prima pelan. “Ch. Gak boleh gitu. Mana bisa aku di bandingin sama Mama?”
“Beneran, serius.”
“Hehehhe. Aku juga. Di mataku, di hatiku, dan di duniaku, aku cuma mau kamu. Gak mau yang lain.”
Prima mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala istrinya. Seolah ia ingin Faya mengetahui besarnya kebahagiaan yang sedang ia rasakan saat ini. Karna ia tidak tau bagaimana cara mengungkapkannya dengan mulutnya.
Mereka berdua, kini telah berlayar untuk mengarungi biduk rumah tangga yang sebenarnya. Dengan kehadiran buah hati yang akan menjadi kekuatan untuk melawan segala badai yang akan datang.
Dan janji Prima, masih ia pegang teguh. Sampai kapanpun, ia akan memegang teguh janjinya itu untuk selalu menjaga dan melindungi keluarga kecilnya.
Fayandayu, kebahagiaan benar-benar telah menghampirinya.
Fayandayu, kebahagiaan sedang membuka lebar tangannya untuk menyambutnya.
Fayadayu, kebahagiaan akan merengkuhnya bersama wujud seorang pria bernama Prima Hebi Prianggoro.
__ADS_1
Selamat bahagia untuk kalian.
^TAMAT^