
Semilir angin malam semakin membuat fikiran Faya melayang-layang. Ia ingin menerima permintan Prima dan ingin pulang dengan pria itu. Tapi, ada sesuatu yang masih mengganjal di hatinya.
Tentang skandal yang terjadi di kantor. Dan Faya yakin, kalau sekarangpun, dirinya masih menjadi bahan pembicaraan di kantor. Ia ingin kembali, tapi untuk bekerja dengan Prima kembali, rasanya itu sangat tidak mungkin. Hatinya belum kebal dan pulih setelah luka yang ia alami.
“Ngelamunin apa sih?” tanya Prima yang rupanya sejak tadi terus memperhatikan gadis di sampingnya itu. Ia tak lepas tersenyum karna merasa Faya sudah sedikit membuka hati untuknya.
“Pak, seandainya saya ikut Bapak pulang, apa Bapak mau jadikan saya sekretaris lagi?”
“Ya iya, dong. Jadikan istri kalau perlu.” Seloroh Prima.
“Saya serius, Pak.”
“Aku juga serius, Fay.” Ia menoleh dan ternyata Faya tengah menatapnya dingin. Namun ia segera tersenyum kemudian menenggak minuman bersoda yang ia pegang hingga habis tak bersisa.
“Kenapa sih? Bapak ini susah banget kalau di ajak ngomong serius?” Faya mulai kesal.
“Hehehe. Kenapa? Kamu takut kalau orang-orang kantor masih bicarain kamu?” Prima menebaknya dengan benar. Menang itulah yang masih di khawatirkan oleh Faya.
Faya sih tidak masalah kalau ia tidak bekerja lagi di FD Corp. Toh dia sudah mendapatkan jaminan pekerjaan di perusahaan milik Pak Hendro. Tapi, apa itu akan menyenangkan nantinya? Apa ia akan merasa nyaman disana Berbagai pertimbangan mulai muncul di benaknya.
Ah, padahal itu hanyalah sebagai pembenaran akan hati kecilnya yang terus meronta ingin kembali bekerja dengan Prima. Sehingga menimbulkan pertimbangan-pertimbangan itu.
“Saya masih gak sanggup dengerin cemoohan orang-orang kantor, Pak.” Jujur Faya.
“Gak usah khawatir. Kamu harus balik ke kantor supaya mereka bisa minta maaf sama kamu karna udah fitnah kamu kayak gitu.”
Entahlah, kalimat Prima itu seperti sebuah janji untuk Faya. Dan itu semakin menggoyahkan keyakinan Faya untuk tetap bertahan di sini.
“Aku tau kalau Soraya yang udah nyebarin gosip itu.”
Deg.
Mendengar nama Soraya di sebut, hati Faya kembali mencelos sakit. Luka akibat penghianatan yang mulai tertutup kini seolah di paksa untuk di korek oleh nama itu yang di ucapkan Prima.
__ADS_1
Di hianati oleh orang yang paling kita percaya, sungguh, tingkat sakitnya sangat tinggi.
“Kamu pasti marah dan benci banget sama Soraya, kan? Aku bakalan bantuin kamu supaya mereka gak ngegosipin kamu lagi?”
“Caranya?”
“Udah, pokoknya kamu tenang aja. Yang penting, kamu ikut balik dulu. Selebihnya, kamu tinggal terima beres. Oke?”
Apa Faya harus mempercayai ucapan Prima itu? bagaimana kalau itu hanyalah satu akal bulus Prima lagi? Mungkinkah?
“Bapak gak akan ngerjain saya lagi, kan?” tanting Faya.
“Enggaklah, Fay. Aku udah kapok. Aku gak mau kamu pergi lagi. Aku udah janji bakalan berubah. Aku udah bener-bener kapok soalnya. Hehehehe.” Prima terkekeh kecil ketika mengingat betapa konyol dan bodohnya ia dulu. Hingga tanpa sadar, tangannya terangkat dan mengelus belakang kepala Faya.
Deg.
Entah apa yang baru saja mengaliri pembuluh darah Faya. Desiran itu bahkan sampai ke jantungnya.
Mendapat penolakan dari Faya, Prima kembali menarik tangannya. Ada pias yang sempat ia rasakan di hatinya. Ternyata Faya masih belum sepenuhnya memaafkan dirinya. Wajar saja lah. Mungkin harus perlahan-lahan.
“Ngomong-ngomong, Bapak ngancam Harvey gimana kok dia bisa kasih tau saya ada di sini?”
“Siapa yang ngancam? Cuma narik kerahnya doang. Sama, hampir di tonjok.”
“Pak Prima?!” pekik Faya. Ia tidak terima membayangkan kalau Harvey di hajar oleh Prima demi mendapatkan informasi. Mungkinkah Prima akan melakukan itu? setengah yakin, dan setengah tidak yakin.
“Ya emang bener.” Padahal Prima jujur. Tapi yang masuk ke kepala Faya justru sebuah adegan aksi yang mengerikan.
“Bapak serius hajar Harvey?” Faya bersiap-siap mengeluarkan ponselnya dan hendak menelfon Harvey.
“Aku gak bilang hajar dia, ya. Aku Cuma bilang, narik kerahnya sama, hampir nonjok dia. Tenang aja. Aku gak mungkin ngehajar dia. Kan semua ini salahku juga. Ya kali aku pakai cara kekerasan sama Harvey padahal dia satu-satunya orang yang tau kamu ada disini. Kalau ngelihat sifatnya Harvey, walaupun aku hajar habis-habisan, dia gak akan ngasih tau kamu ada dimana. Jadi tenang aja. dia gak apa-apa.” Prima menjelaskan panjang lebar karna takut terjadi kesalah fahaman kembali.
Lega sekali hati Faya mendengarnya. Ia merutuki otaknya yang sudah berfikiran berlebihan sendiri. tanpa terasa, ia menarik nafas lega.
__ADS_1
“Segitunya kamu khawatir sama Harvey?” terdengar sebuah nada tidak suka di sana.
“Ya iyalah, Pak. Secara dia yang selalu ada buat saya. Dia juga udah bantuin saya pas saya lagi terpuruk. Bukan kayak......”
“Maafin aku.” Potong Prima lirih. Wajahnya kini tertunduk pias. Perubahan suara itu membuat Faya sontak menoleh kepada Prima.
Sepertinya Prima sedang merasa tersinggung karna ucapan Faya. Padahal, Faya sama sekali tidak bermaksud untuk menyindir Prima. Ia bermaksud untuk mengatakannya dengan lantang.
“Mungkin hati kamu masih berat buat maafin aku ya, Fay? Aku tau kok, seberapa besarnya kamu kecewa sama aku. Walaupun aku udah lama punya rasa sama kamu, tapi aku masih gengsi buat ungkapinnya. Dan, ujung-ujungnya aku malah nyakitin kamu kayak gini.”
Ehm, Faya merasa atmosfir di sekitar mereka menjadi dingin dan tidak nyaman. Seketika ia sadar kalau Prima pasti merasa tersinggung karna ucapannya.
Sepertinya, Prima memang benar-benar telah menyesali perbuatannya. Pertanyaan itu membuat hati kecil Faya semakin memberontak saja. Keinginan untuk pulang dan menerima perasaan Prima semakin membuncah di hatinya. Benarkah tidak apa-apa jika ia kembali? Terlebih, untuk menjadi sekretaris Prima? entahlah, Faya berada di ambang keraguan.
“Bapak kok jadi mellow? Bapak nangis?”
“Enak aja, nangis. Kamu ini. Suasana lagi tegang ini, Fay. Huh.” Kesal Prima.
Faya hanya terkekeh saja mendengarnya. Ia berhasil mencairkan suasana. Aneh melihat Prima melow begitu. Seperti bukan Prima saja.
“Pak, masuk, yuk. Laper nih. Dari tadi katanya mau cari makanan. Malah gak jadi-jadi. Udah dingin juga.” Akhirnya Faya berniat untukem ngakhiri obrolan malam itu. ia butuh waktu sendiri untuk memikirkan siapa yang harus ia pilih. Hati, atau otaknya.
“Ganti dulu panggilannya, Fay. Sumpah, aku tuh ngerasa tua banget kalau di panggil Bapak.” Gerutu Prima.
“Rata-rata orang manggilnya Bapak, kok.”
“Jadi, kamu bener-bener mau aku jadi bapaknya anak-anak kamu?” seloroh Prima kembali. Jahilnya kumat.
“Idiiihhh. Bapak apan sih?”
“Makanya panggil Abang, dong. Abang kan pengen di panggil Abang sama Neng Faya.” Goda Prima tak henti-henti.
Faya hanya terkekeh geli sendiri. kemudian ia bangun dan pergi meninggalkan Prima lebih dulu.
__ADS_1