
Hari-hari berlalu seperti itu. Faya setia mendampingi dan membantu Prima sehingga tak terasa sudah hampir satu tahun Faya bekerja pada Prima.
Dan selama itu, Faya benar-benar sudah mengenali dengan sangat baik seluk beluk seorang Prima Hebi Prianggoro. Bosnya yang terkadang masih suka usil mengerjainya, namun ia tetap bertahan demi gaji yang lumayan besar itu.
Faya adalah satu-satunya sekretaris yang sudah berhasil memecahkan rekor. Rekor terlama bekerja sebagai sekretarisnya Prima. Kegigihannya menghadapi Prima bahkan sudah terkenal seantero perusahaan.
Dan yang paling fenomenal adalah, kerja keras Faya demi mendampingi dan membantu Prima melakukan sesi konseling dan terapi untuk penyembuhan traumanya terhadap air. Kini, Prima sudah lebih berani walaupun masih sekedar duduk di tepian kolam renang.
Selama satu tahun ini, banyak perubahan positif dalam diri Prima. tentu saja itu semua hasil kerja keras dari sekretarisnya, Fayandayu.
Bersama Faya, Prima merasa mendapat begitu banyak kekuatan untuk melawan traumanya. Karna itu juga ia bersedia menjalani konseling dan terapi. Ia ingin sembuh. Walaupun itu ternyata sangat sulit.
Hal positif ini tentu saja mendapat dukungan penuh dari keluarga Prima. Faya bahkan sudah menjadi seperti anggota keluarga di antara mereka. Gadis itu dekat dengan zinnia dan yang lainnya juga.
Jadi, apa kabar tentang perasaan Prima? tentu masih sama.
Ada satu hal yang di takutkan prima jika ia mengungkapkan perasaannya kepada Faya. Ia takut gadis itu akan bersikap canggung padanya. Dan itu tidak baik untuk hubungan mereka. Biarlah seperti ini saja, Prima merasa cukup. Bisa memperhatikan gadis itu dan menjaganya untuk terus berada di dekatnya.
Sudah banyak yang berubah dari seorang Fayandayu. Terlebih penampilannya.
Kini, penampilan Faya jauh lebih modis daripada saat pertama-tama ia bekerja dulu. Bukan apa, dulu ia tidak punya uang untuk membeli pakaian yang sesuai dengan pekerjaannya. Sekarang setelah mendapat gaji yang besar, ia membeli banyak pakaian kerja yang bagus dan sesuai untuk seorang sekretaris dari direktur eksekutiv FD Corp, Prima Hebi Prianggoro.
Dan hal ini juga tak pernah lepas dari sentuhan Soraya. Wanita itu tak pernah lelah membantu Faya untuk memperbaiki penampilannya. Dan alhasil, kini Faya menjelma menjadi gadis yang lebih cantik dari sebelumnya.
Hari ini, Faya libur. Karna Prima sedang ada acara pribadi dengan teman-temannya. Acara ulang tahun salah satu temannya. Lagipula, ini hari minggu. Jadi hari ini Faya dan Soraya sepakat untuk berjalan-jalan ke taman hiburan saja dari pada di rumah seharian. Mereka juga butuh healing.
Faya sudah siap dan sedang menuggu di depan gedung apartemen. Tak berapa lama kemudian, sebuah mobil sedan berwarna putih membunyikan klakson dan berhenti di dekatnya. Tak lama berselang, berhenti juga sebuah mobil SUV hitam yang ikut berhenti di belakang mobil putih.
Faya tau pemilik mobil sedan putih itu, Soraya.
Seorang Prima gagah berkaca mata hitam turun dari mobil dan langsung tersenyum lebar kepada Faya.
“Hai, Fay? Mau pergi?” tanya pria itu.
“Harvey? Kok kamu bisa ada disini? Gimana ceritanya?” tanya Faya yang nampak terkejut dengan kemunculan Harvey yang tiba-tiba.
__ADS_1
“Hehehe. Aku memang mau ke rumah kamu. Aku lihat kamu disini jadi aku berhenti.”
Soraya pun keluar dari mobil. Ia mengangguk ramah kepada Harvey.
“Kalian mau kemana?”
“Healing.” Jawab Faya terkekeh sambil menoleh kepada Soraya.
“Ikut, dong.” Pinta Harvey seketika.
“Serius? Kita mau ke Ancol, lho. Banyak orang, emangnya gak apa-apa?” tanya Faya kembali. Bukan Harvey tidak boleh ikut mereka, Ia khawatir kalau nanti Harvey merasa tidak nyaman karna bertemu dengan banyak orang.
“Gak apa-apa, lagi. Aku gak seterkenal itu, Fay. Santai aja.” Ternyata Harvey mengerti apa yang sedang di khawatirkan oleh Faya.
“Ya udah. Makin banyak orang kan makin seru. Ayo.” Soraya juga antusias dengan keikut sertaan Harvey.
“Kita naik mobilku aja, gimana?”
“Boleh, aku titip mobil di gedung apartemenmu aja ya, Fay?” Tawar Soraya.
Tak berapa lama kemudian, Soraya nampak berlari kecil dan langsung masuk ke dalam mobil Harvey. Faya sudah duduk manis di samping Harvey yang duduk di balik kemudi. Sementara Soraya duduk di belakang sendirian.
Tak apa, Soraya memang tau kedekatan yang terjalin antara Harvey dan Faya. Jadi tak masalah kalau ia mengalah dan duduk di belakang sendirian.
Harvey mulai melajukan mobilnya menuju Taman Impian Jaya Ancol. Bahkan setelah sampai, ia juga yang membayari tiket kedua gadis cantik itu. Tentu saja di sambut gembira oleh Faya dan Soraya.
Tujuan pertama mereka tentu saja Dufan. Karna hari masih pagi, jadi mereka berniat untuk menguji adrenalin lebih dulu dengan naik ke wahana-wahana menegangkan yang ada di Dufan.
Mereka benar-benar bersenang-senang. Sampai tiba-tiba, ponsel Soraya berdering saat mereka baru saja turun dari roller coaster.
“Aduh, gimana, nih? Mamaku tiba-tiba telfon aku di suruh pulang ada sesuatu hal yang penting.” Ujar Soraya dengan suara yang tak enak hati.
“Yyahhhh, Mbak Sora kok gitu. Gak seru, ih.” Faya kecewa. Mereka belum lama disini dan masih banyak wahana yang ingin dia coba.
“Sorry banget, Fay. Kayaknya aku harus pulang deh. Kalian lanjutin aja berdua. Ya. Sorryyyy, banget.” Sesal Soraya. Ia menangkupkan kedua tangan di depan dada dengan tatapan menyesalnya.
__ADS_1
Faya bertukar pandang dengan Harvey. Walaupun ia kecewa karna Soraya harus pergi, tapi ya mau bagaimana lagi? Jadi lah, dengan Harvey pun.
Lambaian tangan Faya dan Harvey mengantarkan kepergian Soraya.
“Yuk, mau kemana lagi?” tanya Harvey setelah Soraya menghilang dari pandangan mereka.
Faya antusias mengatakan tujuannya selanjutnya. Dan mereka menghabiskan waktu seharian untuk mencoba berbagai wahana yang ada di sana. Sampai keduanya merasa lelah.
Hari sudah temaram, dan kini Faya dan Harvey sedang berada di sebuah cafe yang ada di kawasan Ancol setelah menghabiskan waktu seharian bersenang-senang. Dan satu set hidangan makan malam sudah tersaji di atas meja dan siap untuk di nikmati.
“Fay, kamu masih punya hutang, lho sama aku.” Seloroh Harvey yang mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Tenang aja, aku masih inget kok. Jadi kamu mau apa?”
Harvey menatap lurus dengan sorot mata yang serius kepada Faya dengan mulut yang berhenti mengunyah.
Tatapan sendu yang seolah penuh rindu.
“Kenapa jadi ngelihatinnya begitu? Ada yang aneh ya sama mukaku?” Faya meraba-raba wajahnya.
Harvey malah tersenyum saja. “Gak ada, kok. nanti aja. Makan dulu.” Ujar Harvey melanjutkan makannya.
Setelah makan malam, Harvey mengantarkan Faya pulang ke apartemen sampai ke depan pintu rumah Faya. Pria itu, sudah berkali-kali mere mas celananya sendiri. seperti ada yang sedang di khawatirkan olehnya.
“Mau masuk dulu?” tawar Faya.
“Enggak. Di sini aja.. ehm,, Fay?”
“Ya?”
“Aku suka sama kamu, Fay.”
Jreng!!
Faya mematung dan membeku di tempatnya, dengan tangan menyentuh handle pintu. Menatap ternganga kepada Harvey yang juga sedang menatapnya.
__ADS_1