One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 33. Batasan. Banyak Pertimbangan Jika Harus Melewatinya.


__ADS_3

“Jangan di lihatin aja, Prim.” Celetuk temannya menyindir. Ternyata mereka semua tau kalau sejak tadi Prima tidak lepas memandangi sekretarisnya yang sibuk dengan makanannya di dalam sana.


Mendapat teguran itu membuat wjah Prima merona. Ia kalah malu. Berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya dengan menyeruput kelapa muda di hadapannya.


Prima dan teman-temannya kembali melanjutkan perbincangan bisnis mereka. Sesekali mereka tergelak tertawa saat bercerita tentang kejadian masa lalu.


Di dalam, Faya sudah selesai makan. Tapi ia tidak lantas keluar dari dalam warung. Ia hanya tidak ingin mengganggu Prima yang sepertinya sedang bersenang-senang dengan teman-temannya.


Hati Faya berdegub kencang saat sebuah panggilan muncul di layar ponselnya. Itu adalah Iwan.


Lama sekali Faya baru mengangkat telfon dari masnya itu. Berkali-kali ia menarik nafas untuk melegakan dadanya yang tiba-tiba terasa berat.


“Halo, Mas?” jawabnya pada akhirnya.


“Fay, kamu dimana? Kok gak ada di rumah? Kiran bilang kamu kabur dari rumah? Bener?”


Deg.


Jantung Faya berdetak semakin kencang mendengar rentetan pertanyaan dari Iwan. Namun ia berusaha untuk menormalkan suaranya agar masnya itu tidak terlalu mengkhawatirkannya.


“Em, Mas udah pulang? Maaf Faya gak ngasih kabar dulu sama Mas. Faya udah dapat kerjaan, Mas. Dan Faya dapet fasilitas tempat tinggal dari perusahaan. Faya gak kabur kok, Mas.” Jawab Faya setenang mungkin.


“Bohong itu. Dia kabur. Gak bilang apa-apa.” Terdengar suara Kiran di seberang telfon.


Faya menghela nafas pelan. Ia tau kalau Kirani pasti sudah bercerita yang tidak-tidak kepada suaminya. Sehingga Faya bisa merasakan suara intimidasi dari perkataan Iwan.


“Kamu dimana sekarang? Pulang.” Suara Iwan terdengar lebih tegas dari sebelumnya. Seperti memaksa dan marah.


“Faya gak bisa pulang sekarang, Mas. Soalnya Faya lagi kerja di luar kota. Nanti kalau Faya udah balik ke Jakarta Faya nemuin Mas.”


“Kapan kamu pulang?”


“Mungkin sekitar seminggu lagi.”


“Udah telat. Keburu mas balik kerja lagi.” Hardik Kirani dari seberang.

__ADS_1


Faya hanya bisa kembali menghela nafas kesal. Kali ini, ia sengaja mendengarkannya kepada Iwan agar masnya itu mengerti posisinya.


“Ya udah. Nanti kalau udah balik Jakarta langsung pulang, ya. Mas tunggu di rumah.”


“Lho, ngapain di tunggu sih, Mas. Mas kan harus kerja.” Sepertinya Kirani tak rela jika suaminya menyia-nyiakan waktu menganggur di rumah.


Tut. Tut.


Faya menatapi layar ponselnya dengan perasaan yang tak menentu. Ia tau, saat ini Kirani dan Iwan pasti sedang berdebat. Dan seperti biasanya, Masnya itu akan selalu mengalah kepada istrinya.


Ingin rasanya Faya berkata kepada Iwan untuk menceraikan saja Kirani. Ia tidak tega melihat fisik Iwan yang semakin hari semakin kurus kerempeng. Hitam dan tak terawat. Bekerja mati-matian untuk memenuhi segala permintaan Kirani. Bekerja membanting tulang  bahkan tanpa mendapatkan sebuah rasa hormat sedikitpun dari Kirani.


Padahal dulu, Iwan itu tampan. Bertubuh atletis dan terjaga dengan baik. Tapi sekarang, kondisi fisiknya sungguh memprihatinkan.


Prima dan teman-temannya masih serius mengobrolkan sesuatu. Dan Faya mulai merasa bosan. Mereka mengobrol bukan masalah pekerjaan, jadi Faya tak tau harus bagaimana. Jadi, ia memutuskan untuk berjalan-jalan saja di sekitaran pantai.


“Maaf, Pak. Saya mau ke sana sebentar.” Pamit Faya setengah malu. Karna kedatangannya itu membuat aktifitas mengobrol mereka terhenti sementara.


Prima hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa berkomentar apa-apa. Ia tau kalau Faya pasti merasa bosan menunggunya sendiri di dalam.


Faya melepas sepatunya dan ia letakkan di atas pasir. Kemudian ia duduk dengan menggunakan sepatunya itu sebagai alas. Ia memandang ke lautan lepas.


Perlahan, matahari mulai beranjak dari langit dan bersiap di peraduannya. Meninggalkan jejak berupa cahaya emas yang berkilau memantul ke lautan. Jingga itu, seolah bersatu dengan laut dan menciptakan suasana romantis tak berkesudahan.


Faya sempurna terpana memandang pemandangan yang sangat memukau itu.


Sementara di warung, teman-teman Prima baru saja pulang setelah reuni mereka selesai. Prima beranjak dan berjalan di sekitar pantai. Ia mencari Faya yang ternyata sedang duduk sendirian di tempat yang tidak jauh darinya. Sementara di sekitar mereka, banyak sekali pasangan yang juga tengah menikmati sunset yang indah.


Prima mengambil ponselnya, lantas membidik ke arah Faya. Siluet gadis itu nampak jelas dengan cahaya jingga yang berpendar di wajahnya.


Deg.


Ah, jantung Prima kembali bergetar. Melihat tatapan Faya yang menyapu lautan, membuat dadanya berdesir naik turun. Prima bukan tidak menyadari tentang perasaanya. Dia hanya sedang memberi batasan untuk mereka agar tidak mengganggu pekerjaan. Karna hubungan yang jelas antara dirinya dan Faya adalah sebagai bos dan sekretarisnya. Hubungan ini membuat banyak pertimbangan jika Prima harus menyeberangi batasannya.


Angin yang berhembus membuat Faya memeluk tubuhnya sendiri. padahal angin itu tidak membuatnya dingin. Entah kenapa dia bergidik dan hatinya terus berdebar.

__ADS_1


Prima perlahan berjalan mendekati Faya, kemudian ia duduk begitu saja di sebelah gadis itu. Faya terkejut saat merasakan seseorang yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Ia langsung menoleh dan bernafas lega karna ternyata itu adalah Prima. hampir saja Faya menyiramkan pasir yang sedang ia mainkan.


“Gak dingin apa?” pertanyaan dari Prima.


“Enggak, Pak. Bapak udah selesai? Mau pulang sekarang?” tanya Faya sadar diri. Ia langsung saja berdiri dari duduknya.


Tapi, sesaat kemudian ia kembali jatuh saat Prima menarik lengannya dan memaksanya untuk duduk kembali. Faya menatap heran karena sikap bosnya itu.


“Nanti aja. Duduk dulu.”


Prima tau, Faya masih ingin menikmati keindahan matahari terbenam. Dan ia, masih ingin menikmati wajah bias Faya tentu saja.


“Apa terlalu berat?”


Pertanyaan ambigu Prima itu membuat Faya menoleh kepadanya. Sementara Prima menatap lurus ke arah jingga yang sudah setengah tenggelam.


“Maksud Bapak?”


“Apa terlalu berat kerja sama aku?”


Faya terdiam ebentar untuk mencerna kalimat Prima.


“Berat. Tapi di awal. Ternyata Bapak gak seburuk yang saya kira. Saya Cuma penasaran satu hal, kenapa Bapak suka sekali ngerjain sekretaris Bapak?” akhirnya Faya bertanya juga. Hal yang selama ini selalu mengganggu fikirannya.


Suasana romantis itu mendorong keberanian Faya untuk bertanya.


“Kepo.”


Sungguh jawaban yang sangat tidak di harapkan oleh Faya. Padahal ia berharap Prima akan menjawab jujur.


“Pak, berhentilah ngerjain orang. Kasihan anak orang, Pak. Kalau aku sih, udah gak punya orangtua. Jadi gak akan ada yang kasihan sama aku. Hehehehhe.”


Ya ampun, apa yang Faya bicarakan. Kenapa ia membuka diri kepada bosnya itu? Lagipula apa hubungannya itu dengan Prima?


“Memangnya di kasihani orang itu sesuatu yang besar? Hebat, begitu?” nada suara Prima naik beberapa oktaf. Ia menoleh kepada Faya dengan tatapan yang nyalang. Entah kenapa ia kesal mendengar Faya merendahkan diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2