One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 84. Terlalu Bersemangat.


__ADS_3

Langkah kaki Faya gemetar. Ia merasa aneh. Apalagi Prima tidak mau melepaskan genggaman tangannya darinya.


“Mas, lepasin dong.” Pinta Faya. Ia canggung. Ia tidak ingin di anggap sedang memamerkan kemesraan di depan para tetua. Ia merasa itu tidaklah sopan menurutnya.


Namun yang ada Prima justru semakin mengeratkan genggamannya ketika Faya berusaha untuk melepaskan diri. Pria itu terus menuntun mereka ke ruang keluarga dimana biasanya keluarganya tengah berkumpul.


“Ma, Pa. Aku datang, bawa calon istri.” Celetukan Prima itu langsung membuat semua orang yang ada di ruang keluarga menoleh kapadanya.


Berbeda dengan wajah Zinnia yang sumringah menyambut kedatangan mereka, wajah Faya sudah seperti udang rebus. Panas, dan merona.


“Selamat datang, sayang. Ayo, duduk.” ajak Zinnia.


Faya menyalami Zinnia dan Esta dengan mencium tangan mereka. Kemudian mengambil duduk di samping Zinnia.


“Akhirnya datang juga, udah di tungguin dari tadi.” Ujar Favita ikut membuka suara.


Di tunggu? Berarti mereka semua tau kalau Faya dan Prima akan datang? Begitu?


Faya menoleh kepada Prima yang duduk di hadapannya. Terpisah oleh meja. Ia menatap dengan tanya. Sementara Prima hanya tersenyum lebar sebagai jawabannya.


“Jadi gimana plesirannya? Pasti seru, dong?” tanya Zinnia ramah. Tidak ada yang berubah sebenarnya. Sikap mereka masih sama seperti biasanya. Hanya saja, Faya sendiri yang merasa terlalu gugup.


“Lumayan, Buk.” Jawab Faya canggung.


“Jadi sekarang, kamu udah baik-baik aja, kan?” Esta ikut menimpali.


“Baik, Nenek. Gimana kabar Nenek?” Faya mulai mencairkan diri dengan suasana.


“Ya, masih begini-begini saja. Tenang aja, Nenek tetep jaga kesehatan kok, biar nanti kalau gendong cicit masih kuat.” Seloroh Esta kemudian.


Seketika semua tergelak terkekeh. Bahkan Prima juga. Sementara Faya hanya melongo saja tidak mengerti apa yang di maksud oleh Esta tadi.


“Kita makan malam dulu. Abis itu baru lanjut ngobrol lagi.” Kali ini, Ren ikut menimpali.

__ADS_1


Ruang makan terlihat lebih ramai dari biasanya. Semua keluarga Prima berkumpul tanpa terkecuali. Bahkan Favita yang biasanya jarang di rumah juga sekarang ada.


Kehangatan terus mengalir di sela-sela makan malam. Mereka ini, seperti bukan keluarga konglomerat saja. Mengobrol ringan tanpa ada batasan diantara mereka. Nampak sangat akrab sekali.


Bahkan bagi Faya yang notabenenya adalah orang asing dikeluarga itu, ia bisa merasakan kehangatan yang mengalir. Terlebih, Rai dan Esta selalu menunjukkan kemesraan mereka di depan anak dan cucunya tanpa


canggung.


Pasangan yang tidak lagi muda itu, terus menebar aura positif kepada semua orang. Rai nampak selalu mengoda sang istri dengan berbagai rayuan. Membuat mereka semua tertawa lucu di buatnya. Bahkan Faya juga tak jarang ikut tertawa.


Berada di keluarga ini, membuat hati Faya menghangat. Ia merasa seperti punya keluarga baru. Bahkan dulu ia tidak merasakan ini karna batasannya sebagai seorang sekretaris. Tapi sekarang, ia bisa merasakan hal itu.


“Jadi, Faya mau balik kerja di kantor lagi?” suara Ren terdengar.


Mendapat pertanyaan itu membuat Faya mematung. Ia belum memutuskan untuk kembali bekerja atau tidak. Atau justru melamar bekerja di perusahaan Pak Hendro. Ia belum sempat memikirkannya.


“Ngomong-ngomong, surat pengunduran diri kamu belum di terima, Fay.” Favita ikut menimpali.


Sementara Prima, menatap kekasihnya itu dengan harapan penuh kalau Faya mau kembali bekerja lagi dengannya.


“Gimana? Mau ya, balik kerja lagi?” Prima ikut meminta.


Faya menganggukkan kepala pada akhirnya. Membuat Prima tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi-giginya.


“Akhirnya, semua kembali normal lagi. Cuman bedanya, sekarang kita punya calon mantu. Hahahahahha.” Zinnia seperti tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa bahagia. Ia tidak peduli kalau perkataannya itu membuat wajah Faya kembali merona.


“Kalian mau tunangan dulu, apa langsung nikah aja?” Esta yang bertanya.


“Nek, ngelamar aja belum, masak iya udah mau tunangan. Apalagi nikah.” Prima menyadari kalau Faya mulai merasa tidak nyaman dengan serbuan pertanyaan dari keluarganya itu.


“Kami mau pacaran dulu. Jadi tolong jangan desak-desak begitu. Nanti Fayanya kabur lagi.” Ujar Prima kemudian.


Seketika semua orang melihat kepada Faya. Meminta persetujuan kalau apa yang di katakan Prima itu benar.

__ADS_1


“Kamu masih belum mau nikah, Fay?” tanya Zinnia.


Faya menarik nafas pelan sebelum menjawab.


“Ehm, tolong kasih saya waktu, Buk. Saya dan Pak Prima baru aja menjalin hubungan ini. Saya gak mau ngambil keputusan itu tergesa-gesa. Saya masih butuh waktu.”


Semua orang terdiam seketika. Merasa kalau mereka terlalu mendesak Faya dan Prima untuk segera menikah. Padahal semua orang tau, baru beberapa hari yang lalu Faya marah besar kepada Prima. dan belum sehari Faya memaafkan dan menerima perasaan Prima. Tapi lagi, mereka terlalu bersemangat malam ini.


“Ya udah. Gimana baiknya menurut kalian aja. kami sebagai orang tua, Cuma bisa dukung apapun keputusan kalian. Kalau kalian udah siap, langsung kasih tau kami, ya. Biar di siapkan semuanya.” Ren memilih untuk mengambil jalan tengah saja.


“Iya, Pak.” Lirih Faya.


Sesaat yang lalu, jantung Faya hampir saja copot ketika semua orang begitu antusias membicarakan pernikahan mereka. Bukan Faya tidak berfikir ke arah sana. Biar bagaimanapun, hal itu tetap menjadi sebuah pertimbangan Faya sekarang.


Tapi kembali lagi, masih banyak hal yang harus Faya selesaikan. Masih banyak masalah yang masih mengganjal di hatinya. Salah satunya, ia masih harus membersihkan nama baiknya di kantor sebelum resmi menjadi istri Prima. karna dia tidak ingin kabar-kabar miring itu mengganggu hari-harinya ke depannya. Apalagi, ia akan kembali bekerja sebagai sekretaris Prima.


Faya menyadari kalau itu tidaklah mudah. Mengubah persepsi buruk orang lain itu bukan gampang. Bisa saja itu tidak membuahkan hasil sama sekali. Mungkin dia bisa menunggu waktu untuk menghapus ingatan mereka, tapi ia tidak sesabar itu.


Ketika ia kembali bekerja, maka otomatis gunjingan itu akan terus muncul kembali. Ia tidak ingin menyulitkan keluarga Prima untuk hal ini. Biar dia dan Prima yang menyelesaikan masalah mereka. Toh gunjingan itu muncul karna mereka, jadi harus mereka sendiri yang menyelesaikannya.


Perlahan, topik pembicaraan kembali mengalir setelah sempat membeku akibat pembahasan tentang pernikahan. Kini, keadaan kembali menghangat. Dan Faya, sudah kembali menyingkirkan rasa canggungnya tadi. Ia ikut nimbrung pembicaraan keluarga itu.


Malam semakin larut, namun sepertinya masih belum ada yang mengantuk. Kini obrolan berganti dengan mengenang masa-masa sekolah Esta dan Rai. Mereka banyak memberikan petuah lewat cerita mereka. Ya walaupun kaluarga Prima sudah sering mendengarnya, tapi ini adalah hal baru bagi Faya. Ia antusias sekali mendengar wanita renta itu bercerita. Sesekali memberi tanggapan hingga membuat Esta merasa senang kala ceritanya di dengarkan.




siapa nih yang kangen sama esta-rai? buat yang belum mampir di cerita semesta rai, kalian bisa mampir disana yaa sambil nunggu prima-faya update.


makasih bangat buat kalian yang masih setia di sini. selalu nungguin updateannya prima dan faya. makasih juga atas feedbacknya ya warga. kadang sampe senyum-senyum sendiri tiap bacain komenan kalian. semoga kalian gak bosan sampai cerita ini tamat nantinya.


love you all.

__ADS_1


__ADS_2