
Faya masih menutup mulutnya menatap tidak percaya kepada Prima yang sedang mempersembahkan senyuman manisnya kepada gadis itu.
“Sini.” Prima memanggil Faya dengan melambaikan tangannya. Sementara kedua mata Faya sudah berkaca-kaca. Haru kepada sikap manis kekasihnya itu. di sela kesibukan dan lelahnya, Prima masih menyempatkan diri untuk memberikan kejutan padanya. Padahal dia sendiri tidak peduli dengan ulang tahunnya.
Sejak kedua orang tuanya meninggal, bagi Faya, merayakan ulang tahun bukanlah menjadi prioritasnya utama. Hingga perlahan, iapun lupa tentang hari ulang tahunnya sendiri.
Faya berjalan perlahan untuk mendekat. Ia berusaha menahan diri untuk tidak menangis. Lucu sekali rasanya kalau dia menangis hanya dengan kejutan seperti itu.
“Selamat ulang tahun sayang.” Ucap Prima kemudian memberikan buket bunga yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Faya menerimanya penuh haru. Sederhana, tapi kesan yang di timbulkan mampu menggetarkan relung hatinya.
“Kapan Mas nyiapin semua ini?”
“Baru aja. maaf ya, Cuma kejutan kecil kayak gini yang bisa aku kasih. Soalnya waktunya gak cukup. Hehehhe.”
“Ini juga udah keren kok Mas. Makasih ya udah bikin perayaan buat ulang tahunku.” Faya menghambur ke pelukan Prima. kehangatan mengalir ke dalam hati keduanya.
“Kita makan yuk.”
Faya mengedarkan pandangan dan mendapati meja makan yang sudah di hias sedemikian rupa. Di hiasi bunga dan lilin. Di tambah pemandangan kota yang sempurna terlihat dari jendela kaca membuat suasana sungguh romantis.
Entah, bagaimana Faya akan meluapkan rasa bahagianya ini. Ini benar-benar di luar perkiraannya. Ia tidak menyangka ternyata Prima seromantis ini.
Menu hidangan steak menemani makan malam mereka kali ini. Prima bahkan memotongkan daging untuk Faya dan sesekali menyuapinya.
“Padahal Mas pasti capek ngurusin kerjaan. Tapi masih sempet-sempetnya nyiapin ini semua buat aku. Makasih calon suami.” Selorohan Faya itu membuat Prima mesem-mesem sendiri.
“Sama-sama. Apapun buat kamu. Pokoknya kalau ada kamu, capekku bisa langsung hilang gitu aja.”
“Lebay.”
“Gak percaya.”
__ADS_1
“Hehehehe. Iya deh. Percaya. Udah di buktiin kok.” Faya tersenyum penuh arti.
“Mas, kamu tuh kayak bukan orang yang ku kenal deh. Sejak kita pacaran, kamu beda banget sama pas masih jadi bos aku.”
“Iya kah? Jadi lebih baik, apa lebih buruk?”
“Lebih baik. Kamu sekarang lebih ###care. Lebih dewasa juga sikapnya. Gak kayak dulu.”
“Baguslah kalau jadi lebih baik. Memang itu yang lagi aku usahain. Supaya aku gak ngecewain kamu. Suapa kamu lihat, kalau aku tuh bener-bener sayang sama kamu. Setulus itu aku sama kamu.”
Seketika, sisa keraguan yang masih menggantung di hati Faya lenyap seketika. Sempat terbersit untuk segera menikah saja walaupun masalahnya belum selesai.
Faya sedang asyik dengan fikirannya. Sampai ia tidak sadar kalau Prima sudah berlutut di samping meja menghadapnya. Bertumpu dengan satu kaki sambil menatap Faya intens.
“Mas ngapain?”
Prima tidak menjawab. Ia merogoh saku kcelananya kemudian mengeluarkan cincin permata yang indah dan mengangsurkannya kepada Faya.
“Jadi, kamu udah gak ragu kan nikah sama aku? Aku tau kalau di dalam sebuah pernikahan itu pasti akan ada banyak cobaan. Tapi aku janji, kita bisa lewatin semua cobaan itu. Faya, mau ya, nikah sama aku?”
Memang Prima bukan tidak menyadari kalau Faya masih punya keraguan akan pernikahan. Terlebih setelah apa yang terjadi pada Iwan dan Kirani. Sedikit banyak Prima bisa merasakannya.
Dan ketika melihat wajah datar Faya, membuat perasaannya jadi tidak menentu. Ketakutan akan sebuah penolakan, tiba-tiba mencuat tanpa permisi. Ia takut Faya akan menolaknya. Padahal dia sudah mempersiapkan diri sampai seperti ini.
Namun, wajahnya sumringah ketika Faya mengulurkan tangan kanannya dengan seutas senyum yang perlahan muncul di kedua sudut bibirnya.
“Nunggu apa lagi? Buruan di pasangin.” Ujar Faya. ia mantap menerima lamaran Prima. yang sebenarnya hatinya jungkir balik blingsatan senang bukan kepalang. Ia hanya sedikit ‘ngelag’ saja tadi ketika Prima berlutut untuk melamarnya. Soalnya dia tidak menyangka kalau Prima akan melamarnya seperti ini.
Yang Faya tau, toh mereka sudah sama-sama tau kalau Prima memang sudah siap untuk menikahinya. Jadi dia fikir, Prima tidak mungkin melamarnya lagi.
Dengan bibir yang tersenyum bahagia, Prima memasangkan cincin cantik itu ke jari manis Faya. setelah itu, ia bangun dan langsung merengkuh Faya ke dalam pelukannya. Erat sekali. Seolah ia sedang mencurahkan kebahagiaan yang kini sedang ia rasakan.
__ADS_1
“Makasih, sayang. Makasih banget. Aku fikir kamu bakalan nolak aku. Ya ampun. Aku udah parno tadi.” Desis Prima tidak tau malu mengungkapkan kekhawatiran yang sempat singgah tadi.
“Ya ampun, kok mikir gitu?”
Prima melepaskan pelukannya. Menangkup kedua pipi Faya dan mengarahkannya untuk menatap kepadanya.
“Aku takut kamu trauma karna Mas Iwan dan Mbak Kirani.Syukurlah kalau ternyata dugaanku salah.”
Cup.
Prima mengecup kilat bibir Faya sebelum ia kembali memeluk gadis itu penuh rasa terimakasih. Bahagia yang sedang Prima rasakan, seolah tidak ada sesuatu yang bisa menjadi wakil untuk mengibaratkannya. Yang jelas, ia merasa seolah baru saja memenangi dunia dan seluruh isinya yang di dalamnya hanya ada seorang Fayandayu.
“Mas?”
“Hem?”
“Udah dong peluknya. Pengap.”
“Oh, maaf. Heheheh.” Prima segera melepaskan pelukannya. Dengan senyum yang masih merekah, ia kembali ke tampat duduknya.
“Seseneng itu ya?”
“Ya iya dong. Itu udah jelas.”
Faya menanggapi dengan tersenyum juga. Ia tau. Ia juga bahagia. Kalau mengingat perjalanan mereka sejak awal, rasanya mustahil jika sekarang mereka bahkan sudah dalam tahap pembahasan untuk menikah.
“Makasih ya Mas, udah sesayang ini sama aku. Seumur-umur, ini adalah waktu paling bahagia yang aku rasain.”
“Ini baru permulaan. Awal. Kedepannya, aku bakalan buat setiap detikmu adalah kebahagiaan.” Dengan lantangnya Prima terus menerus membuat janji yang sama. Bahwa ia akan membahagiakan Faya. baik ketika sedang menjadi kekasihnya, calon istrinya, pun ketika sudah menjadi istrinya kelak. Itulah satu janji yang akan terus di pegang oleh Prima. dan dia sudah bertekad, sampai kapanpun, tidak akan mengingkari janji yang ia buat sendiri.
Teringat bagaimana dulu Prima selalu mengerjai Faya habis-habisan. Bersikap konyol di setiap waktu. Dan walaupun begitu, cinta tetap hadir di hati keduanya. Diam-diam saling bersambut satu sama lain. Meski di warnai dengan intrik kesalah fahaman yang sangat menyakiti Faya. Pada akhirnya, mereka bersatu dan sedang berjalan menuju bahtera rumah tangga.
__ADS_1
Sungguh, perjalanan yang panjang hanya untuk menautkan perasaan satu sama lain.
Begitulah kisah. Punya banyak cara untuk saling mempertemukan dua hati. Membentangkan jalan yang tak terduga sekalipun. Menautkan perasaan yang sebelumnya saling bertolak belakang menjadi saling membutuhkan. Hingga sebuah janji terikrar untuk rencana masa depan yang membahagiakan.