
Selesai makan malam, Faya berusaha menggunakan tenaganya untuk membantu membereskan meja makan. Mengikuti asisten rumah tangga keluarga itu. Ia juga membantu mencuci piring sebagai bentuk rasa terimakasihnya atas jamuan makan malam yang nikmat itu.
Setelahnya, Faya diminta untuk ikut bergabung mengobrol. Mereka masih duduk di meja makan. Kali ini, hidangan di atas meja sudah berganti dengan kudapan pencuci mulut. Obrolanpun berlanjut kembali.
“Pasti berat banget ya kerja sama Prima?” sebuah pertanyaan yang memancing kejujuran Faya. Ia tersenyum canggung kepada Zinnia.
“Eh... em. Enggak juga kok Buk. Pak Prima baik sama saya.” Entah kenapa ia harus menutupi kelakuan absurd Prima dari mereka. Padahal ia ingin jujur. Mengatakan kalau sudah puluhan kali Prima mengerjainya habis-habisan. Tapi, kejujuran itu hanya tersangkut di tenggorokannya saja.
“Oh ya? Hmmm. Baguslah kalau begitu. Semoga kamu betah ya kerja sama anak gesrek ini. Ibu udah capek lihat kelakuan dia yang sering gonta ganti sekretaris. Gak ada yang betah kerja sama dia.” Adu Zinnia. Seolah ia telah menemukan orang untuk melampiaskan uneg-unegnya.
“Sesuai janji saya, kalau Prima ngerjain kamu lagi, langsung bilang sama saya. Atau sama Pak Ariga.” Ren ikut nimbrung pembicaraan.
Sementara yang menjadi biang pembicaraan hanya meliriki ayah dan ibunya bergantian. Tidak terima merasa seolah sedang di sudutkan.
Dan malam ini, Faya seperti menemukan sosok yang baru dari seorang Prima. Bosnya itu lebih banyak diam. Kalau tidak di tanya tidak bicara. Kalau di tanya baru suaranya keluar.
Pukul 9 malam, mereka mengakhiri obrolan. Prima memilih untuk menginap di rumah orang tuanya malam itu.
Faya menolak saat Ariga menawarkan tumpangan untuknya. Sungguh, ia merasa tidak nyaman berada dalam satu mobil bersama dengan atasannya. Jadi ia memilih untuk naik ojek saja pulang ke apartemen.
Sepeninggalnya Ariga dan Faya, Ren, Zinnia dan juga Prima masih melanjutkan obrolan mereka. Pembahasan tidak jauh-juah dari masalah pekerjaan Prima. Sesekali menyinggung hubungan Prima dengan Aliva.
“Prima udah putus sama Aliva, Ma.” Jujur Prima. Ia merasa sudah saatnya ia memperjelas tentang perasaannya.
“Lho? Kenapa?” Zinnia terlihat terkejut. Karna selama ini ia mengira kalau hubungan mereka baik-baik saja. Tidak pernah terdengar kabar miring tentang hubungan putranya itu dengan Aliva.
“Aliva selingkuh sama Rudi.”
“Hah?” Zinnia dan Ren kompak ternganga mendengar pengakuan putra mereka itu.
“Kok bisa?” tanya Zinnia.
“Ya gak tau. Kenapa tanya Prima? Tanya Aliva noh.”
“Jadi dia selingkuh? Sama Rudi yang temenmu itu?” Ren ikut menimpali. Sama halnya tidak percaya dengan perselingkuhan itu.
__ADS_1
Prima mengangguk.
“Siapa yang selingkuh?” suara Favita yang muncul dari pintu.
“Udah pulang, Kak?” sapa Zinnia. Sementara Favita mendekati kedua orang tuaya. Menyalami dan mencium tangan mereka. Kemudian, gadis itu ikut duduk di samping Zinnia.
“Siapa yang selingkuh, Ma?”
“Aliva.”
“Hah? Aliva? Sama siapa?” Favita tiba-tiba menjadi sangat antusias mendengar ceritanya.
“Rudi.” Ren yang menjawab.
“Hahhhh??” Favita tercengang. Namun sejurus kemudian ia malah tertawa terbahak-bahak. Hingga ia mendapat pukulan kecil di punggungnya dari Zinnia.
“Kok malah ketawa. Adiknya lagi putus cinta tuh.”
“Sukurin. Makanya, punya pacar itu di jaga. Bukan di biarin. Lagian siapa juga yang betah pacaran sama es balok kayak gitu? Baguslah Aliva mutusin kamu. Soalnya aku kasihan sama dia. Punya pacar berasa jomblo. Gimana? Udah nyesel kan pas kehilangan?” goda Favita.
“Ck, ck, ck.” Favita menggeleng-gelengkan kepala mencibiri adiknya itu. “Ya udah, Ma, Pa. Vita mau ke atas dulu. Mau mandi.”
“Makan dulu.”
“Udah makan tadi di luar.”
“Prima juga mau ke atas, Ma.” Prima ikut pamit. Ia langsung beranjak masuk ke dalam kamarnya.
Zinnia hanya mengikuti kedua anaknya itu dengan ujung matanya. Kemudian ia menghela nafas pelan.
“Kenapa, sayang?”
“Kelakuan anakmu itu lho, gak ada yang beres. Yang sulung, asyikkk sama kerjaan sampai lupa cari jodoh. Yang bungsu, juga gak peduli sama pacarnya. Apalagi sering ngerjain sekretarisnya. Ya ampun. Mereka itu enaknya di apain, Pa?”
“Biarin aja. Lama-lama mereka juga nanti berfikir dan berhenti sendiri. untuk sekarang kita biarin aja dulu mereka.”
__ADS_1
“Semoga Faya betah kerja sama Prima. Mama bosan denger dia mgonta-ganti sekretaris melulu. Malu sama orang-orang. Mereka bilang anak kita itu kejam dan suka nyiksa sekretarisnya.”
“Papa punya firasat baik tentang Faya. Kayaknya anak itu modelannya tangguh.”
Zinnia berharap apa yang di katakan suaminya itu benar-benar terjadi. Karna terlinganya sudah panas mendengar celotehan beberapa orang yang kebetulan sampai kepadanya.
**
**
Faya merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rambutnya basah karna ia baru saja mandi dan mencuci rambutnya. Ia membungkusnya dengan handuk.
Teringat keramahan Zinnia tadi, membuat ia teringat akan orang tuanya. Kenangannya tiba-tiba menerewang jauh ke beberapa waktu yang lalu. Saat ia masih bisa memeluk, mmerasakan, dan melihat kehadiran ayah dan ibunya.
Saat itu hari-harinya penuh dengan kebahagiaan. Walaupun mereka hidup sebatas cukup, tapi Faya bahagia. Mendengar omelan ibunya saat ia tidak melakukan perintahnya. Ah, dulu ia sangat membenci omelan ibunya yang terasa memekakkan telinga. Namun sekarang, ia merindukan suara itu lagi.
Di tinggal mati. Adalah puncak rasa sakit yang mampu menyadarkan manusia akan sebuah penyesalan.
Kalau di ingat-ingat, ternyata banyak sekali hal-hal yang belum sempat ia lakukan dan berikan kepada kedua orang tuanya. Dan hal itulah yang menyisakan sedikit penyesalan dalam hatinya.
Faya sadar, ia tidak bisa membiarkan penyesalan akibat rasa kehilangan itu terus memperpuruk keadaannya. Ia tetap harus melanjutkan hidup bagaimanapun caranya. Masalah penyesalan, ia akan menyandingkannya bersama dengan kenangan-kenangan indah mereka.
Suara ponsel menyadarkan Faya dari lamunan. Ia mengambil ponsel dari dekat bantal dan melihat siapa yang menelfonnya. Hatinya berdesir kesal saat membaca nama Kirani muncul di layarnya. Ia enggan mengangkat telfon itu. Jadi dia membiarkannya saja berdering sesuka hati.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel. Ia tau itu dari Kirani. Jadi dia tidak mau membacanya. Tapi, bunyi pesan masuk terus berbunyi membuat Faya jengah juga. Dan akhirnya ia membuka dan membaca satu-persatu pesan dari kakak iparnya itu.
Hatinya memanas. Pesan itu berbunyi makian dan kata-kata kasar kepada Faya. Kalau saja Kirani ada di hadapannya saat ini, ia pasti sudah menjambak rambut wanita itu sampai tercabut sampai ke akar-akarnya.
‘Diam. Ba bi.’ Balas Faya. Setelah itu dia memblokir nomor Kirani dari ponselnya.
Biarlah dia di cap sebagai adik ipar yang tidak tau diri. Daripada harus menahan sakit hati yang sudah hampir meledak sekarang. Dia sudah tidak tinggal di rumah Kirani lagi. Jadi suka-suka dia mau bagaimana.
Itulah kenapa Faya bersikeras untuk bertahan dalam pekerjaannya. Karna sikap Prima masih belum apa-apa dibandingkan dengan sikap semena-mena Kirani kepadanya. Prima hanya sebatas mengerjainya saja. Sementara Kirani, memeras keringat dan tenaganya serta uangnya sekaligus. Belum lagi dia di perlakukan seperti pembantu oleh kakak iparnya itu.
__ADS_1