One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 70. Hatinya Sudah Tertutup.


__ADS_3

Dada Prima semakin bergemuruh. Banyak sekali hal yang belum jelas dan ia harus minta kejelasan dari Soraya. Kalau memang benar wanita itu yang telah menyebarkan gosip murahan itu.


Prima kesal setengah mati. Ia mempercepat langkahnya kemudian menerobos tiga karyawan yang sedang berjalan di hadapannya begitu saja. Mereka sampai terkejut tiba-tiba ada yang menerobos memisahkan mereka.


Beberapa langkah di depan, Prima berhenti dan berbalik. Menatap mereka dengan tatapan dingin. Membuat ketiga karyawan itu langsung menciut nyalinya. Padahal tadinya mereka hendak marah karna merasa terganggu. Tapi tidak jadi.


“Pak Prima?”


“Apa kalian di gaji buat gosip?” tanya Prima langsung. Tatapannya masih dingin dan nyalang. “Aku gak mau, ya. Denger gosip murahan kayak gitu lagi di kantor ini. Kerja yang becus. Gak usah ngurusin kehidupan orang yang gak ada untung-ruginya buat kalian. Apalagi Cuma dengar-dengar.” Dengus Prima kemudian kembali melangkahkan kakinya. Meninggalkan para gadis itu dengan mulut ternganga.


Sesampainya di kantin, Prima mengedar untuk mencari Soraya. Setelah menemukannya, dia segera menghampiri wanita yang sedang makan bersama dengan teman-temannya itu.


Melihat kedatangan Prima yang berhenti di dekat meja mereka, membuat mereka semua terkejut. Soraya langsung menatap Prima dengan tatapan sumringah.


“Kalian pergi dulu. Aku mau bicara sama Soraya.” Ujar Prima. ia tak melepaskan tatapan dinginnya kepada Soraya.


Teman-teman Soraya mengangguk kemudian beralih ke meja lain yang kosong.


Prima duduk di hadapan Soraya. Wanita itu sudah grogi duluan melihat Prima menghampirinya seperti ini.


“Apa kamu memang orang yang begini?” semprot Prima tanpa pembukaan terlebih dulu.


“Ya? Maksud Bapak?” Soraya tidak mengerti.


“Aku tau kamu yang udah neybarin gosip soal kehamilah Faya. Iya, kan? Kenapa kamu lakuin itu? Bukannya kalian deket? Bukannya kalian sahabatan? Kenapa kamu nyebarin berita bohong begitu?”


“Saya gak bohong, Pak. Faya sendiri yang bilang sama saya kalau dia lagi hamil.” Jawab Soraya yakin. Ia kesal karna Prima seperti marah padanya. “Anak Bapak.” Bisik Soraya kemudian.


Prima masih menatap dingin kepada Soraya. Dia seperti bisa melihat sifat asli Soraya saat ini. Sifat yang selama ini di sembunyikan Soraya di balik senyum ramahnya.


“Aku yakin, Faya cerita itu karna dia percaya sepenuhnya sama kamu. Dia percaya kalau kamu gak akan buka aib dia. Tapi sayangnya kenyataannya jauh dari yang dia harapkan. Entah apa untungnya buat kamu.”


Soraya diam saja. Kalau seandainya pria di hadapannya itu bukan bosnya, tentu dia sudah mengeluarkan semua yang ada di fikirannya saat ini. Tapi, dia masih sayang dengan pekerjaannya.


Walaupun marah, tapi Prima tidak bisa serta merta memecat Soraya. Dia tidak bisa mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Itu rumit urusannya.

__ADS_1


“Aku akan bawa Faya kembali kesini supaya kamu bisa minta maaf sama dia.” Tegas Prima kemudian bangun dan pergi meninggalkan Soraya.


Wanita itu nampak mengeratkan giginya kesal. Ia kesal karna Prima selalu membela Faya. Tidak ada fikiran kalau dia tidak berhak untuk kesal kepada mereka. Hatinya sudah tertutup oleh cemburu buta. Mencemburui orang yang bahkan bukan miliknya. Tidak tau malu memang.


Bertemu Soraya membuat Prima yakin kalau wanita itu pasti tidak tau kemana Faya pergi. Hanya tinggal satu orang saja yang bisa Prima temui. Harvey. Ia berharap pria itu tau dimana Faya berada sekarang ini.


Sementara di tempat lain.


Kapal pesiar mewah itu sudah kembali berlayar. Membelah lautan dengan membawa beribu-ribu awak kapal beserta touris setelah sandar di Singapura. Dan salah satu di antara mereka ada Faya.


Gadis itu sedang menikmati makan makan malam sendirian. Hanya setangkai bunga mawar yang di taruh di atas vas kaca kecil yang menemaninya. Faya benar-benar menikmati waktunya sendirian disini.


Ketenangan bersantap itu sedikit terganggu dengan kedatangan seorang pria tampan yang tiba-tiba mengambil duduk di hadapannya.


“Ayolah, Fay. Jangan begitu. Jadi cewek gak boleh sombong.” Ujar pria itu. Menatap sambil merengut kepada Faya.


“Aku gak bisa, Bian.”


“Kenapa?”


Ya, Bian adalah pria yang ia temui di kapal itu. Penghuni salah satu kamar vip dekat kamarnya. Sejak pertama bertemu, Bian terus saja menganggunya. Berkata kalau dia menyukai Faya dan sebagainya.


“Kamu gak percaya? Aku tuh jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu, Fay.”


“Basi, Bian.” Ketus Faya. Ia benar-benar merasa terganggu oleh Bian.


“Gimana sih, bikin kamu percaya?”


“Hhhhh. Bian. Tolong lah, jangan ganggu aku terus. Aku males berurusan sama cewek kamu.”


“Dia bukan pacar aku, Fay. aku gak punya pacar. Aku sama Morin itu Cuma temenan aja. temen deket.” Jelas Bian


“Aku gak peduli. Yang jelas, aku gak mau berurusan sama dia.”


Dan, orang yang mereka bicarakan muncul dari samping. Gadis cantik bertubuh mungil dan berpenampilan anggun itu meraih gelas minuman Faya dan,

__ADS_1


Byurrr.


Alhasil kepala Faya basah karna siraman dari Morin. Faya jadi gelagapan sendiri.


“Kamu ini apa-apaam Morin?!!” pekik Bian tidak terima.


“Please, deh. Jangan kegatelan sama cowok orang. Udah di bilangin juga, masih aja keganjenan.” Dengus Morin kepada Faya.


Faya membersihkan wajahnya dengan tisu. Dia bersikap santai dan sedang menahan diri untuk tidak membanting gadis kecil itu. Karna kalau dia melakukan itu, sudah pasti Faya akan masuk penjara karna pinggang gadis itu pasti patah jadi dua.


Faya berdiri dan menatap santai kepada Morin. Ia melirik meja di sebelahnya kemudian meraih gelas dari sana dan,


Byuurrr.


Faya mengembalikan perlakuan yang dia terima dari Morin. Ia mengguyur kepala gadis itu sampai gadis itu nampak gelagapan sendiri.


Sementara Faya hanya tersenyum miring tanda mengejek.


“Hemh. Dasar. Di depan gebetan bukannya jaga sikap. Malah gak karuan. Gimana Bian bisa suka sama kamu kalau kamu kayak anak kecil begini. Oh iya, aku lupa. Kamu memang masih bocil. Haha.” Ejek Faya tak tanggung-tanggung.


Setelah puas mengatakan itu, Faya melenggang pergi. Enak saja di katain keganjenan. Padahal Bian yang selalu berusaha mencari celah untuk mendekatinya.


“Fay, tunggu!” Bian meraih pergelangan tangan Faya untuk menghentikan gadis itu.


“Bi, urusin aja cewek bocilmu itu. Sumpah, aku males berurusan sama dia.” Faya menatap memohon kepada Bian. Pria itu mengerutkan keningnya kemudian melepaskan pegangan tanganya dari pergelangan tangan Faya.


Faya kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar. Kesal bukan main. Itulah yang sedang dia rasakan saat ini. Niat hati ingin liburan dan menyembuhkan hati dari rasa sakit. Pun sebagai pelarian atas rasa rindunya kepada seseorang, malah disini dia mendapat masalah seperti itu lagi.


Siapa yang tidak kesal?




jangan lup ajejaknya ya warga.

__ADS_1


yang belum mampir di karyaku yang lain, boleh dong di tengok. gak kalah seru juga kok.


__ADS_2