One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 117. Bahagia Yang Mulai Datang.


__ADS_3

Seperti kebiasaan yang sudah terjadi di keluarga Rai-Esta. Ketika siang hari di gunakan untuk acara pernikahan dan menerima tamu undangan, maka malam harinya adalah waktu khusus untuk keluarga dekat saja.


Namun ada yang berbeda malam ini. Karna Harvey, ikut berada di sebuah taman mini yang sudah di sulap menjadi tempat pesta pribadi itu. Harvey di undang secara khusus oleh Prima dan Faya. Karna Faya tidak tau harus mengundang siapa. Dia kan tidak punya saudara.


Oh iya, Faya juga mengundang Marini, teman SMA Iwan. Padahal dia bukan siapa-siapanya. Nampaknya ia ingin merealisasikan ide cemerlangnya yang sempat mampir tadi pagi.


Acara itu di isi dengan ngobrol-ngorbol santai. Di iringi juga dengan pemain band jadi siapapun yang ingin bernyanyi di persilahkan.


“Lo bilang mau bawa gandengan, mana?” tagih Prima ketika mempunyai kesempatan mengobrol berdua.


“Berisik. Gandengan gue masih belum kelihatan hilalnya.” Jujur Harvey. Sebenarnya bisa saja ia mengajak siapapun teman artisnya. Pasti banyak yang bersedia pergi bersamanya. Tapi, ia tidak ingin merusak suasana. Maksudnya, ia tidak ingin membuat anak orang menaruh harapan padanya hanya karna di ajak pergi ke pesta.


“Jiaaaahhh. Jomblo.” Kelakar Prima.


“Gue ini jaga hati buat calon istri gue nanti. Gak mau umbar perasaan.”


“Berapa kali udah pacaarn?” pancing Prima.


“Empat. Hahahahahah”


“Hahahahahahha. Mana yang gak mau umbar perasaan?” Lantas keduanya malah tertawa terbahak-bahak. Nampak sangat akrab sekali. Bahkan Faya yang melihat itu juga merasa heran.


“Sana! Temenin istri lo itu. Gue bawa kabur juga nanti.” Seloroh Harvey yang tentu saja mendapat pelototan dari Prima.


“Aduh!” pekik suara wanita ketika Harvey hendak berbalik untuk kembali ke tempat duduknya. Namun sialnya, ia malah menabrak seseorang hingga minuman yang dibawa orang itu tumpah.


“Ya ampun, Vita. Maaf gak sengaja.” Harvey seketika terlihat panik dan merasa tidak enak hati.


“Hati-hati dong, Harv.” Favita nampak kesal. Apalagi pakaiannya kini basah karna tersiram  minumannya sendiri.


“Maaf banget, Vit. Aduh. Baju kamu jadi basah gitu. Ayo, aku bantu carikan baju lain buat kamu.” Tawar Harvey lagi.


“Udah, gak apa-apa. Aku bisa suruh asisten aku buat carikan ganti.” Vita jadi merasa ikut tidak enak melihat wajah Harvey yang cemas.


“Beneran gak apa-apa?” Harvey masih mencoba membersihkan pakaian Favita dengan tisu. Secara perlahan. Berharap kalau tindakannya itu sedikit bisa menebus kesalahannya.

__ADS_1


“Harv udah. Aku gak apa-apa.” walaupun Favita tegas menolak, namun Harvey tetap bersikeras. Hingga akhirnya Vita menghentikan tangan Harvey.


Harvey nampak terkejut. Namun ia segera bisa mengendalikan diri.


“Maaf.” Ucapnya sekali lagi.


Vita mengangguk kemudian menelfon asistennya untuk membawakannya pakaian ganti. Ia berjalan dengan Harvey yang mengekori Vita menjauh dari area pesta.


Tanpa keduanya sadari, dua pasang mata yang terus memperhatikan mereka sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Sama-sama bersedekap seolah sedang memikirkan hal yang sama.


“Kamu juga mikir gitu kan, sayang?” tanya Prima.


“Em, iya. Mereka serasi ya.” Jawab Faya.


“Tapi, apa menurut kamu Harvey itu gak kemudaan kalau sama Mbak Vita?”


“Sekarang umur gak jadi masalah, Mas. Sebagian cowok malah suka dan nyaman sama cewek yang lebih dewasa.”


“Tapi aku belum siap kalau mantan rivalku itu jadi abang iparku.” Gumam Prima lagi.


“Hmmmmmmm.” Prima menghela nafas panjang.


Sesaat kemudian keduanya saling tatap dan malah cekikikan tidak jelas. Mereka baru menyadari fikiran konyol di kepala mereka hingga berfikir sampai kemana-mana.


“Kita ini mikirin apa sih, Mas. Aneh banget.”


“Hehehehhe. Iya. Mikirin apa ya?”


Mereka kembali tertawa.


“Mending mikirin malam pertama kita aja, iya gak sih?” ucapan Prima itu sontak membuat wajah Faya merona.


“Sekarang aja yuk, sayang. Aku udah gak tahan.” Bisik Prima tepat di telinga Faya hingga terasa sangat geli. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri dan tubuhnya merinding disko.


Plak!

__ADS_1


Tanpa sadar Faya memukul punggung suaminya. Itu adalah hal spontan yang ia lakukan karna merasa malu dengan Prima. seketika bayangan-bayangan malam pertama itu memenuhi kepalanya.


“Mas ngomong apa sih. Ih.” Kesal Faya. Ia tersenyum simpul sambil menoleh ke arah berlawanan untuk menyembunyikan wajahnya yang merona. Ada perasaan ngeri karna sepertinya Prima akan menghabisinya tanpa ampun.


Saking sudah tidak tahan menahan malu, Faya bangun dan pergi ke meja Iwan yang sedang bercengkerama dengan Marini. Ia langsung duduk begitu saja di sebelah Iwan.


“Mas, maaf ganggu. Aku duduk disini sebentar ya?” ujar Faya. “Jadi, gimana reuninya?” Faya berusaha mengalihkan rasa gugupnya. Namun sepertinya sia-sia. Apalagi ketika tiba-tiba Prima ikut duduk di sebelahnya dan langsung menggenggam tangannya dengan erat.


Faya menoleh dan mendapati Prima yang sedang tersenyum penuh arti padanya.


“Gak nyangka aja bisa ketemu sama Iwan di sini. Sejak tamat SMA, kami semua hilang kontak sama dia. Apalagi kalau ada reuni, si Iwan ini gak pernah datang. Jadi kami fikir dia pindah ke luar kota, atau malah ke luar negeri. Soalnya dulu cita-citanya pengen jadi Diplomat.” Terang Marini panjang lebar.


Dari sini Faya menyimpulkan, kalau dulu, kakaknya itu pasti sangat dekat dengan Marini. Kalau tidak, mana mungkin wanita itu tau apa cita-cita dari Iwan?


Sekelebatan Faya melihat senyuman pias Iwan. Sepertinya ucapan Marini itu membuatnya sedih.


Tentu saja. Itu adalah masa-masa paling tidak ingin Iwan ingat untuk selamanya. Dimana ia harus mengubur mimpi indahnya karna kepergian kedua orang tua mereka. Ia memilih melepaskan mimpi itu dan fokus menghidupi adik semata wayangnya. Hingga hari terus berganti dan detik terus bertambah. Tanpa terasa dia sudah sampai sejauh ini.


“Sekarang aku jadi Diplomat antar Provinsi aja.” Iwan nampak berusaha untuk mengalihkan suasana. Hatinya sudah kebal kalau untuk mengingat mimpi indahnya saja.


“Diplomat antar Provinsi?” Marini nampak bingung.


“Sopir, Mbak. Mas Iwan sekarang kerjanya jadi sopir bis lintas.” Faya yang menjawab. Ia ingin tau, apa pandangan Marini akan berubah setelah mengetahui pekerjaan kakaknya. Kalau iya, berarti ia telah salah menilai


Marini.


“Wah. Pasti seru tuh bisa mampir di setiap kota.”


Tanpa di duga Marini menunjukkan reaksi yang baik. Membuat Faya bernafas lega. Secuil senyuman muncul di bibir Faya.


“Seru banget. Kamu udah perah ke kota mana aja?” Iwan juga menyambutnya obrolan itu dengan baik.


Dalam hati Faya benar-benar berharap kalau kali ini, kakaknya akan menemukan tambatan hati yang pas. Yang tentu saja lebih baik dari yang sebelumnya. Dan sepertinya, Marini adalah wanita yang baik.


Selebihnya, Faya lebih banyak diam memperhatikan Iwan dan Marini bertukar cerita. Mereka nampak antusias. Sampai ia sejenak melupakan kalau masih ada Prima di sampingnya yang juga ikut memperhatikan.

__ADS_1


__ADS_2