
Semalaman Faya tidak tidur. Ia merasa tidak seharusnya ia memejamkan mata setelah apa yang di akibatkannya. Jadi, ia hanya duduk saja di kursi di depan ruangan Prima. sementara sebagian besar keluarga Prima sudah pulang. Hanya tinggal Zinnia, dan Ren yang masih tinggal menunggui putra mereka.
“Ma, kalau capek pulang aja. Aku udah gak apa-apa. Biarin Faya aja yang jagain aku. Biar gak makan gaji buta dia.” Keluh Prima pagi itu.
“Ya udah. Kayaknya dia juga khawatir banget. Sampe sekarang masih nungguin tuh di depan. Kayaknya dia gak tidur deh semalaman.”
Setelah pamit, Zinnia dan Ren keluar dari ruangan Prima.
Melihat para bos besarnya keluar, Faya sontak berdiri dan mengangguk hormat.
“Fay, tolong jagain Prima sebentar, ya? Kami mau pulang dulu. Mandi dan ganti baju. Udah lengket dari kemarin gak ganti baju.” Ujar Zinnia.
“Iya, Buk. Ibuk istirahat aja dulu di rumah. Biar saya yang jaga Pak Prima.”
“Oke kalau gitu.”
Faya mengangguk hormat sekali lagi sebelum Zinnia dan Ren pergi dari sana. Setelah mereka menghilang dari pandangannya, barulah Faya masuk ke dalam ruangan Prima.
Ia melihat, bosnya itu sedang duduk di ranjang dengan kaki tergantung menjuntai ke bawah. Menatap wajah Faya yang nampak sangat lesu sekali. Kusam dan ada lingkaran hitam di sekeliling matanya.
“Bapak mau kemana? Bapak perlu sesuatu?” tanya Faya. Terkesan menjilat agar kesalahannya semalam tertutupi.
Memangnya semalam itu salahnya?
“Kamu tolong rapikan ranjangnya. Risih aku. Mau ke kamar mandi dulu.” Ujar Prima yang langsung membawa botol infus bersamanya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Tanpa menunggu waktu, Faya segera melaksanakan perintah. Walaupun ia merasakan tubuhnya seperti tak sanggup lagi menopang. Pun kelopak matanya yang terasa sangat berat. Seperti ada sesuatu yang menggandulinya. Apalagi saat melihat bantal bekas Prima yang menganggur itu. Rasanya Faya ingin merebahkan kepalanya di sana.
Duduk sambil memandangi bantal putih bersih itu, membuat mata Faya berayun lembut. Perlahan, kepalanya jatuh ke atas ranjang dan iapun terlelap seketika.
Prima telah menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Ia tersenyum saat melihat Faya tertidur dalam posisi duduk dan kepalanya bersandar di ranjang dengan berbantalkan tangannya sendiri.
Perlahan, Prima mendekat. Memperhatikan wajah lelap Faya dari seberang ranjang. Ia membungkukkan tubuhnya agar lebih jelas memandangi wajah cantik Faya. Prima sengaja lama di kamar mandi karna ingin memberikan waktu untuk Faya merasa nyaman dan tertidur. Mendengar ibunya bicara tadi kalau Faya tidak tidur semalaman, membuat Prima merasa kasihan.
Tidak mau mengganggu tidur Faya, Prima memilih untuk duduk saja di sofa. Tapi lama kelamaan, ia tidak tega juga membiarkan Faya tidur dalam posisi tidak nyaman seperti itu.
Prima bangun dan perlahan mendekati Faya. Kemudian ia memindahkan gadis itu dengan sangat hati-hati ke atas ranjang. Dasarnya Faya sudah kepalang lelap, gadis itu bahkan tidak terusik sedikitpun dengan gerakan itu. Sampai ia kembali terlelap di atas ranjang Prima.
“Hemh. Tidurnya ngebo.” Gumam Prima pada dirinya sendiri.
Setelah menidurkan Faya di ranjang nyamannya, Prima memilih bermain ponsel. Dia menggeret kursi dan menaruhnya di dekat jendela agar sinar matahari mengenai tubuhnya. Dia duduk disana santai sekali. Sementara ranjangnya di pakai tidur oleh Faya.
__ADS_1
Hampir dua jam Faya terlelap. Kemudian ia mulai terbangun dan merasa heran karna sekarang ia berada di atas ranjang. Faya masih ingat betul, tadi ia tidur di kursi. Kenapa sekarang jadi ke atas? Apa dia pindah sendiri? Faya bingung.
“Udah tidurnya?”
Suara Prima membuat Faya langsung menoleh kepada bosnya itu.
“Kayaknya semakin lama kamu semakin gimana, gitu. Sekarang malah berani tidur di kasurku. Padahal kan aku yang sakit.” Prima pura-pura menggerutu kesal.
“Oh, Pak. Maaf, Pak. Saya gak sengaja. Ya ampun.” Faya jadi mengkerut tidak enak hati. Ia buru-buru turun. Mungkin karna kesadarannya belum berkumpul semuanya, Faya jadi kehilangan keseimbangan dan terhuyung kemudian jatuh terjerembab ke lantai.
“Ya ampun, Fay!” pekik Prima yang langsung berdiri dari duduknya. Menatap Faya yang bergerak bangkit dan malah cengengesan tidak jelas. Wajahnya merona karna malu.
“Hati-hati, Fay.” Prima memperingatkan.
“Hehehehe. Maaf, Pak.”
Prima hanya bisa menghela nafas saja sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Bapak lapar? Mau saya belikan sesuatu?”
“Em. Belikan bubur ayam sana.” Perintah Prima.
Faya melaksanakan perintah itu tanpa banyak bicara. Ia merasa harus menebus kekacauannya semalam. Ia pergi keluar rumah sakit untuk mencari penjual bubur ayam. Setelah menemukannya, ia segera kembali dan memberikan makanan itu kepada Prima.
“Udah baikan. Gak usah takut. Kamu gak akan di pecat.” Prima seperti sedang menebak apa yang sebenarnya di takutkan oleh Faya.
“Pesta semalam pasti jadi kacau karna saya, Pak. Saya harus gimana? Apa saya harus meminta maaf kepada sama Mbak Wulan dan Mas Indra?”
“Ya, itu udah sewajarnya kamu lakukan. Tapi ya udahlah. Gak usah di ambil pusing. Mereka gak mungkin marah. Yang ada malah cemas. Nanti aku yang bantu ngomong sama mereka.”
Faya diam saja. Ia terus menatapi Prima yang sedang asyik menyantap buburnya.
“Kamu gak makan?”
“Saya belum lapar, Pak.”
“Kok gitu?”
Karna saking takutnya, Faya sampai lupa akan rasa laparnya sendiri.
“Itu, makanan dari rumah sakit gak Bapak makan?” Faya menunjuk ke arah nakas tempat nampan makanan dari rumah sakit untuk Prima.
__ADS_1
“Enggak. Aku gak suka masakan rumah sakit. Kalau kamu mau, buat kamu aja.”
“Beneran, Pak?”
“Ya bener. Makanlah.”
Faya sumringah. Sebenarnya bukan dia tidak lapar. Hanya merasa tidak enak hati saja. Ia mengambil nampan itu dan mulai memakan makanannya.
“Buahnya juga buat kamu aja. Aku gak suka anggur soalnya.” Ujar Prima kemudian. Ia berbohong. Anggur adalah buah yang lumayan ia sukai.
Dengan senang hati Faya menerimanya.
Saat selesai makan, ponsel Faya berbunyi. Itu adalah telfon dari Harvey. Dan Faya segera mengangkatnya.
‘Simana, Fay?’
‘Masih di rumah sakit, Harv. Kenapa?’
‘Gimana keadaan Pak Prima?’
‘Udah lebih baik.’
‘Jadi kita gak jadi jalan dong hari ini?’
‘Ya gimana? Gak mungkin aku pergi ninggalin Pak Prima, kan?’
Walaupun bisik-bisik, namun Prima mendengar Faya bicara.
‘Oh, ya udah. Soalnya besok aku udah balik Jakarta.’
Faya nampak kecewa mendengar ucapan Harvey itu. Padahal ia sudah merencanakan banyak hal. Tapi ya mau bagaimana, keadaan Prima tidak mungkin dia tinggalkan. Toh Prima seperti ini juga bisa di bilang itu karna dirinya.
“Janjian sama Harvey?” tanya Prima dingin saat Faya sudah selesai bertelfon.
“Eng, iya, Pak. Tapi gak jadi.”
“Janji apa?”
“Jalan-jalan. Harvey bilang mau ngajak jalan-jalan. Soalnya baru sekarang saya ke sini, Pak.”
“Terus kenapa gak pergi?” tanya Prima ketus.
__ADS_1
“saya gak mungkin ninggalin Bapak, dong.”
Mendengar jawaban Faya membuat Prima mengu lum senyum samar. Ia senang ternyata Faya lebih memilih dirinya ketimbang Harvey.