One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 119. Diterima Dengan Hangat.


__ADS_3

Hari sudah sore saat Prima dan Faya baru saja tiba di rumah keluarga Prima. kedatangan mereka langsung di sambut antusias oleh Zinnia. Wanita itu lama memeluk Faya dengan erat. Benar-benar sambutan yang luar biasa.


“Selamat datang sayang. Ayo, masuk.” Zinnia menggandeng Faya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Di rumah besar itu, masih ada keluarga inti Prima. bahkan Ranu dan Mia serta anak-anak mereka juga masih ada di sana.


“Haiiii.... ganteng. Iih. Dia udah mandi. Wangi bangettt.” Ujar Faya lang melihat Wulan sedang memangku putra kecilnya yang baru berumur 4 bulan. “Boleh gendong gak, Mbak?” tijin Faya.


“Boleh. Nih. Biar ada sedikit pengalaman nanti kalau udah punya baby sendiri.” jawab Wulan yang di tanggapi kekehan senang oleh Prima. sementara wajah Faya sontak merona malu. Teringat semalam.


Faya langsung menggendong bayi mungil yang di beri nama Juan itu.


Rumah Esta dan Rai itu nampak ramai dari biasanya. Zinnia melanjutkan kesibukannya di dapur di bantu oleh Mia dan asisten rumah tangga mereka. Sementara para pria nampak bercengkerama di ruang keluarga. Prima juga kemudian ikut bergabung dengan mereka.


Sementara Faya, Favita dan Wulan, serta si kembar Ibra dan Igo duduk di ruang tamu. Mereka juga mengobrol ringan. Sesekali Faya sibuk bermain dengan Juan.


Pukul 7 malam, semua sudah stanby di meja makan yang sudah penuh dengan makanan. Suasana itu terasa sangat hangat. Faya sampai tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya karna ia sekarang ada di tengah-tengah mereka.


Ini adalah kali pertama sejak kepergian orang tuanya ia bisa berkumpul dengan keluarga besar begini. Dan ini sangat membahagiakan.


“Faya jangan sungkan-sungkan. Kami ini sekarang adalah keluargamu, jadi gak usah malu-malu. Dan kamu udah jadi bagian dari keluarga ini. Pintu rumah ini selalu terbuka buat kamu. Jadi kapanpun kamu mau pulang kesini, jangan takut, ya?” Esta bersuara dengan suara Rentanya.


“Iya, Nek. Terimakasih karna udah nerima Faya dengan baik kayak gini.” Faya hampir saja menangis. Sungguh, rasa bahagianya tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Yang ada hanya matanya yang terus berembun ingin menangis.


Seperti tau apa yang sedang di fikirkan oleh istrinya, Prima menggenggam erat tangan Faya dan memebrikan senyum semangatnya.


“Ya udah, ayo sekarang di makan. Jangan malu-malu, Faya.” Mia ikut menimpali.


Makan malam itu berlangsung hangat, dan sunyi. Tidak ada yang bersuara sampai selesai makan. Hanya suara Juan yang sesekali merengek minta di susui.


Selesai makan malam, Wulan dan Faya mengambil alih membereskan meja makan dan mencuci piring. Walaupun ada asisten rumah tangga, namun mereka berdua tetap kekeuh ingin mencuci sendiri.


“Denger-denger, kalian mau keliling pulau Jawa ya, Mbak Fay?” Wulan membuka suara.


“Iya, Mbak. Kalau gak ada halangan, mungkin besok lusa kami berangkat.”

__ADS_1


“Jangan lupa mampir ke Semarang ya? Lewat Semarang juga kan?”


“Lewat, Mbak. Tapi mungkin nanti. Soalnya kami lewat selatan dulu. Baru pulangnya lewat utara.”


“Pasti seru tuh. Dulu aku gak pernah kefikiran mau touring kayak kalian.”


“Hhehehhe. Soalnya kalau liburan dan nginep-nginep di hotel kan udah sering, Mbak. tapi kalau touring begini kan jarang. Seru juga.”


“iya, bener itu. jangan manggil Mbak, dong. Aku ini adiknya Mas Prima. jadi aku yang ahrusnya manggil mbak faya, ‘mbak’.” Wulan baru saja hendak melanjutkan kegiatannya ketika ia mendengar suara Juan menangis. Mia memanggil Wulan untuk segera menyusui anaknya itu.


Entahlah. Rasanya begitu canggung untuk memanggil wulan yang berumur lumayan jauh di atasnya dengan sebutan ‘Mbak’.


“kamu ke sana aja. kasihan Juan udah nangis itu.” Faya tau kalau Wulan terlihat tidak enak membiarkannya sendiri.


“Maaf ya, Mbak Faya. Aku tinggal dulu. Beginilah repotnya kalau punya anak kecil.” Wulan kemudian pergi meninggalkan Faya sendiri.


Sudah tidak banyak lagi piring kotornya. Hanya tinggal beberapa biji saja. Faya fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya sampai seseorang membuatnya terkejut. Tiba-tiba saja ada yang memeluknya dari belakang hingga ia hampir berteriak.


“Mau di bantuin, gak?” bisik Prima yang sudah menempel si punggungnya.


“Santai aja. udah halal ini. Biarpun mereka ngelihat juga gak akan di marahi.”


“Iya gak marah. Tapi malu-maluin. Gak sopan, Mas.” Faya memaksa tangan Prima yang melingkar di perutnya sampai terlepas.


“Hehehhehe.” Prima terkekeh kecil kemudian mengambil posisi di samping istrinya itu. “Apa yang perlu di bantuin?”


“Udah selesai, Mas.” Faya segera mengeringkan tangannya dan meninggalkan dapur.


Suara riuh terdengar di taman samping rumah. Ternyata mereka semua tengah melanjutkan mengobrol di sana.


Faya ingin bergabung namun tidak di perbolehkan oleh Prima. Pria itu langsung menarik Faya untuk naik ke kamarnya.


“Mas aku pengen gabung sama mereka.” Erang Faya kesal.


“Kamu kan lagi sakit, sayang. Mending istirahat aja.”

__ADS_1


“Siapa yang sakit? Aku gak sakit, kok.” Faya mulai bingung. Tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Prima.


“Itumu kan lagi sakit. Heheheheh” bisik Prima tepat di telinga Faya sampai istrinya itu bergisik geli.


Plak.


Faya memukul lengan suaminya dengan wajah yang merona.


“Gak gabung di samping, Prim?” suara Zinnia yang entah darimana munculnya. Wanita itu tiba-tiba sudah ada di ruang tamu. Sedang membawa nampan berisi buah.


“Prima antar Faya istirahat dulu di kamar, Ma. Katanya dia capek.” Prima pandai sekali membawa.


“Oh, ya udah. Bawa istrimu istirahat. Dia pasti capek.” Zinnia tersenyum aneh kepada Prima dan Faya.


Faya sadar jika senyuman mama mertuanya itu terlihat penuh maksud. Dan ia melampiaskan rasa malunya kepada Prima. Ia memukul-mukul lengan Prima dengan gemas. Prima hanya meringis sambil terkekeh senang.


“Ayo. Kita lanjut minum obatnya.” Ujar Prima kemudian.


“Tega kamu, Mas? Aku kan sakit?”


“Nanti ku bikin enak. Tenang aja.” Prima punya banyak kata untuk menyangkal penolakan Faya dan membuat keinginannya terpenuhi.


Faya hanya bisa patuh. Mengikuti suaminya yang menariknya masuk ke dalam kamar. Ia tau apa yang akan terjadi di dalam sana.


Faya mengedarkan pandangannya menyapu seluruh kamar Prima. ternyata kamar ini hampir sama dengan kamar Prima yang ada di apartemen. Luasnya kira-kira hampir sama. Hanya saja yang membedakannya adalah di kamar ini ada satu lemari yang berisi piguran edisi terbatas yang tersusun rapi di dalamnya. Kebanyakan adalah tokoh-tokoh superhero yang sering muncul di TV.


“Wah, kamu koleksi ini juga, Mas? Banyak juga koleksimu.”


“Kenapa? Mau main?”


“Emangnya aku anak kecil?” dengus Faya.


“Anak kecil malah gak doyan koleksi beginian.”


Prima kembali memeluk istrinya dari belakang. Kali ini tidak ada penolakan dari Faya. ia justru ikut menangkup tangan Prima yang ada di perutnya. Rasanya hangat, dan nyaman. Baru sehari menjadi suami istri, tapi Faya sudah mulai candu dengan pelukan Prima.

__ADS_1


Entah kenapa rasanya kok beda dengan dulu ketika mereka masih berpacaran. Kalau sekarang, jauh lebih mendebarkan.


__ADS_2