One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 69. Cerita Paling Asyik Di Dunia.


__ADS_3

Sejak Faya mengundurkan diri, dan sejak gadis itu pergi tanpa pamit, hati Prima benar-benar hancur. Ia marah pada dirinya sendiri. Kecewa karna sikapnya yang lambat menyadari situasi.


Sudah tiga hari ini Prima tinggal di rumah kedua orang tuanya. Ia malas pulang ke apartemen karna itu akan mengingatkannya kepada Faya.


Tok.


Tok.


Tok.


Pintu kamar Prima di ketuk.


“Prim? Boleh mama masuk?” tanya Zinnia. Ia berdiri di depan pintu kamar putranya. Hari sudah siang namun pria itu tak kunjung keluar dari kamarnya. Bahkan sudah beberapa hari ini putranya itu tidak pergi ke kantor.


Zinnia tau kalau Prima sedang dalam masalah. Ariga sudah memeritahu suaminya dan Ren memberitahunya. Ia sudah tau kalau Faya sudah mengundurkan diri dari perusahaan. Dan ia juga tau alasan Prima bersikap seperti ini.


Hanya saja sejak kemarin Zinnia hanya membiarkannya saja. Ia ingin memberikan ruang kepada putranya itu untuk berdamai dengan diri sendiri terlebih dahulu. Baru setelah itu mereka bisa bicara dari hati ke hati.


“Masuk aja, Ma. Gak di kunci.” Jawab Prima dari dalam. Dia sedang duduk di sofa sambil memandangi ponselnya. Lebih tepatnya wallpaper ponselnya yang menampilkan Faya ketika di pantai parangtritis dulu.


Waktu itu, Prima mengambil foto Faya diam-diam. Kemudian beberapa hari ini ia menjadikan foto itu sebagai wallpaper di ponselnya. Sebut saja untuk mengobati rasa rindunya kepada gadis itu.


Perlahan Zinnia masuk dan mengambil duduk di depan putranya.


“Udah makan?” tanya Zinnia kembali.


“Nanti aja, Ma. Belum lapar.”


“Dari pagi kamu kan belum makan. Makan dulu sana. Nanti sakit pula. Gimana mau cari Faya kalau kamu sakit.”


Ucapan dari ibunya itu berhasil mengalihkan perhatian Prima dari ponsel. Perlahan keningnya berkerut menatap ibunya.


“Mama tau semuanya. Soal Faya, dan soal perasaan kamu.”

__ADS_1


Lagi, Prima terhenyak mendengarnya. Ia berfikir, jika ibunya saja menyadari perasaannya kepada Faya, lantas kenapa gadis itu tidak pernah menyadari perasaannya. Bahkan ia selalu memberikan perhatian lebih kepada gadis itu supaya setidaknya Faya tau, kalau Prima mempunyai rasa yang lebih dari seorang atasan.


“Jadi, ceritakan sama Mama. Kenapa sampai Faya marah dan keluar dari kantor?” hanya satu hal yang belum Zinnia mengerti. Yaitu alasan Faya melakukan hal ini. Pergi begitu saja tanpa pamit terlebih dahulu. Ia yakin, pasti ada alasan yang kuat sehingga gadis itu memilih untuk pergi dengan cara yang buruk sperti ini.


“Prima terlambat, Ma. Prima terlambat minta maaf sama Faya.” Jujur Prima.


“Tentang?”


“Tentang malam itu. Prima terlambat kasih tau dia kalau malam itu gak terjadi apa-apa. Awalnya Prima Cuma mau lihat wajah cemasnya aja. karna menurut Prima, wajahnya lucu banget. Prima gak tau,kalau ternyata dia kesakitan karna mikirin itu. Sampai gosip muncul di kantor. Entah siapa yang mulai, mereka bilang Faya hamil di luar nikah.”


“Ya ampun. Siapa yang tega nyebarin gosip kayak gitu?”


“Prima juga gak tau, Ma. Walaupun gak ada yang neyeret-nyret nama Prima. waktu Prima ngejelasin semuanya sama dia, dia malah marah sama Prima, Ma. Dia nampak kecewa banget sama Prima, Ma.”


Ya, Prima tak pernah lupa bagaimana sorot mata Faya waktu itu. Sorot mata penuh kekecewaan dan kebencian. Sungguh Prima takut kalau Faya sampai benar-benar membencinya. Tidak, ia tidak mau Faya membencinya. Ia sudah mengaku bersalah atas kebodohannya. Satu hal yang ia harapkan, yaitu maaf dari gadis yang di cintainya itu.


Andai dia bisa mengulang waktu, ia pasti tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini.


Tapi apa gunanya menyesal? Ketika semua sudah terjadi karna kurangnya perhatian akan akibat yang bisa di timbulkan di masa depan. Yang bisa di lakukan hanya memperbaiki apa yang salah.


Bahwa, tidak semua hal bisa di buat untuk bercanda. Bahwa tidak semua orang akan menerima candaan kita. Bisa saja, niat kita hanya bercanda tapi tanpa sadar telah menyakiti hati orang lain.


“Kamu tau rumahnya kakaknya Faya?”


Prima menggeleng. Bodohnya dia, tidak pernah menanyakan hal itu kepada Faya.


“Kalau temannya? Barangkali ada yang tau dimana dia.”


Ah, kenapa Prima tidak berfikir sampai kesana? Ya ampun. Fikirannya terlalu kacau hanya untuk sekedar mencari cara. Otaknya di penuhi rasa sesal yang tidak berguna.


“Nak, sekarang bukan waktunya kamu nyesel atas sikapmu. Sekarang waktunya kamu cari Faya dan minta maaf sama dia. Gak ada gunanya juga kamu nyesel kayak gini. Memangnya Faya bisa lihat penyesalan kamu? Enggak, kan? Jadi ayo makan dulu. Abis itu, cari cara buat nemuin dia. Mama yakin, pasti akan ada caranya nanti. Ayo.” Paksa Zinnia.


Prima seperti sedang mendapatkan amunisi dari sang ibu. benar kata ibunya. Apa gunanya dia menyesal sekarang? Dia harus menemukan Faya dan meminta maaf kepada gadis itu. Itulah yang harus dia lakukan sekarang. Ya.

__ADS_1


Prima tersenyum samar kemudian bangkit dari duduknya. Mengikuti ibunya keluar dari kamar. Setelah ini ia berencana untuk menemui Soraya. Setau Prima, hubungan mereka sangat dekat. Jadi Soraya pasti tau kemana Faya pergi.


Selesai makan, Prima melajukan mobilnya menuju ke kantor. Bukan untuk bekerja, melainkan untuk menemui Soraya demi mencari tau kemana Faya pergi.


Beberapa orang nampak terkejut dengan kedatangan Prima yang tiba-tiba ke ruangan HRD. Pria itu tak menghiraukan anggukan sopan dari karyawannya. Ia hanya mengedarkan pandangan untuk mencari sosok Soraya.


“Pak Prima? butuh sesuatu, Pak?” tanya seorang karyawan.


“Dimana Soraya?” tanya Prima tanpa melihat lawan bicaranya.


“Mbak Soraya, kayaknya tadi ke kantin, Pak.”


Segera saja Prima berbalik dan pergi begitu saja. Membuat mereka mengernyit heran.


Kabar pengunduran diri Faya sudah tersebar di seantero kantor. Dan itu masih merupakan kabar yang hangat untuk di bicarakan.


Memang, cerita yang paling asyik untuk di ceriakan di dunia itu adalah, menceritakan aib orang. Para karyawan masih saja mengungkit tentang kehamilan Faya. Kepergian Faya justru semakin membuat kabar itu semakin menjadi. Mereka bilang, Faya sudah kalah malu karna hamil, jadi dia mengundurkan diri sebelum di pecat.


Begitulah yang Prima dengar ketika ia berjalan ke arah kantin. Beberapa karyawan sedang membicarakan Faya. Membuat Prima sontak memperlambat langkahnya demi untuk mendengar cerita itu.


Rasa bersalah terus membumbung tinggi di dadanya. Itu semua karna dirinya. Karna dirinya sehingga Faya sampai di kata-katai seperti ini.


Entah kenapa, sakit sekali hatinya mendengar Faya di jelek-jelekkan oleh orang lain. Padahal itu di sebabkan oleh diirnya.


Prima terus mengikuti karyawan itu di belakang mereka. Nampaknya mereka juga hendak ke kantin.


“Tapi ngomong-ngomong, siapa sih yang ngebocorin berita ini awalnya? Penasaran banget aku.”


“Mbak Soraya, lah. Siapa lagi. Dia kan deket sama Faya. Kata Mbak Sora, Faya sendiri yang cerita sama dia.”



__ADS_1


memang. ketika  mulut orng begitu antusias menceritakan keburukan orang lain, dan telinga kita juga merasa antusias untuk mendengarkan. jadi pilihannya, apa cerita itu berhenti di kamu, atau akan berlanjut?


__ADS_2