
Faya melirik jam digital di ponselnya. Sudah setengah enam. Sudah pagi ternyata. Ya ampun, saking lelahnya karna Prima, ia sampai terbawa-bawa mimpi.
Faya turun dari ranjang kemudian mengusap keringat yang bercucuran di keningnya. Ia pergi ke dapur dan menenggak segelas air putih dari dispenser. Setelah merasa tenang, ia berjalan ke kamar mandi dan langsung membersihkan tubuhnya. Setelah itu bersiap-siap memakai pakaian untuk pergi ke kantor.
Memang masih terlalu pagi untuk Faya pergi ke kantor. Mungkin ia akan di tertawai satpam kalau ia tiba dikantor sepagi ini. Tapi, ia punya rencana sendiri.
Iseng Faya membuka kulkas. Di dalamnya terdapat setengah bungkus roti, telur, dan beberapa sayuran segar. Ternyata penghuni sebelumnya meninggalkan banyak barang untuknya. Baguslah. Memang tidak ada beras, tapi makanan yang ada di kulkas sudah cukup untuk mengganjal perutnya pagi ini.
Faya mendadar satu butir telur. Kemudian memanggang empat lembar roti di atas teflon. Setelah siap, ia membuat sandwich dengan hanya isi telur saja. Cukup mengenyangkan. Hingga ia bisa memulai aktifitasnya hari ini.
Sebelum keluar, Faya meneguk segelas air putih untuk melegakan tenggorokan yang terasa serat sehabis memakan roti. Setelah itu, ia menyambar tasnya kemudian keluar dari rumah.
Faya tidak lantas pergi ke kantor. Ia hanya terus berdiri di depan pintu sambil memandangi pintu 9a. Berharap pintu itu segera terbuka dan Prima muncul dari baliknya.
Ya, pagi ini, Faya berniat untuk meminta maaf kepada Prima. Ia akan memohon supaya tidak di pecat. Bahkan tidak masalah dia di kerjai setiap hari, yang penting dia tidak di pecat. Itulah niatnya.
39 menit menunggu, akhirnya pintu 9a itu terbuka juga. Faya segera melebarkan senyuman untuk menyambut si empunya rumah. Bahkan rasa pegal yang menyerang betisnya sudah menghilang saat Prima muncul dari dalam rumahnya.
“Selamat pagi Pak!”
“Aish! Astaga! Ngagetin aja kamu!” Dengus Prima dengan wajah yang memucat sementara. Nampaknya ia benar-benar terkejut dengan kemunculan Faya di depan rumahnya. “Untung gak ku pukul.” Prima melanjutkan mengomel.
Prima melongok ke arah belakang Faya. Kemudian mencibir kepada gadis itu.
“Udah pindah kamu?” Tanya Prima.
“Hehehe. Iya, Pak. Saya pindah semalam.”
Mendengar kata semalam, tengkuk Prima meremang. Teringat perasaan melayang yang sempat ia rasakan semalam sebelum tubuhnya terhempas di aspal yang keras.
__ADS_1
“Pak, saya mau minta maaf. Semalam saya...”
“Stop! Jangan bahas semalam-semalam. Aku gak mau dengar.” Ujar Prima yang langsung melenggang dengan memasukkan kedua tangan di saku celana pendeknya.
Faya segera mengikuti. “Tapi saya mau minta maaf, Pak.”
“Udah aku bilang jangan bahas semalam-semalam.” Dengus Prima sambil mempercepat langkahnya. Dan Faya mengikuti mempercepat langkahnya juga.
“Apa itu berarti saya gak di pecat, Pak?”
Pertanyaan itu mampu menghentikan langkah Prima. Ia menoleh kepada Faya yang berhenti di sampingnya. Menatapnya penuh antusias.
“Ngapain juga aku pecat kamu? Apa kamu mau di pecat?”
“Yeee. Bukan begitu, Pak. Syukur deh kalau pak Prima gak dendam sama saya. Terimakasih banyak, pak. Saya akan bekerja keras.” Senang Faya mengetahui kalau ternyata dia tidak di pecat.
Ah, ia terlalu memikirkan mimpinya semalam.
‘enak saja pecat kamu. Aku mau balas kamu dulu, baru aku pecat.’ kekeh Prima dalam hati. Ia tersenyum licik penuh rencana.
Faya dan Prima berada dalam satu lift. Selama turun, Faya tidak lagi cerewet. Ia memilih untuk bungkam karna ia sudah tau statusnya masih sebagai sekretaris Prima. Tentu saja ia lega bukan main.
“Kalau begitu, sampai jumpa di kantor, Pak.” Salam Faya ramah. Kemudian ngeloyor pergi ke arah halte bis yang berada tepat di depan apartemen.
“Punya sekretaris gak guna. Gak bisa nyetir mobil.” Dengus Prima kesal. Ia kemudian masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya.
Faya sedang berlomba dengan waktu. Rasanya tidak enak kalau sampai Prima tiba lebih dulu di kantor ketimbang dirinya. Tapi ya mau bagaimana, ia hanya bisa mencapai kantor dengan menggunakan angkutan umum. Yang sudah pasti akan memakan waktu lebih lama. Sedangkan Prima membawa mobil sendiri. Jadi sudah jelas kalau pria itu pasti akan tiba di kantor lebih dulu.
Sesampainya di kantor, Faya segera berlari menuju lift yang penuh sesak oleh pegawai. Ia mengangguk ramah kepada para pegawai yang ia temui kemarin. Ia berharap, Prima belum sampai di kantor. Walaupun nampaknya itu sangat mustahil.
__ADS_1
Faya mengendap berjalan menuju ke ruangannya. Menoleh ke arah ruangan Prima. Jatung Faya terasa mau berhenti saat melihat Prima sedang sibuk menelfon sambil menghadap ke kaca. Bosnya itu sudah sampai, seperti perkiraanya. Untungnya Prima tidak melihat kedatangan Faya.
Perlahan Faya meletakkan tasnya ke atas meja menarik kursi mendekat kemudian bersiap duduk dan memulai pekerjaannya.
Brak!!!
Suara keras terdengar saat Faya beserta kursi terjungkang ke belakang. Faya meng-aduh sebentar merasakan bo kongnya yang menghantam keras ke lantai. Ia menatapi kursi yang sudah terpisah dari sandarannya itu. Yang menyebabkan ia terjatuh. Untungnya tidak ada siapa-siapa disana. Sakitnya sih memang tidak seberapa. Tapi malunya ituu kalau sampai di lihat orang.
Sementara di dalam ruangannya, Prima berdiri sambil memandang ke arah meja kerja Faya. Dan ia tertawa tanpa suara setelah melihat Faya terjungkang akibat ulahnya.
Melihat Faya menengok ke arahnya, ia buru-buru menghadap kembali ke kaca. Berpura-pura masih menelfon. Padahal telfonnya sudah terputus sejak tadi. Ia melanjutkan tawanya sambil menahan diri agar tidak terbahak terlalu keras. Pagi ini, ia berhasil membalas dendam pada Faya. Tapi ini baru permulaan.
Faya bangkit dan memegangi bo kongnya yang linu. Ia melirik ke arah Prima yang masih menghadap ke luar. Entah kenapa, ia kok merasa sangat malu sekali. Padahal tidak ada yang melihatnya.
“Aduhh.” Lirih Faya. Ia menyingkirkan kursi yang patah dan menarik kursi lainnya yang memang tersedia di sana. Dengan hati-hati ia duduk. Takut akan terjatuh lagi.
Baru saja menempel di kursi, telfon merah sudah berdering. Ia segera mengangkatnya.
“Ya, Pak?”
“Buatkan saya kopi. Kopi hitam, gulanya satu sendok seperempat. Terus belikan saya roti di toko roti yang di seberang kantor.”
“Roti rasa apa, Pak?”
“Kamu bilang aja roti kesukaan Pak Prima. Mereka pasti udah ngerti.” Prima memberi titah.
“Baik, Pak. Tunggu sebentar.”
“Jangan lama. Otakku gak bisa bekerja kalau belum kena kopi.” Paksa Prima. Ia sengaja melakukan itu. Tentu saja untuk mengerjai Faya. Dia masih punya dendam kesumat yang harus ia tuntaskan pada gadis itu.
__ADS_1
Faya kembali bangkit berdiri. Ia hendak melaksanakan perintah dari bosnya itu. Terpaksa berjalan walaupun bo kongnya masih terasa sangat pegal.