
Awalnya Prima memang hendak pergi dari sana. Entah kenapa ia tidak sanggup menahan hatinya yang seolah terkoyak ketika melihat Faya sedang tertawa senang bersama pria lain di hadapannya. Sebuah fikiran muncul kalau mungkin pria itu adalah kekasih Faya. Mungkin karna itu gadis itu terus menghindarinya. Prima sudah berfikir kemana-mana.
Dia sudah melangkahkan kaki, ketika dia mendengar sebuah teriakan keras dari seorang gadis mungil yang sedang menatap marah ke arah Faya. Ia menghentikan langkah dan berbalik untuk mendekat. Ia ingin melihat apa yang terjadi.
“Pelakor! Enaknya kamu itu di apain sih? Hah?!!” terdengar gadis mungil itu terus melontarkan makiannya kepada Faya.
Dari sini Prima bisa menyimpulkan sedikit ceritanya. Tapi belum selesai ia merangkum babnya, ia melihat gadis itu mengambil helas dengan emosi. Ia menduga kalau gelas itu akan tertuju kepada Faya.
Tubuh Prima refleks merangsek maju hingga ia berhasil memeluk Faya dan mempersembahkan pungungnya untuk melindungi gadis itu.
Satu tangannya melindungi belakang kepala Faya. Sementara tangan yang lain memegangi punggung gadis itu. dan alhasil, gelas itu mengenai punggungnya dan seketika pecah. Seiring dengan teriakan orang-orang yang histeris menyaksikan kegaduhan itu.
“Kamu gak apa-apa, Fay?”
Nampaknya Faya masih sangat syok dengan apa yang terjadi. Gadis itu hanya menatap Prima pias dan mengangguk pelan saja.
Nampak kelegaan di wajah priama. Pria itu tersenyum dan mengangguk kepada Faya. Seolah berkata, semua akan baik-baik saja.
“Saya bakalan nuntut kamu karna ini.” Ancam Prima setelah ia melepaskan Faya dan berbalik menatap tajam kepada Morin.
Selebihnya, Prima tidak peduli dengan kegaduhan yang terjadi setelah itu. ia merangkul pundak Faya dan menuntun gadis itu pergi dari sana.
Bahkan setelah sampai di kamarnya, Faya masih diam tak bergeming. Ia sedang bingung dengan kejadiannya. Hatinya kembali sakit mengingat tatapan diskriminatif orang-orang padanya.
“Minum dulu.” Prima menyodorkan gelas air putih kepada Faya. Ia duduk di samping gadis itu dan terus mengusap kepalanya lembut.
Faya menatap dalam kepada Prima. setiap sentuhan tangan Prima di kepalanya, mengalir desiran kedalam hatinya.
“Makasih, Pak.”
“Untung ada aku di sana. Kalau enggak, gimana coba?” Prima berseloroh seolah sedang membanggakan diri karna sudah berhasil menjadi pelindung bagi Faya.
“Ya palingan mukaku aja yang hancur.” Balas Faya.
__ADS_1
“Jangan dong. Sakit lho itu.” Prima menganggap ucapan Faya serius. “Jangan, ya?” lirih Prima kembali. Ia menyelipkan rambut Faya ke belakang telinga.
“Pak, tolong jangan perhatian terus sama saya.” Desis Faya pada akhirnya. Sungguh, deguban jantungnya semakin tidak terkendali. Bisa gawat jika terus seperti ini.
“Kenapa? Apa perhatianku buat jantungmu berdebar?”
Deg.
Prima menebak dengan sangat tepat. Membuat wajah Faya sontak merona. Ia buru-buru mengalihkan wajahnya ke arah lain untuk menghindari tatapan Prima yang mematikan itu.
“Saya jadi gak nyaman, Pak.” Alasan Faya pada akhirnya. “Bapak tolong keluar ya dari kamar saya.” Pinta Faya dengan masih memalingkan muka.
Sementara Prima tersenyum simpul melihatnya. Ia merasa sudah mendapatkan celah. Ia hanya harus terus melancarkan usahanya.
“Bapak buruan keluar.”Paksa Faya kembali.
“Iya, iya. Jangan ngambek, dong.” Prima beranjak dari ranjang Faya dan hendak keluar.
Merasakan Prima yang sudah berdiri baru membuat Faya berani melihat pria itu walaupun hanya punggungnya saja.
“Pak, Bapak berdarah.” Faya sontak panik. Ia berdiri dan menghampiri Prima.
Sementara Prima berusaha untuk melihat ke punggungnya sendiri namun tidak sampai. Ia memang merasakan perih di area punggungnya. Perih dan sedikit basah. Ia fikir itu dari keringat, bukan darah.
Faya terus menatapi darah yang merembes dari kaus abu-abu yang di kenakan oleh Prima. tidak banyak, tapi itu cukup membuat Faya khawatir.
“Pasti ini karna gelas tadi.” Gumam Faya. “Bapak duduk dulu di sini.” Paksa Faya dengan menarik tangan Prima dan menyuruhnya duduk di sofa dekat jendela. Sementara ia mengambil kotak P3K yang terdapat di dekat pintu. Ia mengambil kapas dan alkohol.
“Banyak darahnya, Fay?” Prima sedikit panik juga ternyata.
Faya tidak menjawab. Ia hanya mengambil duduk di sebelah Prima dan menyuruh pria itu untuk membelakanginya. Tanpa ragu, Faya menyingsingkan kaus yang Prima kenakan.
Seeeerrrrr..
__ADS_1
Sensasi yang di timbulkan oleh tangan Faya sungguh luar biasa. Baik Faya maupun Prima, keduanya sama-sama berdesir tak karuan.
Sejenak, Faya termangu menatapi punggung kekar Prima yang sudah terdapat beberapa luka disana. Tidak lebar, hanya goresan kecil namun sepertinya dalam sehingga mengeluarkan darah.
Jantung Faya masih terus berdegup aneh. Namun ia berusaha untuk menetralkannya. Ia mengambil alkohol kemudian membasuh luka itu. Dan tidak lupa ia membubuhkan cairan antiseptik ke luka Prima.
Sedangkan Prima, tubuhnya sudah meremang sejak Faya menyingsingkan kausnya tadi. Apalagi di tambah sentuhan-sentuhan gadis itu membuat bulu kuduknya berdiri. Bukan hanya bulu kuduknya yang berdiri. Yang lain juga berdiri namun ia masih bisa menahannya. (eh? ehh?? Eeeeeehhhhhh???)
Faya sudah selesai. Ia juga sudah menurunkan kaus Prima kembali. Namun, ia jadi merasa bersalah dan menundukkan wajahnya.
“Maaf, Pak. Gara-gara saya Bapak jadi luka kayak gini.” Lirih Faya sambil menunduk.
Prima yang mendengar itu langsung membalikkan badannya. Menatap heran kepada Faya. Suasana tiba-tiba berubah sayu.
“Gak usah di fikirin sampai segitunya, Fay. Aku seneng bisa ngelindungi kamu. Aku bakalan tambah sedih kalau gak bisa berbuat apa-apa buat kamu. Asal kamu tau, aku ngerasa bersalah banget sama kamu, Fay. Jadi tolong maafin aku, ya?” Prima menyelipkan permintaan maafnya di sela kalimatnya.
Faya tak kunjung mengangkat wajahnya. Ia malu sekaligus merasa tidak enak hati kepada Prima. padahal sakit hati yang di buat pria itu jauh lebih parah dibandingkan dengan lukanya saat ini.
Hati, selalu tak bisa di tebak debarannya. Yang awalnya sangat marah sampai benci, tiba-tiba seketika berubah merasa trenyuh dan merasa bersalah hanya karna masalah kecil saja. Begitulah yang sedang di alami oleh Faya sekarang. Melihat Prima terluka benar-benar membuatnya khawatir luar biasa.
Perlahan, Faya mengangguk pertanda ia sudah menerima perminta maafan dari Prima. namun ia masih menunduk
saja.
Prima mengangkat dagu Faya untuk membuat gadis itu menatapnya.
“Makasih banyak.” Lirih Prima. pandangan mereka bertemu dalam kias paling dalam. “Fay, aku sayang banget sama kamu. Aku sayang kamu bukan sebagai sekretarisku, tapi sebagai wanita. Aku memang bodoh udah nyakitin kamu kayak gitu. Aku janji gak akan ngelakuin hal yang sama lagi. Jadi tolong, lihat aku sebagai laki-laki. Lihat juga kalau perhatianku sama kamu itu tulus karna memang aku sayang banget sama kamu. Aku cinta sama kamu, Fay.”
Faya masih mematung. Tidak menyangka kalau ia akan mendengar kalimat yang sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya. Terlebih, tersirat kejujuran dan ketulusan dari suara Prima, membuat jantung Faya semakin tidak terkendali.
__ADS_1
eaaaaaa. di tembak juga akhirnya.