
Satu minggu sebelum pernikahan.
Kabar akan pernikahan Prima dan Faya sudah menyebar di seantero kantor. Sekarang, tidak ada lagi yang tidak mengetahui tentang mereka. Tapi kali ini, tidak ada yang bergosip seperti yang sudah-sudah. Sikap rekan-rekan kantornya justru bertambah baik kepada Faya akhir-akhir ini.
Hari ini adalah hari terakhir Faya bekerja. Semua anggota keluarga Prima mendesaknya untuk segera berhenti bekerja dan fokus untuk pernikahan. Dan itu di dukung juga oleh Iwan.
Sebelum Faya benar-benar berhenti, dia ingin makan siang di kantin kantor dengan rekan-rekannya. Ia ingin merasakan keseruan menjadi ‘karyawan’ sebelum status itu menghilang dari dirinya.
Di kantin, banyak dari rekan-rekannya yang mengucapkan selamat padanya. Padahal dulu ia sempat berfikir kalau ia pasti akan menjadi gunjingan lagi karna menikahi bosnya sendiri. Tapi ternyata tidak. Entah kalau di belakangnya.
Disana, Faya sesekali mendengar rekan-rekannya yang masih membicarakan tentang Soraya dan Ridwan. Ternyata Ridwan sudah dipindah tugaskan ke cabang di Kalimantan. Ridwan di beri sanksi berupa penurunan jabatan karna sudah membuat gaduh seisi kantor. Sementara Soraya sudah mengundurkan diri waktu itu. Tidak ada yang tau dimana wanita itu kini berada. Soraya menghilang tanpa jejak.
Selesai makan siang, Faya kembali ke ruangannya. Ia melihat ke dalam ruangan Prima namun pria itu tidak ada di mejanya. Entah kemana Prima pergi.
Faya memutuskan untuk menunggu Prima kembali. Namun sudah setengah jam lebih dan pria itu belum muncul juga, membuatnya panik dan cemas. Akhirnya ia menelfon ke ponsel Prima.
‘Ya, sayangku?’ sapa Prima dari seberang.
“Mas, dimana?”
‘Aku lagi di ruangan Papa. Kenapa?’
“Oh, gak apa-apa. kirain kemana. Aku cariin di ruangan kok gak ada. Ya udah kalau gitu.”
‘Bentar lagi selesai, kok. Tunggu di situ.’ Pesan Prima sebelum menutup telfonnya.
Sambil menunggu Prima datang, Faya menatapi beberapa lembar undangan yang tergeletak di atas meja kerjanya. Itu adalah undangan pernikahannya yang akan di berikan untuk Harvey dan beberapa teman Prima yang lain.
Memikirkan soal teman, hati Faya menjadi pias sendiri. Ia baru menyadari kalau ternyata hanya Harveylah temannya. Ia tidak punya teman lain. Ada sih, tapi hubungan mereka sudah tidak sedekat dulu jadi Faya tidak mengundang mereka.
Ada satu hal yang mengulik perasaan Faya. ia ingin memberikan undangan kepada Soraya. Tapi entahlah, kenapa perasaannya jadi bimbang begini. Seharusnya ia tetap menjaga amarahnya. Tapi kenapa justru rasa simpati yang muncul? Menyebalkan.
“Tuh, kan. Ngelamun lagi.” Suara Prima mengejutkan Faya dan membuatnya langsung melihat ke arah suara. “Mikirin apa lagi?”
“Enggak ada kok, Mas. Udah selesai rapatnya?” Tanyanya. Kemudian melihat kepada Surya yang sudah resmi menggantikan tugasnya mulai hari ini.
__ADS_1
“Udah. Gak ada jadwal lagi kan, Sur?” tanya Prima kepada Surya.
“Gak ada, Pak. Sekarang Bapak bebas mau kemana.” Jawab Surya sambil tersenyum.
“Kenapa kamu senyum-senyum begitu?” hardik Prima karna Surya sedang tersenyum aneh padanya.
“Gak ada apa-apa, Pak. Saya Cuma senyum aja kok.”
Prima mencibir kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Faya. “Ayo.” Ajaknya kemudian
Prima dan Faya berjalan beriringan keluar dari kantor. Hal yang sangat melegakan karna tidak ada tatapan menghakimi untuk Faya. Bahkan ketika Prima membukakan pintu mobil untuk calon istrinya itu, semua orang nampak baisa saja. Tidak ada tatapan protes maupun tatapan tidak suka kepada mereka.
“Jadi, mau kemana dulu kita?” tanya Prima ketika mobil sudah melaju.
“Tadi aku udah janjian sama Harvey. Aku bilang kita mau ketemu.”
“Ketemu dimana?”
“Di Cafe Gawol. Nih dia udah share lokasi.” Faya menunjukkan ponselnya kepada Prima.
Sesampainya di cafe, Prima segera memarkirkan mobilnya. Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam cafe.
Faya mengedarkan pandangan untuk mencari sosok Harvey. Ia berhenti pada seorang pria yang sedang melambaikan tangan padanya. Meminta untuk mendekat. Dan tentu saja itu adalah Harvey.
“Mas, itu.” tunjuk Faya kepada Prima. lantas keduanyapun menghampiri meja dimana Harvey duduk.
“Gak nyasar, kan?” tanya Harvey basa-basi.
“Ya gak dong. Kan udah dibantu mbak peta.” Jawab Faya terkekeh kecil kemudian mengambil duduk di hadapan Harvey. Begitu juga dengan Prima. Ia duduk di sebelah Faya.
Keadaan canggung sempat berlangsung untuk beberapa saat. Namun setelah itu perlahan mencari dengan selorohan-selorohan Harvey dan juga Prima.
“Seseneng itu lo bisa dapetin Faya?”
“Ya iyalah. Kelihatan jelas ya?” jawab Prima.
__ADS_1
“Banget. Sampe bucin-bucinnya juga kelihatan banget.”
Keduanya saling melempar senyuman.
“Oh iya, Harv. Kami mau ngasih ini.” Faya mengangsurkan undangan ke atas meja untuk Harvey. Pria itu segera mengambil dan membacanya.
“Wahhh. Gak nyangka kalau kalian bener-bener mau nikah aja. Kayaknya baru kemarin berantem sampai diem dieman. Pakai acara kabur segala lagi.” Sindir Harvey yang kemudian kembali melipat undangan dan meletakkannya ke atas meja.
“Cepet di halalin biar sah jadi punya aku. Biar gak ada lagi peluang buat orang-orang naksir sama Faya.” celetuk Prima membuat Faya mengernyitkan keningnya.
“Iya, iya. Lo menang. Gak usah pamer juga.” Protes Harvey sedikit kesal. Tapi itu hanya bercanda. Ia tentu tidak ingin merusak hal yang susah payah ia cairkan tadi.
“Pokoknya selamat aja buat kalian. Nanti aku pasti bakalan datang ke pernikahan kalian.”
“Awas aja kalau sampai lupa bawa kado.” Seloroh Faya dengan ancaman bercandanya.
“Tenang aja. aku bakalan bawa kado istimewa buat kalian.” Janji Harvey.
Faya dan Prima mengangguk tersenyum setuju dengan janji Harvey.
“Satu lagi, jangan datang sendiri. Bawa gandengan. Kejombloan lo itu harus di sembunyiin.” Seloroh Prima.
“Tenang aja. Gue bawa gandengan entar.”
Obrolan itu berlanjut selama satu jam ke depan. Sambil memesan makanan ringan dan minuman, mereka mengobrol santai tentang apa saja. Sampai pembahasan berhenti pada ucapan Harvey yang mengatakan kalau bulan depan ia harus kembali ke Prancis karna ada urusan keluarga.
“Kalian mau bulan madu kesana? Aku bisa ngurusin semua keperluan kalian nanti disana.” Tawar Harvey.
“Makasih tawarannya, Harv. Tapi gak perlu repot-repot. Aku pengen ke yang deket-deket aja. Pulau Jawa aja belum semua di datengin. Boro-boro mau ke luar negeri.” Tolak Faya halus.
“Faya mau keliling pulau jawa nanti buat bulan madu katanya.”
“Waaah. Cinta tanah air nih judulnya.”
“Hehehehe. Nanti, kalau ada kesempatan lagi baru, ke luar negeri.”
__ADS_1
“Ya iyalah. Jadi buat apa duit samimu nanti kalau bukan kamu yang ngabisin, Fay?” selorohan Harvey itu langsung di sambut gelak tawa oleh Faya. sementara Prima hanya geleng-geleng kepala saja mendengarnya.