One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 121. Meminta Maaf Dengan Tulus.


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Prima dan Faya memulai touring bulan madu mereka. Faya benar-benar sanagt antusias dalam perjalanan ini.


Di perjalanan, mereka saling bergantian untuk menyetir. Mereka mampir di setiap  kota yang mereka singgahi. Bermalam di tempat-tempat wisata yang indah. Benar-benar perjalanan yang menyenangkan.


siang ini, Prima dan Faya sedang dalam perjalanan menuju ke kota Solo setelah setelah dua hari berada di kota Jogja. Mereka sedang istirahat di Kalasan untuk makan siang.


Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan kembali menuju kota Solo.


Di Solo, keduanya mampir di Pasar Klewer untuk melihat-lihat sekaligus membeli baju batik khas solo. Di sana juga mereka banyak membeli jajanan yang enak tapi murah meriah.


“Cobain ini.” Prima menyuapkan seseondok jenang kepada istrnya.


“Hmmm. Enak. Manisnya gak berlebihan. Jadi gak eneg.”


“Abis ini kita kemana?”


“Ke Taman Tirtonadi.” Jawan Faya spontan. Karna memang semua perjalanan mereka sudah di rencanakan dengan matang.


Bahkan sehari sebelum mereka memulai perjalanan, Faya dan Prima di sibukkan untuk mengatur jadwal. Menyusun kota dan tempat-tempat yang akan mereka singgahi. Mungkin pekerjaan sebagai sekretaris Prima sudah merasuk dan mendarah daging di dalam tubuh Faya sehingga ia menyusunnya dengan teliti dan rapi. Semua aspek sudah dipertimbangkannya. Bahkan dengan hal terkecilpun, Faya rencanakan dengan matang.


Menjelang sore hari, mereka sudah sampaidi Taman Tirtonadi. Taman yang berada di pinggir sungai **** yang kemudian bermuara ke sungai bengawan solo ini nampak ramai pengunjung. Kebanyakan dari mereka adalah keluarga kecil dan para muda-mudi yang ingin menghabiskan waktu bersantai mereka.


“Duduk disini aja ya, Mas?”


Faya duduk di salah satu kursi yang menghadap tepat ke arah sungai. Sungguh pemandangan yang menakjubkan untuk sekedar me-refresh otak.


“Mau es krim, gak?” tawar Prima.


“Boleh.” Faya mengiyakan. Kebetulan sore ini cuaca lumayan terik.


“Tunggu disini sebentar ya. Aku beli dulu.”

__ADS_1


Faya hanya menganggukkan kepala sambil melihat suaminya yang menjauh darinya. Setelah itu ia kembali mefokuskan untuk menatapi aliran sungai yang tersaji di hadapannya.


“Boleh aku duduk disini?” sebuah suara membuat Faya langsung menoleh ke samping.


Betapa terkejutnya Faya ketika mendapati Soraya yang sedang berdiri di sampingnya. Sungguh ia tidak menyangka akan bertemu dengan wanita itu disini.


Penampilan Soraya masih sama. Masih cantik seperti dulu. Memang dasarnya dia pandai merawat diri. Tidak ada yang berubah dari dirinya selain perutnya yang nampak sedikit membesar.


Entah apa yang membuat tatapan Faya seketika tertuju ke perut Soraya. Sehingga membuat wanita itu langsung merapatkan cardigannya dengan wajah yang merasa tidak enak.


“Duduk aja.” Faya mempersilahkan.


Mendapat persetujuan, Soraya mengambil duduk di bekas Prima tadi. Untuk beberapa saat keduanya hanya terdiam saja. Sama-sama kalut dengan fikiran masing-masing. Tatapan keduanya terus menatap lurus kepada riak air sungai yang terhalang oleh pagar besi pembatas.


“Selamat ya atas pernikahanmu sama Pak Prima.” akhirnya Soraya yang mulai bersuara.


“Em. Makasih.” Faya menjawabnya dengan dingin.


Sementara Soraya, wanita itu nampak bingung akan memulai kalimatnya darimana. Ia takut Faya salah mengartikan ucapannya.


“Maafin aku, Fay.”


Kalimat yang di luar dugaan Faya itu berhasil membuat Faya menoleh kepada Soraya. Keningnya berkerut seolah heran dengan sikap Soraya. Suaranya bergetar dan terdengar berat. Ada kesedihan yang bisa di rasakan oleh Faya dari suara wanita itu.


“Kali ini aku bener-bener tulus minta maaf sama kamu. Sekarang aku sadar, kalau perbuatanku itu memang salah. Kamu udah nganggap aku kayak saudara tapi aku malah nyakitin kamu. Aku minta maaf, Fay. Tolong maafin aku. Aku tersiksa kalau ingat tentang kamu, Fay.”


Faya ternganga dan hanga terdiam. Keningnya masih berkerut heran. Benarkah?


Benarkah Soraya sedang meminta maaf padanya sekarang? Apa dia salah dengar atau bagaimana? Rasanya sangat tidak mungkin kalau seorang Soraya, yang dengan keangkuhannya itu, akan meminta maaf kepadanya. Faya hampir saja tidak percaya.


Tapi tunggu.

__ADS_1


Apa Soraya sedang menangis?


Ya, Soraya benar-benar sedang menangis. Bahunya terguncang dan dia terisak.


“Aku dulu sama sekali gak percaya sama karma, Fay. Tapi setelah aku ngalamin sendiri, aku bener-bener terpukul. Aku nyesel karna udah nyakitin kamu. Aku nyesel, kenapa baru sekarang aku sadar, kalau kamu itu memang tulus berteman sama aku. Aku bodoh, Fay. Aku bodoh udah nyia-nyiain temen sebaik kamu.”


Soraya terus berkata sambil terisak. Sesekali ia mengusap airmatanya dengan punggung tangan atau dengan ujung cardigannya.


“Aku fikir, selama ini aku punya banyak temen. Tapi, waktu aku terpuruk kayak gini, ternyata gak ada satu orangpun yang mau berada di sampingku. Seketika aku di buang. Gak di anggap lagi. Apalagi keadaanku yang kotor begini, semua orang jadi menjauh. Sekarang aku baru sadar, kalau Cuma kamu temenku yang bener-bener tulus berteman sama aku. Kenapa aku gak bsia lihat itu dari dulu.” Soraya semakin terisak.


Faya masih terdiam. Ia tidak tau harus meresponnya bagaimana.


“Kamu masih gak bisa maafin aku, Fay? Kalau kamu mau, aku bisa berlutut sama kamu sekarang juga.” Tiba-tiba Soraya berlutut di depan Faya. Membuat Faya langsung bangkit dan meminta Soraya untuk bangun.


“Tolong  berhenti, mbak Sora. Jangan kayak gini. Mbak mau aku di nilai gimana sama orang-orang?” Faya menjadi kesal. Sekaligus terharu dengan ketulusan dan tekad Soraya untuk meminta pengampunan darinya.


Faya menuntun Soraya untuk kembali duduk di kursi. Ia terdengar menghela nafas berat.


“Tapi aku butuh maafmu, Fay.”


Entahlah, hati Faya masih setengah-setengah. Setengah ia masih marah kepada wanita itu. dan setengah ia merasa tidak tega juga melihatnya dan ingin memaafkannya. Sepertinya Soraya benar-benar terpukul.


“Aku udah maafin mbak Sora. “ akhirnya Faya memilih untuk mengalah dan membujuk hatinya untuk memaafkan Soraya. Lagipula, tidak baik memendam dendam didalam hati. Karna itu hanya akan menyakiti dirinya sendiri. membuatnya merasa tidak tenang.


Memaafkan orang yang telah menorehkan luka di hati kita memang sangat sulit. Kita bukan Tuhan yang Maha Pemaaf. Kita hanyalah seonggok daging yang diberi nyawa dengan segala kekurangan yang menyelimutinya.


Perasaan yang kita miliki akan enggan untuk memaafkan orang dengan mudah. Tapi, kalau di fikir-fikir, menyimpan dendam sama sekali tidak ada gunanya.


Kalau memaafkan lebih membuat hati tenang, kenapa harus memilih untuk mendendam?


Ya, Faya telah memang atas dirinya sendiri ketika ia mengatkan telah memaafkan Soraya. Memang kalau di ingat, rasa sakit yang di berikan Soraya sangatlah besar dan berdampak pada dirinya. Hatinya menjadi porak-poranda tidak karuan. Itu semua karna ia terlalu mempercayai Soraya. Dan memberikan ketulusan untuk pertemanan mereka.

__ADS_1


__ADS_2