
10 menit dan Faya masih berdiri di balik tembok. Bersembunyi dari Prima dan Aliva. Tidak ingin keberadaannya di ketahui oleh mereka. Kalau saja ada sebuah tempat untuk bersembunyi, ia pasti sudah pergi dari sana. Rasanya janggal sekali menjadi penguping pembicaraan orang lain. Ia menjadi tidak nyaman sendiri.
“Wanita yang bisa masuk ke dalam rumahku itu, cuma ada 3. Mama dan keluargaku, sekretarisku, dan istriku.”
Kalimat Prima itu terus terngiang di kepalanya. Ia masih tidak percaya kalau kalimat menggetarkan itu keluar dari mulut seorang Prima. Bos somplak yang tidak tanggung-tanggung mengerjainya.
“Ya sudah, kalau begitu. Nanti kan kalau aku udah jadi istrimu, aku bisa masuk sesuka hati.” Prima mengangguk. Kemudian melepaskan tangannya dari tembok. Menarik diri kemudian menyuruh Aliva pergi dengan menggunakan kepalanya.
“Sampai ketemu lagi. Jangan lupa telfon aku nanti. Kita sleep call ya?” Pinta manja Aliva lagi.
Prima tidak menyahut dan tidak menanggapi. Tapi gadis centil itu kemudian beralih dan mulai berjalan pergi dari sana.
Mendengar langkah kaki Aliva yang mendekat ke arahnya, Faya buru-buru mencari cara supaya tidak di kenali. Karna tidak lucu bertemu dengan gadis menyebalkan yang sudah menyiramnya itu di sini.
Faya hendak lari, tapi ia tidak tau akan pergi kemana. Sementara derap langkah kaki Aliva semakin mendekat ke arahnya.
Tiba-tiba ide muncul di kepalanya begitu saja. Ia mengangkat tas besarnya dan memanggulnya di pundak. Itu lumayan bisa menutupi wajahnya. Lagipula, ia menempel di dinding, jadi Aliva pasti tidak mengenalinya.
Benar saja, Aliva melewatinya dan hanya melirik sekilas. Kenyataannya gadis itu sama sekali tidak peduli dengan keberadaannya. Faya jadi merasa percuma sudah panik sendiri tadi.
Saat merasa sudah aman, Faya melirik ke arah lift yang baru saja tertutup dan membawa Aliva pergi. Kemudian, ia kembali melongok ke arah pintu. Melihat apakah Prima masih ada di sana atau tidak. Ia bisa bernafas lega saat tidak lagi menemukan Prima di depan pintu.
Perlahan, Faya berjalan mendekati pintu. Ada dua pintu yang saling berhadapan. Yang mana rumahnya? Faya bingung. Ia kembali melihat ponselnya. Meneliti nomor unit apartemennya. 9b. Faya membaca pintu di sebelah
kanannya, 9a. Itu berarti apartemen milik Prima. Kemudian ia menoleh ke kiri, baru 9b.
Ah, ini. Pekik Faya dalam hati. Ia kemudian menekan tombol kunci 959595. Dan pintupun terbuka. Ia segera masuk sebelum Prima keluar lagi.
Setelah masuk, hal pertama yang ia lihat adalah, ruang tamu. Ada sofa panjang yang melekat di dinding dekat jendela. Di depan sofa ada tv berukuran sedang yang bertengger di atas meja khusus. Di sebelah tv, berdiri rak buku setinggi langit-langit yang berisi beberapa buku dan tanaman hias yang sudah mati.
__ADS_1
Selesai mengamati ruang tamu, Faya kembali berjalan. Ia meletakkan tasnya di atas sofa kemudian berkeliling lagi.
Di sebelah kanan, ada dapur lengkap dengan perabotannya dan juga meja makan. Di sebelah dapur, ada dua pintu. Faya mendekati pintu itu dan membuka pintu yang sebelah kanan, ternyata kamar mandi. Setelah itu, ia membuka pintu sebelah kiri, dan ternyata kamar.
Faya mengernyit. Kalau menruut informasi yang dia dapatkan, apartemen ini termasuk yang paling mahal dan mewah. Tapi kenapa penampakannya biasa saja? Sangat jauh dari bayangan yang sempat ia bayangkan.
Dalam bayangannya saat mendengar apartemen paling mahal, yang ada di fikirannya adalah apartemen mewah seperti yang sering ia lihat di tv-tv. Tapi apartemen ini terlihat biasa saja. Tidak ada yang wah di dalamnya.
Bahkan kamar tidur itu hanya memiliki single bed. Meja kerja, dan lemari pakaian. Ya walaupun itu semua sudah termasuk wah bagi Faya. Jauh di atas rumah tempat tinggal milik Kirani yang selama ini ia tempati.
Faya merebahkan diri di atas kasur empuk itu. Rumah itu bersih walaupun tidak ada yang menghuninya. Wajar saja, karna sekretaris sebelumnya mungkin baru meninggalkan tempat ini beberapa hari yang lalu. Atau malah kemarin.
Rasa kantuk yang mendera kelopak mata di tambah dengan kenyamanan yang sedang ia rasakan, membawa Faya perlahan terlelap dalam dekapan mimpi indah. Ia bahkan tidak berselimut. Langsung tertidur begitu saja.
“Faya! Bangun! Enak aja ya kamu tidur-tiduran begini!” Sebuah teriakan mengejutkan Faya. Memaksanya membuka mata.
Betapa terkejutnya dia mendapati Prima ada di depannya. Berdiri di kamarnya.
“Malah banyak tanya. Kamu itu gak berhak tinggal disini. Kamu itu udah aku pecat.”
Seketika wajah Faya memucat. Nafasnya tersengal. Benarkah ia sudah di pecat?
“Di pecat, Pak? Kenapa saya di pecat? Apa salah saya, Pak?” Panik Faya.
“Kamu gak inget udah bikin pinggangku retak-retak, hah?!” Marah Prima. “Ini, lihat ini.” Prima menyingsingkan kemejanya dan memperlihatkan pinggangnya yang benar-benar retak. Seperti cat dinding yang sudah kena panas dan hujan berpuluh-puluh tahun lamanya. Di penuhi retakan. Mengelupas di beberapa bagian.
Faya memperhatikan dengan seksama. Benar, pinggang Prima jadi retak akibat ulahnya yang sudah membanting pria itu.
Faya di serang panik luar biasa. Tentu ia tidak ingin kehilanagn pekerjaan yang baru sehari ini ia dapatkan. Kok malah sudah di pecat sih?
__ADS_1
“Pak, saya minta maaf, pak. Tolong jangan pecat saya, Pak. Saya harus cari kerjaan dimana lagi kalau bapak pecat saya?” Rengek Faya.
“Aku gak peduli. Pokoknya kamu aku pecat!” Teriak Prima dengan ekspresi marah. Dan sepertinya, kemarahan Prima itu akan sulit di padamkan.
Prima berbalik dan mulai melangkah pergi. Melihat itu, Faya tidak habis akal. Ia langsung berlari dan merangsek memeluk kaki Prima untuk menghentikan pria itu pergi dari sana.
“Lepasin!”
“Enggak, Pak. Tolong jangan pecat saya, Pak. Saya mohon. Hiks.” Faya mulai menangis sesenggukan. Ia memeluk erat kaki Prima.
Lama-kelamaan, Faya merasa aneh, saat kaki Prima berubah bentuk menjadi memanjang dan penuh corak tutul. Ia mendongak ke atas untuk melihat wajah Prima. Apa pria itu sudah tidak marah? Apa dia tidak jadi di pecat? Kok Prima diam saja?
Eh, kok? Prima jadi jerapah? Faya semakin heran. Ia melepaskan pelukannya di kaki Prima yang kini sudah berubah menjadi kaki jerapah. Tinggiii sekali.
“Pak Prima?” Heran Faya.
Plak!
Tuing!
Seketika tubuh Faya terhempas dan melayang akibat di tendang oleh kaki jerapah yang baru saja ia peluk erat.
“Ka mu di pe cat!” Teriak jerapah itu. Suaranya persis seperti suara Prima.
“Pak Primaaaaaa!!!!!” Teriak Faya.
Hening.
Faya mengedarkan pandangannya ke sekitar. Sepi. Sunyi. Hanya ada dirinya yang sedang duduk di atas kasur sambil memeluk bantal guling. Nafasnya tersengal. Sejurus kemudian ia menyadari kalau ia baru saja bermimpi.
__ADS_1
Ya ampun.
Hufh.