One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 120. Sudah Bersemayam Di Hati Sejak Dulu.


__ADS_3

Faya menggeliat ketika ia mendengar suara tangis Juan dari luar kamar. Bocah itu sepertinya sudah bangun. Ia melirik jam dinding dan ternyata sudah pukul setengah 6 pagi.


Ia menyingkirkan tangan Prima yang bertengger di tempat kesukannya dengan hati-hati. Tidak ingin suaminya itu terbangun karna dirinya.


Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Faya kemudian turun ke bawah. Ternyata Zinnia sedang sibuk di dapur di bantu oleh Mia. Segera saja ia bergabung untuk membantu.


“Lho, kok udah bangun, Fay? Masih gelap lho.”


“Udah gak bisa tidur, Ma.”


“Suamimu pasti belum bangun.”


“Iya. Mas Prima masih tidur. Faya bisa bantu apa, Ma?”


“Kamu mau bantu?”


Faya mengangguk.


“Bantuin tante Mia aja kupas kentang, ya?”


“Iya, Ma.”


Faya kemudian bergabung dengan Mia di meja makan dan mulai mengupasi kentang. Sesekali ia melihat kepada Wulan yang nampak kerepotan karna Juan terus menangis. Sampai Mia tidak sabar dan menghampiri putrinya itu kemudian meminta Juan dan menggendongnya. Mia lalu membawa Juan ke luar.


“Juan kayaknya dari semalam nangis terus ya, Ma?”


“Iya. Gak tau kenapa. Kayaknya dia kurang nyaman di sini. Maklum, tempat baru. Dia baru pertama ini kesini.”


Sepanjang pagi itu, Faya membantu Zinnia menyiapkan sarapan. Walaupun Zinnia sudah berkali-kali melarang, tapi menantunya itu tetap bersikeras ingin membantu.


“Kayaknya Mama gak perlu lagi jelasin apa-apa sama kamu ya, Fay? Soalnya kan kamu udah tau semua tentang Prima. kamu udah lama kerja sama dia, jadi kamu pasti udah tau kebiasaan-kebiasaan dia.” Zinnia memulai obrolan kembali setelah beberapa waktu jeda.


“Iya, Ma. Faya udah kenal Mas Prima luar dalam.”

__ADS_1


“Mama harap kamu betah ngadepin sikapnya yang kadang-kadang kayak anak kecil.”


“Sekarang udah mendingan, Ma. Pelan-pelan Mas Prima udah mulai berubah.”


“Bagus itu. mama seneng dengernya. Kayaknya memang Cuma kamu yang bisa ngerubah anak mama itu jadi lebih baik. Mama minta tolong sama kamu ya, Fay. Tolong kamu bimbing dia supaya jadi lebih baik. Bukan apa, sifat jahilnya itu yang gak ketulungan. Entah nurun dari siapa.”


Zinnia mungkin lupa, kalau dalam dirinya, juga terdapat sifat itu. tapi tentu, Prima jauh lebih parah daripada dirinya.


Faya terkekeh mendengarnya. Seketika ingatan-ingatan tentang hari-hari awalnya bekerja di fd corp berputar di kepalanya. Betapa dulu ia sangat kesulitan untuk menghadapi Prima. ia bahkan nyaris menyerah. Untung saja saat itu ia punya motivasi yang kuat, yaitu, gajinya lumayan besar. Sehingga ia berusaha untuk bertahan. Sampai waktupun berjalan dan ia mulai terbiasa dengan perlakuan Prima hingga mantan bosnya itu berhenti mengerjainya.


Faya tidak tau, kalau bukan karna kegigihannya Prima berhenti mengerjainya. Tapi karna ia sudah berhasil membuat pria itu gelisah dan terus memikirkannya. Prima berhenti mengerjainya ketika ia sudah masuk dan bersemayam di hati pria itu.


“Ngapain?”


Pertanyaan itu membuat Faya menoleh ke samping. Prima telah duduk manis di kursi di sampingnya.


“Bantuin Mama masak.”


“Emang di suruh.”


“Heheheh. Ternyata aku gak salah pilih menantu buat Mama.”


Uapan Prima itu lagi-lagi membuat Faya merona malu.


Pukul 7 pagi sarapan sudah siap tersaji di meja makan. Pagi ini, ada beberapa keluarga yang tidak nampak di meja makan. Si kembar Ibra dan Igo yang masih tidur di kamar mereka. Juga Favita yang sudah pergi pagi-pagi sekali entah kemana.


“Jogging kali.” Tebak Prima ketika mereka membicarakan sikaf aneh Favita.


“Sejak kapan dia jogging? Biasanya juga cuman olahraga di belakang.” Ren menimpali.


Memang biasanya Favita hanya olahraga di gim yang ada di rumah mereka. Tidak pernah sekalipun gadis itu pergi apalagi untuk jogging.


“Ketemu pacarnya mungkin.” Kali ini Mia yang menerka-nerka.

__ADS_1


“Pacar? Perasaan dia gak punya pacar, deh” Zinnia mengerutkan keningnya. Setaunya, favita tidak punya kekasih.


“Kemarin aku lihat dia ngobrol mesra gitu sama cowok artis itu. duduk sambil ketawa-ketiwi.” Imbuh Mia.


“Siapa, Mia?” ternyata Esta juga jadi penasaran di buatnya.


“Itu, Ma. Artis yang kemaren datang ke nikahannya Prima itu, lho. Siapa itu namanya? Mia lupa.”


“Maksud tante, Harvey?” Prima nampak mengernyitkan keningnya. Merasa tidak yakin dengan penjelasan Mia.


“Namanya Harvey?” Ranu ikut bersuara.


Sementara Faya hanya menyimak pembahasan itu dengan serius. ada perasaan senang jika memang Harvey dan Vita mulai dekat. Tentu ia akan sangat setuju. Tidak apa jika akhirnya temannya itu akan jadi kakak iparnya.


Berbeda halnya dengan Prima. ia nampak kesal bahkan dengan hanya membayangkan kalau Harvey akan menjadi kakak iparnya. Wajahnya jadi merengut.


“Prim, setelah menikah, kalian bakalan tinggal disini, kan?” Zinnia mulai menyinggung hal yang sebenarnya sejak kemarin ia inginkan.


“Enggak, Ma. Kami akan tinggal di apartemen. Nanti juga rencananya mau bikin rumah juga."


“Kenapa gak tinggal disini aja, Prim? Kan rame kalau kita disini sama-sama.” Esta ikut menimpali.


“Iya. Mama pengen deket-deket sama menantu Mama, lho. Biar ada temen jalan-jalan. Ada temen ngobrol di rumah.”


“Ma, kami ini kan pengantin baru, lagi panas-panasnya pengen mesra-mesraan. Mama jangan ganggu, deh.”


Faya langsung menyenggol lengan suaminya itu yang bicaranya tidak pakai saringan.


“Hahahahahahaha. Prima ya tetep Prima. udah punya istri juga masih begini aja. Ya ampun. Hahahahahaha.” Ranu tidak bisa menahan tawanya. Ia bahkan sampai memegangi perutnya yang kram akibat tertawa.


Sementara Faya, wajahnya sudah memerah karna malu. Kalau saja tidak sedang bersama dengan keluarganya, Faya pasti sudah mencubit perut Prima keras.


“Kalau cuma mau mesra-mesraan di sini juga bisa, Prim. Gak akan ada yang ganggu kalian. Semalam aja Mama lihat kalian pelukan di dapur, Mama gak protes.” Celetuk Zinnia santai.

__ADS_1


Sumpah, rasanya Faya ingin saja menghilang dari tempat itu. wajahnya sangat panas. Ia semakin malu. Ternyata semalam mama mertuanya itu memergoki mereka ketika Prima memeluknya. Ya ampun. Seketika ia ingin melepas wajahnya dan menyimpannya di dalam saku.


Ia seperti sedang terkena mop dari keluarga besar Prima. Sangat memalukan.


__ADS_2