
Sesampainya di hotel, Prima dan Faya segera keluar dari mobil. Faya mempercepat langkahnya untuk berjalan di belakang Prima.
“Bapak mau saya pesankan makan?” tawar Faya. Setidaknya, ia ingin menawarkan bantuan sebagai sekretaris Prima.
“Gak usah. Aku gak laper. Kamu cepetan ke kamar. Besok kita harus tinjau proyek.”
“Baik, Pak.” Faya mengantarkan Prima sampai di depan kamar hotel bosnya itu. Setelah itu ia kembali ke dalam kamarnya sendiri.
Faya segera membersihkan tubuhnya di bawah guyuran air shower. Tubuhnya terasa segar setelah mandi. Dengan rambut yang terlilit handuk, Faya duduk di tepian ranjang sambil mengisi daya ponselnya.
Sedang asyik berselancar di dunia maya, terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.
“Room Service!” ucap suara seorang wanita dari luar.
Faya segera bangun dan membukakan pintu. Di depan pintunya, berdiri seorang karyawan hotel dengan mendorong troli berisi makanan.
“Makan malam anda, Mbak.” ujar karyawan itu sambil langsung mendorong troli masuk ke dalam kamar.
Faya terbengong. Ia tidak merasa memesan makanan.
“Maaf, Mbak. apa gak salah kamar? Soalnya saya gak merasa pesan makanan.”
“Ooh, enggak, Mbak. saya gak salah kamar. Tadi ada yang pesan buat kamar ini. Kalau begitu saya permisi. Silahkan di nikmati makan malamnya.” Pamit karyawan hotel itu yang langsung menutup pintu kamar Faya.
“Siapa yang mesenin ini?” heran Faya.
Ya sudahlah. Pelayan bialng tidak salah kamar. Berarti makanan itu memang miliknya. Tidak baik menolak rezeki yang datang. Itulah fikiran Faya sebelum dia mulai menyantap makanan itu.
Sementara di kamarnya. Prima juga tengah menyantap makanan miliknya. Ia sengaja memesankan untuk Faya juga karna ia teringat kalau gadis itu belum makan malam.
Badan segar habis mandi. Di tambah dengan perut yang kenyang. Itu sudah sepaket dengan rasa kantuk yang mulai datang. Kelopak mata Faya sudah mulai memberat dan iapun langsung tertidur begitu saja di atas ranjang. Lelap sekali.
Setidaknya itu sebelum suara nyaring deringan ponselnya berteriak-teriak tak karuan. Karna terkejut, Faya langsung membelalakkan mata. Kelopak matanya masih terasa sangat berat sekali. Ia meraba mencari ponsel dengan mata yang setengah terpejam. Dan ia berhasil menemukannya di dekat bantalnya.
__ADS_1
Enggan melihat si penelfon, Faya hanya langsung mengangkat dan meletakkan ponselnya itu ke telinga.
“Fay! Udah tidur? Kok di taruh di telinga?”
Deg.
Faya seperti sedang mengalami dejavu. Ia seperti pernah mengalami hal ini.
Perlahan, Faya mengalihkan ponsel ke depan wajahnya. Matanya menyipit demi bisa membaca si penelfon. Tapi entah kenapa ia merasa kalau yang menelfonnya itu adalah Prima.
Dan benar saja, samar ia bisa melihat nama ‘Boss’ di layar ponselnya.
Pluk!
“Auh!” pekik Faya yang langsung terbangun. Ia merasakan hidungnya pegal bukan main. Ponselnya baru saja terjatuh tepat ke wajahnya dan itu membuat kesadarannya kembali seketika.
“Fay! Kamu kenapa?” suara Prima berteriak dari seberang.
Sambil mendengus kesal, tentu saja tidak menghadap ponsel, Faya kemudian mengarahkan ponsel ke wajahnya. Menatap sebal kepada Prima yang sama sekali tak merasa bersalah karna telah membangunkan Faya.
“Hehehehehe.” Prima malah terdengr terkekeh jahil.
“Bapak perlu sesuatu?”
“Gak. Cuma mau ngecek. Kamu udah tidur apa belum.” santai sekali Prima menjawabnya. Ia tidak menyadari kalau Faya sudah keluar tanduknya dan kepalanya berasap.
“Bapak ngagetin saya tidur, Cuma mau ngecek?” kesal Faya. Ia tidak bisa mengontrol emosinya akibat terkejut di bangunkan paksa.
“Ya udah, tidur lagi, sana.” Dan Prima langsung memutus sambungan telfonnya.
Sumpah, rasanya Faya ingin membanting-banting pria itu sampai gepeng. Pukul 3 dini hari menelfon hanya untuk sekedar ngecek dia sudah tidur apa belum? Tingkah konyol macam apa itu?
Dan akibat keisengan Prima itu, akhirnya sampai pagi Faya tak bisa lagi tidur. Rasa kantuknya sudah menguap entah kemana.
__ADS_1
Karna hari ini banyak pekerjaan, Faya memutuskan untuk menyiapkan semua keperluan Prima. termasuk menyusun rapi jadwal-jadwal yang telah di beritahu oleh Prima.
Ah, seharusnya ia sudah berkeliling Jogja dengan Harvey. Sayangnya temannya itu sudah pulang ke Jakarta. Sepertinya, harapannya untuk berjalan-jalan akan pupus.
Pukul 7 pagi, Faya sudah rapi dan siap memulai bekerja. Ia keluar dari kamar dan pergi ke kamar Prima. sesampainya di kamar bosnya itu, ia langsung masuk begitu saja karna pintunya tak terkunci.
“Astaga!” pekik Faya yang tanpa sengaja melihat Prima yang hendak mandi dan hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggang. Ia terkejut bukan main. Pemandangan itu sotak membuatnya langsung membalikkan badan.
“Kenapa kamu?” tanya Prima merasa biasa saja dengan penampilannya. Tidak menyadari kalau wajah Faya sudah merona.
“Maaf, Pak. Saya masuk gak ngetuk pintu dulu.”
Faya tidak mendengar sahutan dari Prima. lantas ia mulai berani membalikkan badan secara perlahan. Dan ia bisa bernafas lega karna sudah tidak melihat Prima di sana. Sepertinya bosnya itu sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Entahlah. Sejak semalam, jantung Faya seolah menolak untuk di kondisikan. Ia masih merasa cangung padahal tak ada yang terjadi di antara mereka. Faya juga bingung darimana rasa canggung itu muncul.
20 menit kemudian, Prima sudah menyelesaikan mandinya. Ia melihat ke atas ranjang. Sekretarisnya sudah menyiapkan pakaiannya di sana. Tapi, gadis itu tak nampak batang hidungnya.
Faya memilih untuk menunggu di luar kamar saja. Ia tidak ingin menodai pandangannya karna dada bidang bosnya yang mulus dan kekar.
Faya bersandar di dekat pintu kamar Prima. tangannya menjinjing tas. Sementara kakinya bermain menedang-nendang pelan karpet di lantai.
Sebenarnya ada yang mengganjal di hati Faya perihal perhatian-perhatian yang kadang di berikan oleh Prima. ia merasa perannya terbalik. Prima lebih banyak menjaganya ketimbang ia yang menjaga bosnya itu. Maksudnya, perihal yang pribadi dan bukan menyangkut pekerjaan.
Normalkah itu?
“Ngapain malah ngelamun di depan pintu?”
Pertanyaan Prima mengejutkan Faya. Ia bahkan tidak menyadari pintu yang terbuka.
“Ayo.” Ajak Prima kemudian.
Faya berjalan satu langkah di belakang Prima. sepanjang melangkah, ia terus memperhatikan punggung kekar itu yang terbalut oleh kaus berwarna navy berpadu celana pendek berwarna cream. Mengantungkan tangan dengan santainya. Orang yang melihat penampilan Prima pasti tidak akan menyangka kalau pria itu akan pergi bekerja. Gayanya terlalu santai. Namun keren.
__ADS_1
Faya menekankan tombol pintu lift untuk mereka. Sambil menunggu lift terbuka, ia kembali diam dengan fikiran yang sedang berpetualang kemana-mana.
Pintu lift terbuka dan mereka langsung masuk. Namun, langkah Faya terhenti saat tatapannya bertemu pandang dengan seseorang yang sangat di kenalnya. Seorang pria yang mengenakan kemeja kotak-kotak dan celana jeans berwarna bitu. Pria itu juga nampak terkejut melihat Faya.