
Menikmati matahari tenggelam merupakan salah satu kegiatan paling Faya sukai selama beberapa hari disini. Dan sore ini, ia di temani oleh Prima. diantara sore-sore yang lain, Faya merasa kalau sore ini lah yang paling terasa berkesan. Jantungnya sudah tidak tau lagi bagaimana nasibnya.
“Tunggu di sini bentar ya. Aku mau ke kamar mandi dulu.”
Pamit Prima yang kemudian langsung pergi meninggalkan Faya di sana.
Faya hanya mengikuti Prima dengan ekor matanya. Kemudian kembali sibuk memandangi matahari. Namun perhatiannya teralihkan saat melihat ponsel Prima yang tertinggal di kursi. Jiwa ingin tau Faya meronta untuk di penuhi.
Perlahan, ia mengambil ponsel itu dan menyalakannya. Apa yang terpampang di layar beranda ponsel itu membuat Faya menganga tidak percaya itu adalah fotonya waktu di pantai Parangtritis dulu. Entah kapan Prima mengambil fotonya itu diam-diam.
Bahkan saat Prima sudah kembali duduk di sampingnya, ia tidak peduli lagi.
“Kenapa? Ada yang telfon?” suara Prima membuat Faya sontak menoleh dan langsung memberikan ponsel itu kepada pemiliknya.
“Wallpapernya bagus, Pak.” Sindir Faya. Dan Prima hanya tersenyum sambil menerima ponselnya.
“Cantik, kan?” seoloroh Prima kembali.
Wajah Faya sempurna memerah. Ia mengalihkan wajah ke arah yang berlawanan dengan Prima agar pria itu tidak melihatnya.
Entahlah, bagaimana semua rasa benci itu seketika menghilang dari hati Faya. Tanpa tersisa sedikitpun.
Hati, tidak ada seorangpun yang bisa mengaturnya. Mungkin organ di tubuh manusia yang paling tidak bisa di atur adalah, hati. Ia menyukai sesukanya, membenci sesukanya, pun memaafkan sesukanya. Walaupun itu bertentangnya dengan otak dan logika, tapi tetap, tidak bisa di atur.
Seperti yang sedang di rasakan oleh Faya sekarang ini. Beberapa hari yang lalu, ia masih sangat membenci seorang Prima. ia masih marah dan ingin memaki-maki pria itu.
Tapi sekarang, hatinya justru akan berdebar hebat hingga membuat wajahnya bersemu merah hanya karna satu kata pujian, atau tatapan tulus dari pria itu.
Malu sebenarnya, tapi mau bagaimana? Ia sendiri selaku pemilik hatinya, tidak mampu mengatur rasa yang di timbulkan. Jadi, Faya memilih untuk acuh saja. Membiarkan hatinya bersikap sesukanya.
“Kamu tau, aku bener-bener lega banget karna kamu udah maafin aku, Fay. Setelah kamu pergi, aku baru sadar, kalau ternyata aku itu butuh kamu. Selama ini memang sikapku kekanak-kanakan ya, Fay? Sorry, aku gak punya alasan untuk itu. Mungkin memang udah bawaan pabrik. Tapi mulai sekarang, aku janji akan berubah. Jadi, kamu tolong bantu aku berubah, ya?”
__ADS_1
Faya menoleh kepada Prima. Netra mereka saling bertemu untuk waktu yang lama.
“Soalnya, Cuma kamu yang bisa bantu aku berubah.”
Faya tau, bukan Prima tidak punya alasan untuk semua sikap konyolnya itu. Tapi, pria itu enggan untuk menceritakannya padanya.
“Padahal Bapak itu, paket komplit, lho. Udah ganteng, tajir pula. Tapi ya kok bisa punya sifat begitu?” selidik Faya.
“Aku juga gak tau. Aku bukan cari pembelaan atas sikafku, ya Fay. Aku Cuma lelah sama urusan perusahaan. Dulu aku nolak waktu Papa bilang mau ngasih posisi di perusahaan. Aku ngerasa, pasionku bukan di situ. Dulu aku pengen jadi gamer profesional aja. tapi lagi, Cuma aku anak cowok satu-satunya di keluargaku. Jadi mau gak mau, aku terpaksa nurutin Papa. Di sisi lain, aku gak mau ngecewain orang tuaku. Di sisi lain, aku juga sakit waktu harus menyerah atas mimpiku.”
Faya tertegun. Baru kali ini Prima membuka diri sedemikian rupa padanya. Dan ternyata Prima punya alasan tersendiri kenapa dia bersikap begitu. Itu semua adalah bentuk pelarian agar ia tidak menggila. Dengan menjadikan orang-orang di sekitarnya gila. Dasar gila.
“Kan bisa kerja sambil ngegame, Pak?”
“Awalnya begitu. Tapi itu Cuma berlangsung selama beberapa bulan aja. Beban kerja di kantor menyita sebagian besar waktuku. Semakin hari, aku semakin kesulitan buat ngatur waktu antara kerja dan ngegame. Jadi, aku memutuskan buat milih salah satunya aja. Sebagai penerus satu-satunya perusahaan, jelas aku harus milih FD Corp, kan? Apalagi Mbak Vita juga gak mau kalau di suruh buat jadi CEO. Jadi secara gak langsung, semua beban itu ada di pundakku. Sementara aku ngerasa gak sanggup memikulnya.”
“Kenapa Buk Vita gak mau?”
Faya merasa trenyuh. Ia bisa merasakan kalau Prima memang benar-benar merasakan apa yang dia ceritakan itu.
“Fay, jadi kamu mau kan, bantu aku?”
Entahlah, Faya tidak tau harus mengangguk atau menggeleng. Ia pias dengan cerita Prima. tapi ia juga merasa ada yang mengganjal kalau sekiranya dia kembali menjadi sekretaris Prima. setelah semua yang terjadi. Ia merasa menjadi orang yang tidak tau malu.
“Kok diem, Fay? Gak mau ya?”
Faya tetap diam. Ia berkecamuk dengan fikirannya sendiri. menimbang untung rugi jika ia menerima atau menolak permintaaan Prima.
“Aku tunggu jawabanmu nanti malam, ya.” Prima melemparkan senyuman kepada Faya. Senyuman manis.
Faya teringat dengan ucapan Prima, kalau ia bersedia pulang bersama pria itu, itu berarti ia menerima perasaan Prima. Ya ampun, dia harus apa? menuruti hati, atau menuruti logika?
__ADS_1
hari semakin gelap. Matahari sudah terbenam sejak tadi. Tapi dua manusia itu, seolah masih enggan untuk beranjak dari tempat duduknya. Mereka masih ingin menikmati hembusan angin laut yang lengket.
Walaupun pandangan kedua insan itu lurus tertuju ke lautan lepas, tapi hati mereka terpaut. Saling memikirkan satu sama lain.
Faya yang tidak menyangka kalau ternyata Prima bisa seterbuka ini dengannya, merasa trenyuh karna merasa di hargai keberadaannya. Sementara Prima, ia sungguh berharap kalau Faya mau kembali ke sisinya lagi. Dia benar-benar butuh bantuan gadis itu untuk berubah. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk ini.
Prima sudah menemukan tambatan hati, jadi sudah saatnya ia keluar dari tempurung yang mengungkungnya selama ini. Keluar dari zona nyaman dan mencoba bersikap dewasa layaknya pria berumur sepertinya.
“Pak, laper. Cari camilan yuk.” Ajak Faya kemudian. Ia merasakan tulangnya sudah nyeri akibat angin malam.
“Pak, lagi. Di ganti dong panggilannya.” Protes Prima.
“Gak mau. Udah nyaman panggil Pak soalnya.” Kilah Faya. Ia berjalan terus mendahului Prima.
“Oh, udah nyaman. Baguslah kalau kamu udah nyaman panggil Pak. Soalnya kan nanti anak-anak kita biar bisa panggil Pak juga ke aku.”
Sumpah garing.
Faya bergidik sambil menggeleng mendengar lelucon Prima yang sangat tidak lucu itu.
“Gak lucu ya? Hehehehe.”
“Bapak gak cocok ngelucu. Wajah Bapak itu, gak keliatan kayak pelawak.”
“Jadi kelihatan kayak apa, dong?”
“Psikopat yang sukanya ngerjain aku.” Sindir Faya sambil mencibir. Ia terang-terangan menunjukkan kekesalannya kepada Prima.
__ADS_1
warga, sorry kemaren gak up. sesekali libur gak apa-apa dong. hehehehehhe.