
Minggu pagi.
Hari ini Faya libur bekerja dan ia sudah mempunyai janji dengan Harvey. Selama satu minggu ini, Harvey setia mengajari Faya mengemudi sampai gadis itu lumayan mahir. Harvey menyelakan waktu untuk Faya di sela-sela kesibukan syutingnya.
Dan pagi ini, Harvey sudah standby di depan rumah Faya. Ia membunyikan bel dan menunggu Faya keluar. Ia terkejut saat pintu di depan rumah Faya yang malah terbuka. Ia menoleh dan melihat Prima yang sedang bersiap hendak keluar. Mengenakan celana pendek berwarna krim dan kaus putih. Di depan dadanya terselempang tas kecil yang membuat penampilan pria itu semakin sempurna. Bahkan Harvey merasa insecure melihatnya.
“Nungguin Faya?” tanya Prima ramah.
“Iya, Pak. Pak Prima mau kemana?”
“Bisa gak panggilnya jangan pake Pak? Ini kan di luar urusan pekerjaan. Saya risih.” Jujur Prima.
“Oh, ehm. Jadi....?”
“Bang aja. Lebih enak di dengar.”
Jeglek.
Faya muncul dari rumahnya. Melihat kedua pria yang sedang berdiri di depannya bergantian.
“Bapak mau kemana? Rapi bener?”
“Jalan dong. Ini kan minggu. Kalian mau kemana?”
“Finishing belajar nyetir.” Seloroh Faya sambil nyengir.
“Ooh.”
“Bapak keluar sendirian?”
“Kenapa memangnya?”
“Aneh aja.” Faya ceplas ceplos.
Dan Prima tersindir. Ia mencibiri sekretarisnya itu dengan kesal. Ia merasa, semakin hari, Faya semakin berani dengannya. Tapi ia tak mau protes. Ia takut di banting lagi. Lumayan sekali rasanya.
Faya dan harey menatapi punggung Prima yang berjalan menjauh dari mereka. Keduanya lantas mengikuti pergi. Sampai di depan lift, saat Faya dan Harvey hendak masuk, Prima mencegahnya.
“Mau ngapain?” tanya Prima sinis.
“Ya mau masuk, Pak. Kita kan juga mau turun.”
“Kalian nunggu lift yang berikutnya aja.” Ujar Prima tegas kemudian langsung menutup pintu.
Faya dan Harvey saling pandang dengan heran. Kemudian keduanya kompak menatapi pintu lift yang sudah tertutup membawa Prima seorang diri turun ke bawah.
Saat Faya dan Harvey sampai di bawah, mereka sudah tidak melihat Prima. Mobilnya juga sudah tidak ada di tempat parkir.
“Nih.” Harvey memberikan kunci mobilnya pada Faya. “Kamu yang nyetir sampai di lokasi syutingku.”
“Serius?” Faya nampak ragu.
Namun, setelah melihat Harvey menganggukkan kepala, ia mantap kemudian masuk dan duduk di balik kemudi.
__ADS_1
“Pelan-pelan aja.”
“Nanti kalau nabrak gimana?”
“Belum apa-apa udah berfikir kemana-mana. Itu sama aja dengan mensugesti alam bawah sadarmu sendiri. berfikir yang positif aja, supaya positif juga bawaannya.” Harvey menasehati panjang lebar.
Faya hanya bisa terkekeh saja. Ia menarik nafas perlahan kemudian mulai melajukan mobil. Sementara Harvey menjadi penunjuk jalan.
Satu jam kemudian, mereka sudah sampai di lokasi syuting. Kedatangan Harvey bersama dengan seorang agdis tentu saja membuat sebagian besar pandangan mata tertuju padanya.
Manager Harvey segera menghampiri mereka. Menatap penasaran kepada Faya.
“Siapa?” tanya pria bernama Jefri itu.
“Oh, ini. Temen.” Harvey memperkenalkan.
“Hai. Faya.” Ujar Faya ramah. Ia mengulurkan tangan kepada Jefri. Teryata pria itu tak mengenalinya padahal mereka sudah pernah bertemu waktu itu.
“Jeff. Managernya Harvey.”
“Salam kenal.”
Selama syuting berlangsung, Faya hanya bisa menunggu sambil memakan camilan. Duduk di kursi sendirian. Tak ada yang mengajaknya mengobrol atau bahkan sekedar menyapa. Mereka semua nampak sibuk mengurusi syuting dan tidak melihat keberadaan Faya.
Di sisi lain, Jefri sedang berbincang bersama dengan Harvey sambil membenahi rambut pria itu.
“Hati-hati. Kamu ini lagi naik-naiknya. Kalau sampai fansmu tau kamu jalan sama cewek, bisa runyam urusannya.” Jefri memperingatkan.
“Tenang aja. Kami cuma temenan kok, Bang.”
“Iya. Iya.” Harvey memilih untuk mengalah. Padahal sejujurnya ia tidak takut kehilangan ketenaran hanya karna skandal kedekatannya bersama dengan seseorang.
Karna Harvey, menekuni dunia ini cuma sebatas melampiaskan waktu senggang saja. Ia sama sekali tidak mengkhawatirkan perihal materi. Karna ia sudah punya cukup materi. Karna itu, ia menjalaninya dengan santai.
Pukul 12 siang, syuting telah berakhir. Harvey segera menghampiri Faya yang sedang asyik bermain sosial media.
“Hei. Sorry lama ya?”
“Em. Lamaaa.. hehehehhe.”
“Hehehe. Yuk. Kita pergi. Makan siang dulu.”
“Makan siang dimana?”
“Di depan sana aja. Ada cafe yang menunya lumayan enak.”
“Rame gak?”
“Ya rame. Kenapa emangnya?”
“Gak enak kalau rame, Harv. Secara kamu kan artis. Nanti kalau ada moto diem-diem, gimana? Jadi skandal nanti.”
“Yaelah. Santai aja kali. Bukan Cuma kita berdua. Bang Jeff juga ikut.”
__ADS_1
“Oh. Hehehehhe.” Seketika Faya merasa menjadi konyol. Ia terlalu percaya diri sekali.
Selesai makan, Harvey dan Faya kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini, Harvey meminta Faya untuk mengemudi keliling Jakarta. Terserah kemana Faya mau mengarahkan kemudinya.
Sampai sore Faya bekeliling menyetir mobil Harvey. Dan ia sudah mulai terbiasa. Sepertinya, ia sudah bisa kalau Prima memintanya mengantarkan kemana-mana.
Hari sudah petang. Dan mereka berencana untuk menyudahi berkelilingnya. Saat dalam perjalanan pulang, ponsel Faya terus berdering. Ia menepikan mobil untuk mengangkat telfon.
“Ya, Pak?” telfon dari Prima.
“Kamu dimana? Cepetan kesini. Penting.”
“Kemana, Pak?”
“Abis ini ku kirim alamatnya. Cepetan. Jangan lama.”
Tut.
Prima langsung menutup sambungan telfon bahkan saat Faya masih belum selesai bertanya.
“Siapa?” tanya Harvey yang heran melihat Faya menghela nafas kesal.
“Pak Prima.”
“Kenapa?
“Katanya di suruh ke tempat dia. Penting.”
“Dimana?”
“Faya menunjukkan info lokasi yang baru saja di kirimkan oleh Prima.”
“Ya udah. Kesana aja. Kayaknya penting banget.”
Dan Faya kembali melanjukan mobil menuju ke lokasi yang di kirimkan oleh Prima.
Sesampainya di titik lokas, ia segera turun dan tidak lupa berterimakasih kepada Harvey.
“Makasih banyak ya, Harv. Selalu ngerepotin kamu.”
“Selama aku seneng di repotin sama kamu, gas aja. Hehehehe.”
“Kamu ini...”
“Ya udah. Aku pulang dulu. Nanti ku telfon, ya.”
“Oke.”
Faya memperhatikan mobil Harvey sampai menghilang dari pandangannya. Setelah itu ia menelfon Prima untuk menanyakan tempat persisnya kemana ia harus pergi.
“Pak, saya udah sampai di depan mall. Bapak dimana?”
“Langsung naik ke lantai 4. Saya tunggu di depan bioskop.” Perintah Prima kembali.
__ADS_1
Dan lagi-lagi, Prima langsung memutus telfon begitu saja. Faya kesal, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Prima bilang ini penting. Pasti masalah pekerjaan. Memang di dalam kontrak mengatakan, kalau ia harus bersedia kapanpun Prima membutuhkannya. Bahkan di hari libur sekalipun.
Faya masuk ke dalam mall dan langsung naik ke lantai 4 seperti yang di perintahkan oleh Prima. Ia langsung mencari sosok bosnya itu yang ternyata sedang berdiri sambil menatapi poster film yang ada di bioskop.