One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 72. Bukan Untuk Mendapatkan Pujian.


__ADS_3

Tetap tak ada yang menyadari keadaan itu. Sampai Faya di daratan dan membaringkan tubuh bocah itu. Ia mulai melakukan pertolongan pertama dengan CPR. Baru setelah itu orang-orang mulai sibuk mengerumuni dirinya.


Tak berapa lama kemudian, ada seorang ibu-ibu yang berteriak histeris melihat anaknya tak sadarkan diri. Mungkin yang sedang ibu itu rasakan adalah penyesalan karna lengah mengawasi putranya sendiri. Ibu itu terus meraung memanggil-manggil nama si anak sambil menangis.


Sementara Faya, ia terus berusaha untuk menyelamatkan nyawa bocah itu dengan sesekali memberinya nafas buatan.


Beruntung dulu saat ia masih jadi atlet renang, ia belajar cara itu.


Beberapa menit berlalu, namun si bocah belum menandakan akan sadar. Faya tak mau kalah oleh rasa lelahnya. Ia terus berusaha semampunya memompa dada bocah itu.


Ia baru bisa bernafas lega saat bocah itu memuntahkan air dari mulutnya dan mulai bernafas kembali. Perlahan


kesadarannya mulai kembali. Seorang petugas medis yang datang segera membungkus tubuh bocah dengan selimut yang ia bawa. Kemudian mendekapnya dan membawa bocah itu pergi untuk mendapatkan perawatan lanjutan.


Sementara itu, riuh tepuk tangan bangga tertuju kepada Faya. Ia hanya mengangguk dengan sesekali tersenyum. Ia ringkuh mendapat perhatian seperti itu. padahal, ia melakukan itu karna merasa sebagai kewajiban. Bukan untuk mendapat pujian.


“Tuh, kan. Aku memang gak salah naksir sama kamu, Fay.” Selorohan itu, Faya tau itu dari siapa. Ia hafal betul suara pria itu.


Entah sejak kapan Bian ada di sana. Padahal tadi Faya tak melihat ada pria itu disana.


“Nih, keringin dulu badanmu. Nanti malah masuk angin.” Bian menyerahkan sebuah bathrobe kepada Faya. Gadis itu segera mengenakannya. Risih juga di pandangi oleh Bian dengan pakaian renang seksinya itu.


Faya segera berjalan hendak pergi ke kamarnya. Namun ia menghentikan langkah kala mengetahui Bian terus saja mengekorinya di belakang.


“Ngapain ngikutin aku, Bian?”


“Nemenin kamu aja. takut ada yang macem-macem sama kamu. Bahaya lho cewek jalan sendirian.” Bian melancarkan aksinya lagi.


“Kamu itu lebih bahaya buat aku tau gak.” Dengus Faya. Ia kemudian kembali melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam kamar.


Sesampainya di kamar, Faya kembali mandi untuk membersihkan sisa kaporit yang masih menempel di tubuhnya. Selesai mandi, dia memilih duduk-duduk santai di dekat jendela. Memandangi lautan lepas.

__ADS_1


Faya memilih berkirim pesan dengan Harvey. Mengabarkan keadaan terkini kepada pria itu. ia menghabiskan waktu sampai sore di kamar itu. ia keluar saat makan malam saja. Setelah itu ia kembali lagi ke dalam kamar.


Faya sedang asyik membaca cerita via online di ponselnya untuk mengusir rasa bosan. Ia belum mengantuk. Sementara Harvey sudah tidak lagi membalas pesannya. Sepertinya pria itu sedang sibuk. Ia menoleh saat ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Faya berfikir itu adalah kerjaan Bian sehingga ia malas untuk membukanya.


Namun, semakin di biarkan, ketukan itu semakin menjadi. Dengan setengah menggerutu, akhirnya Faya bangun dan membuka pintu juga.


Di depan kamarnya, nampak seornag ibu-ibu paruh baya dan suaminya yang sedang berdiri.


“Mbak, maaf mengganggu.” Ujar ibu itu.


“Ada apa ya, Buk?” tanya Faya penasaran.


“Kami orang tua anak yang Mbak selamatkan tadi. kami Cuma mau berterimakasih sama Mbak karna udah nolongin anak kami. Kami gak tau kalau gak ada Mbak, mungkin anak saya...... hiks.” Si ibu malah jadi menangis dan tak melanjutkan kalimatnya. Ibu itu menghambur ke pelukan suaminya. Sementara sang suami mengelus-elus lengan istrinya untuk menenangkannya.


“Saya Cuma melakukan kewajiban saya menolong, Buk. Tolong jangan di jadikan beban. Ayo masuk dulu. Kita ngobrol di dalam saja.” Ajak Faya. Pasangan itupun mengikuti Faya masuk ke dalam kamarnya.


“Pokoknya makasih banyak ya, Mbak?”


“Mbak Faya. Saya Wita.” Ujar si ibu yang duduk di samping Faya. Ia menggenggam erat tangan Faya agar Faya tau betapa ia merasa sangat bersyukur kepada gadis itu.


“Sama-sama, Buk. Sekarang gimana keadaan adeknya, Buk?”


“Udah lebih baik. Masih di rawat di ruang kesehatan.” Si bapak yang menjawab. “Oh iya, Mbak Faya, ini, kartu nama saya. Kalau Mbak Faya butuh sesuatu, tolong jangan sungkan hubungi saya, ya.” Pria itu memberikan sebuah kartu nama kepada Faya.


Faya membacanya dengan serius.


Hendro Suroso.


Begitulah nama yang tertera di kartu itu. sebaris tulisan sebuah perusahaan rokok terkenal juga bertengger di bawah nama pria itu.


“Kami akan memberikan apapun yang Mbak Faya mau. Sekali lagi, tolong jangan sungkan kasih tau kami kalau butuh bantuan.”

__ADS_1


“Terimakasih, Pak. Saya akan mengingat niat baik Bapak dan Ibuk.” Kebetulan, ia sedang butuh pekerjaan. Batin Faya.


“Kalau boleh tau, Mbak Faya ini tinggal dimana?”


“Saya dari Jakarta aja kok, Buk.”


“Udah punya calon suami belum?” entah kenapa, Faya menangkap sebuah niat terselubung dari pertanyaan bu Wita. Entah kalau itu hanya fikirannya saja.


“Ehm, belum, Buk. Kebetulan masih single.”


“Wah, bagus itu. kalau gak keberatan, nanti kenalan ya sama adikku. Dia lagi cari jodoh. Hehehehe.” Bu Wita langsung berterus terang saja.


“Udah kerja dimana?” nampaknya Bu Wita sedang mengakrabkan diri dengan Faya. Mungkin dia berfikir kalau Faya berasal dari kalangan seperti mereka. Karna Faya menempati kamar VIP yang sama seperti mereka.


“Saya udah ga kerja, Buk. Kebetulan baru beberapa hari yang lalu saya resign dari kerjaan lama saya.”


“Wahh, kebetulan lagi. Pa, boleh dong Mbaknya dikasih posisi di kantor.” Ujar Bu Wita kembali kepada suaminya.


“Iya, boleh banget. Nanti kita bicarain lagi kalau udah balik ke Jakarta. Sekarang lagi liburan, gak etis kalau kita ganggu Faya masalah kerjaan. Ya kan Faya?”


Faya hanya tersenyum saja menanggapinya. Dalam hati ia sedang bersorak gembira. Tidak menyangka ia akan mendapat kemudahan jalan untuk mendapatkan pekerjaan yang baru.


Pukul 9 malam, pasangan itu pamit undur diri untuk kembali menemani putranya. Karna tadi ia menitipkan putranya itu kepada adiknya. Sebelumnya, Faya dan Bu Wita saling bertukar nomor telfon. Kalau bisa langsung begitu, apa gunanya kartu nama tadi?


Sepeninggalnya pasangan itu, Faya beralih ke tempat tidur. Sudah malam dan ia sudah mengantuk juga. Sebelum menjemput mimpi, sekilas teringat perkataan Bu Wita tentang mengenakan Faya dengan adiknya.


Ya ampun. Fikiran Faya sudah sampai kemana-mana. Namun di sela fikiran itu, masih juga terbersit perihal


Prima. membuat Faya mendengus dan membodoh-bodohkan dirinya sendiri karna masih tidak bisa mengalihkan fikirannya dari Prima.


Faya menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Berharap bayangan Prima akan segera menyingkir dari kepalanya. Tapi yang ada justru, wajah Prima semakin jelas terpampang dalam benaknya. Ya ampun. Sepertinya dia harus menerima perjodohan Bu Wita untuk melarikan fikirannya.

__ADS_1


__ADS_2