One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 19. Canggung Luar Biasa.


__ADS_3

Keakraban yang terjalin antara Faya dan Harvey setelah beberapa menit bertemu, membuat Prima memicingkan sebelah alisnya dari kejauhan. Ia tidak tau kalau ternyata sekretarisnya itu begitu dekat dengan bintang iklannya. Namun Prima tidak peduli. Bukan urusannya.


“Aku mau pulang. Kamu mau ikut apa disini aja?” tanya Prima dingin sambil membenahi lengan lengan kausnya.


“Ehm, boleh saya disini dulu, Pak?” ijin Faya setengah takut. Takut kalau Prima tidak mengijinkan.


“Terserah kamu.” Lalu Prima ngeloyor pergi begitu saja meninggalkan Faya yang kembali melanjutkan obrolannya dengan Harvey.


Harvey mengajak Faya untuk duduk mengobrol di ruang make-up. Dan Faya menurut.


Dulu, Faya dan Harvey terbilang cukup dekat. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama. Mengerjakan PR bersama, dan bermain bersama.


“Gak nyangka aku bisa ketemu kamu lagi.”


“Iya. Aku juga. Udah berapa lama kamu ke Indo?”


“Udah lama. Hampir dua tahunan.”


“Wah. Udah selama itu?”


“Padahal aku sering muncul di TV. Apa kamu gak pernah lihat TV? Ah, iya. Aku ingat kalau kamu gak hobi nonton. Hehehehe.”


“Ternyata cuma wajah kamu aja yang banyak berubah, Harv. Sikap kamu tetep hangat kayak dulu.” Seketika Faya terngiang akan kenangan menyenangkan mereka dulu.


“Kamu udah pindah, ya? Dulu aku sempet ke alamat rumah kamu yang lama tapi tetangga bilang kamu udah pindah sejak Ibu meninggal. Maaf aku gak dengar kabar kalau Ibu udah pergi.”


“Gak apa-apa. Aku tinggal sama Mas Iwan dan istrinya, Mbak Kirani. Tapi udah seminggu ini aku gak tinggal sama mereka lagi.”


“Lho, kok? Jadi kamu tinggal dimana?”


“Aku tinggal di apartemen fasilitas dari perusahaan.”


“Ooh. Jadi kamu sekarang kerja di FD Corp?”


“Em. Aku sekretarisnya Pak Prima. Belum lama kerja. Baru semingguan.”


Keduanya menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol. Memperbincangkan masa lalu dan mengenang masa-masa menyenangkan mereka dulu.


Setelah bertukar nomor ponsel, Harvey mengatakan kalau ia harus segera pergi setelah manajernya membisikkan sesuatu.


“Fay, sorry. Aku harus segera pergi. Masih ada kerjaan lagi.”

__ADS_1


“Owh, gitu. Oke. Gak apa-apa. Kita ketemu di lain waktu.”


“Nanti aku telfon, ya?”


Faya mengangguk sebagai bentuk persetujuannya.


Mereka berdua lantas berjalan keluar dari studio. Sambil berjalan, mereka kembali mengobrol ringan. Faya bisa melihat mobil sport milik Harvey yang terparkir di depan studio.


“Apa itu mobilmu?” tanya Faya. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya.


“Em. Kenapa?”


“Harv, bisa aku minta tolong?”


“Minta tolong apa?” Harvey menatap bingung.


“Ajari aku menyetir mobil. Pak Prima menyuruhku belajar mengemudi.”


“Hahahahaha. Ya ampun. Aku kira minta tolong apa. Boleh. Besok lusa jadwalku kosong. Aku bakalan ngajarin kamu nyetir.” Janji Harvey.


Tentu saja janji itu membuat Faya sumringah senang. Ia tersenyum dengan sangat lebar.


“Iya. Sama-sama. Aku pergi duluan ya.” Pamit Harvey yang kemudian masuk ke dalam mobil sport mewah miliknya. Ia membunyikan klakson sebelum pergi dan Faya membalasnya dengan lambaian tangan.


Tepat setelah mobil Harvey menghilang dari pandangannya, ponselnya berbunyi dan ia segera mengangkatnya.


“Iya, Pak Ariga?”


“Kamu dimana, Fay? Kita ada janji malam ini, kan?”


“Oh, iya, Pak. Saya lagi di studio.”


“Ya udah. Mumpung saya di dekat studio, kamu tunggu aja di depan studio.” Jelas Ariga kembali.


“Iya, Pak.”


Setelah mematikan ponsel, Faya mengikuti perintah Ariga untuk menunggu di depan studio. Lima menit menunggu, sebuah mobl sedan berwarna hitam berhenti tepat di depannya. Saat kaca mobil belakang terbuka, ia melihat Ariga ada di dalam mobil itu. Faya menganggukkan kepala kepada atasannya itu.


“Masuk, Fay.” Perintah Ariga.


Faya kemudian masuk dan duduk di samping kemudi. Mobilpun kembali melaju. Ia tidak tau kemana Ariga akan membawanya. Ia hanya  menurut saja.

__ADS_1


20 menit kemudian, mobil sudah memasuki kawasan perumahan mewah dan berhenti di depan sebuah rumah paling mewah sejauh Faya melihatnya di kawasan ini. Rumah besar yang berdiri sangat megah dengan 4 pilar penyangga di bagian depan. Faya mengangkat wajahnya demi  bisa mencapai puncak rumah berlantai tiga itu. Besar sekali. Apalagi di percantik dengan cahaya lampu yang menghiasinya. Seperti istana.


“Ayo, masuk.” Ajak Ariga


Dan, Faya semakin ternganga saat langkahnya mulai memasuki rumah itu. Ini seperti yang pernah ia lihat di drama-drama. Lantai marmer yang mengkilap. Pilar-pilar besar yang menyangga. Deretan sofa mewah yang pastinya berharga sangat mahal. Ditambah dengan guci-guci tanaman hias yang berderet di dekat pintu masuk. Ia penasaran ini rumah milik siapa.


Namun rasa penasarannya itu menguap saat ia melihat sebuah figura besar yang terpampang di ruang tamu. Disana ada Prima yang sedang tersenyum sangat lebar. Beserta kedua orangtuanya dan kakaknya.


Ah, ini pasti rumah keluarga Pak Prima. Batin Faya. Seketika tuntutan untuk bersikap lebih sopan merengguti perasaannya.


“Oh, sudah datang? Ayo, duduk di dalam saja.” Sapa seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat cantik dan anggun. Faya tau kalau itu adalah Zinnia, ibu dari bosnya. Alias nyonya besar FD Corp.


Faya mengangguk saat Zinnia memperhatikannya. Wanita itu tersenyum ramah padanya.


“Apa ini sekretaris barunya Prima?” tanya Zinnia pada Ariga.


“Iya, Buk.”


“Oh, halo. Saya Zinnia, ibunya Prima.” Zinnia memperkenalkan diri.


“Saya Fayandayu, buk. Biasa di panggil Fay atau Faya.”


“Ooo. Iya, iya. Ayo, kita duduk dan ngobrol di dalam aja. Makan malamnya udah di siapin tuh.” Ajak Zinnia ramah.


Sikap Zinnia itu membuat Faya bertanya-tanya. Apa memang seorang nyonya besar selalu seramah ini kepada karyawan anaknya?


Faya dan Ariga mengikuti Zinnia menuju ke sebuah ruangan yang ternyata adalah ruang makan. Disana bahkan sudah ada Ren dan Prima yang sedang sibuk mengobrol ringan.


Melihat kedatangan Faya, Prima nampak biasa saja. Karna sudah biasa baginya melihat orangtuanya mengundang sekretarisnya untuk sekedar makan malam bersama. entah apa tujuan mereka.


Biasanya saat sekretarisnya sudah berhasil melewati bulan pertama. Tapi kali ini  berbeda. Bahkan Faya baru bekerja belum sampai sebulan.


“Silahkan duduk.” Ariga mempersilahkan Faya duduk di sebelahnya. Tepat di hadapan Prima.


Rasa canggung yang begitu tinggi menggerogoti dada Faya. Entahlah, suasana ramah ini justru membuat Faya merasa sangat canggung. Memang Ariga pernah membicarakan kalau ia harus bisa dekat dengan keluarga Prima demi menunjang pekerjaan bosnya itu. Tapi ia tidak menyangka kalau ia akan merasa secanggung ini.


“Gak usah malu-malu. Silahkan di nikmati makanannya, Faya. Kebetulan malam ini sepi karna kakek sama neneknya Prima lagi ke Jogja.” Ujar Zinnia lagi. Sikap wanita itu sangat lembut dan anggun.


“I-iya, Buk. Terimakasih banyak.”


Dan mereka melanjutkan makan malam itu dalam diam. Hanya Zinnia yang sesekali bertanya kepada Prima tentang pekerjaan atau sekedar kesehariannya. Karna putranya itu memang jarang sekali pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2