
“Harv, kamu serius?”
Harvey mengangguk dan tersenyum malu.
“Sejak kapan?”
“Sejak SMP.”
“Hah?!!!” jawaban Harvey sungguh membuat Faya semakin ternganga. Sudah selama itu? Itu berarti, dulu mereka saling menyukai tapi tak ada yang berani mengungkapkan perasaan satu sama lain, begitu?
Tapi tunggu, apakah sekarang waktu yang tepat untuk Harvey mengungkapkan perasaannya? Sementara perasaan Faya untuk Harvey hanya sebatas teman saja.
“Harv, aku......” Faya tak tau harus menjawab apa.
“Aku gak maksa kamu, kok, Fay. Kalau kamu gak mau nerima perasaanku, diam aja. Jangan di tolak. Bayar aku dengan membiarkan aku menyukaimu sepuasku.”
Sudah, tidak ada lagi kata yang tepat untuk menjawab Harvey saat ini. Seketika, sebuah rasa tidak nyaman dan canggung menyeruak di sekitar mereka.
Tanpa mereka sadari, sepasang telinga terus saja mendengar obrolan romantis mereka itu dari balik pintu seberang. Mengintip keluar dari lubang kecil yang ada di pintunya.
“Ya udah. Sana istirahat. Mimpiin aku, ya. Heheheh” kelakar Harvey sambil mengacak-acak puncak kepala Faya. Sementara gadis itu masih sempurna mematung tidak tau harus merespon bagaimana.
Sementara pemilik sepasang mata dan telinga yang sejak tadi menguping itu, wajahnya sudah memerah marah. Tapi ia baru berani keluar setelah melihat Faya masuk ke dalam rumahnya.
Lama sekali Prima berdiri di depan pintu Faya. Menatapi pintu yang tertutup itu dengan hati yang berkecamuk luar biasa. Apa dia sudah terlambat?
Prima berjalan sambil melamun menuju ke basement. Hatinya terus bergejolak merasakan hawa panas yang menerjang. Kecewa pada diri sendiri.
Sudah ia duga selama ini kalau Harvey mempunyai rasa suka terhadap Faya. Ia bisa melihat dari tatapan pria itu saat mereka bertemu.
Prima yang tertinggal satu langkah dari Harvey karna memikirkan batasan pekerjaan, jadi frustasi sendiri. haruskah ia melewati batasannya sendiri? padahal ia yakin kalau Faya juga tertarik dengannya. Walaupun ia tidak yakin seberapa besar gadis itu melihatnya sebagai seorang pria.
Prima melajukan mobilnya melewati batas normal. Menyalip dan terus membunyikan klakson saat mobil di hadapannya menghalangi jalannya. Tujuannya hanya satu, club milik temannya. Untuk menyingkirkan rasa panas di hatinya itu.
Sesampainya di club, Prima langsung menuju meja bartender. Sang teman merasa heran melihat kedatangan pria itu dengan wajah yang di tekuk.
“Kenapa muka di tekuk begitu?” tanya Sandi.
“Kasih minuman yang biasa.” Prima tak menjawab malah meminta minuman.
“Ada masalah?” tanya Sandi sambil menyodorkan gelas berisi minuman kehadapan Prima.
“Kenapa dia gak pernah lihat gue?” gumam Prima di sela musik DJ yang sedang di putar.
“Siapa?”
__ADS_1
“Ada.”
“Cewek?”
“Hem.”
“Cantik?” tanya Sandi.
Mendengar pertanyaan Sandi itu justru malah membuat Prima melotot tajam.
“Hahahaha. Baru kali ini gue lihat lo jatuh cinta jadi kalang kabut begini.”
“Solusi?”
“Udah di tembak?”
Prima menggeleng.
“Jiahhh. Gak guna galaumu ini Prim. Nembak aja belum udah galau.”
“Dia baru di tembak sama cowok lain.” Terdengar nada kecewa dari suara Prima. ia memainkan gelas di tangannya sampai es batu di damnya ikut berputar.
“Hah? Jadi, udah keduluan? Kasiannnnn...”
“Gue bunuh juga lo!” hardik Prima kesal.
“Hufh!” Prima kesal setengah mati.
Dan, pelampiasannya adalah minum sampai mabuk.
Faya baru saja selesai membersihkan wajah. Ia tengah bersiap hendak berbaring. Saat ponselnya berbunyi dan itu adalah telfon dari Prima.
“Halo?”
“Fay..... jemput aku....” rengek Prima dari seberang. Faya bisa tau dari suaranya, kalau bosnya itu pasti sedang mabuk.
“Bapak dimana?”
Hening. Tak terdengar lagi suara Prima di seberang. Yang ada hanyalah dentuman musik yang tak terlalu keras.
“Pak?!” panggil Faya.
“Halo?” tiba-tiba tedengar suara pria. Namun bukan Prima. “Ini aku, Fay, Sandi.”
“Oh. Mas Sandi. Jadi pak Prima di situ?”
__ADS_1
“Iya. Udah teler dia ini. Buruan jemput.”
“Iya, Mas. Aku langsung kesana sekarang.”
Faya menutup telfon. Ia menyambar blazernya, tasnya dan ponselnya kemudian pergi meninggalkan rumah.
Di depan apartemen, ia menghentikan sebuah taksi dan langsung meminta supir untuk mengantakannya ke club.
Dan benar saja, sesampainya di club, ia bisa melihat Prima yang sudah teler di meja bartender. Ia segera menghampiri bosnya itu.
“Udah datang, Fay?”
“Iya, Mas. Saya bawa pak Prima pulang dulu, Mas. Makasih banyak Mas Sandi.” Pamit Faya.
“Biar aku bantu.”
“Gak usah, Mas. Saya bisa, kok.” Ujar Faya yang kemudian mengalungkan satu lengan Prima di pundaknya.
Dengan susah payah Faya membawa Prima. sesampainya di rumah, ia segera mmebaringkan bosnya itu ke atas ranjang.
Sumpah demi apa, ia merasa sangat lelah sekali. Sudahlah tenaganya di habiskan di taman bermain. Dan sekarang ia masih harus mengurusi Prima lagi.
Tapi ya mau bagaimana, ini sudah menjadi tugasnya.
Saking lelahnya, Faya sampai merasa haus dan tenggorokannya kering. Bukan hal yang mudah memapah Prima dari basement ke apartemennya. Dan itu sungguh memakan banyak tenaga Faya yang memang sudah darurat itu.
Tubuh Prima bau alkohol yang menyengat. Itu akan berbahaya jika pembantu yang biasa datang mengetahui hal itu dan melaporkannya kepada Zinnia. Faya berinisiatif melindungi bosnya itu dan membuka kausnya perlahan. Ia kemudian menggantikan pakaian Prima yang sudah tak berdaya di atas tempat tidur itu dengan hati-hati. Setelah itu, ia meminumkan sesendok madu ke mulut Prima dan menyemprotkan parfum untuk menghilangkan baunya.
Faya merasa lelah sekali. Mengurus Prima lebih lelah dari mengurus bayi, sepertinya.
Ia menghela nafas dalam. Berkacak pinggang sambil menatapi wajah pulas Prima. setelah itu ia pergi ke dapur untuk minum. Ia melihat ada botol teh di dalam kulkas dan langsung ia tenggak hingga habis.
Saat hendak keluar, ia mendengar suara Prima. ia melongokkan kepala dari celah pintu namun kemudian tiba-tiba kepalanya terasa berat dan pandangannya berputar-putar.
Apa ini karna minuman kadaluarsa tadi? Batin Faya.
Tubuh Faya terhuyung ke depan. Hingga tanpa sadar ia sudah jatuh di atas dada bidang Prima.
Netra sayunya menangkap visual mematikan dari seorang Prima. hal yang memang selama ini sudah menjadi kekaguman tersendiri bagi Faya saat melihat bosnya itu.
Namun kali ini, entah kenapa wajah Prima terlihat jauh lebih tampan dari biasanya. Apalagi bibir seksi dan penuh milik pria itu yang tentu saja sangat menggoda iman.
Sesuatu yang aneh terjadi di dalam dada Faya. Entah kenapa hatinya terus berdesir dan dadanya bergejolak luar biasa. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak meraup bibir kental itu.
Dan alhasil, kini Faya sudah menempelkan bibirnya. Tidak peduli kalau seandainya Prima bangun dan ia di tuduh melakukan pelecehan seksual kepada bosnya itu. Dan lebih parah, ia di pecat dari pekerjaannya.
__ADS_1
Satu yang jelas, ia benar-benar tidak bisa menahan desiran yang semakin menjadi-jadi.