
Faya tak lagi menghiraukan kalau tadi Prima yang mengemudi. Bahkan selama ia bisa mengemudikan mobil, ini adalah kali pertamanya Prima mengemudi dan ia menjadi penumpangnya. Ia tak menghiraukan itu lagi. Baginya saat ini, pulau kapuk menjadi satu-satunya yang ingin segera ia tuju.
Dan benar saja, Faya baru terbangun saat mendengar ponselnya berdering di samping bantal. Mata sipitnya melihat nama ‘Bu Zinnia’ yang tertera di layar ponselnya. Langsung saja Faya mengangkat telfon dari nyonya bos itu.
“Iya, Buk?” sapa Faya.
“Fay, kamu bisa kesini gak, sekarang? Ada penting.” Ujar Zinniadari seberang. Suaranya mendakan kalau wanita itu sedang serius.
“Sekarang, Buk?”
“Iya. Bisa?”
Faya melirik jam dinding. Masih setengah tujuh pagi. Kira-kira kenapa Zinnia menyuruhnya datang?
“Iya, Buk. Saya kesana sekarang.” Janji Faya.
Walaupun penasaran tapi Faya segera bangun dan mandi. Ia juga siap berpakaian kemudian langsung memesan ojek dan pergi ke kediaman Zinnia dan Ren.
Faya baru saja menginjakkan kakinya di halaman rumah besar itu. Saat ponselnya berdering, ia segera mengangkatnya.
“Dimana kamu, Fay?”
“Saya lagi di luar, Pak. Mau ketemu sama Ibuk. Ibuk suruh saya datang.”
“Apa?!! Jangan kesana!!” pekik Prima dengan nada suara panik. “Awas kalau kamu sampai kesana!” ancam Prima kemudian.
“Tapi,, saya udah di rumah, Pak.”
“Apa?!!!! jangan masuk! Tunggu di luar sampai aku datang.”
Faya hanya menatapi ponselnya yang sudah mati itu dengan tatapan heran. Kenapa bosnya itu seperti kalang kabut begitu?
“Selamat pagi, Pak.” Sapa Faya ramah.
Ia menyapa Rai yang sedang menyeruput kopinya di temani oleh koran dan sepiring camilan. Sepertinya itu pisang goreng.
“Ooh. Pagi. Kamu Faya kan?” Rai memberikan senyuman lewat bibir keriputnya.
“Iya, Pak. Kalau begitu saya permisi ke dalam dulu, Pak. Mau ketemu sama Buk Zinnia.”
__ADS_1
“Oh, iya. Silahkan. Masuk aja.” Ujar Rai ramah.
Faya memang bukan sekali dua kali ke rumah ini. Sudah terlalu sering malah. Jadi ia sudah hafal dimana kira-kira Zinnia saat pagi-pagi begini. Ia langsung berjalan ke dapur. Dan benar saja, Zinnia sedang memasak dengan di bantu oleh asisten rumah tangganya.
“Pagi, Buk.” Sapa Faya.
Zinnia yang memang tidak menyadari kedatangan Faya langsung menoleh dan tersenyum.
“Oh, udah datang. Sebentar ya.” Zinnia segera melepaskan celemek dari tubuhnya dan meletakkannya begitu saja di meja makan.
“Sini, ikut.” Ajak Zinnia kembali dan Faya patuh mengikuti.
Ternyata Zinnia di ajak untuk ke ruang keluarga. Dimana sudah duduk Ren dan Esta yang nampak sedang mengobrol disana.
“Ayo, sini. Duduk.” Zinnia menepuk sofa kosong di sebelahnya. Dan dengan patuh, Faya menuruti.
Faya bisa merasakan kalau suasana di runagn itu cukup canggung sekali. Bahkan untuk beberapa saat, tidak ada yang memulai bicara dan hanya memandangi mereka saja.
Tak lama kemudian, Rai ikut bergabung. Begitu juga dengan Favita yang nampak masih santai dengan piyama tidurnya.
Seluruh keluarga Prima sudah berkumpul di sana. Dan mereka masih fokus memperhatikan Faya dari ujung kepala hingga kaki. Membuat perasaan Faya menjadi tidak enak. Ia seperti sedang di sidang oleh keluarga bosnya itu.
“Nikahkan aja mereka.” Rai memberi usulan. Ia juga teringat akan masa lalunya yang tak lebih baik dari keadaan Prima sekarang. Ia tidak ingin kesalahannya dulu harus di ulangi oleh Prima.
“Iya, Pa. Aku juga berfikir begitu.”
“Tapi kan kita harus bilang dulu sama Prima. Gak mungkin kita nikahin mereka gitu aja.” Esta memilih bijak menyikapi.
“Kalau anak itu gak mau nurut buat nikahin Faya, biar aku yang maju.” Ren menggeretakkan gigi-giginya.
“Kalau menurut Mama, lebih baik kita bicarakan masalah ini sama mereka berdua. Kita cari jalan tengahnya gimana. Jangan main paksa. Kasihan anak orang.” Esta bijak menimpali.
“Ya udah, besok pagi aku panggil Faya kemari. Biar kita bisa tanya langsung.”
Begitulah obrolan para orang tua itu semalam. Dan berakhir dengan memanggil Faya datang pagi-pagi sekali.
“Fay, udah berapa lama kamu kerja sama Prima?” tanya Ren hati-hati.
Faya nampak berfikir untuk menghitung. “11 bulan, Pak.”
__ADS_1
“Jadi, kamu kan udah kerja lama sama anakku. Kamu pasti udah kenal dia luar dalam.”
Faya mengangguk. Ya, memang ia sudah mengenal Prima luar dan dalam. Dalam artian, ia sudah faham betul sikap dan sifat bosnya itu.
Ren dan Zinnia saling pandang. Seolah sedang melemparkan tanggung jawab agar istrinya itu saja yang bicara.
“Fay, apa bisa kami ketemu sama kakakmu?” Zinnia mengambil alih. Keluarga Zinnia juga sudah tau kalau Faya tak memiliki orang tua lagi.
“Ketemu Kakak saya, Buk? Ada apa ya Buk?” Faya sungguh penasaran.
“Jadi gini. Ehmm.. aduh. Gimana ya cara ngomongnya.” Zinnia jadi bingung sendiri. takut menyinggung Faya.
“Kamu punya pacar gak Fay?” tiba-tiba Favita ikut nimbrung saja. Wanita itu santai sambil mengunyah pisang goreng.
“Ya? Pacar?” Faya semakin bingung. Ia tidak bisa menebak kemana arah pembicaraan mereka. Ia merasa seperti sedang di sidah oleh keluarga Prima.
“Ehm, saya...” tatapan mereka seolah sedang memojokkan Faya. Apalagi pandangan pias Zinnia yang duduk di sampingnya seolah sedang mengharapkan sesuatu.
“Faya. Kami tau apa yang terjadi kemarin malam antara kamu sama Prima. jadi, kamu bisa jujur sama kami. Gak usah di tutup-tutupi. Ceritakan semua sama kami.” akhirnya Esta yang memulai pembicaraan serius itu.
Jantung Faya semakin kencang berdegup mendengar penuturan Esta itu.
Kejadian kemarin malam? Maksud mereka, saat ia dan Prima tidur bersama? Astaga. Tidak mungkin. Bagaimana mereka bisa tau?
“Saya..... saya....” Faya tak tau harus menjawab apa. Keadaannya semakin terpojok dan nyalinya jadi menciut. Biar bagaimanapun, mereka semua adalah keluarga bosnya. Tempat ia mencari uang.
“Gak usah takut, Fay. Kamu bisa ceritain semua sama kami.” Zinnia meraih tangan Faya dan menggenggamnya lembut. “Kamu perempuan, dan kamu yang akan paling di rugikan dari keadaan ini. kita harus cari solusi dari masalah ini. Gak apa-apa. Cerita aja. Kami gak akan marah sama kamu.” Janji Zinnia untuk meyakinkan Faya.
Kejadian itu memang membuat orang salah faham. Bahkan Faya sendiri berlebihan memikirkan tentang malam itu. Apalagi Prima yang hanya diam saja tanpa menjelaskan sesuatu baik kepada kelaurganya maupun kepada Faya sendiri. jadi, mereka berfikir sendiri dan mencari solusi sendiri.
Suasana di dalam ruangan itu terasa semakin suram saja. Nyali Faya semakin menciut dan hampir menghilang. Ia menimbang apa yang kira-kira akan terjadi jika dia membuka mulut. Apa mereka akan mencoret Prima dari kartu keluarga?
Saking seriusnya situasi itu, dengan seluruh tatapan yang menuntut penjelasan dari Faya, mereka sampai tidak sadar jika Prima telah tiba di sana dan sedang menatap tajam kepada mereka semua.
tau gak, prima yang kalian marahin, kenapa aku yang ngerasa lucu yaaa... hehehehehe. yang mau timpuk prima rame-rame, di persilahkan berkumpul di depan balai desa kebun labu. biar kita sidang si prima gila ini. minta penjelasan kenapa dia begitu. tapi inget, gak boleh rusuh yaaa...
__ADS_1