
Air mata tak berhenti mengaliri kedua pipi Faya. Sekuat apapun ia mencoba untuk mengalihkan perhatiannya, tapi
fikirannya terus saja tertuju kepada Prima. dan lagi, hatinya akan berdesir sakit jika mengingatnya.
Sudah 4 hari Faya tinggal di rumah Harvey. Dan hari ini, pria itu berkata akan pulang ke Jakarta. Sudah sejak pagi Faya membereskan apartemen Harvey. Biar bagaimanapun, ia merasa tidak enak jika Harvey pulang dan mendapati rumahnya kotor.
Kemarin, ia di sibukkan mencari tempat tinggal untuk dirinya. Malamnya ia bergadang mencari pekerjaan dari berbagai situs internet. Tapi kedua hal itu belum membuahkan hasil. Ia belum mendapat tempat tinggal maupun pekerjaan.
Ya, bukan Faya tidak mengerti bagaimana sulitnya mencari pekerjaan di Ibukota ini. Dia sudah kenyang dengan lelahnya mencari pekerjaan.
Pukul setengah tiga sore, Harvey sudah sampai di apartemennya. Walaupun itu rumahnya sendiri, karna ada Faya di dalam, maka ia memencet bel terlebih dahulu.
Faya sumringah dengan kedatangan Harvey. Ia bergegas berlari untuk membuka pintu. Begitu pintu terbuka, Faya malah di buat mengernyitkan keningnya.
Harvey menaruh sebuah paper bag tepat di depan wajahnya. Ia ingin menunjukkan oleh-oleh yang ia beli untuk Faya. Itulah yang membuat Faya mengeryitkan keningnya.
Sesaaat kemudian, Harvey menurunkan paper bag itu dan muncullah wajah tampannya di sertai oleh senyuman manis khas Harvey.
“Nah, buat kamu.” Harvey langsung menyerahkan oleh-olehnya kepada Faya. Bahkan dia belum masuk ke dalam rumah.
Dengan wajah bingun Faya menerima paper bag itu. Ia mengintip sebentar ke dalam. Entahlah, benda itu terbungkus plastik sehingga ia tidak yakin apa itu.
“Makasih, Harv.”
Keduanya lantas masuk ke dalam rumah. Harvey meletakkan koper di dekat meja TV. Sementara Faya sibuk menyiapkan makanan. Ia sudah memasak untuk Harvey.
Tak ada maksud lain. Itu hanyalah sebuah bentuk dari rasa terimakasihnya kepada pria baik itu. Setidaknya ia harus melakukan sesuatu untuk mengikis rasa tidak enak hatinya.
“Harv, makan dulu.” Panggil Faya.
Harvey mendekat. Ia ternganga melihat begitu banyak makanan yang terhidang di atas meja makan.
“Kamu yang masak semua ini?” tanya Harvey tidak percaya.
“Iya, dong. Buat apa sayuran di kukas kalau gak dimasak. Hahahahhaha.”
“Hahahahahha.” Harveypun ikut tertawa. Ia senang sepertinya Faya sudah sedikti teralihkan dari kesedihannya. Walaupun dari netra gadis itu, masih bergelayut sebuah kekecewaan dan kemarahan.
“Gimana kerjaan kamu, Harv?”
“Lumayan capek. Hehehehe.”
“Harv, makasih ya udah bolehin aku nginep di sini. Sampai hari ini aja tapi.”
__ADS_1
“Lho, kenapa? Udah dapat rumah ta?”
“ehm, udah.”
Harvey tau Faya sedang berbohong. Gadis itu tak berani menatapnya langsung ketika bicara. Ia tau, Faya berkata begitu karna mungkin merasa tidak enak hati.
Tebakan Harvey tidak salah. Memang begitulah yang di fikirkan Faya. Apalagi Harvey sudah pulang. Dan sangat tidak mungkin mereka tinggal bersama disana.
Namun, Harvey hanya menanggapi dengan menganggukkan kepalanya saja. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
“Oh iya, Fay. Kamu mau gak, liburan?”
“Liburan? Kemana?”
“Kapal pesiar.”
“Kapal pesiar?”
Harvey menganggukkan kepala.
“Kapal pesiar yang itu? Yang besar itu?” tanya Faya kembali. Merasa tidak yakin dengan tawaran Harvey.
“Ya iya. Kapal pesiar yang besar itu.”
“Aku dapet tiket dari sponsor. Karna aku gak suka naik kapal, jadi ku kasih sama kamu aja. lumayan lho, dua minggu disana keliling-keliling. Kalau mau nanti malam aku antar kamu ke Tanjung Priok.”
“Terus kamu?”
“Kan udah aku bilang, aku gak suka naik kapal. Lagian mending aku istirahat di rumah sambil rebahan daripada harus keliling begitu.”
Faya nampak berfikir. Entahlah, kebaikan demi kebaikan yang diberikan Harvey untuknya sungguh memunculkan sebuah beban tersendiri di hatinya.
“Gimana? Mau, gak?”
Faya mengangguk pelan. “Ya udah deh. Aku mau.”
“Nah, gitu dong. Jangan mengurung diri terus di rumah. Gak baik. Keluar sana main. Siapa tau dapat kenalan baru kan seru tuh, bisa healing bareng-bareng.”
Harvey tidak berbohong. Memang dia mendapat tiket itu dari sponsornya. Hanya saja, ia bukan tidak suka naik kapal. Ia tidak masalah naik kapal. Ia berfikir akan lebih baik jika Faya saja yang pergi. Gadis itu sedang butuh penghiburan dan pengalihan atas rasa sakitnya.
Selesai makan, Faya bergeas mandi. Seiring detik jam berjalan, ia menjadi antusias. Tidak pernah terfikirkan kalau dia akan naik kapal pesiar. Gratis pula.
Harvey mengantarkan Faya ke Tanjung Priok. Sepanjang perjalanan, senyuman tak pernah lepas dari bibir gadis itu. Sesekali Harvey menoleh dan ikut tersenyum.
__ADS_1
Lihatlah senyuman manis itu. Bagaimana Harvey tidak jatuh cinta? Senyumannya begitu manis dan mendebarkan.
Pukul 7 malam, mereka sudah sampai di Tanjung Priok. Harvey menemui salah satu perwakilan dari sponsornya dan menjelaskan kalau ia tak jadi ikut dan memberikan tiketnya kepada Faya.
“Hati-hati di sana ya, Fay. Semoga bisa menghibur dan buat kamu lupa sama Prima.”
Mendengar nama Prima di sebut, hati Faya kembali berdesir. Namun sejurus kemudian ia mengembangkan senyuman dan mengangguk.
“Makasih banyak, Harv.”
“Ya udah, sana masuk. Nanti ketinggalan.”
“Sampai ketemu dua minggu lagi!” pekik Faya saat ia sudah berjalan masuk ke dalam kapal. Ia melambaikan tangan kepada Harvey. Begitu pula dengan Harvey. Ia membalas lambaian tangan Faya dengan tersenyum.
Dalam hati Harvey benar-benar berharap, setelah perjalanan ini, hati gadis itu akan sembuh dan bisa memulai dari awal lagi. Dan ia siap mendampingi jika gadis itu berkenan.
Faya masuk kedalam kapal pesiar mewah itu. Dari luar saja sudah nampak begitu besar. Seperti hotel bertingkat-tingkat. Bersama dengan seorang kenalan Harvey tadi, mereka menuju ke kamar yang bisa di tempati oleh Faya.
Sepanjang perjalanan, Faya tak henti-hentinya berdecak kagum. Ini benar-benar seperti di hotel mewah yang
pernah ia lihat di TV-TV. Ini adalah hotel mewah berjalan. Interiornya indah bukan main. Ia merasa seperti bukan di kapal saja.
Mereka naik lift menuju lantai 5. Di lantai itu, terdapat deretan kamar VIP.
“Ini kamarnya, Mbak. masuk aja. ini nomor telfonku, kalau butuh apa-apa, telfon aku aja.” ujar wanita cantik itu sambil menyerahkan kartu namanya kepada Faya.
“Makasih, Mbak.”
Wanita itu tersenyum lantas pamit undur diri meninggalkan Faya.
Kamar itu begitu luas. Ranjang berukuran king dengan sprei putih lengkap dengan tiang kelambu. Menambah kesan estetik dan romantis.
Faya meletakkan kopernya begitu saja di dekat ranjang. Kemudian ia merebahkan dirinya ke atas kasur sambil terlentang. Tangannya bergerak-gerak merasakan lembutnya sprei itu.
Lembut, seperti yang ada di kamar Prima.
Ah, kenapa lagi-lagi dia harus teringat kepada pria menyebalkan itu? Membuat hatinya semakin sakit saja.
jangan lupa jejaknya ya warga,,,, maaf kalau aku jarang balas komen kalian. jujur, kadang aku tuh bingung mau jawab apa. takut garing . hehehehe. tapi aku tetep senyum-senyum sendiri kok pas baca komenan kalian.
__ADS_1