
Sungguh Faya merasa kesal karna Prima tetap tak mau pergi dari sisinya. Bahkan Faya sudah melarikan diri ke kamar mandi. Namun ternyata Prima tetap menungguinya di luar. Menyebalkan sekali.
Tidak ingin mempedulikan tapi tidak bisa. Itulah yang sedang di rasakan oleh Faya saat ini. Bagaimana bisa dia tidak menganggap ada seonggok manusia yang terus mengekorinya di belakang? Sekuat apapun ia mengabaikannya, tetap ada perasaan itu.
Faya sudah kepalang kesal. Ia tau, bahkan saat inipun, Prima ada di belakangnya mengikuti setiap langkahnya.
“Hufh!” kesal Faya berada di puncaknya. Seketika ia berbalik untuk memarahi Prima.
Buk.
Sialnya, wajahnya malah mendarat di dada bidang Prima begitu ia berbalik. Ia fikir pria itu ada jauh di belakangnya. Ternyata perkiraannya salah.
Waktu sepersekian detik itu di gunakan Prima dengan baik. Ia justru memeluk tubuh Faya sambil menyunggingkan senyuman. Sementara Faya sempurna mematung.
Tubuh Faya kaku dan merinding. Bulu kuduknya berdiri semua. Hanya kelopak matanya yang bisa ia kerjap-kerjapkan beberapa kali.
Faya seolah bisa mendengar degup jantungnya sendiri yang di atas normal. Tidak, bukan. Jantung Prima?
“Fay?” lirih Prima.
“Hm?” suara Faya hampir tak terdengar.
“Enak kan di peluk aku?”
Mendengar pertanyaan itu kesadaran Faya langsung kembali. Seketika ia menolak kasar dada bidang Prima dan menjauh dari pria itu. Mata mereka saling bertemu. Prima jelas menyiratkan akan sebuah kerinduan dan penyesalan.
Dan Faya, sibuk dengan perasaannya yang, entah. Dia marah, atau justru senang karna mendarat di dada bidang pria itu selama beberapa detik. Yang jelas, jantungnya seperti sudah melompat dari tempatnya.
__ADS_1
Untuk menyelamatkan harga dirinya, Faya segera berbalik sebelum wajahnya semakin merona di buat Prima. Ia bergegas kembali melanjutkan langkahnya dengan tergesa. Berharap Prima tidak lagi mengikutinya.
Namun Prima, dengan senyum yang masih tersungging, ia kembali berlari kecil untuk menyusul Faya. Kali ini, ia memberanikan diri untuk mensejajarkan langkahnya dengan gadis itu.
Faya sudah kalah malu. Niat awalnya ia ingin bersantai di dek dengan menikmati hembusan angin laut, hampir saja tidak terlaksana. Gara-gara Prima. Namun pada akhirnya mereka berdua tetap pergi ke atas untuk bersantai. Lebih tepatnya, Prima tetap mengikuti Faya dan ikut bersantai.
Faya duduk di sebuah bangku menghadap ke lautan lepas. Ada niat terselubung di hati Prima. ia ingin Prima ketakutan karna melihat di sekelilingnya adalah air. Dengan begitu, pria itu akan kembali masuk atau justru pergi dari kapal ini.
Tapi, rencana Faya itu hanya tinggal rencana saja. Buktinya, Prima terlihat sangat santai sekali menikmati pemandangan. Pria itu bahkan beberapa kali berdiri di pagar pembatas dan melongok ke arah bawah. Hingga tanpa sadar, membuat Faya panik luar biasa.
“Bapak ngapain? Hati-hati!” Faya seketika menarik Prima untuk menjauhi pagar pembatas. Tentu saja Prima terkejut mendapat perlakuan tiba-tiba itu. Namun beberapa saat kemudian, ia tersenyum senang.
“Hehehe. Ternyata kamu masih perhatian sama aku.” Seloroh Prima dengan senyuman lebar yang menyebalkan itu.
Huf!
Seketika Faya menyadari kegilaannya. Sungguh ia tidak sadar akan perbuatannya barusan. Ternyata, lama berada di samping Prima membuat Faya tak bisa serta merta melupakan kebiasannya. Ia bahkan sampa lupa niat awalnya ingin mengerjai Prima. Malah justru berbalik kepadanya.
Sinar matahari sangat terik. Walaupun mereka berlindung di bawah payung namun tetap saja, hawa panasnya begitu terasa menyengat kulit. Apalagi mereka ada ditengah-tengah lautan lepas.
Beberapa kali Faya mengipas-ngipasi wajahnya dengan tangan. Ia ingin kembali ke kamar namun urung. Bosan jika dikamar terus dan tidak melakukan apa-apa. Ia berusaha untuk kembali tidak menganggap keberadaan Prima yang sedang membeli minuman.
Langkah Prima terhenti saat ada seorang pria yang mendekati Faya sambil menyodorkan botol air mineral kepada gadis itu. Seketika hati Prima memanas. Tanpa sadar, ia mere mas botol minum yang ia pegang sendiri.
“Ngapain di sini sendirian, Fay?” tanya Bian.
Faya selesai meneguk minuman yang di berikan oleh Bian. Karna memang dia merasa sangat panas.
__ADS_1
“Bosen aja di kamar terus.” Faya menjawab sambil mengedarkan pandangan mencari si bocil kematian. Karna biasanya dimana ada Bian, di situ ada si bocil.
“Morin gak ada. Dia lagi sama orang tuanya di bawah.” Seolah Bian tau apa yang sedang di cari oleh Faya.
“Ooh.” Lega Faya. Karna sungguh, ia malas berdebat lagi. Apalagi disini banyak sekali orang. Malu nanti.
Faya melanjutkan mengobrol bersama Bian. Topik pembahasan tak jauh-jauh dari perasaan Bian kepada Faya. Sesekali pria itu akan melawak hingga Faya tertawa terpingkal-pingkal. Seketika Faya lupa tentang Prima. Ia fikir, pria itu sudah menyerah dan pergi sendirinya. Soalnya saat ia mengedarkan matanya tadi, ia sudah tidak melihat pria itu. Mungkin Prima benar-benar sudah pergi.
“Dasar pelakor!!!!!” sebuah pekikan yang membuat semua orang langsung melihat kepada si empunya suara. Siapa lagi kalau bukan Morin, si bocil kematian.
Morin yang sejak tadi mencari Bian, menemukan pria itu tengah duduk santai dengan Faya. Seketika emosinya naik ke ubun-ubun. Ia berjalan cepat menuju Faya dan Bian. Wajahnya memerah karna marah.
Faya tau, kalau sebentar lagi akan terjadi perang antara mereka. Terlebih, kini tatapan semua orang tertuju kepada mereka.
Bian yang melihat kedatangan Morin segera berdiri dan mendekap Morin agar tidak bisa menyakiti Faya. Sementara Faya hanya menghela nafas kasar sebagai bentuk protesnya. Sudah dia duga. Berdekatan dengan Bian akan berujung dengan petaka. Tapi dasarnya Bian, padahal Faya sudah menolaknya berkali-kali tapi pria itu terus saja mendekatinya.
Tadi juga, Faya sempat menolak saat Bian memberinya air putih namun pria itu memaksa dan memelas.
“Rin, udah, udah.” Bian masih berusaha menahan tubuh Morin yang terus memberontak dan hendak merangsek kepada Faya. Pria itu memegangi perut Morin dengan sangat kuat.
“Pelakor! Enaknya kamu itu di apain sih? Hah?!!” teriak Morin kembali. Seketika tatapan menghakimi tertuju kepada Faya.
Ingatan-ingatan menyakitkan ketika di tatap begitu oleh rekan-rekan kantornya, membuat Faya membeku. Jantungnya berdegup dan lututnya jadi gemetar. Bahkan ia jadi tidak sadar ketika Morin berhasil mengambil gelas di atas meja di sampingnya dan langsung melemparkan gelas itu ke arahnya. Dan Bian terlambat menghentikan gadis yang menyukainya itu.
Gelas bening itu terlempar. Melayang di udara, dan...
Pyar!!!!
__ADS_1
Faya memejamkan mata kuat demi membayangkan wajahnya terkena serpihan kaca. Tapi tidak. Tunggu. Gelas itu tidak mengenai wajahnya.
Perlahan Faya membuka matanya takut. Nafasnya memburu dan benar, gelas itu tidak mendarat di wajahnya tapi justru mendarat di punggung Prima. Pria itu menjadikan tubuhnya untuk melindungi Faya. Sontak saja Faya jadi terkejut bukan main.