One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 29. Cemburu Samar-Samar.


__ADS_3

Faya sibuk memperhatikan pasangan yang sedang berfoto ria di depan sana. Sampai ia tidak menyadari seseorang telah duduk di sampingnya dengan wajah sumringah. Orang itu tidak memandangi yang menikah tapi malah justru menatapi wajah manis Faya yang sedang tersenyum.


Saat pose mesra terlihat, semua orang kompak bertepuk tangan. Begitu juga dengan Faya. Ia ikut merasakan kebahagiaan yang di sebarkan oleh Wulan dan Indra. Baru saat ia menoleh, Faya terkejut bukan main karna melihat wajah Harvey yang sedang tersenyum ke arahnya.


“Astaga!” pekik Faya dengan kerasnya. Sehingga menyita perhatian orang-orang untuk beberapa saat. Untungnya mereka kemudian kembali fokus dengan acara. Tapi tidak dengan sepasang mata yang tidak mau mengalihkan pandangan dari Faya dan Harvey. Apalagi saat Faya mendekatkan wajahnya kepada Harvey dan nampak membisikkan sesuatu.


“Harv! Ngagetin aja kamu ini.” Dengus Faya sambil berbisik. “Tunggu, kok kamu bisa ada disini?” Faya baru menyadari situasinya.


“Hehehehehe. Iya. Mas Indra itu sepupuku. Kamu?”


“Aku ngekorin Pak Prima. Mbak Wulan sepupunya Pak Prima.”


“Ooh. Pantesan aku lihat Pak Prima tadi.”


“Waaah. Gak nyangka kita ketemu di sini.” Senang Faya. Itu berarti, ia punya peluang jalan-jalan bersama dengan Harvey.


Setelah acara pernikahan selesai, di lanjutkan dengan makan-makan. Para tamu di persilahkan untuk menyantap hidangan yang telah di siapkan di meja prasmanan. Harvey terus menempeli Faya. Mereka berjalan berdua kesana-kemari. Bahkan makanpun berdua. Faya sempurna mengabaikan Prima. dia hanya sesekali melihat kepada bosnya itu barangkali membutuhkan sesuatu. Tapi nampaknya Prima juga sibuk berbincang bersama dengan saudaranya.


“Besok gak ada kerjaan, kan? Jalan-jalan, mau?” sebuah tawaran yang sudah di tunggu-tunggu oleh Faya.


“Kayaknya gak ada, deh. Senin baru ada. Pak Prima mau ngelihat pembangunan mall di kawasan kota.”


“Oke, jadi besok pagi aku jemput kamu di hotel dan kita jalan-jalan keliling Jogja. Kamu udah pernah kemana aja di Jogja?”


“Belum pernah kemana-mana, Harv. Ke Jogja juga baru kali ini. Untung aja Pak Prima ngajakin aku ikut.”


“Okelah. Besok kita keliling.”


Faya mengangguk antusias. Kemudian mereka melanjutkan makan.

__ADS_1


Wajah Prima sedang mengkerut. Ia merasa lelah dan mengantuk. Pun hatinya sedang merasa kesal. Entah apa yang ia kesalkan. Yang jelas,ia hanya ingin marah-marah tidak jelas.


“Mas Prima kok kayaknya capek banget gitu?” tanya Ibra. Adik Wulan yang duduk di sebelahnya.


“Gak tau nih. Semalam aku gak bisa tidur nyenyak. Karna itu mungkin.” Elak prima. padahal, ia terlalu senang memandangi wajah faya di ponselnya.


“Istirahat aja di kamarku, Mas.” Tawar Ibra lagi.


“Gak usah deh. Gak begitu capek kok. Di buat makan juga ilang ngantuknya.” Tolak Prima halus.


Acara pernikahan itu hanya di laksanakan sampai jam 2 siang saja. Karna nanti malam, Wulan dan Indra juga mengadakan private parti khusus anggota keluarga dan teman-teman mereka di sebuah hotel. Sebagai tanda syukuran.


Pukul delapan malam, acara kedua di hotel sudah di mulai. Itu Cuma acara makan-makan sederhana saja. Wulan dan Indra menyewa taman di pinggir kolam Renang untuk menambah kesan romantis bagi mereka. Disana juga telah di dekor sesuai tema malam ini.


Prima dan Faya baru saja kembali dari hotel. Faya terpaksa mengantarkan bosnya itu untuk mengganti pakaian santai. Prima bilang, ia kurang nyaman mengenakan pakaian formal. Dan karna ini hanya makan malam keluarga biasa, ia mengganti pakaian dengan yang ia anggap nyaman.


Prima, Harvey, Faya, dan Favita. Mereka duduk di satu meja. Favita sibuk berkirim pesan dengan entah siapa itu. Sementara Faya dan Harvey sibuk berbisik dan bercanda kecil. Sesekali keduanya tertawa.


Dan Prima? pria itu berusaha mengusir rasa kesal yang semakin meumpuk di hatinya. Ia berusaha menyibukkan diri dengan mengemil camilan yang di sediakan di atas meja. Sesekali ia menengguk air putih di dalam gelas. Sementara tatapannya serius menatapi Wulan dan Indra yang tengah menyumbangkan lagu duet mereka. Semua orang nampak bahagia malam ini. Kecuali dirinya.


“Ambilin minum, Fay.” Perintahnya saat gelasnya sudah kosong.


Faya yang sedang asyik bercerita dengan Harveypun langsung mengangguk dan berdiri dari duduknya.


“Bentar ya, Harv.” Bisik Faya kepada temannya itu. Kemudian ia melenggang menuju ke meja untuk mengambil minuman.


Sambil mengambil minuman, Faya berinisiatif untuk mengambilkan camilan juga untuk meja mereka.


Faya melenggang santai sambil membawa segelas air minum dan sepiring makanan ringan. Tangannya nampak penuh hanya dengan dua benda itu. Dengan hati-hati ia berjalan agar ia tidak menumpahkan salah satunya.

__ADS_1


Faya meleng. Ia tidak melihat ada seseorang yang sedang membungkuk untuk mengambil sesuatu dari atas lantai. Alhasil, bokong orang itu menyenggol pinggangnya saat hendak berdiri. Faya sempat mengelak demi menghindari kecelakaan. Tapi apalah daya, tepat di sebelah kanannya adalah kolam Renang. Dan,


“Akkhh!!”


Byurr!!!!!


Seketika tubuh Faya terhuyung hilang keseimbangan karna memijak tepian kolam Renang. Apa yang ada di tangannya pun langsung ikut tercebur ke dalam air.


“Faya!!” pekik Prima yang langsung berlari dan menceburkan diri ke dalam kolam Renang tanpa aba-aba.


Semua orang tercengang. Sementara Faya segera berenang naik ke atas. Namun saat hendak naik ke daratan, ia heran karna tatapan semua orang tertuju ke arah tengah kolam. Jadi iapun menoleh ke belakang.


Di belakang, ia melihat Prima yang sudah tenggelam ke dasar kolam. Langsung saja dia kembali berenang dan membawa Prima naik ke permukaan. Sementara beberapa orang membantunya.


“Prima!” pekik Zinnia panik. Ia mendekati putranya yang tak sadarkan diri itu. Disampingnya juga ada Ren dan anggota keluarga yang lain.


Beberapa orang langsung memberikan pertolongan kepada Prima. Sementara Faya hanya diam berdiri mematung dengan tatapan khawatir.


Ia tidak mengerti kenapa Prima bisa ada di tengah kolam. Tadi ia terlalu sibuk berenang ke tepi sampai tidak menyadari hal apa yang terjadi.


Keadadan Prima tak kunjung membaik. Pria itu segera di larikan ke rumah sakit terdekat. Di antar oleh beberapa anggota keluarganya.


Saking paniknya, Faya sampai tidak menyadari kalau tubuhnya sedang menggigil biru. Ia menatap mobil yang membawa Prima pergi dengan tatapan takut dan khawatir. Ia baru terkejut saat Harvey menyelempangkan jaket ke punggungnya.


“Ayo aku antar ganti baju. Kamu basah kuyup. Nanti malah sakit.”


Tak banyak bicara, Faya segera mengikuti Harvey saat pria itu menggandeng tangannya dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Fikiran Faya masih terbang entah kemana. Berusaha mengumpulkan kejadian yang ia tidak tau jelasnya. Bahkan setelah sampai di hotelpun, Faya masih diam seribu bahasa.


Sesampainya di kamar, Faya segera mengganti pakaian secepat mungkin. Setelah itu meminta kepada Harvey untuk mengantarkannya ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2