
Pekerjaan Prima benar-benar menumpuk. Setelah kembali ke kantor siang ini, langsung di lanjtukan rapat dengan anak perusahaan yang bergerak di bidang asuransi dan perbankan. Setelah itu di lanjut rapat dengan anak perusahaan di bidang media. Sore harinya, lanjut lagi rapat dengan anak perusahaan di bidang komunikasi selular.
Perusahaan FD Corp yang telah menggurita. Merajai berbagai lini bisnis sehingga mempunyai anak perusahaan dimana-mana. Walaupun pekerjaannya telah di bagi kepada Favita, namun porsi mereka sama-sama berat. Ren membagi adil pekerjaan yang harus mereka urus.
Kesibukan ini berlangsung selama dua hari penuh. Semalam, bahkan Prima terpaksa lembur untuk bekerja. Pulang hampir pukul 12 malam. Faya yang menungguinya bahkan sampai terlelap sebentar di sofa kerjanya.
Hari inipun begitu. Mereka bahkan tidak punya waktu untuk sekedar makan di luar. Faya hanya memesankan makanan lewat aplikasi online untuk mereka. Ia hanya bisa membantu sedikit pekerjaan Prima. karna pekerjaan pokok tetap hanya Prima yang bisa mengerjakannya.
Faya yang duduk di mejanya hanya bisa sesekali melihat kepada Prima yang nampak serius dengan setumpuk dokumen di mejanya. Setengah tubuhnya bahkan tertutup oleh dokumen.
Lamunan Faya terhenti ketika telfon di mejanya berbunyi.
“FD Corp, dengan kantor Pak Prima, ada yang bisa dibantu?” jawab Faya.
“Bisa bicara dengan Pak Prima?” tanya suara seorang pria dari seberang.
“Maaf ini siapa?”
“Ini saya, pras.”
“Oh, Pak Pras. Sebentar Pak, saya sambungkan dengan Pak Prima dulu.” Faya segera menyambungkan telfon itu ke ruangan Prima.
Pras adalah kepala proyek pembangunan villa di Bali yang di tugaskan oleh Prima bahkan jauh sebelum mencuatnya masalah Prima dengan Faya. maka dari itu Faya segera menyambungkannya kepada Prima. Ia tau kalau ada hal penting yang harus di bahas di antara kedua orang itu.
Setelah menyambungkan telfon Pras kepada Prima, ia melirik Prima yang nampak serius mendengarkan. Wajahnya berubah tegang. Kalau sudah seperti itu, pasti telah terjadi masalah dengan proyeknya. Faya tahu betul itu.
Benar saja, setelah selesai bertelfon, Prima keluar dan langsung menemui Faya.
“Panggil Pak Teguh ke ruanganku sekarang.” Perintahnya dengan serius.
“Baik, Pak.”
Setelah memerintahkan begitu, Prima kembali ke dalam ruangan. Sementara Faya melaksanakan perintah Prima. Ia segera menelfon Pak Teguh yang merupakan kepala tim legal yang mengurusi permasalahan hukum di perusahaan. Tak berapa lama kemudian Pak Teguh datang tergopoh-gopoh.
“Silahkan masuk, Pak. Sudah di tunggu sama Pak Prima.” Faya memberitahu. Ia juga membukakan pintu untuk pria paruh baya berkacamata itu.
__ADS_1
Faya juga ikut masuk ke dalam. Mencatat semua hal penting yang terjadi di dalam rapat. Dari sana ia bisa menyimpulkan kalau mereka akan pergi ke bali beserta dengan tim legal yang di wakili oleh Pak Teguh dan dua asistennya.
Proyek pembangunan villa di Bali sedang mendapat masalah. Dimana salah satu tiang pondasi proyek rubuh dan menimpa beberapa pekerja hingga kritis di rumah sakit. Menyebabkan pihak keluarga menuntut pertanggung jawaban perusahaan pembangun. Hal ini sangat mendesak karna menyangkut dengan nyawa manusia.
“Cari penerbangan tercepat ke Bali hari ini. Kita ke Bali secepatnya.” Perintah Prima lagi.
“Baik, Pak.”
Sementara Prima dan Pak Teguh melanjutkan pembicaraan, Faya memesankan tiket untuk mereka.
“Berangkat malam ini, pukul 18.55, Pak.” Ujar Faya memberitahu.
“Baik.” Prima melihat jam tangannya. Pukul 16.40. Masih sempat. “Kalau begitu kita ketemu di bandara ya Pak Teguh.”
“Baik, Pak Prima.”
Pak Teguh segera keluar dari ruangan Prima untuk kembali ke ruangannya. Ia mengumpulkan berkas-berkas penting yang di perlukan untuk di bawa ke Bali.
“Kita pulang sekarang.” Ajak Prima kemudian. Faya patuh mengikuti.
“Ingat, yang terpenting keselamatan mereka. Masalah proyek, bisa nanti. Pastikan mereka mendapat perawatan yang terbaik.”
“Iya, Pa. Prima ngerti.”
“Fokus sama kerjaan disana. Disini biar di bantu Vita.”
“Iya, Pa. kalau gitu Prima berangkat dulu.”
“Hati-hati di jalan.”
Faya yang menunggu di luar ruangan Renpun langsung siaga ketika Prima keluar dari ruangan.
“Ayo. Ajak Prima kemudian. Nampak jelas kelelahan di wajah pria itu. Sudahlah semalam begadang. Pagi-pagi sekali sudah berangkat ke kantor. Pekerjaan masih menumpuk dan sekarang di tambah masalah proyek di Bali. Nampaknya itu sangat menguras tenaga Prima.
“Kalau mau tidur sebentar gak apa-apa, Mas. Nanti aku bangunin kalau aku udah siap beres-beres.” Saran Faya ketika mereka sudah sampai di apartemen. Faya sedang membereskan pakaian Prima ke dalam koper.
__ADS_1
“Gak lah. Aku mau bantuin kamu aja. lagian udah mandi. Udah seger.” Tolak Prima. “Mereka gak bakalan kenapa-napa kan ya?” nampak sekali raut wajah khwatir dari pria itu.
Faya menghela nafas pelan. Ia kemudian meraih tangan Prima yang juga sedang duduk di sampingnya. Menggenggamnya erat dan penuh kehangatan.
“Semua bakalan baik-baik aja, Mas. Mudah-mudahan. Kalaupun ada hal buruk terjadi, ini bukan salah kamu. Jadi jangan ngerasa bersalah ya.” Faya berusaha menenangkan Prima.
Prima tersenyum dan menangkupkan sebelah tangannya lagi. Sehingga sempurna membungkus tangan Faya yang menggenggamnya.
“Makasih sayang. Untung ada kamu. Kalau enggak, waduh. Gak tau aku jadi stres mungkin.”
“Gak sampai segitunya juga lah. Dulu sebelum ada aku kan kamu baik-baik aja.”
“Siapa bilang? Saking stresnya aku akibat beban kerja, aku sampai ngelampiasinnya dengan ngerjain para pendahulumu dulu. Kamu lupa?”
“Oh iya. Baguslah kalau sekarang udah gak stres lagi. Berarti aku ada gunanya.”
“Ya jelas ada dong. Kamu itu kan semangatku. Stok semangatku ada di kamu. Jadi jangan jauh-jauh dari aku, oke?”
“Oke.”
“Kalau udah oke, sun dulu dong.” Prima modus.
“Lah, malah modus.”
“Kalau ngasih semangat jangan nanggung-nanggung. Nih.” Prima mendekatkan pipinya minta di sun.
Faya terkekeh kecil. Kemudian ia mendaratkan kecupan singkat di pipi kekasihnya itu.
Setelah semua beres, dan Faya mengambil koper miliknya, mereka segera berangkat ke bandara. Pukul 17 lewat. Sepertinya mereka masih punya banyak waktu.
Faya tidak perlu repot lagi untuk membereskan barang-barang. Kebiasaannya setelah menjadi sekretaris Prima adalah, selalu menyiapkan keperluan mendadak di dalam koper. Karna memang Prima sering pergi ke luar kota untuk urusan bisnis mendadak. Jadi ketika ada keperluan mendadak seperti ini, ia tidak perlu repot lagi dan bisa langsung pergi.
Kali ini, Prima yang menyetir ke bandara. Padahal Faya tau kalau kekasihnya itu sangat lelah. Tadi ia sempat meminta untuk dia saja yang menyetir mobil, tapi Prima tidak membolehkannya.
“Ini udah jamnya aku jadi pacar kamu.” Begitulah alasan Prima tadi. Membuat Faya tidak bisa memaksa dan hanya menuruti saja. Bahkan sepanjang perjalanan, Prima terus menggenggam tangannya erat sekali. Pria itu sedang mengisi ulang dayanya.
__ADS_1