One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 111. Sistem Tabur-Tuai. Karma Sudah Dibayar.


__ADS_3

Hari-hari Prima dan Faya di sibukkan oleh kegiatan mengurusi pernikahan mereka yang semakin dekat. Bahkan hari inipun, Faya masih tetap bekerja di kantor padahal Prima sudah menyuruhnya untuk berhenti. Alasannya, karna Prima belum mendapat gantinya. Jadi dia akan berhenti ketika sudah ada penggantinya.


Masalah pekerjaan ini, sempat menjadi perdebatan panjang antara Prima dan Faya. Prima yang bersikeras meminta Faya berhenti. Dan Faya yang masih ingin tetap bekerja. Kalau difikir-fikir, sayang sekali jika ia harus meninggalkan pekerjaan yang dengan susah payah ia dapatkan. Apalagi pekerjaan ini penuh perjuangan.


“Mikirin apa?” ujar Prima mengejutkan Faya yang sedang melamun di meja kerjanya.


“Oh, em. Gak ada, Pak.”


“Beneran gak ada?” selidik Prima. ia tau kalau Faya sedang memikirkan sesuatu yang berat.


“Pak, kapan pengganti saya datang?” tanya Faya pada akhirnya.


“Ya ampun, Fay. Itu terus yang di fikirin. Emangnya Om Ariga belum ngasih tau kamu?”


Faya menggeleng. Menatap Prima antusias. Tidak sabar ingin mendengar kelanjutannya.


“Penggantimu itu, Surya. Jadi plisss. Jangan mikirin itu lagi. Kamu itu khawatir sama sekretaris baruku terus.”


“Surya? Beneran, Mas?”


Prima mengangguk. “Jadi berhenti cemas. Kamu udah tau gimana surya kalau kerja. Dia bisa gantiin kamu. Jadi gak udah di fikirin lagi.”


Bagaimana Faya tidak memikirkannya. Ia takut jika sekretaris yang baru akan di kerjai lagi oleh Prima. ya walaupun Prima nampaknya sudah berubah, kecemasan itu tetap menggelayuti dada Faya. tapi untunglah, penggantinya adalah Surya yang memang sudah lama juga bekerja di bawah ariga.


“Lega aku, Mas.”

__ADS_1


“Ayo. Kita makan siang abis itu ke butik.” Ajak Prima mendahului Faya. Faya yang terekeh kecil langsung mengikuti pria itu di belakangnya.


“Pak, saya mau ke kamar mandi sebentar.” Pamit Faya.


“Ya udah. Aku tunggu di mobil, ya?”


Faya mengangguk dan berbelok ke arah kamar mandi. Dua orang yang ada di sana mengangguk ramah kepada Faya.


Sejak hari dimana ia dan Soraya bertengkar hebat beberapa waktu yang lalu, perlakuan rekan-rekan kerjanya perlahan berubah. Perlahan, semua kembali seperti dulu lagi. Itu membuat Faya lega bukan main. Kelegaan yang membuatnya bisa fokus mengurusi pernikahannya dengan Prima.


Faya menuntaskan hajatnya di dalam bili kamar mandi. Keadaanmenjadi sunyi. Sepertinya dua rekannya tadi sudah keluar. Namun tidak berapa lama kemudian, terdengar ada orang yang masuk. Faya mencoba tidak peduli dengan pembahasan yang sedang orang itu bicarakan. Sampai telinganya  mendengar nama Soraya di sebut-sebut.


“Iya, katanya hari ini dia mau resign. Udah hamil juga. Pasti malu tuh. Ngegosipin Faya sama Pak Prima. Taunya dia sendiri yang hamil di luar nikah.”


Faya semakin menajamkan pendengarannya.


“Kayaknya kalau Pak Ridwan masih tetep kerja. Kemarin bahkan sempet heboh. Pak Ridwan bilang, kalau selama ini Mbak Soralah yang selalu ngerayu dia tiap ada kesempatan. Mana di depan orang-orang lagi bilangnya. Telak banget pokoknya Mbak Sora kali ini.”


Faya masih diam saja mendengarkan dari dalam bilik. Bahkan ia bernafas dengan pelan karna tidak ingin keberadaanya di ketahui oleh mereka.


“Terus gimana?”


“Kayaknya dia di buang sama Pak Ridwan. Aku punya temen yang masih saudara jauhnya istrinya Pak Ridwan. Katanya Pak Ridwan masih baik-baik aja sama istrinya. Dia ngelak semua tuduhan kalau dia selingkuh sama Mbak Sora.”


“Ya ampun. Ngerinya. Karma. Siapa suruh nuduh orang sembarangan. Buktinya Faya memang gak hamil, kan. Kenak sendiri kan akhirnya.”

__ADS_1


Faya masih tetap diam sampai orang itu meninggalkan kamar mandi. Setelah memastikan aman, barulah ia keluar dari kamar mandi dengan mengendap-endap


Sepanjang perjalanan menuju ke tempat parkir, Faya terus kefikrian dengan ucapan orang-orang tadi. Bahwa Soraya telah hamil di luar nikah. Entah ini yang dinamakan karma, atau bagaimana. Yang jelas, keadaan berbalik 180 derajat kepada Soraya. Dan yang jelas, bukan Faya yang membalasnya. Tapi orang lain.


Inilah yang dinamakan hukum sebab-akibat. Sistem tabur-tuai. Menanam yang baik, akan memanen yang baik. Dan menanam yang buruk, pasti akan menanam yang buruk juga.


Faya baru saja keluar dari lift di loby. Karna baru saja Prima mengirimkan pesan kalau pria itu sudah menunggunya di depan loby, jadi ia langsung menuju ke sana sekalian.


Langkah Faya terhenti saat ia melewati pintu tangga darurat di dekat lift. Samar ia mendengar seseorang sedang mengobrol. Pintu yang sedikit terbuka membuat Faya bisa melihat siapa yang sedang mengobrol itu. itu adalah Soraya dan Ridwan. Keduanya tengah berdebat tentang sesuatu.


“Mas, kamu gak bisa ninggalin aku kayak gini. Ini anak kamu, Mas. Tega kamu gak tanggung jawab?”


“Yakin itu anakku? Kok aku gak yakin, ya? Bisa jadi itu anak orang lain. Karna aku yakin kalau kamu itu gak cuma tidur sama aku.”


“Mas! Sumpah, aku cuma pernah tidur sama kamu. Aku gak pernah tidur sama cowok lain selain kamu.” Terdengar Soraya yang sedang merengek kepada Ridwan. Suaranya terdengar bergetar. Sepertinya wanita itu sedang menangis.


“Maaf, Sora. Aku gak bisa tanggung jawab sama kamu. Tolong ngertiin aku. Aku udah punya istri dan anakku udah masuk kuliah. Aku gak mau kehilangan mereka. Aku sayang sama keluargaku.”


“Terus aku? Gimana nasibku Mas? Katamu kamu juga sayang sama maku? Katamu kamu mau ceraiin istrimu. Katamu kamu mau nikhain aku? Mana buktinya? Sekarang aku hamil dan kamu pergi gitu aja? kamu gak bisa kayak gini, Mas. Aku bakalan nuntut kamu.”


“Tuntut aja. terserah kamu. Pokoknya aku udah bilang jelas sama kamu, kalau aku gak bisa tanggung jawab. Karna aku gak yakin kalau itu beneran anak aku.”


“Mas!” sergah Soraya. Suaranya meninggi dan ia nampak sangat emosi.


Entah kenapa, mendengar pembicaraan itu membuat Faya merasakan sakit juga di hatinya. Bukan ia simpati kepada Soraya karna mereka dulu sempat berteman. Tapi ia simpati sebagai sesama wanita. Pasti saat ini Soraya sedang merasa hancur sehancur-hancurnya. Tapi Faya bisa apa? hubunganmereka sudah berakhir buruk dan Faya sudah tidak mau dekat dengan wanita itu lagi. Hatinya masih terlalu sakit akan penghianatan yang di lakukan oleh Soraya padanya.

__ADS_1


Jadi, tanpa berniat untuk ikut campur apalagi menolong, Faya kembali melenggangkan kakinya pergi dari sana. Tidak mau terlibat dengan masalah yang sedang melanda Soraya sekarang.


Mungkin kalau mereka masih berteman, Faya tidak akan bersikap begini. Mungkin kalau hubungan mereka masih baik-baik saja, ia adalah orang yang pertama kali mengulurkan tangan untuk membantu Soraya. Tapi itu semua tinggal ‘seandainya’. Hubungan mereka sudah berakhir dan Faya tidak harus ikut campur lagi. Sekarang hatinya menjadi tega melihat Soraya terpuruk seperti itu.


__ADS_2