One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 108. Ibarat Padi Dan Rumput.


__ADS_3

Seketika lutut Soraya terasa lemas. Ia tidak pernah tau kalau ternyata di gudang ada CCTV-nya.


“Hentikan ini di sini atau semua orang bakalan tau kelakuan kamu yang sebenernya.” Bisik Prima ketika ia mendekati wanita itu.


Soraya sempurna mematung di tempat. Ucapan Prima yang lebih seperti ancaman itu terdengar meluluh lantakkan kepercayaan dirinya. Ia masih ingin berdebat dengan Faya dan meneruskan pembenarannya.


“Malam itu, aku sama Faya gak ngelakuin apa-apa. kalian jangan salah faham. Berhenti menghakimi orang yang gak salah. Coba bayangkan kalau kalian ada di posisi itu. Gak seharusnya kalian membesar-besarkan aib orang lain. Dari sini ke depan, aku gak mau ada kejadian kayak gini lagi di kantor ini. Aku pengen kita semua kerja dengan nyaman.”


Semua orang kini menundukkan wajah merenungkan ucapan Prima. Benar, tidak ada yang menjamin kalau kejadian ini tidak menimpa mereka. Tidak melakukan kesalahan tapi di fitnah sedemikian rupa.


Sebenarnya ini semua hanya karna kesalah fahaman semata. Akibat Faya terlalu berfikir berlebihan tentang apa yang belum terjadi. Dan akibat Prima yang menunda-nunda untuk mengatakan yang sebenarnya. Jadilah masalah itu melebar sampai kemana-mana.


Sementara orang lain, hanya ingin meyakini apa yang mereka anggap benar. Walaupun hanya mendengarkan satu pihak saja. Kabar buruk itu selalu cepat menyebar dan mudah di percayai.


“Sekarang, silahkan lanjutkan makan siang kalian. Maaf sudah mengganggu.” Prima kemudian melenggang pergi meninggalkan kantin. Sementara Faya mengikutinya kemudian.


Sepeninggal Prima dan Faya, mereka tetap melanjutkan pembahasan itu diantara mereka. Ada yang masih belum percaya kalau ternyata Prima sudah tidur dengan sekretarisnya. Tapi melihat kesungguhan ucapan Prima, nampaknya memang tidak pernah terjadi sesuatu antara mereka.


Perlahan, topik pembicaraan mulai bergulir perihal ucapan Prima yang tentang Soraya di gudang kantor.


“Kasihan Faya. Aku jadi ngerasa bersalah sama dia. Di fitnah cuma karna cemburu. Rupanya Mbak Sora suka sama Pak Prima. Ya ampun. Malu banget pasti.”


“Berarti yang pernah aku lihat dulu itu beneran Mbak Sora. Dia jalan di hotel sama Pak Ridwan. Mesra banget pake gandengan tangan pula. Pasti yang di bilang sama Pak Prima tentang yang di gudang tadi itu. Mbak Sora sama Pak ridwan.”


“Padahal Pak Ridwan udah punya istri kan ya? Anaknya juga udah mau kuliah yang besar.”


Dan pembicaraan itu berganti topik menjadi membicarakan Soraya. Merasa telinganya panas mendengar orang orang mulai membicarakan dirinya, Soraya memilih untuk pergi dari sana.


Di ruangannya, Faya menangkupkan tangan di atas meja dan menenggelamkan wajahnya di sana. Ia menangis. Bukan sedih, tapi lega. Seolah dadanya kembali ringan. Seolah semua beban yang selama ini menumpuk di dadanya sudah terangkat dan ia bebas untuk bernafas kembali.


“Kamu gak apa-apa. Fay?” tanya Prima yang ternyata sudah berdiri di depan meja Faya.


Mendengar suara Prima, membuat Faya mendongak. Pandangan mereka betemu dan Prima nampak sangat khawatir kepadanya.


“Mau pulang?”

__ADS_1


Faya menggeleng. “Enggak, Pak. Saya gak apa-apa.” Faya menghapus bekas airmata di pipinya.


“Jangan nangis. Aku gak bisa lihat kamu nangis.”


“Saya bukan nangis karna sedih, Pak. Saya cuma ngerasa lega. Akhirnya saya bisa menjelaskan kesalah fahaman ini sama semua orang. Ya walaupun mungkin masih ada yang gak percaya sama saya.”


“Gak usah di fikirin. Itu hak mereka mau berfikir kayak gimana tentang kamu. Kamu gak bisa ngerubah fikiran semua orang. Jalani aja sampai mereka lupa sama masalahmu.”


Faya mengangguk mengerti. “Makasih tadi Bapak udah bantuin saya.”


“Siapa yang bantuin kamu? Pe-de.”


“Lha? Tadi?”


“Tadi itu saya belain calon istri saya, kok. Kenapa kamu yang kepedean?”


“Ish. Awas nanti di rumah.” Akhirnya Faya mengeluarkan ancamannya. Kemudian mereka tertawa bersama.


“Gitu, dong. Ketawa. Kan enak ngelihatnya.” Prima melemparkan senyuman sebelum ia kembali masuk ke dalam ruangannya.


Faya menarik nafas dalam dan menghembuskannya kuat. Seolah ia ingin menghempaskan sisa beban yang masih tersisa di hatinya.


Begitulah hidup. Yang benar saja masih di salahkan. Apalagi yang salah. Mungkin memang sudah kodratnya manusia. Kalau tidak menggunjingkan orang lain, hidupnya terasa tidak berguna. Setiap hari, akan ada saja masalah yang timbul. Anggap saja sebagai penyeimbang. Ibarat sawah. Menanam padi pasti akan tumbuh rumput juga. Tapi jika menanam rumput, tidak akan tumbuh padinya.


Hari ini, Prima lembur lagi. Dan Faya terpaksa menenaminya. Prima sedang sibuk di meja kerjanya ketika Faya masuk membawakan dua cup mie instan yang sudah ia seduh di pantry tadi. Bersama itu ia juga membawa dua bungkus kerupuk emping, dua buah telur rebus dan dua botol kecil air mineral.


“Mas, makan dulu. Aku buat mi.” Faya memberitahu sambil meletakkan nampak ke atas meja.


Prima mengalihkan pandangan untuk melihat Faya. kemudian ia tersenyum dan bangun meninggalkan pekerjaannya sementara. Berjalan ke arah sofa dan duduk manis di sana.


“Wahh, yang pedes, ya? Baunya udah nyengak.”


“Di pantry tinggal ada yang rasa ini. Gak apa-apa, kan?”


“Gak apa-apa. makan pedes malah bisa bikin aku melek.”

__ADS_1


“Masih banyak banget kerjaannya, Mas?”


Prima mengangguk, ia mulai menyeruput mie ke dalam mulutnya.


“Ada yang bisa aku bantu?”


“Gak usah. Kamu istirahat aja. atau mau pulang lebih dulu juga gak apa-apa.”


Faya langsung menggelengkan kepalanya. “Aku mau nungguin mas aja. kita pulang bareng.”


Prima melirik jam tangannya. Sudah lewat jam 9 malam. Dan sebagian besar penghuni kantor sudah pulang sejak tadi.


“Ya udah, terserah kamu aja.”


Selesai makan, Prima kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara Faya memilih bersantai di sofa. Ia membuka-buka ponsel untuk melihat-lihat referensi gaun pernikahan. Mencari mana sekiranya yang sesuai dengan seleranya. Lama ia melakukan hal itu sampai tidak sadar kalau Prima sudah hampir lima menit berdiri di belakangnya. Ikut melihat kepada ponselnya.


Awalnya Prima penasaran ketika ia mengajak Faya bicara namun kekasihnya itu mengabaikannya. Akhirnya ia menghampiri dan mengintip saja.


“Ngapain lihatin itu? nanti gaunmu di bikinkan langsung sama designer.”


“Ya ampun. Mas. Bikin kaget aja kamu.” Faya menoleh ke belakang sambil mengelus dada. “Cuma nyari-nyari referensi aja.”


“Nanti kalau Mas Iwan udah ketemu keluargaku dan bahas hari pernikahan kita, kita langsung pergi ke butik. Bilang langsung sama designernya kamu pengen gaun yang kayak apa. Pasti di bikinin. Tenang aja, uang calon suamimu ini banyak. Mau semewah apapun gaunmu nanti, aku pasti sanggup bayar. Hehehehehehe.”


“Waaah. Ternyata begini ya enaknya punya calon suami konglomerat. Segalanya di siapin.” Seloroh Faya mengikuti candaan Prima.


“Hehehehehehe. Aku kedengeran sombongnya ya?”


“Banget.”


“Hihihi.” Prima jadi terkikik sendiri.



__ADS_1


sorry warga baru up sore ini. dari pagi udah gelud sama sinyal. tapi tetep aku yang kalah. jadi ya udah, aku ngalah. ini baru bisa.


selamat membaca. yang mau kondangan jangan lupa list di bawah yaaa. biar kita sewa mobil gerobaknya pak odok tetanggaku.


__ADS_2