One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 53. Semoga Tersinggung.


__ADS_3

Baru saja Faya meletakkan handuk di jemuran, ponselnya sudah berdering-dering tak henti-hentinya. Siapa lagi yang menelfonnya kalau bukan Prima.


“Ya, Pak. Ini saya baru selesai.” Ujar Faya.


Tak ada jawaban dari Prima. pria itu langsung menutup telfon begitu saja.


Astaga, bagaimana caranya untuk menahan diri agar ia tidak menendang Prima?


Selesai berpakaian, Faya langsung kembali ke apartemen Prima. ia tidak ingin kena marah lagi. Mengingat mood Prima sedang tidak baik saat ini.


Namun, baru saja ia membuka pintu, matanya sudah membola seketika melihat seseorang yang sedang berdiri di depan pintu.


Kirani. Kakak iparnya itu berdiri di depan rumahnya dengan tatapan nyalang penuh kemarahan.


Tubuh Faya mematung seketika. Hatinya nyeri seperti di tusuk bahkan hanya dengan melihat Kirani di depan matanya saja. Memang selama ini ia tidak pernah mau jika kakaknya menyuruhnya pulang. Hanya Iwan saja yang sesekali menjenguknya di sini. Dan sekarang ada Kirani? Bagaimana wanita itu tau tempat tinggal Faya? Padahal Faya sudah meminta Iwan untuk tidak memberitahu kepada kakak iparnya itu.


“Wahhh. Akhirnya. Ketemu juga kamu.” Dengus Kirani dengan tatapan remeh kepada Faya. Melihat Faya dari ujung kepala sampai kaki.


“Mbak Kiran kok bisa ada di sini?”


“Kenapa? Gak suka aku ada disini? Kamu itu masih punya hutang sama aku. Bajuku yang kamu rusak dulu belum kamu bayar, Fay. Enak aja main minggat sesuka hati.”


Ya ampun, ternyata Kirani masih mempermasalahkan hal itu. faya tau kalau itu Cuma akal-akalan Kirani saja. Karna wanita itu memang punya banyak sekali jalan untuk melancarkan modusnya.


Sungguh, Faya malas sekali berdebat saat ini. Ia lelah setelah mengurusi jadwal Prima yang batal dan akhirnya berantakan dan belum selesai ia susun kembali dan sekarang ia harus melihat Kirani yang sepertinya memang sengaja memancingnya. Ditambah dengan masalah pribadinya kepada bosnya itu yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapapun.


“Kamu gak nyuruh aku masuk, Fay?” sindir Kirani.


Rasanya sangat malas sekali menyuruh Kirani masuk ke dalam rumahnya.


“Kita bicara di luar aja, Mbak.” tawar Faya tanpa menunggu persetujuan. Ia langsung melangkah mendahului Kirani untuk keluar dari gedung dengan Kirani yang juga berjalan mengikutinya.

__ADS_1


Baru saja Faya melangkahkan kakinya, Prima sudah menyembul keluar dari apartemennya. Tapi, pria itu hanya melihat punggung kedua wanita itu saja.


“Mau kemana dia?” gumam Prima.


Faya terus berjalan mengajak Kirani ke taman samping apartemen. Sesampainya di sana, ia duduk di salah satu bangku taman sementara Kirani memilih untuk tetap berdiri sambil bersedekap di depan Faya. Dengan  tatapan yang terus menatap remeh kepada Kirani.


Faya mengeluarkan ponselnya setelah membuka apliaksi perbankan dan menyodorkannya kepada Kirani. Wanita itu memicingkan sebelah alisnya bingung.


“Tulis nomor rekening mbak Kiran sama jumlah uang yang mbak Kiran mau. Biar Fay transfer sekarang juga.” Ujar Faya dingin. Sungguh, ia sudah muak berurusan dengan Kirani.


Andai saja Iwan mendengarkan omongannya, pasti hubungan mereka sudah berakhir sejak lama. Tapi sayang, Iwan terlalu buta untuk melihat kebusukan istrinya itu. Dan alhasil, sampai sekarang, Faya belum berhasil membujuk kakaknya untuk berpisah dari Kirani.


Kirani tak bisa menyembunyikan wajah sumringahnya. Bahkan Faya bisa melihat ada sedikit senyuman samar yang terlihat dari bibir Kirani.


Setelah menuliskan nomor rekening dan jumlah uang yang di inginkannya, Kirani menyerahkan ponsel Faya kembali. Segera saja Faya mengirim uang yang di anggap hutang oleh Kirani.


20.000.000


“Uang itu gak sedikit, Mbak. jadi jangan kesini lagi, apalagi sampai minta uang lagi sama aku. Mbak Kiran udah kayak pengemis tau, gak.” Faya sengaja berkata sepedas mungkin. Ia ingin agar Kirani sedikit saja merasa tersinggung atas ucapannya. Tapi sayang, mata Kirani sedang hijau melihat jumlah uang yang banyak di rekeningnya. Jadi ia tidak mendengar apa yang di ucapkan oleh Faya. Boro-boro tersinggung, di dengar saja tidak.


“Banyak uangmu sekarang ya, Fay.” Nada suara Kirani berubah lembut. Tau begitu, ia meulis jumlah yang lebih banyak saja tadi.


Faya tidak menggubris. Ia justru membuang wajah jengah ke arah samping.


“Faya rasa itu udah cukup buat Mbak Kiran. Tolong jangan ganggu aku lagi, Mbak. atau aku bakalan paksa Mas Iwan buat pisah sama Mbak Kiran.” Ancam Faya.


“Hah. Kamu fikir kamu bisa buat kami pisah? Gak segampang itu, Fay. Kamu kan tau kalau Mas Iwan itu cinta mati sama aku. Kalau aku mau, aku bahkan bisa buat Mas Iwan buat putusin hubungan sama kamu.” Ganti Kirani yang mengancam.


“Kita lihat aja nanti. Siapa yang menang. Aku bakalan pastikan Mas Iwan cerein Mbak Kiran.”


“Hmh. Coba aja kalau bisa.” Tantang Kirani.

__ADS_1


Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Kirani pergi meninggalkan Faya dengan hati senang karna sudah mendapat uang. Ia tidak peduli jika ia di pandang tak tahu malu. Ia sudah membuang rasa malunya ke tempat sampah sejak dulu.


Sepeninggalkan Kirani, Faya masih tetap duduk di tempatnya. Hatinya terasa sangat nyeri sekali. Seperti di iris-iris oleh pisau.


Entahlah, mengingat kembali ucapannya tadi yang menginginkan perpisahan di antara Kirani dan Iwan, ia merasa menjadi adik paling jahat di dunia. Yang tega memisahkan suami dari istrinya.


Tapi kembali lagi, rasa sedih dan tak teganya melihat kondisi kakaknya membuat Faya harus menguatkan hati. Biar saja ia di anggap adik pembawa petaka untuk rumah tangga kakaknya. Yang jelas, ia sudah tidak bisa melihat Iwan terus bekerja keras banting tulang sampai terlewat batas untuk sekedar memenuhi gaya hidup mewah Kirani.


Faya terus terlarut dalam fiKirannya dan rasa sakit hatinya. Ia bahkan tidak merasakan saat satu persatu rintik hujan mulai turun. Saat air hujan jatuh ke atas kepalanya, ia malah mendongakkan wajahnya menatap langit. Merasakan perihnya tetesan hujan yang jatuh ke wajahnya.


Ia berharap, semoga hujan ini mampu melarutkan rasa bersalahnya atas Iwan dan Kirani. Ia berharap hujan akan mampu memberikannya kekuatan untuk melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin ia lakukan.


Detik berganti, dan tetesan hujan semakin deras turun. Faya semakin menikmati rasa perih yang di akibatkan oleh hujan. Entah kenapa itu menenangkan untuknya. Sampai, tetesan itu berhenti menerpa wajahnya dan ia membuka mata.


Di atasnya, kini sudah ada sebuah payung berwarna kuning yang terbentang. Ia bisa melihat sebuah tangan yang sedang memegangi payung tersebut. Seketika Faya membenahi duduknya dan menoleh ke belakang. Disana, Prima sedang menatapnya tanpa ekspresi. Datar.


“Pak?” Faya jadi salah tingkah. Ia berdiri menghadap Prima. hanya di pisahkan oleh bangku taman.


“Jadi yang kamu bilang mau mandi itu, ini? Mandi hujan maksudmu?” ujar Prima.


“Maaf, Pak.”


“Ayo, masuk. Mau sampai kapan kamu hujan-hujanan begitu?”


Mendapat ajakan begitu membuat Faya langsung bergerak. Berjalan di samping Prima di bawah satu payung.




kirani ini enaknya di apain ya warga? di rajam bisa kali yaa??

__ADS_1


__ADS_2