
Pagi-pagi sekali Faya sudah tiba di kantor. Bahkan ia datang lebih dulu daripada Prima. Sesampainya dikantor, ia segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk bosnya itu. Dan setelah Prima datang, ia segera membuatkan kopi dan mengantarkannya ke dalam ruangan Prima.
“Ehm, Pak.” Lirih Faya.
“Kenapa?”
“Hari ini, boleh saya pulang cepat?”
“Kenapa? Mau kencan?”
“Kok kencan sih, Pak. Bukan, Pak. Saya mau belajar nyetir. Mumpung ada yang ngajarin.”
“Mumpung? Siapa yang mau ngajarin kamu nyetir?”
“Harvey, Pak.”
“Kayaknya kamu deket banget sama dia.”
“Dia itu temen SMP saya, Pak. Kemarin itu saya minta dia buat ngajarin saya nyetir. Kata Bapak biar bisa ngantarin Bapak kemana-mana.” Rayu Faya. Ia berharap Prima akan mengijinkannya.
Lancang memang. Karna belum ada satu bulan Faya bekerja dan sudah berani meminta ijin pulang lebih awal. Bisa saja resikonya dia malah di pecat sekalian.
Prima nampak berfikir sebentar. Memandangi Faya seolah sedang mencari kejujuran dari netra gadis itu.
“Ya udah. Kamu boleh pergi sekarang aja. Hari ini kamu gak usah masuk. Nanti biar saya yang bilang sama Paman Ariga.” Luluh Prima. Ia kembali berkutat dengan berkas-berkas di atas mejanya yang sudah di susun rapi oleh Faya.
“Beneran, Pak? Saya boleh ijin hari ini?” Faya sangat antusias.
Melihat Prima mengangguk membuat Faya girang bukan main. Ia sampai melompat-lompat kegirangan. Untung dia segera sadar dan segera memperbaiki sikapnya. Menyelipkan rambutnya yang tercecer ke belakang telinga.
“Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu.” Pamit Faya dengan senyuman lebar. Sementara Prima mengernyit melihat rambut Faya yang bergoyang seiring langkah gadis itu meninggalkan ruangannya.
Sesampainya di meja kerjanya, Faya segera menghubungi Harvey. Ia mengubah janji yang awalnya sore menjadi pagi ini. Dan untungnya Harvey tidak keberatan dengan perubahan rencana yang mendadak itu.
“Kalau gitu aku jemput di kantormu, ya.” Ujar Harvey yang langsung di setujui oleh Faya.
__ADS_1
“Oke.”
Setengah jam menunggu di depan kantor, akhirnya sebuah mobil sport berhenti di depannya. Harvey nenurunkan kaca mobilnya dan menyuruh Faya untuk masuk ke dalam.
“Masuk.”
Faya segera masuk dan duduk manis. Senyumnya terus mengembang pertanda dia sedang senang bukan main.
“Kita belajarnya di lapangan aja ya, Fay.” Ujar Harvey.
“Terserah kamu, Harv. Aku gak begitu faham soalnya. Hehehehe.”
“Oke. Jalan!” pekik Harvey yang kemudian langsung melajukan mobilnya kembali.
Hampir setengah jam perjalanan dan mereka akhirnya tiba di sebuah lapangan yang biasanya di pakai untuk latihan mengemudi. Setelah sampai, Harvey menghentikan mobilnya dan meminta Faya berpindah ke mobil biasa.
“Pertama pakai ini dulu biar gak bingung.”
Faya mengangguk mengerti.
Faya menarik nafas perlahan untuk menenangkan dirinya. Kemudian ia mulai menginjak pedal gas pelan sampai mobil terasa melaju perlahan.
“Oh, bagus-bagus. Nah, gitu. Pelan-pelan aja dulu.” Ujar Harvey dengan tangan standby di rem tangan. Berjaga-jaga jika Faya terlalu kuat menginjak gas.
Dan benar saja, saking groginya, Faya tanpa sadar telah menginjak gas terlalu dalam. Mobil yang tiba-tiba melaju kencang membuat Faya terkejut dan panik dan malah semakin dalam menginjak rem hingga mobil melaju tak terkendali. Untungnya Harvey segera menarik rem tangan hingga mobil berhenti tepat sebelum mobil menabrak pembatas ban di ujung lapangan.
Saking paniknya mendengar teriakan Faya, Harvey sampai merubah posisinya ke hadapan tubuh Faya untuk melindungi gadis itu. Ia mencengkeram kursi kemudi dan wajahnya tepat berada beberapa centi dari wajah Faya. Sementara gadis itu sedang memejamkan matanya kuat-kuat. Dalam benaknya dia sudah menabrak sesuatu.
“Kamu gak apa-apa?” tanya Harvey tanpa mengalihkan tubuhnya.
Jantung Faya hampir copot. Bukan saja karna ia nyaris kecelakaan, tapi karna wajah Harvey berada begitu dekat tepat saat dia membuka mata. Nafas pria itu bahkan terasa berhembus di wajahnya.
“Fay? Kamu gak apa-apa? Kamu luka?” Harvey mengulangi pertanyaannya.
“Oh, aku gak apa-apa.” Faya terkesiap saat kesadarannya kembali. Ia menggeser tubuhnya hingga membuat Harvey tersadar akan posisinya sekarang ini.
__ADS_1
Harvey segera mengalihkan tubuhnya dan kembali ke posisi duduknya semula. Wajahnya sudah memerah semu dan ia berusaha untuk menetralkan keadaan.
“Maaf. Kita hampir aja kecelakaan.” Sesal Faya.
“Gak apa-apa. Wajar itu. Kamu tenangin diri aja dulu. Aku mau beli minuman buat kamu.” Ujar Harvey yang kemudian turun dari mobil di susul oleh Faya.
Faya duduk di pembatas taman begitu saja. Tidak peduli jika pakaiannya akan kotor terkena tanah. Melihat ke arah Harvey yang berlari kecil di depannya.
Beberapa saat, Harvey sudah kembali dengan membawa dua botol minuman isotonik di tangannya. Ia membuka satu dan memberikannya kepada Faya.
“Makasih.” Faya menerimanya dan langsung menenggaknya hingga setengah. Begitu juga dengan Harvey, dia duduk di sebelah Faya.
“Ngelihat orang-orang itu kok gampang banget ya nyetir mobil. Ternyata gak segampang yang aku kira.” Keluh Faya.
“Pertama-tama emang gitu. Namanya juga lagi belajar, Fay. Gak ada orang yang langsung mahir nyetir. Mereka pasti belajar dulu. Kenapa Pak Prima repot-repot nyuruh kamu belajar nyetir, sih?”
“Katanya biar bisa nganterin dia kemana-mana. Soalnya mobilnya itu kayak punya kamu itu. Jadi gak bisa bawa supir. Dengan terpaksa aku belajar nyupir biar pekerjaanku aman.”
“Kan bisa dia beli mobil sedan atau SUV. Jadi bisa nyuruh orang lain nyupirin. Kenapa harus kamu?”
“Iya juga, ya? Kok aku gak kefikiran kesana? Ya walaupun bener, tapinya aku mana berani bantah begitu sama Pak Prima, Harv. Bisa-bisa malah aku di pecat beneran.”
“Hehehehe. Iya juga sih. Ya udah. Tenang aja. Aku bakalan ngajarin kamu sampai bisa.”
“Uluh, uluh. Untung ada kamu. Nanti aku traktir kamu makan enak kalau aku udah nerima gaji pertamaku.”
“Gak perlu segitunya.”
“Hehehe. Iya, ya. Kamu udah makan enak tiap hari. Secara kan kamu artis. Ya udah, gini aja. Aku bakalan kabulin satu permintaanmu sebagai bentuk rasa terimakasihku.”
“Kamu ini. Udah kayak jin botol aja pake ngabulin permintaan segala. Tapi okelah. Gak ada salahnya juga. Awas kalau ingkar.” Ancam Harvey sambil memasang wajah serius.
“Yeee. Tenang aja. Aku gak bakalan ingkar janji. Kamu udah banyak bantu aku gini, masak iya aku gak tau diri. Hahahahaha.”
Dan pelajaran mengemudi itu berlanjut sampai sore. Saat Faya memaksa untuk berhenti karna merasa tidak enak hati kepada Harvey, tapi pria itu bersikeras mengajari sampai Faya sedikit bisa menguasai mobil yang di kemudikannya.
__ADS_1
Harvey tidak merasa keberatan sama sekali saat Faya menyita waktu liburnya. Ia malah senang bisa menghabiskan waktu bersama dengan temannya itu.