One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 87. Berharap Salah.


__ADS_3

Faya masih betah mengobrol dengan Harvey di cafe. Posisi duduk mereka yang di dekat jendela membuat keduanya bisa melihat keluar ketika ada sebuah mobil yang berhenti di depan gedung.


Prima turun dengan gagahnya dari dalam mobil dan langsung mengedarkan pandangannya.


“Wahhh. Lihat itu pesonanya. Pantesan aja kamu klepek-klepek sama dia, Fay.” Seloroh Harvey sambil terkikik.


“Jangan terpesona, Harv. Dia punyaku.” Balas Faya kemudian sambil terkikik juga.


“Hahahha. Sana. Temuin cowokmu itu.”


“Kamu gak ikut?”


“Nanti di tonjok.”


“Gak, lah. Ayo.”


Harvey nampak tersenyum kemudian mengangguk. Ia mengikuti Faya yang berdiri dari duduknya dan mereka berdua berjalan bersamaan keluar dari cafe.


Raut wajah tidak suka jelas tergambar di wajah Prima begitu melihat kekasihnya keluar bersama dengan Harvey. Sorot mata tajamnya langsung tertuju kepada Harvey.


“Lepas mata lo nanti, Prim.” Ujar Harvey dengan santainya.


“Kamu gak apa-apa kan sayang?” tanya Prima. ia sengaja menekankan kata ‘sayang’ sambil melirik kepada Harvey. Sepertinya Prima sengaja memanas-manasi rivalnya itu. terlebih ia menarik pinggang Faya sampai mepet padanya.


Faya merasa canggung luar bisa. Sikap Prima itu di nilai berlebihan.


“Memangnya aku bakalan nyakitin dia. Segitunya lo.” Sindir Harvey.


Prima tidak menggubris ucapan Harvey. “Ya kali aja.” selorohnya santai.


“Udah selesai kan ngobrolnya. Kita pulang sekarang?” ajak Prima.


Faya hanya bisa tersenyum dengan canggung kepada Harvey. Sungguh, sikap Prima itu terlihat sangat aneh baginya. Namun, ia tidak berani untuk membantah. Ia hanya menganggukkan kepala saja kepada kekasihnya itu.


“Kami balik dulu ya, Harv. Makasih waktunya.” Ujar Faya sebelum mereka masuk ke dalam mobil.


Harvey mengangguk dan tersenyum. Mengantarkan kepergian Faya dengan hati yang sakit. Seberapapun dia ikhlas, hatinya tetap tidak bisa melakukan itu. hatinya tetap mencelos melihat Faya pergi dengan pria yang di pilihnya.


Di mobil, Faya masih belum memulai pembicaraan. Begitu juga dengan Prima. pria itu tetap fokus ke depan. Lebih tepatnya, berusaha untuk fokus.


Dalam benaknya, Prima sedang menyesal karna bersikap berlebihan. Ia takut Faya marah padanya. Tapi lagi, ia masih kesulitan untuk mengontrol rasa cemburunya itu.


“Maaf, sayang.” Ujar Prima yang akhirnya membuka percakapan.


“Kenapa minta maaf?”

__ADS_1


“Maaf kalau sikapmu tadi berlebihan.”


“Aku ngerti kok, Mas. Sebesar itu rasa cemburumu, berarti sebesar itu juga sayangmu ke aku. Tapi, bisa gak sih, cemburunya itu di kurangin. Aku yang jadi gak enak sama Harvey Mas. Apalagi sekarang urusan kamiudah selesai. Jadi, Mas gak perlu lagi cemburu-cemburu kayak gitu.”


“Hehehhe. Maaf.”


“Tapi, bukannya Mas ada rapat penting ya, udah selesai emangnya?”


“Udah. Kalau belum mana berani aku pergi. Bisa di gantung aku sama Papa. Hahaha.”


“Masak sih?”


“Becanda. Mau langsung pulang atau gimana?”


“Makan siang dulu, yuk.”


“Boleh. Makan di hotel, mau?”


“Oke.”


Keduanya sepakat untuk makan siang di hotel milik FD Corp yang makanannya terkenal enak. Dan Prima mengakui itu.


Itu hanya makan siang biasa, tapi tidak bagi Prima. Entah kenapa hatinya lebih berbunga-bunga daripada sebelumnya. Senyumnya terus mengembang di bibirnya dengan sesekali melihat gadisnya yang duduk di hadapannya.


Ada hal yang membahagiakan Prima. Mengetahui kenyataan kalau urusan antara Faya dan Harvey sudah selesai, ia lega sekaligus senang. Itulah yang membuatnya terus mengembangkan senyuman.


“Ehm, belum tau, Mas. Senin depan, mungkin. Jatah cutiku kan masih banyak. Aku mau habisin jatah cutiku dulu. Mau ajak jalan-jalan Mas Iwan.”


“Oh iya. Kenalin dong, sama Mas Iwan.”


“Nanti, ya. Soalnya dia masih kerja. Katanya besok pulang. Besok aku kenalin kalian.”


“Kalau gak salah, dia kerja jadi supir lintas, ya?”


Faya mengangguk. “Iya. Makanya jarang pulang.”


“Ooh.”


“Udah, yuk. Aku mau pulang. Barang-barangku belum selesai di beresin.” Ajak Faya.


“Ya udah. Aku antar kamu pulang abis itu aku balik kantor lagi.”


Setelah Prima membayar, keduanya lantas berjalan keluar dari restoran. Saat di loby, mata Faya seperti sedang menangkap sesuatu sampai iamenghentikan langkahnya seketika. Seseorang yang dia kenal sedang berjalan tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


“Kenapa, Fay?”

__ADS_1


“Itu, kayak Mbak Kiran.” Gumam Faya.


“Mbak Kiran? Siapa?” tanya Prima.


“Istrinya Mas Iwan.” Jawab Faya dengan tatapan yang terus mengekori arah punggung Kirani menghilang. Dia yakin, kalau itu adalah Kirani. Tapi, siapa yang sedang di gandeng mesra oleh wanita itu? ia yakin itu bukan kakaknya.


“Mas, bentar, ya.” Pamit Faya yang langsung pergi meninggalkan Prima begitu saja untuk mengikutik wanita yang dia kira Kirani.


Prima hanya menghela nafas saja ketika tidak berhasil menghentikan kekasihnya. Ia juga memilih untuk mengikuti kemana Faya pergi.


“Fay, tunggu. Kamu mau kemana?” akhrinya Prima berhasil meraih lengan Faya saat gadis itu hendak masuk ke dalam lift.


“Aku harus ngikutin dia, Mas. Perasaanku gak enak.”


“Kamu yakin itu dia?”


“Iya, aku yakin banget.”


“Kita tanya dulu ke resepsionis buat mastiin. Daripada kamu salah orang.” Saran Prima.


Benar apa yang di sarankan oleh Prima. Faya merasa ia terlalu gegabah. Ia bahkan tidak melihat wajah wanita itu dengan jelas tapi sudah menyimpulkan kalau itu adalah Kirani. Untung saja Prima segera menghentikannya. Kalau tidak, bisa kacau urusannya kalau ternyata wanita itu bukan Kirani.


“Ayo.” Ajak Prima kemudian. Mereka pergi ke meja resepsionis hotel.


Para pegawai hotel yang memang sudah mengenal Prima dan Faya, langsung menyambut mereka dengan baik.


“Pak Prima. Ada yang bisa kami bantu, Pak?” tanya pegawai pria.


“Bisa minta tolong?” tanya Prima. karna yang akan dia minta ini akan melanggar peraturan tentang privasi tamu hotel.


“Minta tolong apa, Pak?”


“Saya mau cek CCTV hotel sebentar.” Ujar Prima.


Apa yang di lakukan Prima ini merupakan sebuah pelanggaran. Hal yang baru pertama kali ini ia lakukan. Menggunakan posisinya untuk meminta informasi terkait masalah pribadi, bukan pekerjaan.


“Di loby aja, Pak?” tanya pegawai itu dengan raut wajah tidak enak.


Prima tau, kalau sikapnya itu bisa menempatkan posisi si pegawai sulit. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Ia hanya ingin Faya memastikan saja.


“Sebentar aja.” Faya ikut menimpali.


Dan akhirnya mereka di perbolehkan melihat rekaman CCTV loby walaupun raut wajah pegawai itu nampak sangat tidak nyaman.


“Tenang aja. Saya akan tanggung jawab penuh sama kalian. Saya jamin gak akan ada masalah buat kalian.” Janji Prima kemudian.

__ADS_1


Setelah mendengar janji itu, barulah wajah kedua pegawai itu nampak lebih santai dari sebelumnya.


Faya memperhatikan layar komputer dengan serius. Ia menajamkan indra penglihatannya untuk memperhatikan. Seketika dadanya bergemuruh hebat kala mengetahui kalau wanita itu benar-benar adalah Kirani.


__ADS_2