One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 89. Setiap Orang Punya Dua Topeng Atau Lebih.


__ADS_3

Gerimis sedang mengguyur langit Ibukota siang ini. Membuat jalanan basah dan becek. Di beberapa tempat juga nampak genangan air akibat hujan.


Langit sedang pias. Sama halnya seperti hati Faya saat ini. Pandnagan matanya lurus tertuju ke arah depan. Menanti dengan harap-harap cemas kepada seseorang. Tak henti-hentinya ia meremas jemarinya sendiri untuk menyampingkan rasa cemasnya.


“Fay, duduk di dalam aja yuk. di sini dingin. Kena hujan.” Suara lirih Prima bahkan tidak membuat gadis itu menoleh kepada kekasihnya.


Mereka sedang ada di depan lobi gedung apartemen dan sedang menunggu kedatangan Iwan. Siang ini, Iwan akan datang ke rumah Faya. Gadis itu yang memintanya kemarin. Ia melarang Iwan untuk pulang ke rumah lebih dulu.


Faya mengusap kedua lengannya akibat hembusan udara dingin yang menerpanya. Prima yang juga sedang berdiri di sampingnya mengetahui hal itu dan segera meraup kedua bahu kekasihnya dan memaksanya untuk masuk ke dalam gedung.


“Duduk di sini aja. Nanti juga kelihatan kalau Mas Iwan udah sampe.” Paksa Prima dengan tatapan tegasnya.


Faya tidak lagi memberontak. Ia hanya menuruti permintaan Prima dengan patuh. Duduk di sofa dengan pandangan yang tak pernah beralih dari jendela.


“Gimana ya caranya ngomong sama Mas Iwan, Mas? Aku gak tega nyakitin dia.”


“Simpan rasa gak tegamu itu. Kasihan Mas Iwan kalau kamu gak ngasih tau sekarang. Lagian dia juga bakalan tau nanti. Lebih baik cepat di kasih tau.”


“Entah apa kurangnya dari Mas Iwan sampai istrinya tega berbuat begitu. Padahal Mas Iwan gak pernah kurang banting tulang peras keringat cuma buat istrinya. Tapi malah istrinya selingkuh bahkan sampai nyabu. Ya ampun. Aku sama sekali gak pernah kefikrian sampai kesana.”


“Memang setiap manusia itu pasti punya dua wajah atau bahkan lebih. Aku juga gitu. Kamu juga pasti begitu. Gitu juga sama Mbak Kiran. Topeng yang nyimpen sifat buruknya baru ketahuan sekarang. Selama ini dia pakai topeng yang manis. Jadi gak usah terlalu di fikirkan, Fay.”


Faya terdiam. Ia memang tidak menatap Prima selaku lawan bicaranya. Ia hanya menatap ke luar jendela namun telinganya tetap fokus mendengarkan suara Prima.


Dalam hati, ia membenarkan kalimat Prima. bahkan dirinya sendiripun punya topeng lain yang masih ia sembunyikan dari orang lain. Termasuk Prima. Itu adalah bagian dirinya yang tidak ingin ia ungkap kepada siapapun.


Bahwa sebenarnya, ia adalah gadis yang lemah. Yang sering menangis hanya untuk masalah sepele saja. Ia mudah tersinggung tapi hanya bisa memendamnya dan akan meluapkannya dengan menangis sendirian di dalam kamar.


Mata Faya membola melihat sebuah taksi yang berhenti tepat di depan loby. Tidak lama kemudian, turunlah seorang pria jakung yang bertubuh kurus serta berkulit hitam. Mengenakan kemeja abu-abu yang tidak terkancing hingga menampakkan kaus singlet yang sudah berubah warna menjadi kekuningan.

__ADS_1


Melihat kedatangan kakaknya, Faya segera bangun dari duduknya dan berlari keluar dari loby. Sementara Prima mengikutinya di belakang.


“Mas...” lirih Faya yang sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Ia menghambur ke pelukan kakaknya itu dan memeluknya dengan sangat erat sekali. Ia menangis di pelukan Iwan.


“Ya ampun, kangen banget apa sampai nangis begini?” tanya Iwan yang memang masih belum tau alasan kenapa Faya menangis.


“Gimana kabar Mas? Kok makin kurus begini, sih?” Faya melayangkan protesnya setelah melepaskan pelukannya.


“Yang penting sehat, Fay.”


“Jam berapa Mas sampe?”


“Tadi jam 10. Istirahat dulu tadi sebentar di P.O. baru kesini.” Jawab Iwan. Ia memperhatikan wajah adiknya dengan seksama. Lalu tersenyum penuh arti. “Ini, siapa?” tanya Iwan melihat kepada Prima yang mengangguk ramah dan tersenyum padanya.


“Oh, ini Pak Prima, Mas. Boss aku di kantor.”


Prima merangsek maju sambil mengulurkan tangan. Segera di sambut oleh Iwan.


“Saya Prima, Mas. Atasan sekaligus pacarnya.”.


Faya sontak ternganga mendengarnya. Tidak menduga kalau Prima akan memperkenalkan dirinya sebagai kekasihnya.


“Pacar?” Iwan nampak tidak yakin dengan apa yang dia dengar. Ia menarik tangannya kemudian menoleh kepada adiknya. Meminta penjelasan lewat tatapan.


Sementara wajah Faya sudah memerah. Ia meringis sambil menganggukkan kepalanya pelan.


“Waduh, paket komplit ya, Fay.” Seloroh Iwan akhirnya. Ia mengerlingkan sebelah matanya kepada Faya.


“Kita ke atas aja yuk, Mas. Disini dingin.” Ajak Faya kemudian. Mereka lantas pergi ke apartemen Faya.

__ADS_1


Iwan sudah duduk manis di sofa. Bersebelahan dengan Prima. Sementara Faya sedang membuatkan minuman untuk keduanya. Setelah selesai, ia meghidangkan minuman untuk mereka.


Awalnya Prima menolak untuk ikut masuk ke dalam rumah Faya. Karna ia berfikir adik dan kakak itu sedang membutuhkan waktu berdua untuk membicarakan masalah yang terjadi. Tapi, Iwan memaksanya untuk ikut masuk ke dalam rumah Faya. Jadi ia terpaksa ikut. Ia akan keluar nanti setelah beberapa waktu.


“Mas, ngapain sih ngelihatin pacar aku sampai segitunya?” Faya protes ketika mengetahui kalau Iwan sedang memperhatikan Prima dengan seksama.


“Ganteng pacarmu, Fay.” Seloroh Iwan.


“Mas, dia punyaku ya.” Seloroh Faya dengan nada pura-pura tegas dan kesal.


“Karna dia punyamu, makanya Mas mau mastiin sesuatu.”


“Mastiin apa?” Faya merasa curiga dengan gelagat Iwan.


Iwan mengalihkan wajahnya kepada Prima. Menatap kekasih adiknya itu dengan tatapan menyelidik.


“Karna sekarang kita lagi gak di kantor, jadi aku bakalan bicara santai sama kamu. Boleh ya Prima?”


“Boleh, Mas. Boleh banget.” Nampak Prima yang sudah gugup sejak tadi. Rasanya aneh. Seperti sedang di sidang oleh calon mertua.


“Seserius apa kamu sama adekku?” sebuah kalimat pertanyaan yang sebenarnya terdengar biasa dan sepele bagi orang lain. Tapi tidak begitu di telinga Prima.


Ia merasa kalau pertanyaan itu adalah sesuatu yang amat sangat penting bagi kelanjutan hubungannya dengan Faya. Jadi, dia harus menjawabnya dengan hati-hati. Jawaban yang pasti membuat Iwan selaku satu-satunya keluarga Faya merasa puas dengan jawabannya.


Sementara Faya hanya diam saja. Duduk lesehan di meja sambil menatap dua pria di depannya itu secara bergantian. Tidak sabar juga ia mendengar jawaban Prima.


“Seserius aku mau nikahin Faya, Mas. Aku mau Faya jadi istriku. Aku mau menjalani rumah tangga sama dia sampai mati. Seserius itu perasaanku sama dia, Mas.” Jawab Prima yakin.


Iwan hanya diam saja. Ia mengalihkan pandangannya kepada Faya. Menatap dalam penuh arti kepada adik yang sangat dia sayangi itu. ada rasa berat hati yang di rasakan oleh Iwan. Perasaan berat untuk melepas satu-satunya adik kesayangannya kedalam pelukan pria lain yang mungkin lebih mencintai Faya di banding dirinya. Rasa berat karna harus menyerahkan tanggung jawab Faya kepada Prima. Padahal, Faya belum mengkonfirmasi apapun perihal kelanjutan hubungan mereka. Tapi ia sudah tau, kalau mereka berdua sudah sama-sama serius untuk membangun komitmen bersama.

__ADS_1


__ADS_2