
Butuh waktu hampir satu jam untuk Faya menenangkan diri di dalam toilet sebelum ia memeranikan diri keluar dari sana setelah tak ada orang sama sekali.
Sementara Prima, ia sedang mencari Faya tapi gadis itu tak ada di mejanya. Ia mencoba menghubungi Faya, namun ponsel gadis itu di tinggal di mejanya.
“Kemana dia?” gumam Prima khawatir.
Bukan apa, kondisi Faya sepertinya belum pulih benar. Dan setelah ia fikir-fikir, ia akan menjelaskan sekarang saja daripada nanti urusannya jadi lebih panjang. Kasihan Faya juga. Tapi setelah ia berkeliling, tetap tak menemui keberadaan Faya. Sampai ia mendengar sebuah keributan kecil di pastry.
Beberapa karyawan sedang bergosip ria tentang seseorang. Prima menajamkan pendengarannya karna merasa tertarik. Dan ia membelalakkan mata saat mendengar kalau mereka sedang membicarakan Faya yang di kabarkan sedang hamil di luar nikah.
Berbagai macam cerita buruk muncul tentang Faya. Dan cerita itu sudah barang tentu di tambah-tambahi. Di bilang Faya hamil dengan om-om, lah. Faya jadi sugar baby, lah. Faya jadi selingkuhan, lah. Semakin menjadi saja cerita mereka itu.
Semakin lama, Prima semakin tidak tahan mendengar Faya di jelek-jelekkan seperti itu. Tangannya mengepal tanpa sadar dan ia langsung merangsek maju ke dalam pastry.
“Kalian dengar dari siapa kalau Faya hamil di luar nikah?” pertanyaan dari Prima itu langsung membuat para karyawan yang sedang bergosip dia seketika. Mengatupkan mulut mereka rapat-rapat.
“Kalian gak denger aku tanya?” tegas Prima sambil melotot dan menaikkan nada suaranya.
“Ehm, itu, Pak. Dari orang-orang.”
“Orang-orang siapa? Apa orang itu lihat langsung?”
Mereka kembali terdiam.
“Banyak orang kantor yang bilang, Pak. Kami gak tau awalnya dari siapa. Kami juga Cuma dengar-dengar.”
Tentu saja jawaban itu semakin membuat Prima berang.
“Kalian di gaji bukan buat ngurusin kehidupan pribadi orang lain. Kerja yang bener. Gak usah ngurusin kehidupan orang lain.”
Priam terkesan membela Faya. Begitulah yang di fikrian oleh mereka. Tapi Prima tidak peduli. Disini, dia bosnya.
“Jadi dimana Faya sekarang?”
Mereka kompak menggelengkan kepala. “Kami gak tau, Pak.”
__ADS_1
“Huh!” Prima mendengus secara kasar. Ia sengaja melakukan itu agar mereka diam.
Prima keluar dari pantry dan kembali untuk mencari keberadaan Faya.
Sementara itu di sebuah ruangan rapat. Nampak dua orang gadis sedang saling tatap dengan tajam. Salah satu diantara mereka menyilangkan tangan di depan dada dan menatap dengan congkaknya.
“Apa bener Mbak Sora yang nyebarin berita itu?” tanya Faya.
Soraya diam. Ia terus melihat remeh kepada Faya. Baru kali ini Faya melihat sikap aneh dari Soraya. Ia seperti sedang melihat orang lain. Yang di depannya itu, seperti bukan Soraya saja. Ia tidak mengenali tatapan remeh itu. Ia juga tidak mengenali sikap congkak itu sebagai milik Soraya.
“Kan memang bener. Kamu udah hamil di luar nikah. Sama Pak Prima. masih untung aku gak bawa-bawa Pak Prima di sini.” jelas Soraya.
“Mbak!”
“Apa?!”
“Apa memang selama ini seperti inilah Mbak Sora? Kemana sikap baik mbak Sora yang selama ini aku kenal?”
“Dari dulu juga aku begini kali, Fay. Kamu aja yang terlalu lebay. Di baikin dikit aja langsung luluh. Aku mau jujur ya. Aku deketin kamu itu Cuma biar bisa deketin Pak Prima. gak usah pura-pura bodoh deh. Gak usah bilang kamu gak tau kalau aku suka sama Pak Prima.”
“Aku yang udah bertahun-tahun suka sama Pak Prima dan seenaknya aja kamu yang tidur sama dia? Apa? Mabuk? Alasan konyol. Kamu sama rendahnya kayak pelac*r, Fay. Tau? Menggoda bos sendiri.”
Plak!
Faya menampar pipi Soraya dengan sangat kuat. Dia tak bisa mengendalikan emosinya kali ini. Ia ingin melakukan lebih kepada Soraya, namun ia masih teringat kebaikan wanita itu padanya selama ini. Walaupun ternyata itu hanyalah sebuah topeng.
Soraya balik menatap Faya dengan tajam. Tidak terima mendapat tamparan itu di pipinya
“Jaga mulut Mbak Sora. Kalau gak tau apa yang sebenarnya terjadi.”
“Kan kamu sendiri yang udah cerita sama aku. Aku gak ragu karna sumbernya sendiri yang bilang. Jadi aku Cuma cerita apa adanya. Aku kan gak bohong orang aku denger dari kamu sendiri. Memang kamu hamil di luar nikah, kok. Gak usah ngelak, Fay. Semua orang udah tau sifat menjijikkan kamu itu.”
“Pergi, Mbak. Sebelum aku banting Mbak disini.” Gumam Faya namun jelas. Dia serius dengan ucapannya. Ia menyuruh Soraya pergi sebelum kesabarannya benar-benar habis.
“Ch! Dasar gak tau diri. “ maki Soraya sebelum ia melangkah meninggalkan ruang rapat. Masih dengan congkaknya.
__ADS_1
Sepeninggal Soraya, tubuh Faya ambruk. Ia terjongkok di lantai. Memeluk lututnya sendiri dan menenggelamkan wajahnya di sana.
Sungguh, sakit sekali rasanya di hianati oleh orang yang paling ia percaya. Hal yang tak pernah ia duga kalau ternyata seorang Soraya menyimpan sebuah duri beracun di hati dan lidahnya. Seketika ia menyesal karna telah menceritakan aibnya kepada wanita itu.
Tapi semua itu sudah terlanjur. Ia tak bisa mengembalikan waktu seperti semula. Ia juga tak bisa membungkam mulut semua orang dengan lakban atau sejenisnya. Yang bisa ia lakukan adalah, meratapi penyesalan yang sudah tak berarti.
Salahnya telah memilih orang yang salah untuk bercerita. Salahnya ia terlalu mempercayai Soraya yang ia anggap orang yang teramat baik. Sehingga ia bahkan rela menceritakan aibnya sendiri dengan sukarela.
Sekarang, ia harus bagaimana? Ia terlalu malu untuk keluar dari ruangan ini. Ia tak kuat menghadapi penghakiman dari tatapan orang-orang itu. Itu sungguh melukai hatinya dan meruntuhkan kepercayaan dirinya.
Ini semua karna Prima.
Tidak.
Ini karna dirinya sendiri yang tidak bisa menahan diri terhadap bosnya itu. Kalau difikir-fikir, Prima adalah korban di sini.
Dia yang memulai semuanya. Dia yang pertama mencium bibir Prima. dan... dan...
Sekarang dia harus apa? Harus bagaimana? Apa yang bisa dia lakukan? Benarkah telah tumbuh janin di dalam perutnya?
Faya semakin tergugu dengan masih memeluk lututnya. Ia berharap bisa menghilang dan berpindah tempat saja. Walaupun itu sangat mustahil sekali terjadi.
Berbagai macam fikiran sedang berkecamuk di dalam kepalanya. Belum hilang kecewanya karna Prima tak acuh padanya. Sekarang mendapati orang yang paling dia percaya ternyata telah menghianatinya.
Airmata Faya tak mau berhenti walaupun ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menghentikannya. Walaupun air mata sudah mengalir sedemikian banyak, namun dada Faya masih terasa pengap dan sesak. Seperti ada timbunan batu di atas dadanya.
Ternyata, sejak awal tak ada siapapun di sampingnya. Perhatian dan kebaikan Soraya padanya hanyalan kepura-puraan saja demi memanfaatkannya.
Sejak awal, dia hanya sendiri. berjuang sendiri. tanpa siapapun yang benar-benar bisa ia percayai.
hei kalian, inget yaaa, hati-hati kalau mau cerita sesuatu sama orang, karna rambut sama hitam, tapi hati tidak ada yang tahu.
__ADS_1
apa di sekitar kalian juga ada jin kayak soraya ini? kalau otor sih, banyakkkkkkkkk.