One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 6. Hari Pertama Yang Buruk Dan Melelahkan.


__ADS_3

Ting!


Lift terbuka. Mereka yang menunggu segera masuk ke dalamnya. Di dalam, mereka melanjutkan obrolan mereka kembali.


“Semoga kamu betah, ya Faya. Soalnya, Pak Prima itu atasan paling sulit di sini. Sukanya ngerjain sekretarisnya sendiri.” Ujar Arini menimpali.


Ya, Faya tau. Ia sudah merasakan lengketnya pemen karet yang fresh dari dalam mulut Prima. Mengingatnya saja, iyuh.


Mereka semua berpisah setelah keluar dari lift. Faya berjalan ke arah luar gedung. Begitu juga dengan Soraya.


“Lho, Mbak Soraya mau keluar juga?” Tanya Faya. Entah kenapa ia merasa bisa akrab dengan manajer HRD itu. Mungkin karna memang sosok Soraya merupakan wanita yang ramah. Aura keramahannya bahkan bisa di rasakan oleh semua orang.


“Iya. Mau makan siang. Kan ini udah waktunya makan siang. Kamu mau kemana?”


“Oh, ini. Saya di suruh kesini sama Pak Prima.” Faya menunjukkan kertas berisi alamat restoran kepada Soraya.


“Oh, kebetulan banget. Aku juga biasa makan siang di sini. Kita jalan bareng aja yuk kesana.” Ajak Soraya sambil mencurahkan sebuah senyuman hingga lesung pipinya terlihat.


Sikap Soraya sangat hangat, wanita itu sama sekali tidak menunjukkan status pekerjaan saat bersama dengan Faya. Dengan siapapun. Memang dasarnya dia ramah.


“Semoga kamu betah ya kerja sama Pak Prima. Memang kalau awal, dia suka banget ngerjain orang. Tapi kalau kamu bertahan, terus udah kenal dia dengan baik, dia gak seburuk itu, kok. Pak Prima itu orangnya hangat lho. Baik juga. Gak pelit sama siapapun. Apalagi sama karyawannya. Loyal banget.”


“O ya?” Faya hampir tidak percaya. Bahkan kesan pertamanya dengan Prima sangat buruk.


Pria hangat? Benarkah?


“Nanti kamu akan tau dengan sendirinya. Cuma, untuk sampai di tahap itu, kamu harus bisa melalui cobaan yang bisa kubilang, lumayan berat.”


“Apa Mbak Soraya bisa kasih kisi-kisi gimana caranya saya bisa ngelewatin cobaan itu? Hehehehe.”


“Sabar aja ngadepin Pak Prima. Kalau dia nyuruh apapun, kamu kerjain aja. Pun kalau dia ngerjain kamu sekalipun, kamu sabar aja. Lama-lama, dia bakalan bosan sendiri. Nah, itulah yang harus kamu tunggu. Tunggu sampai Pak Prima bosan ngerjain kamu.”


Faya manggut-manggut. Ia mengerti.


“Makasih, Mbak. Kayaknya itu akan sangat membantu nantinya.”


“Sama-sama. Kalau butuh apa-apa, kamu bisa cari aku.”


“Siap, Mbak.”


Setelahnya, Faya dan Soraya saling bertukar nomor telfon.


“Oh, itu restorannya.” Tunjuk Soraya kearah seberang jalan.

__ADS_1


Dengan hati-hati mereka menyeberang jalan. Faya seperti anak ayam yang mengekori induknya. Membuntuti Soraya di belakang wanita itu.


Mereka masuk ke dalam restoran bergaya klasik itu. Faya sempat membaca nama restoran, La Pasta. Ternyata itu adalah restoran Italia. Pantas saja bergaya klasik khas Eropa. Ringan namun elegan. Membuat mata sejuk melihatnya.


“Mbak, apa Mbak tau yang mana yang namanya Aliva?” Faya bertanya kepada Soraya sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari wanita cantik yang di maksud oleh Prima.


“Aliva? Siapa dia?”


“Temannya Pak prima.”


“Diakah yang ingin kamu temui?”


Faya mengangguk.


“Entah. Aku belum pernah dengar namanya. Coba kamu cari aja.”


Faya dan Soraya berpencar. Soraya duduk di kursi sebelah kiri dengan pelayan yang mengikutinya, sementara Faya berjalan ke depan untuk mencari si wanita cantik.


Saat Faya terus mengedarkan pandangannya, tatapannya tertuju pada seorang gadis manis berkulit putih dan bermata sipit. Dari perawakannya, memang dialah yang bisa di katakan paling cantik di restoran ini. Gadis itu menyeruput minumannya sambil sesekali melihat ponsel.


Dengan meyakinkan diri, Faya berjalan mendekati gadis cantik itu. Ia berhenti di depan mejanya.


“Maaf, permisi, apa anda yang bernama Aliva?” Tanya Faya hati-hati. Ia takut salah orang.


“Iya, saya Aliva.”


Hufh, Faya menghela nafas lega. Ia tersenyum ramah kemudian duduk di depan gadis itu tanpa di suruh.


Sekilas, Aliva memandang sikap Faya yang ia rasa tidak sopan itu dengan kening yang berkerut.


“Kamu siapa?” Tanya Aliva. Raut wajahnya jelas tidak suka dengan Faya. Mungkin karna Faya lancang telah duduk tanpa di minta. Hingga membuat gadis itu merasa terganggu.


“Saya Faya. Pak Prima meminta saya untuk menemui anda....”


Byurr!!!


Faya mendelik dengan gelagapan saat minuman berwarna biru itu menyiram terlempar ke wajahnya. Dengan ekspresi bingung, Faya mengusap wajahnya yang sudah basah kuyup. Menatap bingung kepada gadis cantk itu.


“Kenapa saya di siram?” Tanya Faya bingung.


“Karna Prima menyuruhmu datang ke sini. Bisa-bisanya dia ingkar janji lagi dan menyuruh kamu. Dasar cowok!” Dengus Aliva kesal.


Faya meradang. Bukankah ia yang seharusnya kesal dan marah karna sudah mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Aliva? Bukankah seharusnya ia yang memaki-maki? Kenapa malah Aliva yang emosinya jadi memuncak? Memaki Prima tapi menunjuk-nunjuk muka Faya.

__ADS_1


Dan Faya. Ia hanya tertegun dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Wajah dan rambutnya basah, pun kemeja putih yang ia kenakan jadi berubah warna menjadi biru. Kotor sekali. Tapi, entah kenapa ia tidak bisa marah pada Aliva. Sepertinya kemarahan Aliva jauh lebih besar darinya. Itu terpancar dari wajah gadis itu.


“Kamu gak guna!” Maki Aliva kembali. Gadis itu menghentakkan kaki dan menyambar tas mungilnya dari kursi kemudian beranjak pergi meninggalkan restoran.


Faya mengerjap-ngerjapkan matanya, bingung dengan situasinya.


“Faya, kamu gak apa-apa?” Tanya Soraya yang baru saja muncul dari kamar mandi dan mendapati keributan kecil itu.


“Aku basah, Mbak.”


“Ya ampun. Pakaianmu. Ini, bersihkan dulu wajahmu.” Ujar Soraya menarik tisu dan memberikannya kepada Faya.


Faya menerima saja. Ia mengelap wajahnya yang terasa sangat lengket. Membuatnya risih.


Perasaannya? Jangan ditanya. Sakit, dan malu. Pun marah karna ia mendapat perlakuan buruk itu padahal ia tidak tau apa-apa.


“Itu tadi pacarnya pak Prima. Aku gak tau kalau namanya Aliva. Ya ampun. Kamu jadi kotor begini. Ayo, kita keluar.” Ajak Soraya.


Wajah Faya nampak murung. Hal ini sama sekali tidak bisa ia duga. Seketika ia teringat dengan pertanyaan Prima yang menanyakan apa ia membawa pakaian ganti atau tidak. Ternyata inilah maksudnya.


Huffh, hari pertama yang buruk dan melelahkan.


“Gimana ini, Mbak, pakaianku kotor begini. Aku gak bawa baju ganti. Rumahku juga jauh.”


Soraya memperhatikan kondisi Faya yang sangat menyedihkan. Ditambah beberapa orang juga melihat aneh dan kasian kepada Faya.


“Ayo ikut aku.” Ajak Soraya kemudian.


Mereka berjalan ke arah tempat parkir kantor dan Soraya membuka bagasi mobilnya. Ia mencari-cari dalam sebuah paper bag yang ada disana. Kemudian mengeluarkan sebuah baju miliknya dan memberikannya kepada Faya.


“Ini, pakai ini. Tapi aku gak punya celana panjang. Cuma rok pendek kayak gini. Kamu mau?” Tawar Soraya. Ia segan karna sepertinya Faya tidak biasa mengenakan rok pendek sepertinya.


“Gak usah, Mbak. Celanaku gak kotor, kok. Aku pinjam baju ini aja. Makasih banyak ya, Mbak. Nanti aku balikin kalau udah ku cuci.”


Soraya mengangguk. Ia menatapi punggung Faya yang menghilang pergi ke kamar mandi.


Hufh, untungnya ada Soraya. Batin Faya.




jangan lupa like, komentar, vote, hadiah, dan rate bintang limanya yaaa warga. biar aku semangat upnya, lhoooo...

__ADS_1


__ADS_2