
Mobil telah berhenti di parkiran komplek taman wisata Candi Prambanan. Sudah pukul 11 siang dan cuaca sedang terik-teriknya. Suhunya panas dan membuat Faya beberapa kali mengerling kepanasan.
Setelah membeli tiket, ia kembali menghampiri bosnya yang menunggu di luar pintu masuk.
“Ayo masuk, Pak.” Ajak Faya antusias. Melihat keantusiasan Faya, membuat Prima tersenyum senang.
Dan mereka memulai petualangan di kawasan Candi Prambanan. Faya tak bisa menyembunyikan kegirangannya karna bisa melihat candi secara langsung.
“Fay, kali ini nikmati waktumu. Mumpung kita ada disini. Gak usah peduli aku. Lakukan suka-suka kamu.” Perintah Prima.
Sebuah senyuman super lebar langsung mengembang di bibir ranum Faya. Wajahnya sumringah dan senang.
“Makasih banyak, Pak.” Ujarnya kemudian ngeloyor mendahului Prima.
Sementara Prima hanya sesekali tersenyum saat Faya mengambil foto dengan beberapa gaya yang lucu.
Setelah satu jam berkeliling dan berselfie ria dan tidak mempedulikan teriknya sinar matahari, akhirnya Faya menyerah juga. Teriknya matahari membuat ubun-ubunnya terasa terbakar. Apalagi ia tidak punya sesuatu yang bisa di gunakan untuk melindungi kepalanya.
Faya ingin menyudahi petualangannya, namun ia merasa masih belum puas berkeliling. Masih banyak tempat untuk di eksplore.
Sementara Prima setia mengikuti kemanapun Faya pergi. Sudah seperti pacarnya saja.
Faya berdiri demi menghindari teriknya matahari yang sedang berada di puncaknya. Ia duduk selonjoran di atas rumput di bawah pohon kecil. Bayangan pohon itu lumayan mengusir suhu panas yang terik.
Faya kehausan. Ia mengipas-ngipas wajahnya namun itu sama sekali tak membantu. Ia mengedarkan pandangannya dan baru sadar kalau ia tidak melihat keberadaan Prima.
“Kemana Pak Prima?” gumamnya. Mau menelfon, tapi ia mengurungkan niatnya itu. Segan.
Akhirnya Faya memutuskan untuk menunggu saja di tempat itu sampai Prima muncul dengan sendirinya atau hanya sekedar menelfonnya.
“Nah.” Tiba-tiba suara Prima terdengar di sebelahnya. Pria itu menyodorkan botol berisi air mineral dingin kepada Faya.
Faya menerima air minum itu dan langsung membukanya kemudian meminumnya. “Makasih, Pak. Bapak dari mana?” tanya Faya.
“Kamar mandi. Udah puas belum kelilingnya?”
“Belum, Pak. Sedikit lagi.” Faya berharap kalau Prima tidak akan memaksanya untuk menyudahi penjelajahannya. Ia melirik ke arah tangan Prima yang memegang sebuah payung. Dalam hati ia membathin, kenapa hanya membawa satu payung saja? Mengharap di pinjamkan payung lain.
__ADS_1
Setelah minum, Faya melanjutkan menjelajah kembali. Sesekali matanya menyipit karna pandangannya silau terbias cahaya matahari. Jadi Faya mengangkat tangannya dan meletakkannya di depan kening untuk melindungi pandangannya. Saat tiba-tiba sebuah bayangan jatuh tepat di atasnya. Menghalangi serangan teriknya matahari.
Faya mendongak. Ia melihat sebuah payung yang kini telah mengembang di atas kepalanya. Kemudian ia menoleh
kepada Prima yang telah mensejajarkan langkahnya dengan Faya. Tangan kanan itu memegang gagang payung dengan pandangan yang terus ke depan seolah tak terjadi apa-apa.
Deg.
Faya bisa merasakan hentakan jantungnya yang tiba-tiba. Darahnya mendesir dan membuat ia menghentikan langkahnya seketika.
Apa ini? Batin Faya.
“Kenapa Bapak payungin saya?”
Prima tidak menjawab. Pria itu telah berada beberapa langkah di depan Faya yang telah menghentikan kakinya barusan.
“Cepetan! Nanti kalau kepanasan terus pusing dan libur kerja, aku potong gajimu.” Prima seperti tau ancaman yang selalu bisa membuat Faya tak berkutik.
Walaupun bingung, mendengar gajinya akan di potong, tentu membuat Faya sontak berlari dan mensejajarkan diri dengan Prima. walaupun canggung luar biasa tapi ia tidak bisa menolak.
Lain halnya yang di rasakan oleh Faya. Kini gadis itu hanya diam saja. Bahkan ia enggan untuk
mengabadikan momen itu dengan ponselnya. Ia hanya berjalan mengikuti langkah kaki Prima di sampingnya. Tentu saja dengan jantung yang sudah blingsatan tak karuan.
Pukul 3 sore, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel. Prima bilang ia lelah dan ingin beristirahat.
Setelah mengantarkan Prima ke kamarnya, Faya kemudian pergi ke kamarnya sendiri. ia segera melemparkan tubuhnya di atas kasur.
Sejak dari Prambanan tadi, jantungnya tak mau berdegub dengan normal lagi. Ia terus memikirkan perhatian-perhatian kecil dari bosnya itu yang ia rasa tidak wajar antara bos dan sekretaris.
“Gila kamu Fay. Berhenti mikirin bos absurd itu.” Dengusnya pada dirinya sendiri.
“Lagian kenapa sih dia harus begitu? Bikin orang gak enak aja.” Lanjutnya.
Faya ngedumel sendiri di dalam kamar.
“Gak mungkin kan aku suka sama pak Prima? astaga. Gak, gak. Gak mau. Gila aja suka sama bos eror kayak gitu.”
__ADS_1
Ya, orang lain pasti akan bilang, siapa yang tidak mau jatuh cinta dengan seorang Prima. Priya kaya dari keluarga baik-baik. Ketampanannya membuat para gadis tergila-gila dan berharap menjadi kekasih pria itu.
Tapi tentu saja itu tidak berlaku untuk Faya. Ia sangat tau bagaimana gilanya Prima. tapi, debaran hatinya teus saja tak mau berhenti.
“Astaga!!” pekiknya kemudian saat mendengar posnelnya berbunyi. Ia terkejut bukan main. Ia merogoh ponselnya dari dalam tas dan melihat nama Prima yang menelfonnya. Segera ia menjwab karna berfikir ada sesuatu yang di butuhkan oleh bosnya itu.
“Iya, Pak?”
“Ke restoran atap. Sekarang. Cepetan.”
Tut. Tut. Tut.
“Kebiasaan. Main langsung nutup telfon gitu aja.” Dengus Faya. Padahal ia ingin mandi dulu.
Faya mandi secepat kilat. Dengan jurus jitunya, ia berhasil membersihkan diri hanya dalam waktu 3 menit saja. Begitupun dengan berpakaian. Ia lakukan dengan sangat cepat. Setelah itu, ia keluar dan menuju ke lantai atap hotel. Ia berhenti di depan pintu lift untuk menunggu.
Saat pintu lift terbuka, ia terkejut. Di dalam sana, ada Fajri yang nampak lelah. Sepertinya pria itu baru saja pulang kerja.
Faya mematung. Sungguh ia merasa canggung dan aneh kalau ia masuk sekarang. Setelah apa yang terjadi hari ini antara mereka. Jadi, Faya hanya membiarkan saja pintu lift kembali tertutup.
Saat pintu lift hendak tertutup, tiba-tiba Fajri menekan tombol agar pintu lift kembali terbuka.
“Gak masuk?” tanya Fajri. Nada suaranya terdengar lebih ramah dari tadi pagi.
Keduanya saling melemparkan pandangan. Bukan pandangan rindu, melainkan tatapan canggung satu sama lain.
Faya menghela nafas pelan. Kemudian ia berjalan masuk ke dalam lift. Mengabaikan rasa canggung yang mendera.
“Aku bener-bener minta maaf, Fay.” Lirih suara Fajri yang terdengar tak bersemangat. Pria itu menundukkan wajahnya tak berani menatap lawan bicaranya.
“Pasti nyenengin banget bisa menghina orang sesuka hati.” Balas Faya santai.
“Enggak, bukan gitu.......” Fajri tak jadi melanjutkan kalimatnya. Ia merasa menjadi pecundang karna hanya bisa beralasan saja untuk menampik sikap memalukannya.
“Semoga kamu belajar tentang hari ini. Aku memang miskin dan buruk, tapi itu gak bisa kamu jadiin alasan buat menghinaku sesuka hatimu. Apalagi di depan orang lain. Kamu udah ngerendahin diri kamu sendiri.”
Fajri terdiam. Tidak mau membantah ucapan Faya. Ia bahkan hanya memandangi saja punggung Faya yang keluar dari lift dan menghilang dari pandangannya.
__ADS_1