One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 112. Sisi Wanitanya Terluka.


__ADS_3

Faya terus melangkahkan kakinya melewati loby. Ketika terdengar suara seseorang berteriak dengan sangat kerasnya, ia sontak menoleh ke belakang.


“Ini anak kamu, Mas!!” pekik Soraya mengikuti Ridwan yang sedang berjalan ke arah loby. Sementara Soraya mengikutinya dari belakang.


Nampak sekali kalau Soraya sudah hilang kendali. Wajahnya memerah dan dadanya naik turun seirama nafasnya yang memburu.


Soraya merangsek berlari mendekati Ridwan  yang sudah berhenti dan menatapnya dengan tidak percaya.


“Kamu gak bisa lari kayak gini. Aku bakalan nuntut kamu sampai kemanapun. Kalau perlu aku bakalan nemuin istri dan anak kamu. Aku bakalan bilang kalau kita udah lama berhubungan dan sekarang aku lagi ngandung anak kamu.” Cecar Soraya. Nampaknya kekalutan yang Soraya rasakan sudah membuatnya tidak peduli kalau ia kini sedang menjadi pusat perhatian.


Semua hal meluncur begitu saja dari mulut Soraya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan tatapan terkejut dan tatapan penghakiman yang tertuju padanya.


Orang-orang mulai berkerumun untuk melihat tontonan drama gratis itu. Tak terkecuali Faya. Namun ia tidak mendekat seperti yang lain. Ia hanya melihatnya dari kejauhan saja.


Sekilas, matanya bertemu dengan milik Soraya. Wanita itu sedang di penuhi emosi. Menangis sebagai bentuk protesnya terhadap Ridwan.


“Sora. Tolong jangan kayak gini. Apa kamu udah gila?”


“Iya! Aku memang udah gila. Karna kamu! Lihat aja. Kalau kamu sampai gak mau ngakuin anak ini. Aku bener-bener bakalan nemuin keluargamu sendiri.” ancam Soraya dengan suara beratnya.


“Kalian berdua! Ikut saya!” suara tegas dari Ariga menghentikan aksi drama itu. semua orang menatap kepada Ariga yang sedang menatap tegas kepada Soraya dan Ridwan.


Untung saja Ariga segera datang hingga perdebatan itu segera berhenti.


Soraya yang mengikuti perintah Ariga masih menyempatkan diri untuk melirik kepada Faya. tatapan wanita itu sama sekali tidak bisa di artikan. Tajam dan juga terdapat kesedihan di sana. Atau penyesalan? Entahlah. Bahkan Faya yang bersitatap saja tidak bisa menyimpulkan.


Setelah Soraya dan Ridwan menghilang untuk pergi bersama Ariga, orang-orang di sana juga segera membubarkan diri. Kembali mengerjakan pekerjaan mereka kembali.


Tapi tidak dengan Faya. Ia masih mematung di tempatnya semula. Terus menatap pias ke arah menghilangnya Soraya.


Bukankah seharusnya ia senang karna Soraya mendapat karma yang setimpal dengan dirinya? Bukankah seharusnya ia lega karna wanita itu mendapat hukuman sosial yang lebih berat darinya? Bukankah seharusnya Faya merasa seperti itu?

__ADS_1


Tapi tidak, Faya bisa merasakan hatinya sakit melihat tatapan kesedihan di netra Soraya. Hati kecilnya mendesak untuk menolong wanita itu. Ia tidak tega. Ia tidak bisa membiarkan Soraya terpuruk sendirian seperti ini. Ia ingin sekali membantu.


Deringan ponsel menyadarkan Faya akan lamunannya. Ia segera mengangkat telfon dari Prima itu. ia sampai lupa kalau Prima sedang menunggunya.


“Maaf, Mas.” Ujar Faya begitu ia sudha masuk ke dalam mobil Prima.


“Kenapa lama?”


“Tadi ada kejadian sebentar.” Jawab Faya sambil memasang sabuk pengamannya.


“Kejadian apa?” Prima mulai melajukan mobilnya.


Faya menceritakan kejadian yang terjadi. Tentang Soraya dan Ridwan. Semuanya tanpa ada yang di kurangi. Bahkan ia juga menceritakan tentang keinginannya membantu wanita yang sudah menghianatinya itu.


“Emangnya kamu udah maafin dia? Dia bahkan belum minta maaf sama kamu.” Tanya Prima.


“Aku tau, Mas. Aku mikirnya gini, kok aku jadi ngerasa jahat ya udah biarin dia tanpa nolong dia? Aku ngerasa kalau aku tuh jadi sama kayak dia. Dan itu ngelukain harga diriku, Mas.”


“Sayang, kalau menurut aku, biarin aja lah. Kamu gak perlu ikut campur lagi. Hubungan kalian udah gak sebaik dulu. Dia aja gak mau di suruh minta maaf sama kamu. Kamu udah gak ada kewajiban lagi buat bantuin dia. Karna dia begitu sama kamu. Jahatin kamu. Jadi biarin aja.”


“Kasihan, Mas.”


“Dia aja gak kasihan kok sama kamu. Jelek-jelekkin kamu terus. Udahlah, sayang. Gak usah di bikin pusing. Mending kamu fokus aja sama pernikahan kita. Gak usah mikirin yang lain. Aku yakin dia bisa ngurus dirinya sendiri.”


Nampaknya Prima juga masih kesal dengan Soraya. Terlihat dari ekspresinya yang mencibir-cibir ketika membicarakan tentang wanita itu.


“Kita makan dulu yuk, laper. Mau makan apa?” tanya Prima. ia ingin mengalihkan fokus Faya dengan hal lain.


“Ayam geprek. Pengen makan yang pedes-pedes.”


“Oke. Ayam geprek.”

__ADS_1


Selanjutnya Prima melanjukan mobil ke sebuah warung ayam geprek langganan mereka.


“Mama juga di butik, Mas? Tadi Mama nanya soalnya.” Tanya Faya di sela makan mereka. Wajah Faya sudah merah dan berkeringat.


“Gak tau sih. Gak ada telfon aku. Kenapa rupanya?”


“Gak apa-apa. Kalau ada Mama kan seru tuh. Hehehe. Aku jadi ada temennya.”


“Kan ada aku. Kamu anggap aku apa?” dengus Prima. sepertinya dia tersinggung dengan ucapan Faya.


“Bukan gitu. Kan kalau sesama cewek enak, Mas.”


“Sama aku juga enak.”


“Idihh. Gitu aja ngambek.”


“Hehehehhe. Bukan ngambek, sayang. Aku cemburu.”


“Sama Mama kamu sendiri lho, Mas. Masak cemburu?”


“Ya yang namanya cemburu bisa sama siapa aja.”


Faya memilih mengalah. Berdebat dengan Prima yang sedang di butaan oleh cinta sepertinya mustahil dia akan menang. Dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja melihat sikap Prima itu.


“Kamu pasti berfikir kalau aku berlebihan. Aku juga tau itu. Aku gak tau mau kasih alasan yang kayak gimana. Yang jelas, aku mau kamu cuman fokusnya sama aku aja. Gak boleh sama yang lain. Maaf kalau aku egois, over protektif atau apapun menurut kamu. Pokoknya aku mau di perhatiin terus sama kamu.” Jelas Prima panjang lebar.


Faya tertegun. Kemudian ia tersenyum.


“Aku tau, Mas. Gak apa-apa. aku ngertiin kamu, kok.”


Prima juga melemparkan senyuman manis kepada calon istrinya itu. hari pernikahan tinggal menghitung hari. Semakin dekat dan semakin dekat. Banyak hal yang harus mereka persiapkan. Terutama gaun pengantin. Prima benar-benar menepati janjinya. Ia membiarkan Faya melakukan apapun yang di sukainya. Ia memang tidak keberatan dengan berapapun harga gaun yang di inginkan oleh Faya. Dia merasa sanggup membelikannya.

__ADS_1


Uang yang dia miliki, rasanya tidak sebanding dengan kebahagiaan yang tercipta. Ia merasa beruntung bisa memiliki gadis seperti Faya. Setelah perjuangan yang lumayan berat tentu saja.


Mereka masih di butik. Faya sedang mencoba gaun pengantin yang sudah di pesan beberapa waktu yang lalu. Gaun itu sudah setengah jadi. Jadi harus di fitting ulang untuk ukuran yang lebih pas lagi. Sekaligus untuk membenahi bagian-bagian yang masih kurang pas menurut Faya.


__ADS_2