One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 66. Niat Baik Saja Tidak Cukup.


__ADS_3

Prima menghela nafas panjang kala tak kunjung mendapatkan respon dari Faya. Ia benar-benar cemas. Sungguh, ia tak bermaksud membuat Faya marah atau bahkan sampai menyakiti gadis itu seperti ini. Ia hanya ingin menjahili gadis itu karna wajahnya lucu saat cemas. Membuat jantung Prima semakin berdebar melihatnya.


Namun ternyata, sikapnya itu justru menyakiti Faya. Ia sama sekali tak berniat begitu. Sama sekali tidak.


Yang awalnya ia hanya berniat ingin merasakan debaran itu di hatinya. Sehingga ia akan menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.


Tidak pernah terlintas di benak Prima kalau ia akan membuat Faya sakit. Saat ini Prima baru sadar, ternyata niat baik saja tidaklah cukup untuk menunjukkan perasaannya. Faya tak melihat niatnya itu.


Salahnya, yang masih belum bisa menghilangkan tingkah konyolnya itu. Bahkan sampai ia menyakiti gadis yang ia cintai.


Sudah lebih dari satu jam Prima menunggu Faya membukakan pintu apartemennya. Sebelum ia masuk ke apartemennya sendiri karna mulai yakin Faya tidak ada di rumah.


Ia menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu. Menutup wajahnya dengan lengan. Fikirannya sedang menyesal luar biasa. Mencari dimana kira-kira Faya berada sekarang. Kenapa gadis itu tidak kunjung pulang ke rumahnya. Atau, Faya memang sengaja tidak mau membuka pintunya.


Teringat hal itu, membuat Prima kembali pias. Sepertinya kemarahan Faya terlalu besar.


Prima kembali meraih ponsel dan kembali menghubungi Faya. Ponsel gadis itu masih tidak aktif. Dan kemudian Prima mengirimkan banyak pesan kepada gadis itu.


**


**


Faya baru saja bangun tidur. Ia tertidur di sofa karna kelelahan. Saat melihat jam, ternyata sudah pukul 8 malam. Lama juga dia tertidur.


Ia merasakan perutnya yang keroncongan minta di isi. Ia bangun dan menuju ke dapur. Ia membuka kulkas. Tercengang melihat isi kulkas Harvey yang lengkap isinya. Tapi, semua sayuran dan lauk itu tak berhasil menggugah seleranya.


Faya membuka lemari di sebelah kulkas yang berisi bahan-bahan kering. Ia mencari mie instan untuk mengganjal perutnya. Dan ternyata, Harvey juga menyimpan beberapa mie instan juga.


Akhirnya, malam itu, Faya memasak mie instan dan telur.

__ADS_1


Hari sudah gelap dan Faya merasa sunyi di rumah Harvey. Setelah mienya masak, ia membawanya ke meja makan. Sambil makan, ia teringat akan ponselnya yang sudah sejak tadi siang tidak di nyalakan. Faya bangun sebentar untuk mengambil ponsel dan kembali ke meja makan untuk melanjutkan makannya.


Faya tercengang dengan sempurna saat ada 54 panggilan tak terjawab. 51 panggilan di antaranya dari Prima. dan tiga lainnya dari Ariga.


Tidak sampai di situ, terdapat ratusan pesan dari nomor Prima juga yang kebanyakan berisi permintaan maaf dari pria itu. Selebihnya, pertanyaan tentang keberadaannya sekarang.


Faya tak menanggapi. Rasa marahnya belum hilang. Ia justru malah memblokir nomor Prima.


Sejak tadi Faya sudah banyak berfikir. Ia akan benar-benar mengundurkan diri dari pekerjaannya. Sudah tidak sanggup menghadapi sikap Prima. ternyata, batasnya adalah hari ini.


Dulu, dia berhasil melewati bulan pertama bekerja dengan Prima dengan susah payah. Hingga ia sampai pada titik ini. Namun, sepertinya ia harus menyerah disini. Ia sudah benar-benar tidak sanggup lagi. Ia lakukan ini demi hatinya. Agar tidak lagi merasa sakit dan berharap dari perhatian kecil Prima yang ia anggap lebih.


Ia akan mencari pekerjaan lain sementara ia akan mengalihkan fikiran dulu. Toh tabungannya masih lumayan untuk dia hidup sampai satu tahun ke depan.


Faya kembali melihat jam tangannya. Sudah lewat pukul 9. Biasanya, jam segini Prima pasti belum tidur. Ia berniat pulang ke apartemen untuk mengambil Pakaiannya. Dan ia menunggu waktu Prima tidur sehingga ia tidak harus bertemu dengan pria itu


Akhirnya, pukul 2 dini hari, Faya memesan taksi dan ia pulang ke apartemennya. Ia berjalan mengendap-endap seperti pencuri. Apalagi saat memencet tombol pass, ia takut Prima akan mendengarnya. Tapi untungnya, bahkan setelah ia masuk ke dalam apartemen, Prima tidak muncul. Itu membuat dirinya merasa lega sekali.


Selesai merapikan pakaiannya, ia membuka laptop dan mengetikkan sesuatu. Mencetaknya kemudian memasukkannya ke dalam amlop.


Sebelum keluar dari rumah yang sudah di tempati setahun itu, Faya kembali mengedarkan pandangannya. Menyapu ke segala arah dalam jangkauannya. Rumah itu telah memberinya kenyamanan selama ini. Menyisakan kenangan dan cerita yang pernah ia lewati.


Menangis sendirian saat sedih, bernyanyi seperti orang gila saat sedang senang. Dan mengumpat dengan sepenuh hati saat sedang kesal dengan Prima.


Pukul 05.05 Faya keluar dari apartemen itu. Berjalan ke bawah untuk mencari taksi. Beruntung sekali ia faham jam berapa Prima bangun tidur dan berangkat ke kantor. Sehingga ia bisa mencari celah untuk pergi.


“Pak, tolong ke gedung FD Corp ya, Pak.” Pintanya kepada supir taksi.


Dalam perjalanan, hari semakin terang. Bahkan matahari sudah memberanikan diri muncul di ufuk timur. Sayangnya, cahayanya terhalang oleh debu polusi yang menghiasai langit Ibukota sehingga hanya sedikti saja yang terbias ke bumi.

__ADS_1


Faya yakin, kalau saat ini Prima masih belum ada dikantor. Tujuannya datang ke kantor adalah untuk menemui Ariga. Biar bagaimanapun, Ariga yang telah memberinya kesempatan untuk bekerja. Jadi setidaknya ia ingin berpamitan kepada atasannya itu.


Ia tau, kalau Ariga pasti sudah di kantor sekarang. Ini adalah waktu yang tepat untuk menemui Ariga tanpa bertemu dengan Prima.


Pukul 7 lewat Faya sudah sampai di depan gedung FD Corp. Ia meminta supir taksi untuk menunggunya sebentar.


“Pak bisa tunggu sebentar? Saya gak lama.”


“Silahkan, Mbak.”


Faya kemudian turun dan langsung menuju ke lantai dimana ruangan Ariga berada. Benar saja, pria paruh baya itu sudah nampak sibuk di meja kerjanya. Perlahan, ia mengetuk pintu.


“Masuk.” Perintah Ariga dari dalam.


Ariga begitu terkejut dengan kedatangan Faya. Namun ia langsung mempersilahkan Faya untuk duduk. Firasatnya tidak enak saat melihat wajah canggung Faya. Ia seperti bisa menebak apa yang hendak di sampaikan oleh gadis itu padanya.


Faya terlihat gugup. Ia saling mencengkeram jemarinya di pangkuan untuk mengusir rasa gugupnya itu. Berkali-kali menarik nafas panjang berharap keberaniannya akan berkumpul.


Namun seketika ia menjadi berani saat teringat dengan Prima.


“Ada apa, Fay?” tanya Ariga.


“Maaf mengganggu pagi-pagi sekali, Pak. Saya, mau ngasih ini sama ba#pak.” Faya menyodorkan amplop panjang ke atas meja ke hadapan Ariga.


Nampak pria paruh baya itu mengernyitkan keningnya. Menatap heran kepada Faya. Ia sedih karna apa yang ia duga benar-benar terjadi. Faya ingin mengundurkan diri.



__ADS_1


kalian udah folow otor belum? kalau belum,bisa dong folow aku.


__ADS_2