One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 45. Dahulukan Berfikir Yang Baik Sebelum Berprasangka Yang Buruk.


__ADS_3

Plak!!


Sebuah pukulan sangat keras berhasil mampir di pundak polos Prima yang sedang tidur tertelungkup memeluk sebagian selimutnya. Ia terkejut bukan main dan langsung berbalik. Bersiap melayangkan kemarahannya karna ia fikir Faya sudah berani memukulnya.


Namun, sorot mata tajamnya tiba-tiba berubah lembut seperti 7anak kucing saat mengetahui siapa yang sudah memukul punggungnya.


“Mama?”


“Sudah siang begini kok masih molor aja.” Dengus Zinnia menatap tajam putranya itu. Menggeleng-gelengkan kepala melihat penampakan Prima yang setengah telanjang dan hanya mengenakan celana kolor saja.


Sebenarnya jantung Prima sedang tidak baik-baik saja. Sedang berdetak di luar kendali saat ini. Karna terkejut, pun karna takut kalau ibunya mengetahui kalau semalam ia habis minum-minum sampai mabuk. Sudah terbayang amukan mematikan ibunya yang berseliweran di kepalanya andai saja ibunya itu mencium bau alkohol dari tubuhnya.


Prima menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Tidak, bukan. Untuk menyamarkan bau alkohol yang mungkin akan tercium.


“Buruan bangun. Kita sarapan bareng. Mama bawa makanan kesukaan kamu.” Perintah Zinnia kemudian.


Prima mengernyit. Menatap punggung ibunya yang berjalan keluar dari kamarnya. Sejurus kemudian, ia menghela nafas lega.


Sambil menunggu Prima mandi, Zinnia menata makanan yang ia bawa ke atas meja makan. Kemudian menelfon seseorang. Ia menelfon Faya dan meminta gadis itu untuk sarapan bersama dengan mereka. Ada sesuatu hal yang harus Zinnia selidiki.


Setengah jam kemudian, Prima sudah siap dengan ‘pakaian kantornya’. Tentu saja pakaian kantor versi Prima. ia menghampiri ibunya yang sudah menunggu di meja makan. Ia juga melirik sekilas kepada Faya yang juga sudah ada di sana.


Prima dan Faya duduk berhadapan. Sementara Zinnia duduk di antara mereka.


Berkal-kali Zinnia memperhatikan gerak-gerik keduanya. Namun Prima nampak bersikap seperti biasa. Tidak ada yang mencurigakan dari putranya itu. Sementara Faya, gadis itu lebih pendiam pagi ini. Serta lebih sering menundukkan wajahnya.


“Prim, nanti malam mau gak ketemuan sama anaknya temen Mama? Cantik lho. Mau, ya? Biar kenalan.” Rayu Zinnia membuka suara setelah beberapa saat suasana hening.


“Mama apaan sih. Udah Prima bilang gak usah ngatur-ngatur kencan buta lagi buat Prima. Prima bisa cari istri Prima sendiri.”


“Ya kapan? Mama udah frustasi ini.”

__ADS_1


“Mama kalau udah kebelet gendong cucu, suruh tuh Vita nikah duluan. Kenapa harus aku, Ma?”


“Ya karna kamu anak cowok Mama. Si Vita juga, sibuk kerja melulu. Pacaran melulu tapinya masih gak mau di suruh nikah.”


“Ya udah, sabar aja dulu, Ma. Gak usah buru-buru juga kenapa.”


Terdengar helaan nafas kesal dari Zinnia. Sementara Faya hanya menyimak obrolan ibu dan anak itu tanpa keinginan untuk ikut campur.


Bukan apa, kepala Faya sedang di penuhi dengan kekurang ajarannya semalam. Dan fikiran-fikiran buruk tentang akibat dari perbuatan mereka semalam. Jadi, ia tidak banyak menyimak obrolan ibu dan anak itu. Apa yang dia minum sampai ia kehilangan kenadali seperti semalam? Faya sungguh penasaran.


“Kamu udah punya pacar, ya?” desak Zinnia.


Prima hanya terkekeh kecil saja tanpa jawaban. Membuat Zinnia semakin menghela nafas kesal. Padahal ia ingin mengorek suatu informasi dari mereka berdua ini. Soalnya, tadi pagi Zinnia melihat Faya keluar dengan pakaian minim dari rumah putranya itu. Yang seketika membuat wanita paruh baya itu berfikir jauh kemana-mana.


Tapi sebelum menghakimi, ia ingin mendengar penjelasan mereka dulu. Ia tidak mau salah menghakimi mereka. Karna ia harus mendahulukan kemungkinan-kemungkinan yang baik dulu sebelum prasangka buruknya.


Memang Zinnia tidak melihat dengan mata kepala sendiri tentang apa yang sudah mereka lakukan di rumah itu. Kenapa sampai Faya keluar dari apartemen Prima dalam keadaan seperti itu. Ya mungkin saja Faya habis


Prima sudah menyelesaikan sarapannya dengan santai. Kemudian ia bangun dari kursi dan menyalami ibunya. Setelahnya ia melenggang menuju ke pintu keluar.


Sementara Faya nampak buru-buru menghabiskan sisa makanannya.


“Prim! Mau, ya? Nanti malam biar Mama kasih tau temen Mama. Siapa tau cocok dan kalian bisa langsung nikah!” Zinnia bicara dengan nada agak tinggi agar putranya itu mendengarnya.


“Gak mau, Prima mau nikah sama Fayandayu aja! Ayo, Fay! Buruan!” teriakan Prima dengan santainya.


Faya mematung di dekat meja makan. Fikirannya sedang berkecamuk luar biasa. Separuh kesadarannya mendengar ucapan Prima barusan. Namun ia hanya menganggap itu sebagai gurauan dari Prima. seperti biasa.


“Fay!” panggil Prima kembali. Ia menatap sekretarisnya itu dari dekat pintu keluar.


“ya. Ya?” Faya menjadi gugup.

__ADS_1


“Buruan, malah bengong.”


“I-iya, Pak.” Faya segera membereskan piring kotornya dan menaruhnya di rak pencuci piring. Setelah itu, ia mengangguk pamit pada Zinnia dan langsung mengejar Prima yang masih menunggunya di pintu.


Reaksi Zinnia? Tentu saja hanya bisa ternganga. Antara percaya dan tidak percaya dengan kalimat yang terlontar dari mulut putranya itu. Prima seperti sedang serius, tapi juga seperti sedang bercanda. Membuatnya bingung saja.


Kalau Prima serius, tentu saja ia senang karna memang sudah mengenal Faya dengan baik. Kalau iya, apa ada hubungannya dengan saat ia memergoki Faya tadi pagi? Ya ampun, Zinnia malah semakin kacau saja fikirannya. Tapi, sepertinya anak itu tidak serius. Ah, entahlah. Zinnia jadi pusing sendiri.


Sementara itu di mobil, berkali-kali Zinnia melirik ke arah spion untuk mencuri pandang kepada Prima. saat pandangan mereka bertemu di kaca, seketika Faya mengalihkan wajahnya ke depan. Nampak jelas raut wajah gugupnya pagi ini. Dan Prima nampak biasa saja seperti tak ada yang terjadi. Hari ini mereka menggunakan mobil sedan karna mobil sport milik Prima sedang di pinjam.


*Apa pak Prima gak inget sama yang semalam? Kenapa dia biasa *aja sih? Faya hanya bisa membatin saja.


Dari kursi belakang, Prima bisa dengan jelas melihat Faya yang sedang menggigiti bibirnya. Wajahnya panik dan keningnya berkerut. Tapi sejurus kemudian, ia kembali sibuk dengan ponselnya.


“Hari ini, jadwal konseling jam berapa, Fay?” Prima membuka suara. Bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.


“Jam 4, Pak.”


Setelah itu, hening kembali.


Sesampainya di kantor, Faya juga terus melamun. Sumpah, ia tidak bisa mengalihkan fikirannya dari kejadian semalam. Sama seperti Zinnia yang tidak bisa melupakan kalimat aneh yang di celetukkan oleh putranya. Jadi, setelah beres membereskan apartemen Prima di bantu pembantunya, ia memutuskan untuk pergi ke kantor dan mengadu kepada suaminya, Ren.


Faya sedang membuat kopi di pastry sambil melamun lagi. Ia terus mengaduk kopinya yang semula panas itu sampai kepulan asapnya perlahan menghilang.


Ahhhh. Apa yang terjadi semalam antara dirinya dan Prima? kenapa ia tidak mengingat satu bagian yang ia rasa penting? Astaga. Faya sangat frustasi jika memikirkan ketakutannya. Ia menduga telah melakukan sesuatu tapi ia tidak mengingatnya. Dan itu membuatnya semakin takut. Entah apa yang dia takutkan.




hayooo lhoo. faya... kalian abis ngapain semalam?

__ADS_1


selamat menjalankan ibadah puasa ya warga.


__ADS_2